
Cukup katakan “Ya, aku mau.”
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
“Pokoknya kamu harus temenin aku.” Pinta Byanca memaksa sahabatnya.
“Apa gak bisa Marsha aja yah? Kamu taukan kalau hari sabtu itu restaurantku full reservasi untuk lunch dan dinner.” Tolak Cyrin.
“Gak bisa Rin. Ya kali orang yang lagi di luar negeri ku suruh balik hanya untuk bantuin milih baju.” Keluh Byanca.
“Oke, oke, aku mau. Tapi kita perginya pagian yah, soalnya sebelum lunch aku sudah harus balik ke resto.” Pungkas Cyrin.
“Siap. 2 jam lagi aku jemput yah.” Ucap Byanca lalu memutus sambugan teleponnya.
Sebenarnya bukan Cyrin tak ingin menemani Byanca, tapi sesuai permintaan Bimo, hari ini Cyrin harus membantu karyawannya mendekorasi ruangan agar menjadi seromantis mungkin.
“Kan sudah ku saranin, sewa aja party planner. Kamu gak akan repot seperti ini.” Celetuk Farrel yang kini sedang menikmati sarapannya.
"Kamu tuh yah, restoku itu masih baru. Kalau bisa dapat cuan lebih besar, kenapa tidak.” Elak Cyrin.
Farrel menggeleng. Begitulah seorang Cyrinda Gayatri, calon istrinya. Wanita gigih dan pekerja keras. Baginya apa yang Ia hasilkan dari hasil kerja kerasnya sendiri akan lebih bermakna.
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
Farrel dan Cyrin berjalan beriringan keluar dari apartemen Cyrin.
Tak lupa satu kecupan mendarat di kening Cyrin sebelum mereka berpisah.
Dari dalam mobil, Byanca menatap jengah pada sahabatnya.
“Bucin banget sih kalian,” ucap Byanca saat Cyrin sudah masuk ke dalam mobilnya.
“Biarin... yang LDR bilang aja iri.” Balas Cyrin meledek Byanca.
“Eh Rin... Jujur deh sama aku, Mas Bimo ada cerita sesuatu gak? Kok bisa tiba-tiba dia ngajak aku makan malam,” tanya Byanca mencoba mencari informasi dari adik kekasihnya.
Cyrin berusaha menahan raut wajah terkejutnya, “Apa Byanca udah curiga yah?” batinnya.
“Bukannya kalian udah sering makan malam bareng yah?” Cyrin menjawab pertanyaan Byanca dengan sebuah pertanyaan.
“Iya memang udah sering sih , tapi kok perasaan aku bilang kali ini ajakan Mas Bimo berbeda. Seperti ada sesuatu yang spesial gitu Rin.” Jelas Byanca.
Cyrin merespon hanya dengan tawa.
“Kamu gak bohongkan Rin, Mas Bimo beneran gak cerita apapun ke kamu? Apa mungkin ke Mas Farrel yah?” gumam Byanca.
“Beneran gak ada. Kamu gak percayaan banget sama sahabat sendiri. Mas Farrel juga gak ada ngomong apa-apa. Aku aja baru tau kalau hari ini Mas Bimo mau ke Jakarta lagi.” Elak Cyrin.
“Baru kali ini aku gugup banget hanya karena diajak makan malam, aku kok curiga Mas Bimo akan melamarku,” gumam Byanca sambil tertawa.
Cyrin yang melihat tingkah sahabatnya hanya menggeleng, “Jangan bilang sekarang kamu punya ilmu cenayang.” Balas Cyrin.
Ia membantah semua dugaan Byanca, demi suksesnya kejutan yang Kakaknya rencanakan, untuk melamar gadis pujaan hatinya.
“Wanita memang punya perasaan yang peka.” Batin Cyrin.
Sementara itu, Byanca akhirnya terpaksa harus percaya pada ucapan Cyrin. Ia menganggap jika dirinya berlebihan menanggapi ajakan kekasihnya untuk makan malam.
Mobil sudah terparkir sempurna di basement sebuah pusat perbelanjaan yang terkenal dengan outlet-outlet ternama di dunia.
“Ayo turun... kok malah melamun,” ajak Cyrin.
“Apa gak jadi aja yah beli gaunnya, sepertinya aku yang terlalu berlebihan menanggapi ajakan Mas Bimo.” Lirih Byanca.
