
Hari mulai semakin sore saat Farrel dan Cyrin berpamitan untuk kembali ke Jakarta .
Walaupun hanya sebentar , namun hari ini sungguh berkesan bagi Farrel dan Cyrin .
Entah mengapa Cyrin rasanya selalu berdebar setiap kali di dekat Farrel . Bahkan wajahnya lebih gampang merona . Rasanya dia mudah sekali menerima semua perlakuan Farrel padanya .
Begitu juga yang di rasakan Farrel . Ia merasakan kembali perasaan yang dulu pernah Ia berusaha lupakan . Selama bersama Cyrin senyum selalu menghiasi wajahnya .
Farrel sudah sangat yakin untuk mendapatkan cinta Cyrin lagi . Ia berencana mengingatkan Cyrin ke masa masa SMA mereka .
Dulu Farrel pernah menyatakan perasaannya pada Cyrin sebanyak 12 kali . Dan setiap kali Ia menyatakan perasaannya dia selalu memberikan sesuatu pada Cyrin .
Jadi kini Farrel berencana untuk kembali memberikan barang yang serupa pada Cyrin . Sebanyak 12 kali dengan 12 barang yang berbeda , kemudian barulah Ia akan menyatakan perasaan dan meminta Cyrin menjadi kekasihnya .
Semoga dengan begitu , Cyrin bisa mengingat kenangan mereka dulu saat SMA . Atau mungkin bisa membantunya pulih dari trauma yang dideritanya .
Kembali ke perjalanan Cyrin dan Farrel .
Farrel menatap wajah lelah Cyrin yang kini tengah tertidur . Sesekali Farrel bahkan harus membenarkan posisi kepala Cyrin .
Cyrin merasa jika ada seseorang yang memegang kepalanya segera membuka mata .
" Oh Mas Farrel , maaf yah Cyrin ketiduran . " Ucapnya sambil membenarkan posisi duduknya.
" Gak apa apa , malah aku yang minta maaf sudah mengajakmu kesana sampai kamu lelah. "
" Kenapa harus minta maaf , Cyrin malah senang kok diajakin kesana . Cuti Cyrin jadi gak sia sia . " Ucap Cyrin .
" Tapi Mas ... kok aku tiba tiba kepingin makan sate buntel yah . Mas tahu gak tempat di Jakarta yang jual makanan itu ? " tanya Cyrin .
" Dimana yah Rin , aku belum pernah sih makan itu di sini . Harus sekarang yah Rin ? "
" Yah gak sekarang sih Mas , kan masih di jalan juga . Maunya untuk makan malam nanti . "
" Sama aja dong , tetap aja hari ini . " Batin Farrel.
" Ya udah , aku minta Daffin cariin dulu yah . "
Cyrin tersenyum . Dia sudah membayangkan bisa memakan sate buntel yang sudah lama Ia rindukan .
Farrel segera mengirim pesan pada Daffin . Ia meminta Daffin mencarikan sate buntel juga barang pertama yang ingin dia berikan pada Cinta .
Mobil terus melaju hingga akhirnya langit berubah menjadi gelap .
Tak terasa mereka telah tiba di apartemen Cyrin.
" Loh itu bukannya Pak Daffin yah ? " seru Cyrin yang melihat seseorang mirip Daffin sedang berdiri di depan lobby apartemennya .
" Hemmm " Jawab Farrel dengan dehaman .
" Ngapain dia malam malam gini ada disini Mas ? "
" Lohh bukannya tadi kamu mau makan sate buntel ? " Farrel menjawab pertanyaan Cyrin juga dengan pertanyaan .
" Haahh ? Jangan bilang Mas minta Pak Daffin yang beliin yah ? Kan jadi ngerepotin . "
" Terus gimana dong . Kalau nungguin kita berdua yang nyari kelamaan , keburu kemalaman . "
" Ya udah yuk ... Aku juga sudah lapar . " Ajak Farrel yang turun lebih dulu kemudian membukakan pintu untuk Cyrin .
Daffin yang menyadari kedatangan bosnya segera menghampiri mereka .
" Malam Pak , ini pesanannya . Semuanya sudah lengkap . " Ucap Daffin .
" Thank you yah Fin . Kita naik dulu yah . " Ucap Farrel .
" Loh... memang makannya mau di mana Mas ? Di apartemenku ? Mas juga mau ikutan makan ? "
Farrel menatap bingung Cyrin .
