
Saat-saat yang paling kutunggu dari pernikahan adalah ketika aku dan kamu berhenti sejenak untuk serius.
Lalu kita akan nikmati hari kita menjadi aneh dan merasa muda lagi.
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
Cyrin menatap pantulan dirinya pada cermin, menutup matanya sejenak.
Ada beberapa hal buruk yang pernah terjadi dihidupnya, namun Tuhan Maha Baik masih memberinya kesempatan sampai pada hari yang sangat berbahagia dalam hidupnya.
CUP.
Cyrin membuka matanya ketika sebuah kecupan mendarat di pipinya.
Siapa lagi yang berani melakukan hal itu jika bukan Farrel, suaminya.
“Memikirkan apa?” tanya Farrel.
Kedua netra mereka saling menatap melalui pantulan diri pada cermin.
Cyrin menggeleng, “Bukan sesuatu yang serius.”
“Apapun itu akan menjadi hal yang serius bagiku, jika sudah menyangkut dirimu," tegas Farrel.
"Ingatlah sayang, komunikasi adalah yang terpenting untuk membangun rumah tangga," peringatnya.
Tangan kanan Cyrin bergerak keatas, mengelus lembut pipi Farrel yang kini sedang memeluknya dari belakang.
“Betapa beruntungnya aku memiliki dan dicintai olehmu, Mas.” Ucap Cyrin.
“Apa Mas tak malu, memiliki istri yang pernah menderita gangguan kejiwaan?” tanyanya.
Farrel berdecak, Ia membalik tubuh Cyrin hingga kini mereka berhadapan langsung.
Kedua tangan Farrel, begitu posesif memeluk pinggang ramping Cyrin.
“Mengapa kamu menanyakan hal itu?” Tanya Farrel setelah mengecup puncak kepala istrinya.
Setiap perlakuan Farrel menunjukkan betapa Ia mencintai wanita dalam rengkuhannya.
Mencintainya sudah sejak lama, mencintainya dengan segala kekurangan dan kelebihannya, bahkan Farrel pernah memohon cinta dari wanita dalam dekapannya.
Sedang Cyrin yang memang hanya bertanya asal hanya mengedikkan bahu sebagai jawaban.
“Ini bukan siasatmu untuk menghindari malam pertama kita?" tanya Farrel dengan tatapan curiga.
"Bertanya hal-hal yang bisa memancing perdebatan, agar malam ini kamu bisa bebas dari seranganku?" tanya Farrel yang makin membuat Cyrin tertawa.
Cyrin terkekeh, “Tentu saja tidak. Aku tidak punya alasan menolakmu, dan pastinya menolak suami itu dosa.” Jelas Cyrin.
“Jangan mengalihkan pembicaraan, sekarang jawab pertanyaanku yang tadi.” tambahnya.
“Mengapa aku harus malu, pada kenyataannya kamu itu adalah hanyalah mantan pasien,” Ucap Farrel.
__ADS_1
“Yang harusnya malu itu adalah dirimu. Asal kamu tau, aku ini sudah gila sejak lama dan tak akan pernah bisa sembuh," ucap Farrel.
Cyrin menjauhkan kepalanya yang sejak tadi bersandar dengan nyaman pada dada bidang suaminya.
Keningnya mengernyit, dan seperti biasanya saat Farrel mendapati hal itu Ia akan mengecup kening Cyrin.
“Aku benar-benar sudah gila sayang, aku tergila-gila padamu,” gombalnya.
Cyrin tak kuasa menahan tawanya, “Mas, kamu baru saja menambah daftar keberuntunganku.”
Kali ini gentian Farrel yang memasang raut wajah penuh tanda tanya.
“Beruntung karena bisa digombalin Mas Farrel,” ucap Cyrin sambil menahan malu.
Pasangan suami istri baru itu tertawa bersama. Tawa yang awalnya tanpa beban, tiba-tiba saja terasa canggung saat kedua netra mereka
bertemu.
“Sayang, ada sesuatu yang ingin ku tunjukkan padamu.” Ucap Farrel dengan nada serius.
“Tapi kamu harus janji jangan tertawa, atau menceritakan hal ini pada orang lain.” Sambungnya.
Cyrin mengangguk.
Tentu saja dia tak akan pernah membicarakan aib suaminya pada orang lain, Cyrin tak ada niat menambah deretan dosanya dengan melakukan hal itu.
Farrel menggenggam tangan Cyrin, mengajak istrinya duduk bersampingan di sofa.
Ada berbagai macam spekulasi yang muncul di benak Cyrin, dari kemungkinan yang baik atau kemungkinan yang terburuk.
bersamamu di surga kelak.”
Farrel diam sejenak, ingin melihat reaksi Cyrin, tapi raut wajah istrinya masih tak bisa Ia tebak.
