
Tok... tok... tok...
" Permisi Pak ... " ujar Daffin .
" Ya ... ada apa Fin ? Bunga dan kuenya sudah diterima Cyrin ? " tanya Farrel .
" Sudah Pak . "
" Baru saja sekertaris Pak Nino dari Wiguna menghubungi saya . Pak Nino ingin mengatur waktu bertemu dengan Anda dalam waktu dekat ini . " ujar Daffin .
Farrel mengernyitkan keningnya .
" Nino ingin bertemu denganku ? Apa urusan bisnis ? "
" Bukan Pak . Kata Alvin sekertarisnya , Pak Nino ingin membahas soal Nona Cyrin . Dan ini sangatlah penting . "
Farrel menghentikan aktivitasnya yang sedang menandatangani berkas .
" Soal calon istriku ? " ulang Farrel .
" Mau apa lagi Nino itu . Apa belum cukup jelas penolakan Cyrin yang terakhir lewat Eyang dan Mamanya . " Geram Farrel .
" Atur pertemuanku dengannya secepat mungkin . Tapi jangan sampai calon istriku tahu . " Perintah Farrel .
Setelah Daffin berkomunikasi dengan Alvin , akhirnya Farrel dan Nino setuju untuk bertemu di sebuah ruang VIP salah satu club terkenal di Jakarta .
Malam harinya , Farrel sedang menikmati makan malam bersama Cyrin di sebuah restauran setelah sebelumnya mereka mengunjungi sebuah toko perhiasan untuk memesan cincin pernikahan .
" Yang , bagaimana di kantor , apa Nino masih menemuimu ? " tanya Farrel .
Cyrin menggeleng . " Memangnya ada apa ? Bukankah wajar jika aku bertemu dengannya di kantor , dia kan CEOnya . Yang aneh jika aku bertemu dengannya di luar jam dan lingkungan kantor . "
" Tidak ada apa- apa . Aku hanya tidak ingin ada orang lain yang berniat menganggu hubungan kita . "
Setelah itu keduanya kembali membahas mengenai persiapan pernikahan .
Sebenarnya Cyrin ingin sekali bertemu dengan Nino . Ia ingin minta maaf perihal Eyang dan Mamanya yang harus ditolak oleh Cyrin .
Tapi hari ini , Nino seperti menghindarinya . Bahkan saat Cyrin melihat Nino berjalan kearahnya , pria itu segera memutar balik seperti menghindar .
Sementara Farrel masih memikirkan apa yang ingin dibicarakan Nino padanya . Berani sekali Nino jika dia ingin bertemu Farrel hanya untuk mengacaukan hubungannya dengan Cyrin .
Sebelum pulang , Farrel izin ke toilet sementara Cyrin masih menunggu di mejanya .
Saat menunggu Farrel , tiba-tiba saja ada seorang pelayan yang menghampirinya .
" Permisi Nona , ini ada titipan dari pria di meja sana . " Ujarnya sambil menunjuk ke arah meja di dekat pintu .
Cyrin mengikuti arah yang ditunjukkan pelayan , namun yang dia lihat adalah seorang pria memakai jaket kulit hitam dan topi yang menutupi wajahnya . Pria itu segera berdiri dan meninggalkan mejanya kemudian keluar dari restauran saat menyadari Cyrin menatap ke arahnya .
Pelayan itu masih berdiri di meja Cyrin saat Farrel sudah kembali dari toilet .
__ADS_1
" Ada apa sayang ? Apa kamu butuh sesuatu ? " tanya Farrel membuat Cyrin terkejut .
" Eh.. hemm.... tidak ada Mas . " Jawab Cyrin gugup .
" Bunga itu dari siapa ? " tanya Farrel menatap tajam pada pelayan yang sedang gugup .
" Ini.. ini dari restauran ini . Benar dari restauran . Mereka membagikan setangkai mawar pada pelanggan . Benar kan ? "
Ujar Cyrin kemudian meminta dukungan dari pelayan itu .
" Iiyaa Nona . " Jawabnya terbata-bata .
" Oh . Tinggalkan saja bunga itu . Calon istriku tidak boleh menerima bunga dari orang lain selain aku . Akan kubelikan yang lebih bagus dari itu . " Ujar Farrel dengan angkuhnya .
Cyrin diam saja dan memilih menuruti ucapan Farrel agar tidak ada keributan .
Cyrin segera menggandeng lengan Farrel , " Pulang yuk Mas , aku sudah ngantuk . " Ujar Cyrin manja .
Farrel dan Cyrin melangkah meninggalkan restauran .
" Aku akan menutup resto ini jika ku tahu pelayannya berani memberikan bunga pada calon istriku . " Ujar Farrel .
Cyrin menelan salivanya saat mendengar ancaman Farrel . Ia memilih mengeratkan gandengannya pada lengan Farrel .
Setelah mengantar Cyrin pulang ke apartemen , Farrel segera melajukan mobilnya ke tempat janjiannya dengan Nino . Ia terpaksa berbohong pada Cyrin jika dirinya harus pulang lebih awal karena masih harus memeriksa beberapa berkas .
Saat berjalan masuk ke dalam club , Farrel melihat Daffin yang menunggunya .
" Apa dia sudah datang ? " tanya Farrel .
" Sudah Pak . Dia juga hanya datang berdua bersama sekertarisnya Alvin . "
Farrel menoleh pada Daffin . " Tak penting dia datang dengan siapa , aku yakin akan tetap menang jika harus melawannya . "
Daffin mencebikkan bibirnya tanpa sepengetahuan Farrel . " Sombong sekali Pak Bos ini , " batinnya .
