
Setelah bayangan Pak Pratama menghilang di balik lift yang menutup , dengan tergesa-gesa Daffin melangkahkan kakinya menuju ruangan lain yang tak jauh dari ruangan Farrel .
Ceklek ...
Suara pintu yang dibuka oleh Daffin menarik perhatian dua orang wanita yang menunggu sejak tadi .
" Mari ikut saya , Tuan Farrel akan menemui Anda . " Ujar Daffin mempersilahkan dengan sopan .
Dua wanita itu mengikuti langkah Daffin memasuki ruangan bosnya .
" Pak Farrel , Nyo..... "
Daffin menghentikan ucapannya saat bosnya yang bucin memberikan kode dengan tangan .
" Silahkan duduk dulu , " ujar Daffin pada dua wanita yang berdiri di belakangnya .
Keduanya berpindah duduk ke sofa . Salah satu wanita yang lebih muda sepertinya sudah lupa caranya berkedip ketika melihat Farrel .
Sementara yang ditatap masih sibuk membujuk tunangannya yang merajuk karena sudah hampir 2 jam Farrel tak bersamanya .
" Yang , please ..... 3 jam lagi oke . "
Daffin tak menyangka selama menjadi asisten bosnya, baru kali ini Ia melihat Farrel memohon seseorang untuk menunggunya .
" Power of nona Cyrin memang luar biasa , " batin Daffin .
" Oke sayang 2 jam yah , please . Kamu puas puasin bareng Bapak dan Ibu dulu yah , besok mereka udah balik loh . " Ujar Farrel masih beralasan agar Cyrin berhenti merajuk .
" Hemmm... I love you sayang . " Ucapan Farrel mengakhiri panggilan telepon dengan tunangannya .
Tanpa Farrel sadari beberapa menit terakhir dirinya menjadi pusat perhatian dari tiga orang lain yang berada di ruangannya .
Ketiganya mengagumi senyuman Farrel yang amat langka , tapi senyum itu dengan mudahnya terukir untuk Cyrin walau mereka hanya berbicara lewat telepon .
Tapi seketika raut wajah penuh kehangatan , cinta , dan kasih itu berubah menjadi raut wajah yang dipenuhi kemurkaan .
Tatapan sinis pada dua wanita yang tengah duduk di sofa sangat berbeda dengan tatapan memuja saat Farrel masih bertelepon dengan tunangannya .
Tubuhnya tegak dengan rahang kokoh yang terangkat , tatapannya tajam mengarah ke satu tempat , langkahnya yang tegas , sungguh membuat dua wanita ini ketakutan sampai tidak menyadari Farrel sudah duduk di hadapan mereka .
"Ekhhemmm . " Daffin berdeham untuk mengembalikan kesadaran dua wanita ini .
" Tuan ini adalah Nyonya Prat , " ucapan Daffin dihentikan lagi .
" Next , saya tahu dia . " Ujar Farrel menunjuk Nyonya Pratama dengan dagunya .
" Saya Intan , Tuan Farrel . Saya ketua tim legal PH entertainment . "
Salah satu wanita tadi berinisiatif memperkenalkan dirinya .
" Nyonya Pratama , bagaimana perasaan Anda sekarang ? " tanya Farrel .
" Saya ikut prihatin mengetahui keadaan rumah tangga Anda ," lanjutnya .
" Saya baik-baik saja Pak Farrel , ini juga berkat bantuan Anda , " balas Nyonya Pratama .
Nyonya Pratama , wanita yang bernama Risma itu adalah istri sah dari Pak Pratama . Wanita paruh baya yang masih terlihat jauh lebih muda dan cantik dari wanita lain yang seusianya . Tapi tetap saja hal itu tidak menghentikan pria hidung belang seperti suaminya untuk berselingkuh .
Farrel tertawa , jawaban Risma sangat lucu bagi Farrel .
" Maaf . Aku sampai tidak bisa menahan tawaku. " Ujar Farrel .
" Lucu karena Anda menjawab baik-baik saja karenaku . Bukannya Anda sudah tahu , saya yang membuat semua ini terjadi pada keluarga Anda . " Ujar Farrel menekan Nyonya Pratama atau Risma .
Risma menunduk malu .
" Nyonya , aku tahu selama ini kamu menutupi semua perbuatan bejat suamimu karena ini semua kan ? "
Farrel melemparkan kertas berisi surat-surat pemilikian saham PH Entertainment .