" Apa kamu gak ingin ajakin aku makan bareng sekalian Rin ? Aku udah nyetir jauh loh , masa di biarin pulang dengan kelaparan . "
Cyrin berpikir sejenak , semakin lama Ia berduaan bersama Farrel maka jantungnya akan semakin tak sehat .
" Ya udah deh , ayok . Pak Daffin ikut juga yuk ... " Ajak Cyrin .
Daffin menggeleng . Ia segera menolak apalagi setelah melihat pelototan dari mata sang bos .
Setelah Daffin pergi keduanya masuk kedalam apartemen bersamaan .
Dari kejauhan dari sebuah mobil ada sepasang pria dan wanita yang sedang memperhatikan Cyrin dan Farrel .
" Tuh kan Kak , aku gak bohong. Jadi benar yang kulihat tadi kalau yang bersama CEO Jatmika itu adalah Cyrin . " Ucap Olla dengan sengaja semakin memanasi Nino .
" Sialan . " Ucap Nino sambil memukul setir.
Setelah Ia melihat keduanya masuk ke dalam gedung apartemen maka Nino juga mulai melajukan mobilnya pergi meninggalkan parkiran apartemen Cyrin tempatnya menunggu selama 3 jam .
Sekitar 5 menit perjalanan Nino menghentikan mobilnya di pinggir jalan .
" Turun kamu . " Ucapnya pada Olla .
Olla pura pura tak mendengar perintah Nino .
" Olla , kamu tuli yah . Turun . " Perintahnya sekali lagi .
" Kak .... kok gitu sih . Aku kan sudah nemenin kakak nungguin Cyrin . Masa tega turunin aku ditengah jalan . Antarin sampai rumah yah . Lagian kita searah kok . "
Bujuk Olla dengan manjanya .
" Turun . Aku ada urusan sama Alvin . Jadi kamu jangan banyak protes . Turun sekarang . "
Dengan terpaksa Olla turun dari mobil dan Nino segera melajukan mobilnya menuju sebuah club untuk menyusul Alvin sekertarisnya yang sudah lebih dulu berada disana .
__ADS_1
Sementara itu di apartemen Cyrin, wanita itu sudah segar kembali setelah mandi dan mengganti pakaiannya .
Rambutnya yang masih basah segaja Ia gulung dengan handuk ke atas kepalanya sehingga mempertontonkan leher jenjang putih mulusnya.

Wanita itu sedang sibuk mengatur makanan ke meja makan .
Farrel yang tadinya menunggu di sofa segera beranjak ke meja makan untuk membantu Cyrin .
Ia terpesona dengan tampilan Cyrin sekarang .
" Astaga... tenang... tenang... jantungku. Tolong .... bekerjasama lah . Jangan sampai Cyrin mendengar detakanmu . " Ucap Farrel dalam hati .
" Rin .. kamu mending keringin rambut dulu . Udah malam nanti kamu sakit . " Farrel memberi alasan .
Rasanya Ia tak bisa berlama lama menatap Cyrin seperti itu , Ia takut bisa saja Ia khilaf .
Dengan sedikit mendorong bahu Cyrin , " Ayo buruan . Kalau kamu sakit nanti aku juga yang repot . Nanti makanannya aku yang siapin . "
Setelah Cyrin kembali ke kamar barulah jantung Farrel berdetak lebih lambat . Farrel membuang napas kasar .
" Untung saja masih bisa terkontrol . " Ucapnya sambil dengan cekatan Ia menyalin makanan ke piring .
Setelah itu mereka berdua makan bersama sambil sesekali bercerita mengenai masa masa SMA .
Semua momen saat SMA masih terekam jelas di otaknya , kecuali momen momen yang berhubungan dengan pria .
" Mas.. mas... kok melamun lagi sih ? " Tegur Cyrin .
" Eh.. sorry . Kenapa Rin ? Tadi kamu ngomong apa ? "
" Aku bilang kok Mas suka banget melamun . Lagi banyak pikiran yah ? "
Farrel menggeleng . " Gak ada . Paling cuma mikirin kamu aja , gak banyak kok . " Jawabnya asal .
Cyrin kembali merona mendengar jawaban Farrel , sedang Farrel dibuat makin gemas karena melihat Cyrin yang kini malu malu .
Farrel lalu mengambil paperbag yang tadi dibawa Daffin .
Ia mengeluarkan sebuah kotak dan setangkai mawar merah .