“Aku ingin menjadi imam yang baik untukmu. Meski kuakui, aku bukanlah manusia suci dan juga pengetahuan agamaku masih sangat kurang, tapi aku akan belajar, aku akan berusaha untukmu, istriku yang menjadi surga di
dunia ini untuk anak-anak kita kelak.”
“Mas, ada apa sebenarnya? Jangan buat aku jadi khawatir.” Ucap Cyrin mengomentari sikap Farrel yang tiba-tiba menjadi aneh. Berbeda dari beberapa jam yang lalu.
“Gak ada apa-apa sayang. Oke, oke, sekarang aku akan jujur padamu.”
Farrel meraih ponselnya, entah apa yang Ia lakukan tapi setiap gerakan Farrel menarik perhatian Cyrin.
“Nih,” ucapnya seraya menyerahkan ponselnya pada Cyrin.
Dengan ragu Cyrin menerima ponsel Farrel, Ia suah siap jika ada rahasia menyakitkan yang akan Ia lihat beberapa saat lagi.
“Mas,” serunya.
“Jadi, sedari tadi Mas ngomongnya mutar-mutar itu hanya ingin bilang kalau Mas membaca artikel seperti ini?” tanya Cyrin memperjelas.
Farrel mengangguk.
__ADS_1
“Astaga Mas, kenapa kamu terus saja membuatku semakin mencintaimu.” Ujarnya.
Ia memeluk suaminya erat. “Terimakasih Mas, terimakasih sudah mau berusaha membawa rumah tangga kita dijalan yang benar.”
“Kita berdua sama Mas, aku juga selama ini terlalu sibuk mengejar dunia, hingga sempat melupakan akiratku. Aku semakin yakin Tuhan
memang menakdirkan kita bersama. Tuhan tau jika kamu Imam yang bisa menuntunku kejalanNya.” Ucap Cyrin.
Cyrin sangat terharu, matanya sampai berkaca-kaca menahan desakan air mata.
Bagaimana Ia tidak terharu, saat mengetahui jika suaminya benar-benar berniat membangun rumah tangga yang mendapatkan ridhaNya.
“Kamu tidak menertawaiku? Bimo dan Nino sangat puas menertawakanku saat tahu hal ini.” Ucap Farrel.
“Biarkan saja mereka, yang penting aku tidak menganggap hal ini lucu. Aku malah ingin berterimakasih, aku sungguh menghargai usaha Mas Farrel.”
Setelah itu, tiba-tiba saja suasana menjadi hening.
“Mas,”
“Sayang,”
Ucap keduanya secara bersamaan.
“Mas aja lebih dulu,” ucap Cyrin yang kini menunduk malu.
“Ehmmm…. Sayang, maukah kamu menikmati waktu kita setelah menjadi pasangan suami istri?” tanya Farrel.
Cyrin tertegun, meski hubungan mereka yang dulu termasuk hubungan yang dipenuhi dengan kesalahan, namun untuk hari ini, malam ini, Farrel sungguh berusaha agar kami mengawali rumah tangga dengan cara yang benar.
Tak lagi menunduk malu, Cyrin menjawab dengan yakin.
“Iya Mas, aku mau. Tolong ajarkan apa yang telah Mas pelajari sebelumnya.” Ucap Cyrin dengan senyum manis.
Membalas dengan senyuman yang tak kalah mempesonanya, “Terimakasih sayang.”
Farrel lalu mengajak Cyrin untuk membersihkan diri terlebih dahulu. Setelahnya keduanya sudah berpakaian kembali, Farrel memberi Cyrin sebuah kotak yang tak lain adalah mahar pernikahannya, yaitu seperangkat alat shalat.
“Gunakan ini, mari kita tunaikan salat sunnah dua rakaat dulu Yang. Setelah itu kita berdoa agar kita senantiasa disatukan dalam kebaikan.” Ucap Farrel.
Dan, malam itu menjadi awal penyatuan sepasang suami istri yang berharap agar rumah tangga keduanya kelak dilandasi cinta dan penuh kasih sayang demi tercapainya rumah tangga yang memberikan ketentraman hidup.
♡♡♡♡♡♡♡♡♡
Sejak yakin untuk beribadah dengan jalan yang terindah lewat sebuah pernikahan, maka sejak saat itu pula aku meyakinkan diriku agar berusaha berubah menjadi lebih baik. Aku akan menunaikan kewajibanku sebagai seorang imam yang memiliki pendidikan agama yang baik, setelah itu akan aku pastikan, kamu juga akan menerima pendidikan agama yang baik pula.
(Farrel untuk Cyrin)
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
Bye Bye Farrel-Cyrin
Selamat berbahagia.
__ADS_1
♡MakOthor♡