
Setelah beberapa hari dirawat di rumah sakit , hari ini Cyrin sudah kembali ke apartemen .
Farrel dan Cyrin sedang menikmati buah-buahan segar yang Ibu Hindun hidangkan di balkon apartemen .
Selama Cyrin dirawat di rumah sakit , Farrel tidak pernah meninggalkannya . Semua urusan perusahaan dikerjakan oleh Daffin .
" Mas , hari ini masih gak ngantor ? "
Farrel menggeleng , mulutnya sedang sibuk mengunyah buah apel .
" Kasihan banget jadi Daffin yah , punya bos yang suka bolos , " ledek Cyrin .
" Memangnya kamu mau aku tinggal ke kantor ? "
Farrel balik bertanya pada Cyrin .
Wanita yang sebentar lagi jadi istrinya itu malah menggeleng sambil menyengir .
Farrel mencubit pipi Cyrin membuatnya mengaduh yang akhirnya menjadi bahan tertawaan Farrel .
Farrel sudah bersiap mendaratkan kecupan di bibir pink tunangannya , namun harus gagal karena getaran dari ponsel yang ada di saku kemejanya .
Drrrtttt...... Drrrtttt......
" **** . " Geramnya .
Farrel menerima panggilan yang ternyata dari asistennya Daffin .
" Ya Fin , kamu gangguin aku dan Cyrin yang lagi mesra mesraan nih . " Farrel sengaja memberikan kode pada Daffin agar Ia paham jika saat ini Cyrin berada di dekatnya .
Farrel sudah tahu permalasahan apa yang ingin dilaporkan Daffin .
" Saya mengerti bos , " balasnya sambil tertawa .
" Target sudah menangkap umpannya Pak , sekarang sedang memaksa naik . " Ujar Daffin tak mau kalah dari bosnya menjelaskan dengan kode .
Farrel menahan tawanya .
" Baiklah , saya kesana sekarang . "
" Mas mau pergi ? " tanya Cyrin tepat setelah Farrel menyimpan kembali ponsel ke sakunya .
" Yang , maafin aku yah . "
" Aku harus pergi ke kantor , ada yang harus aku selesaikan . " Farrel sungguh berharap Cyrin akan mengizinkannya .
Sejak sakit , Cyrin tidak ingin ditinggalkan sendiri . Dia akan mengalami serangan panik saat sendiri .
Itulah mengapa walaupun sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit , Cyrin masih tetap harus konsultasi dengan psikiater .
Cyrin sebenarnya tidak rela jika Farrel pergi , tapi dia juga tidak bisa egois terus menahan Farrel bersamanya .
" Yang ... boleh aku pergi sebentar ? Aku janji hanya sebentar saja . " Farrel meyakinkan Cyrin .
Cyrin masih diam .
Namun Ibu Hindun yang tak sengaja mendengar pembicaraan putri dan calon menantunya segera menyela , " pergilah Nak . Ada Ibu dan Bapak yang menemani Cyrin . "
Farrel kembali menatap Cyrin dan menggenggam tangannya .
" Baiklah , akan ku tunda saja pertemuanku . " Putus Farrel .
Farrel mengambil ponsel di saku kemejanya berniat menghubungi Daffin . Tapi Cyrin malah merebut ponselnya .
" Pergilah Mas , tapi janji padaku kembalilah secepatnya , " ujar Cyrin .
Farrel membelai lembut surai Cyrin , " iya sayang . Aku janji akan menyelesaikannya secepat mungkin . "
Ibu Hindun tersenyum melihat interaksi keduanya , " kok lihat mereka berdua aku jadi kangen masa masa kasmaran dengan Bapak dulu . " Dan Ibu Hindun akhirnya menertawakan pikirannya sendiri .
" Tunggu aku pulang yah sayang . " Ujar Farrel sembari memberikan kecupan di kening Cyrin .
Farrel tiba di perusahaannya lebih lama dari perkiraannya .
Para karyawan wanita semakin kagum dengan sosok CEO mereka yang untuk pertama kalinya ke kantor dengan menggunakan kemeja casual dan celana berbahan jeans .
Daffin sudah siap menyambut sang bos saat keluar dari lift .
" Di mana dia ? " tanya Farrel .
" Masih menunggu di ruang tunggu . "
__ADS_1
" Panggil ke ruanganku , " titahnya .
Farrel mengambil file yang disiapkan Daffin sebagai bukti dan beberapa copy surat pembelian saham .
" Permisi Pak , Pak Pratama ingin bertemu Anda . " Ujar Daffin .
Farrel memberikan tatapan meremehkan pada pria paruh baya yang kini raut wajahnya hanya menampakkan kecemasan .
Daffin mempersilahkan Pak Pratama duduk .