Daffin membukakan pintu ruang VIP tempat Nino sudah menunggu .
Farrel duduk di sofa yang posisinya berhadapan dengan Nino .
Selain Nino dan Alvin , di ruangan itu juga ada 2 orang wanita berpakaian minim sedang duduk di samping Nino dan Alvin . Sesekali wanita itu menuangkan minuman pada gelas mereka .
" Ada apa kau ingin menemuiku ? " tanya Farrel tak ingin berlama lama ditempat itu .
" Santailah Farrel , kapan lagi kita bisa duduk bersama seperti ini . " ujar Nino .
" Tuan , apa aku perlu memanggil temanku yang lain untuk menemani tamu mu ? " tanya wanita yang bergelayut manja di lengan Nino .
" Tanyakan saja langsung padanya apa dia mau . " Jawab Nino .
Wanita itu lalu mendekat ke arah Farrel , menuangkan minuman di gelas yang berada di hadapan Farrel .
" Tuan , apa malam ini kamu butuh teman ? "
__ADS_1
" Jangan bicara padaku dan menjauhlah dari hadapanku . " Bentak Farrel .
" Dan kau Nino , jangan berlama-lama . Aku tidak memiliki banyak waktu untuk meladenimu . " Tegas Farrel .
Nino tertawa , lalu memberi kode pada dua wanita itu untuk keluar dulu .
" Ku rasa aku juga akan menolak wanita lain sepertimu andai saja aku berhasil memiliki wanita sempurna seperti Cyrin . " Ujar Nino membuat Farrel geram .
" Ini soal Aurora . " lanjutnya .
Farrel berdecak . " Kau ingin membahas apa sebenarnya ? Jika soal wanita ****** itu aku tidak tertarik . "
" Wanita ****** itu tahu soal masa lalu Cyrin . Soal penculikan dan trauma yang dialami Cyrin . " Ujar Nino membuat Farrel terkejut .
" Dari mana kau dan dia tahu soal itu ? "
" Jika ingin , harusnya aku bisa tahu hal ini dari dulu . Salahku karena tidak mencari tahu masa lalu dari wanita yang ku cintai . " Jawab Nino .
" Perhatikan ucapanmu . Cyrin itu calon istriku . Tidak pantas bagimu memiliki perasaan padanya . " Peringat Farrel .
" Sebaiknya sekarang kamu tidak perlu menghawatirkan perasaanku padanya . Aku sudah merelakan demi kebahagiaannya . " Ujar Nino .
" Sebaiknya kau hawatir pada Aurora . Dia berniat untuk mengacaukan pernikahan kalian dengan memanfaatkan trauma Cyrin . "
" Dari mana kau bisa tahu hal itu ? Dan bagaimana aku bisa percaya padamu ? "
Tanya Farrel . Ia belum bisa percaya pada Nino seutuhnya . Bisa saja ini salah satu rencananya untuk mengalihkan perhatian Farrel agar lebih mengawasi Aurora ketimbang dirinya .
" Karena awalnya aku dan Aurora ingin bekerjasama . Info itu juga dia tahu setelah menguping pembicaraanku dengan Alvin . "
Ujar Nino .
" Setelah penolakan Cyrin terakhir kali pada Eyang dan Mama ku , aku sadar jika hatinya sudah menjadi milikmu sepenuhnya . Dan ku pikir mungkin kamulah yang bisa menyembuhkannya dari traumanya . "
" Itulah aku menolak ajakan Aurora untuk melanjutkan kerjasama kami . Melihat Aurora yang tidak terima dengan keputusanku , ku pikir dia akan tetap melanjutkan rencananya . "
" Jadi berhati-hatilah . Awasi Aurora dan Cyrin . Di kantor aku sudah menempatkan seseorang untuk mengawasi Cyrin . Selebihnya itu menjadi tanggung jawabmu . " Ujar Nino memperingati Farrel .
Tak lama setelah pembicaraan kedua pria itu selesai . Farrel dan Daffin pergi meninggalkan Nino dan Alvin yang ingin melanjutkan melewati malam mereka di club .
Keheningan terjadi selama perjalanan pulang Farrel . Daffin sesekali melirik ke arah bosnya yang terus diam .
Farrel memikirkan kemungkinan apa yang bisa dilakukan wanita ****** itu untuk mengacaukan pernikahannya .
Pikirannya tiba-tiba membawanya pada ingatan kejadian di restauran beberapa jam yang lalu .
" Fin ... kamu periksa CCTV di restoran XX . Sepertinya tadi ada pelayan yang tiba-tiba saja memberi setangkai bunga mawar pada Cyrin . Pastikan bunga itu dari siapa . " Perintah Farrel .
" Juga tempatkan beberapa pengawal untuk mengawasi tempat yang sering Cyrin kunjungi . Lakukan dengan tenang , jangan sampai Cyrin curiga . Kamu ingatkan trauma yang dialami Cyrin , jangan sampai keberadaan pengawal membuatnya ketakutan dan tak nyaman . "
Daffin segera menyanggupi perintah bosnya .
" Sepertinya aku harus menghubungi Bimo dan memberitahu hal ini . Sekarang bukan hanya nasib pernikahannya yang Ia pikirkan , tapi keselamatan dari wanita yang sangat Ia cintai . " Batin Farrel .
.
.
.
.
.
" Ketika kamu menyadari kamu ingin menghabiskan sisa hidupmu dengan seseorang, kamu akan menginginkan sisa hidupmu dimulai secepat mungkin.” – When Harry Met Sally
.
.
.
.
.
To be continue
__ADS_1