“What? Kok malah pesimis gini sih. Kemungkinan selalu ada By,” ucap Cyrin menyemangati Byanca.
“Tapi kan sayang Rin duitnya,” aku Byanca jujur.
Cyrin menghela napasnya.
Demi sahabatnya tampil maksimal dan kelancaran lamaran Mas Bimo, “Beli aja yuk, nanti aku yang bayarin. Anggap aja hadiah untuk ulang tahunmu yang sebentar lagi.” Tawar Cyrin.
“Beneran Rin?”
“Hitungan ke 3 gak turun juga penawaran batal yah, 1, 2,”
Braaak
Suara pintu mobil ditutup. Byanca sudah turun lebih dulu, meninggalkan Cyrin yang masih merapikan tas dan riasannya.
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
“By, ini udah toko yang keberapa? Kok belum nemu juga?” keluh Cyrin.
“Belum ada yang pas, penampilanku jangan sampai berlebihan, dan juga jangan yang seperti biasa.” Ujar Byanca.
Cyrin yang sudah mulai lelah, hanya bisa duduk di sofa menunggu Byanca yang masih memilah satu per satu gaun.
Saat Cyrin tengah bertukar pesan dengan Farrel, Byanca mendatanginya dengan sebuah gaun hitam off shoulder berlengan panjang.
“Gimana Rin?” tanyanya sembari memutar ke kiri dan kanan.
“Dari sekian banyak gaun, aku rasa gaun ini yang paling pas.” Ucap Cyrin mendukung pilihan Byanca.
“Tapi Rin, hemm.....” Byanca merasa tak enak hati saat melihat harga gaun yang Ia pilih.
Gaun keluaran terbaru, rancangan dari designer ternama, tentu saja harganya bisa bikin tepuk jidat.
Cyrin seperti paham apa yang diragukan Byanca.
“Udah gak ada tapi-tapi, ambil yang itu aja. Hadiah dariku, gak boleh ditolak.”
Byanca tersenyum. Hanya dengan Cyrin wanita itu bisa menjadi apa adanya dirinya. Tak perlu berpura-pura, tak perlu menipu diri sendiri agar bisa dipandang oleh orang lain.
__ADS_1
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
Malam yang dinanti oleh Bimo tiba.
Harapnya malam ini wajahnya akan terus mengembangkan senyum, namun kenyataannya sepanjang jalan dari bandara Ia terus saja menggerutu.
“Udah gak usah ngomel-ngomel mulu,” tegur Farrel yang mendapat tugas menjemput calon kakak ipar.
Setelah menunggu selama 30 menit karena pesawat dari Solo yang ditumpangi Bimo delay, kini Farrel harus menghadapi kemacetan Ibu Kota dengan senandung ocehan dari Bimo.
“Jika dia bukan sahabat dan calon kakak iparku, sudah sejak tadi kuturunkan dia di jalan.” Batin Farrel ikut-ikut menggerutu karena pusing dengan ocehan Bimo.
“Aku hanya takut By nunggunya kelamaan.” Keluh Bimo.
“Byanca pasti ngerti kok.” Balas Farrel.
“Lagian nih yah, sesuatu yang perjuangannya sulit, banyak rintangan, cobaan, dan ujian, biasanya pertanda baik, pertanda akan meraih keberhasilan." Bujuk Farrel.
“Benarkah?”
“Lihat aja kisahku dan adikmu.” Jawab Farrel singkat.
Akhirnya seulas senyuman menghiasi wajah kusut Bimo.
Bimo terus membayangkan Byanca yang memeluknya sambil berkata 'Yes I do.'
Hingga Ia tak menyadari jika mobil Farrel telah berhenti.
“Lah, dia malah ngelamun.” Celetuk Farrel.
“Bim...Bimo... Kok malah diam, putri sudah nungguin pangeran sejak tadi loh.” Ucap Farrel.
Bimo yang tersadar segera masuk ke apartemen kekasihnya.
“Sungguh Tuhan benar-benar maha kuasa, pencipta segala keindahan.” Batin Bimo.
Pria itu terpaku saat melihat Byanca yang duduk di tepian kaca lobby apartemennya.
Menggunakan gaun hitam dengan bahu terbuka, membuat Bimo kesulitan menahan hasratnya untuk tidak memeluk wanita yang Ia cintai.
“Maaf aku telat, sumpah pesawat delay ditambah dengan jalanan macet,” Jelas Bimo.
Byanca tersenyum manis, “Tak masalah, tapi apa kita akan terus di sini saja?”