Mata Risma membelalak . Semua yang Ia pertahankan selama ini ada di depan matanya .
" Aku dengan mudah bisa memberimu itu semua , tapi kamu harus mengikuti semua perintahku ," bentaknya .
" Baik Pak Farrel . Saya sudah siap melakukan semuanya , saya sungguh sudah tidak kuat lagi menutupi kehancuran rumah tangga saya . " Risma berusaha menarik simpati Farrel dengan tangisan .
" Tanda tangani surat gugatan perceraian kalian, ikuti semua instruksi asistenku . Ingat aku ingin hal ini menjadi topik terpanas di negeri ini . " Lanjut Farrel dengan seringainya .
" Baik Pak ," sahut Risma .
__ADS_1
" Dan Kau , pastikan wanita jal*ng itu harus membayar pinalti yang jumlahnya sangat besar . Lebih bagus lagi jika dia tidak mampu membayarnya , kita bisa menuntutnya dengan pasal lain lagi . " Ide Farrel memang selalu brilian .
" Saya sudah menyiapkan semuanya Pak . Ternyata Aurora dikontrak dengan nominal yang besar dibanyak project , " balas Intan .
" Good . Ku pikir kalian sudah paham apa keinginanku . Sekarang waktunya menunjukkan padaku kemampuan akting kalian ," ujar Farrel .
" Fin ... udah beres kan ? Saya harus pulang sekarang . Tunanganku menunggu untuk makan bersama, " lanjutnya .
Belum sempat Daffin menjawab , Farrel sudah berjalan ke arah pintu ruang kerjanya .
" Ku nantikan hot issue kalian besok yah , semoga jadi tranding . "
Langkah Farrel sangat ringan dan bersemangat saat akan bertemu dengan Cyrin .
Setelah Farrel pergi , kini Daffin yang akan memimpin misi balas dendam tahap dua .
" Tanda tangani surat gugatan cerai dan surat pengalihan saham . " Ujar Daffin pada Risma .
Tak lama Daffin menerima panggilan dari anak buahnya yang mengikuti mobil Pak Pratama .
Sesuai dugaan , mobil pria itu menuju ke arah apartemen wanita simpanannya .
Daffin menyeringai , " Ok , pantau terus . Aku segera kesana . "
" Sepertinya hari ini kalian harus lembur . Sudah siapkan ? Kita eksekusi hari ini juga . " Ujar Daffin .
Kedua wanita itu mengangguk mengerti . Yang terpenting bagi Risma adalah secepat mungkin menyelesaikan tugasnya lalu Ia bisa mendapat kembali saham perusahaan suaminya .
Setelah mengatur rencana , Daffin , Risma , dan Intan bergegas menuju tempat janjian mereka dengan tim dari kepolisian dan juga tim pengacara yang sudah disiapkan Daffin untuk Risma .
Sementara di tempat lain .......
Di dalam kamar sebuah apartemen mewah , seorang wanita cantik yang berprofesi sebagai artis dan model baru saja selesai menyegarkan dirinya dengan berendam di bathup .
Masih dengan bathrobe yang menutupi tubuh sintal miliknya , Ia merias wajah dan memakai wewangian .
Dia adalah Aurora .
Saat sedang berendam , Ia mendapat pesan jika pria yang telah menjadi sug*r daddy nya selama bertahun- tahun itu akan datang .
" Sudah lama aku tidak belanja tas baru . Hari ini tua bangka itu akan ku buat lemas tak berdaya hingga tidak sadar jika uangnya sudah berpindah ke tanganku , " gumam Aurora .
Ting... tong...
Aurora menyapukan lipstik merah terang sebagai sentuhan akhir riasan wajahnya .
Sebelum membuka pintu , Ia sengaja melonggarkan tali ikatan bathrobe yang menutupi tubuh polosnya . Rambut setengah basahnya Ia gerai agar nampak lebih menggoda .
Ceklek .
Pak Pratama masuk ke dalam apartemen tanpa memedulikan Aurora yang menyambutnya .
Aurora tahu jika pria itu sedang dalam keadaan emosi .
" Hufft.... dasar tua bangka pemarah . " Gerutu Aurora dalam hatinya .