" Ini untuk kamu . " Ucapnya lembut .
Cyrin menerima pemberian Farrel .
" Kenapa ngasih hadiah , aku kan gak ulang tahun . Tapi makasih yah , boleh aku buka ? "
__ADS_1
" Buka aja . "
Cyrin begitu berbinar tatkala melihat isi kotak itu adalah cokelat .
Farrel sangat tahu jika Cyrin suka cokelat . " Kamu tahu yah jika aku suka cokelat . " Ucapnya.
Farrel mengangguk , kemudian Ia mengenggam kedua tangan Cyrin .
" Menurutmu apa yang tidak ku ketahui tentangmu ? " Tanya Farrel.
" Entahlah . Kamu sepertinya tahu banyak tentangku . Sedang aku bahkan melupakan banyak hal tentang mu . " Ucap Cyrin terdengar menyesal .
" Tak apa ... itulah mengapa aku memberimu hadiah ini . Aku ingin membawamu ke masa masa dulu saat aku memperjuangkan cintaku padamu . " Ucap Farrel .
" Aku ingat dengan jelas , dulu saat pertama kali aku menyatakan perasaaku padamu aku juga memberimu cokelat dan setangkai mawar seperti ini . Dan raut wajah bahagiamu saat menerimanya juga sama seperti tadi . " Lanjut Farrel .
Cyrin tersipu malu sekali lagi . Yang masih Cyrin pertanyakan jika dulu Farrel melakukan hal ini karena ingin menyatakan perasaannya , lalu yang sekarang untuk apa .
Dengan ragu Cyrin menanyakannya pada Farrel .
" Lalu Mas jika dulu memang kejadiannya seperti yang Mas katakan . Lalu mengapa sekarang Mas memberiku hal yang sama . "
Farrel tersenyum , Ia sebenarnya ingin sekali menyatakan perasaannya malam ini pada Cyrin tapi Ia harus menahannya . Belum saatnya menurut Farrel .
" Tak ada maksud apa apa . Aku hanya ingin kamu perlahan kembali mengingat kenangan kita . "
Raut wajah Cyrin seketika berubah . Farrel menyadari itu dan tersenyum .
" Rin... mungkin belum sekarang aku meminta kamu membalas perasaanku . Tapi kamu harus tahu , selama 6 tahun ini perasaan itu masih ada di dalam hatiku . Bukannya aku ingin menunda nunda , tapi aku juga ingin kamu bisa mengingat sedikit kenangan kita dulu . "
Ucapan Farrel barusan membuat Cyrin kembali tersenyum .
Entah bagaimana , tapi hatinya bahagia saat tahu Farrel masih memiliki perasaan padanya .
" Apa aku sudah mulai jatuh cinta padanya ? Apa secepat itu ? " Batin Cyrin .
Tanpa Cyrin sadari perasaan yang dulu coba Ia kubur dalam dalam bersama ingatan masa lalunya , perlahan lahan mulai muncul kembali .
Sepanjang malam itu Cyrin terus memandangi setangkai bunga mawar pemberian Farrel yang telah Ia letakkan di dalam botol berisi air .
Ia sengaja menyimpannya di atas nakas samping tempat tidur , rasanya ia tak ingin jauh jauh dari mawar itu . Cokelat pemberian Farrel juga masih utuh , tak tega jika Ia harus memakannya .
" Tuhan , apa aku benar benar sudah membuka hatiku untuk pria itu yah ? Mengapa semudah itu hatiku menerimanya . Apa memang benar yang dikatakan Mas Bimo jika dulu aku juga sebenarnya menyukai Mas Farrel tapi tak bisa menerimanya karena orang tua yang melarang untuk pacaran . "
Semalaman itu Cyrin mencoba mengingat ingat lagi sosok Farrel di kenangan masa masa SMA nya . Namun sayang bukan malah ingatan yang didapatnya , melainkan rasa sakit pada kepalanya . Akhirnya Ia menyerah dan memilih tidur untuk mengistirahatkan tubuhnya .
.
.
.
.
" Dia tidak yakin kapan itu terjadi. Atau bahkan saat itu dimulai. Yang dia tahu pasti adalah bahwa di sini dan saat ini, dia begitu jatuh cinta dan dia hanya bisa berdoa agar dia merasakan hal yang sama." - Nicholas Sparks
.
.
.
.
.
__ADS_1
To be continue