“Astaga maaf, aku hampir lupa.”
Keduanya berjalan menuju mobil Farrel yang masih menunggu di depan lobby apartemen Byanca.
Bak seorang supir profesional, Farrel membukakan pintu mobil bagi sepasang kekasih yang sangat serasi dengan pakaian berwarna senada.
“Silahkan Tuan dan Nona,” ucapnya.
“Mas Farrel, kok Cyrin gak diajak?” tanya Byanca merasa suasana di mobil menjadi canggung.
Apalagi tangan Bimo yang sejak tadi menggenggam tangannya tiba-tiba saja terasa dingin.
“Cyrin lagi sibuk masak dan beberes, warung makan lagi ramai Non,” ucap Farrel masih mendalami perannya sebagai seorang supir.
Byanca kembali terkekeh, berbeda dengan Bimo yang semakin tegang saat menyadari mobil sudah memasuki kompleks pertokoan tempat restaurant milik adiknya berada.
“Loh kita makan malam di restauran Cyrin?” tanya Byanca saat melihat mobil Farrel berhenti tepat di depan resto milik sahabatnya.
“Iya, gak apa-apakan?”
Byanca hanya menggeleng.
Tapi yang membuat Bimo dan Byanca bingung, mengapa restauran Cyrin gelap.
Lampu ruang depan padam, tak ada suasana romantis yang dijanjikan oleh pemilik tempat itu.
Dalam hati Bimo terus menggerutu, “Awas aja yah Rin kalau kamu sampai ngerjain Mas,” batinnya.
“Kok gelap amat,” celetuk Byanca.
“Bentar Mas cari saklar lampunya dulu.”
Saat Bimo hendak menyalakan lampu, tiba-tiba saja lampu kerlap kerlip menyala, bertuliskan 'Follow Me'.
“Mas, lihat itu.” Pekik Byanca.
Bimo meraih tangan Byanca, menuntunnya masuk lebih dalam.
Senyum akhirnya merekah dengan indahnya saat Ia melihat lilin-lilin dan taburan kelopak mawar menghiasi lantai, menuntun keduanya untuk sampai pada tempat kejutan berikutnya.
Dengan tangan saling menggenggam, sepasang kekasih ini mengikuti arah lilin-lilin menuntun mereka.
Hingga tibalah mereka di tempat kejutan selanjutnya, meja beralaskan karpet berwarna emas, dengan hiasan bunga mawar yang sangat banyak di atasnya.
“Ayo sayang.” Ajak Bimo dengan mesra.
Sepertinya Cyrin tak melupakan jika sahabatnya mengenakan gaun mini, karena sudah ada selimut tersedia disana yang Byanca gunakan untuk menutupi pahanya saat Ia harus duduk.
“Lolos kamu Dek, maaf Mas tadi sempat kesal padamu.” Batin Bimo.
Makanan mulai terhidang satu per satu. Mulai dari makanan pembuka, hingga makanan utama yang hampir tandas.
Tak ada pembicaraan serius diantara keduanya. Bimo sangat gugup. Suasana hening yang harusnya romantis karena alunan melodi yang indah, sepertinya tidak bisa Bimo nikmati.
Apalagi saat chef sedang menghidangkan makanan penutupnya. Jantung Bimo berdetak tak karuan.
__ADS_1
Byanca tanpa ragu dan curiga segera membuka penutup hidangan di hadapannya.
“Mas,” serunya.
Matanya membola, dan mulai berkaca-kaca karena air mata.
Ia bahkan sampai menutup mulutnya dengan satu tangan karena tak menyangka jika dugaannya yang tadi dipatahkan oleh Cyrin ternyata benar-benar terjadi.
Sebuah potongan kue kecil di dalam coklat berbentuk sarang, diatas kue kecil itu ada benda berkilau yang membuat air matanya langsug berkumpul di pelupuk matanya.
Apalagi tulisan Marry me yang menghiasi hidangan penutup terbaik yang pernah Ia lihat selama 23 tahun hidupnya.
Air mata belinang menghiasi wajah cantik Byanca. Berkilau terkena pantulan kerlap kelip lampu yang menerangi tempat yang menjadi sejarah penting pada hidup keduanya.
Bimo berpindah posisi, lebih dekat dengan kekasihnya.
Perlahan Ia mengusap lembut air mata yang membasahi pipi kekasihnya.