" Pak Pratama , akhirnya kau datang juga menemuiku , " ujar Farrel .
" Maaf Pak Farrel , tapi saya ingin bertanya alasan Anda menarik semua investasi anda di perusahaan saya ? " tanyanya tanpa basa-basi lagi .
Farrel menaikkan satu alisnya , " bukankah dana investasi itu adalah milikku ? Aku bebas mau menariknya kapanpun . "
" Selama ini investasi Anda berkembang dengan baik . Apa mungkin ada alasan lain ? Apa perusahaan kami membuat kesalahan ? "
Pak Pratama sungguh membenci harus mengiba seperti saat ini , apalagi pada pria yang jauh lebih muda darinya .
Seandainya investor lain tidak ikut goyah setelah Jatmika Company menarik investasinya kemungkinan PH entertainment masih bisa Ia pertahankan .
" Bukan perusahaanmu yang membuat kesalahan , tapi jal\*ngmu . " Bentak Farrel .
" Maksud Anda ? Siapa yang anda maksud jal\*ng ? "
Pak Pratama terkejut , tak menyangka jika Farrel sudah mencari tahu sejauh ini .
" Tapi apa yang wanita itu lakukan , tidak ada sangkut pautnya denganku . Jika Anda mau , saya akan memberikan dia pada Anda . "
Pak Pratama masih tak mengerti dengan maksud Farrel , Ia bahkan salah paham .
" Cih.... menatap wanita itupun aku tak sudi ," ujar Farrel .
" Pak Pratama , apa kamu tahu tunanganku seminggu ini harus dirawat di rumah sakit karena mendapat ancaman dari seorang pria ? " tanya Farrel .
Pak Pratama mengernyitkan keningnya .
Farrel memberikan foto dari potongan video CCTV yang menunjukkan seorang pria memakai jaket hitam , topi , dan masker .
" Saya tidak mengenal pria ini . " Ujar Pak Pratama membela dirinya .
" Apa sekarang Anda menuduhku yang mengancam tunangan anda ? "
Farrel menyeringai , " kata beberapa saksi pria itu memiliki tatto bergambar pisau di punggung tangan kanannya . "
Terlihat tubuh Pak Pratama menegang .
__ADS_1
" Apa kau sudah mengenal pria itu ? "
Pak Pratama terdiam .
" Biar ku beritahu jawabannya , dia adalah supir pribadimu . " Ucapan Farrel terjeda .
" Sungguh sayang kau harus terlibat dalam masalah ini , padahal semua ini ide jal\*ng mu itu . "
" Aurora , apa dia ? " tanya Pak Pratama memastikan .
" Siapa lagi jika bukan dia . Apa kamu masih punya yang lain lagi . "
" Tapi kenapa Anda membalas perbuatan Aurora itu pada saya ? Saya bahkan tidak mengetahui jika wanita itu adalah tunangan Anda , seandainya saya tahu tidak mungkin saya berani . "
Pak Pratama masih terus membela diri .
" Supirmu itu tidak akan bertindak jika perintahnya bukan berasal darimu . Sangat di sayangkan karena korbannya kali ini adalah tunanganku . " Ujar Farrel .
" Tentunya kau sudah tahu aku seperti apa . Aku tidak akan membiarkan siapapun mengganggu milikku . "
" Kau harus sadar , jal\*ngmu itu telah membawamu pada kehancuran karena berani mengusikku . "
Farrel beranjak kembali ke meja kerjanya . Ia sudah muak menatap wajah pria di hadapannya .
" Daffin , bawa dia pergi dari hadapanku . " Perintah Farrel .
" Tolong Pak Farrel , maafkan kesalahan saya . Ampuni saya Pak . Saya akan memberi pelajaran pada Aurora , saya sendiri yang akan membalas perbuatannya pada tunangan anda . "
Farrel tidak menjawab apapun .
Daffin harus sedikit memaksa Pak Pratama keluar dari ruangan Farrel .
" Ku peringatkan agar anda jangan coba coba mengusik kehidupan Pak Farrel lagi . Jika anda berani lakukan itu , aku tidak bisa pastikan kali ini apa yang akan dia ambil darimu . Nyawamu mungkin ? "
Daffin kembali memberi peringatan pada pria paruh baya itu sebelum lift membawanya pergi dengan amarah yang membara pada Aurora .
" Fiiuuuuhhh .... step one , done . " Batin Daffin .
.
.
.
.
.
.
"*Dirimu bisa bersembunyi dari kesalahan yang kamu perbuat, namun tidak dari penyesalanmu. Kamu bisa saja bermain dengan dramamu, tapi tidak dengan karmamu*."
.
.
.
.
.
__ADS_1
To be continue