Aurora mengikuti Pak Pratama yang sudah duduk di sofa .
Dengan tak tahu malunya , Aurora duduk di pangkuan Pak Pratama . Mengalungkan tangannya di leher pria itu dan memasang wajah menggodanya .
__ADS_1
" Ada apa daddy ? Kamu sepertinya sedang marah . Pasti wanita tua itu berulah lagi yah ? " tanya Aurora dengan manja .
Pak Pratama membalas dengan tatapan membunuhnya .
Ia segera mendorong tubuh Aurora dari pangkuannya dengan kasar . Wanita itu tersungkur ke lantai .
Aurora meringis menahan sakit . Tali bathrobenya semakin longgar hingga sebagian tubuh polosnya bisa terlihat .
" Katakan padaku , rencana apa yang kau lakulan dengan Tomi supirku ? " bentak Pak Pratama .
" Aakuu haanyaa memintanya membantuku membalas dendam pada wanita yang menggangguku daddy . " Jawab Aurora dengan suara bergetar .
" Beraninya kau melibatkanku dalam pembalasan dendam sialanmu itu , " Pak Pratama membentak lagi sambil mencengkram pipi Aurora .
" Taappii aku juga sudah izin padamu Daddy , kamu juga setuju . "
Aurora membela dirinya .
Pak Pratama menghempaskan kasar cengkramannya di pipi Aurora .
" Itu karena aku tidak tahu jika wanita itu adalah tunangan Farrel bodoh . " Teriaknya .
Aurora mulai ketakutan . Terakhir kali Ia melihat kemarahan hebat pria itu saat Ia tertangkap basah sedang bercinta dengan artis pendatang baru . Ia takut jika itu akan terjadi lagi padanya sekarang .
Dengan langkah lebar Pak Pratama masuk ke dalam kamar Aurora , membuka sebuah lemari dan mengambil tas hitam dari dalam sana .
Aurora mengikuti langkah pria yang Ia panggil daddy . Matanya terbelalak saat melihat jika dugaannya benar .
" Kenapa diam disitu bodoh . Cepat kesini kau harus dihukum . Karena perbuatan bodohmu , Farrel menghancurkanku . " Teriaknya pada Aurora .
Kesal karena Aurora tidak bergeming , Pak Pratama dengan kasar menarik rambutnya dan melemparnya ke atas ranjang . Lalu dengan kasar pria itu melepas bathrobe Aurora .
Seluruh wajah Aurora sudah terkena tamparan pria yang dia panggil Daddy , bahkan darah segar mengalir di pelipis , hidung , dan sudut bibirnya .
" Ampun Daddy . " Mohonnya .
" Ampun ? Tidak akan sampai aku menghancurkan tubuh kotormu ini . " Balas Pak Pratama .
" Kamu telah membuatku kehilangan perusahaanku ," makinya .
Aurora cukup terkejut dengan fakta yang baru Ia tahu .
Pak Pratama beralih ke bagian bawah tubuh Aurora . Dengan kasar Ia memaksa masuk beberapa benda tumpul ke gua yang selama ini Ia puja .
Aurora berteriak menahan rasa perih . Namun seakan belum cukup , Pak Pratama melayangkan ikat pinggang ke tubuhnya .
" Aku menyesal pernah tertarik dengan tubuh ini. Tubuh ini yang sudah menghancurkanku . Arrrggghhhh . " Teriak Pak Pratama yang sudah dibutakan oleh amarah .
Hingga bel apartemen berbunyi disertai suara gaduh pintu yang diketuk .
Pria itu memakai kembali celananya yang sempat Ia buka saat menyiksa Aurora dengan miliknya , lalu keluar untuk membuka pintu . Dengan sisa tenaganya Aurora mencabut benda tumpul yang sejak tadi memenuhinya .
" Cari Sia... pa ? " wajah Pak Pratama memucat .
Darah seolah berhenti mengalir ke wajahnya yang kini nampak terkejut .
" Ada apa ini ? " tanyanya gugup melihat apa yang menyambutnya di depan pintu .
.
.
.
.
.
.
"Kau berutang dalam kehidupan dari setiap keburukan untuk dirimu sendiri. Jadi jangan salahkan dia atau siapa jika suatu saat nanti gores luka yang pernah kau beri akhirnya menjadi milikmu."
.
.
.
.
__ADS_1
.
To be continue