Harusnya saat ini, Ia mengucapkan kata-kata romantis yang telah Ia siapkan seharian ini.
Namun bibirnya terasa keluh, Ia sangat gugup.
“By....” Ucapnya.
“Hemm..... By....”
Bimo menggerutu pada dirinya sendiri dalam hati.
“By, aku.... Aku.... Aku... Mencintaimu.”
Ucapannya kembali terjeda. Dalam hati Ia bersorak karena akhirnya ada kata yang berhasil terucap.
“By... Hemmm.... By, maukah kau..... Hemmmm.... Maukah kau......” Kalimatnya terjeda lagi.
Kegugupannya mendominasi, membuat Bimo rasanya tak sanggup melanjutkan ucapannya.
Cyrin dan Farrel serta beberapa chef dan karyawan yang menjadi penonton awalnya merasa gemas dengan tingkah Bimo yang malu-malu.
Namun lama kelamaan, rasa gemas mereka berubah menjadi geram karena Bimo tak kunjung menyampaikan niatnya.
“By.... By, maukah kau me.....” ucapan Bimo terhenti karena sebuah benda kenyal kini membungkam bibirnya.
Sepasang tangan mungil menangkup pipinya, aroma wangi yang sangat Ia sukai menguar di indra penciumannya, terasa sangat dekat.
Bimo mengedipkan beberapa kali matanya. Menyadari jika kini Byanca tengah menciumnya.
Karena tak ada respon dari prianya, Byanca menghentikan aksinya.
Ia mundurkan wajahnya, hingga kedua netra mereka saling bertemu.
“Ya, aku mau Mas,” ucap Byanca.
Bimo terpaku dengan ucapan Byanca barusan.
Rasanya Ia lupa caranya bernapas atau berkedip.
“Mas....” Panggilnya manja, menarik Bimo kembali dari dunia khayalannya.
“Ya,” jawab Bimo tergagap.
“Aku mau jadi istri Mas.” Jelas Byanca.
Senyum Bimo akhirnya terukir di wajah tampannya, sedang wajah Byanca kini sedang merona.
“Makasih sayang.” Hanya kata itu yang mampu Bimo ucapkan.
Lalu Ia kembali menyatukan kedua bibir mereka. Menyalurkan semua perasaan bahagia yang kini mereka rasakan.
Dari kejauhan, Cyrin dan Farrel yang harusnya jadi tim huru-hara ikut terharu dengan drama romantis yang menjadi tontonan live mereka saat ini.
Meski sudah siap dengan konveti, terompet, bahkan kelopak-kelopak bunga yang rencananya akan memeriahkan suasana malam itu, Cyrin dan yang lainnya memilih mundur.
“Sebaiknya kita tinggalkan saja mereka, jangan mengubah alur cerita romantis yang mereka buat.” Ucap Cyrin dengan berbisik.
Karyawan lain mengangguk menyetujui usulan sang bos.
“Benar, kita langsung pulang aja yah sayang.” Usul Farrel.
“Besok udah pingitan, malam ini isi baterai dulu yuk sayang,” rengek Farrel sambil berbisik mesra pada calon istrinya.
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
Sebuah ballroom salah satu hotel milik Jatmika Company telah dihias dengan berbagai macam warna bunga freesia sesuai permintaan calon mempelai wanita.
Belajar dari pengalaman, kali ini akad nikah diadakan secara tertutup. Hanya keluarga dan kerabat dekat yang diundang.
Tak ada media. Bahkan Daffin mengerahkan 3 kali lipat penjagaan dari yang sebelumnya.
Teknologi tercanggih dan termutakhir telah Daffin siapkan untuk mengawasi jalannya acara sakral bosnya.
Sementara di satu ruangan yang tak jauh dari ballroom, calon pengantin wanita kini sangat gugup.
“Kamu cantik banget Rin, aku yakin Mas Farrel akan pangling melihatmu.”
“Gimana rasanya dipingit? Tidak bertemu Kang Mas Farrel 3 hari pasti ngangenin banget yah?” tanya Byanca.
“Gimana yah By, aku jadi kesal sama Mas Farrel kalau ingat masa pingitan,” ucap Cyrin.
“Kesal gimana?” tanya Byanca penasaran.
♡♡♡♡♡ to be continue ♡♡♡♡♡
“Tak harus berpikiran sama denganku, tapi mari berpikir bersamaku untuk menjalani bahtera rumah tangga kita kelak.”
__ADS_1