
Setelah drama makan siang tadi , sore ini Cyrin mendapat kabar dari Farrel jika dirinya tidak bisa menemui Cyrin karena malam nanti kedua orang tuanya meminta untuk makan malam bersama .
Karena tak ada rencana lain lagi , setelah jam pulang kantor tiba Cyrin bergegas menuju tempat Ia memarkirkan mobilnya pagi tadi .
" Rin... Cyrin .... " terdengar suara namanya dipanggil membuat wanita itu menoleh ke sumber suara .
" Olla , Ada apa ? " tanyanya .
" Boleh bicara sebentar ? " pinta Olla .
" Boleh . Di mana ? "
" Di cafe depan saja . Kita ketemu di sana saja . "
Setelah menyetujui usulan Olla , Cyrin segera melajukan mobilnya ke cafe yang di maksud Olla menyusul wanita itu yang sudah lebih dulu pergi ke cafe .
Saat Cyrin masuk ke dalam cafe Ia bisa melihat Olla di salah satu meja . Segera Ia mendekat ke arah Olla .
" Olla ... "
" Rin .. duduklah . "
" Ada apa sampai mengajakku bertemu di sini ? "
" Aku ingin bicara soal Kak Nino . "
" Pak Nino ? Ada apa dengannya ? "
" Aku tahu jika Kak Nino memiliki perasaan padamu , tapi apa kamu sudah tahu bagaimana hubunganku dengannya ? " Tanya Olla .
Cyrin hanya diam . Ia lebih memilih untuk mendengarkan saja ucapan Olla .
" Biar bagaimana pun usaha Kak Nino untuk memperjuangkan perasaannya padamu , tapi sayang tetap aku yang akan menjadi istri Kak Nino nantinya . " Terang Olla .
" Kami berdua sudah dijodohkan sejak kecil , kami tumbuh besar bersama . Aku tahu segala hal tentangnya , begitu juga dengannya yang tahu segalanya tentangku . " Lanjutnya .
" Olla , ini ketiga kalinya aku harus mengucapkan hal yang sama . Pertama , aku sudah pernah katakan kepada Nyonya Wiguna jika antara aku dan putranya tak akan mungkin ada hubungan yang lebih . Kedua , aku dan Pak Nino sudah bersepakat untuk berteman dan tidak lebih dari itu . Ketiga , ku pikir kamu bisa lebih tenang karena aku tidak memiliki perasaan apapun padanya . " Jawab Cyrin .
" Ku pikir aku tahu perasaanmu untuk siapa . Tapi baguslah jika kamu sudah paham , dan ku harap ucapanmu tidak hanya di mulut saja . Ku minta kamu untuk tidak mendekati Kak Nino lagi , jangan memberinya harapan lagi seakan akan kamu akan menerima cintanya . Biarkan aku yang akan mengisi hatinya . "
Cyrin tersenyum . " Olla ku pikir kamu belum mengenal Pak Nino dengan baik . Jika kamu mengenalnya maka kamu akan tahu jika bukan aku yang mendekatinya . Pak Nino tak akan mudah membiarkan orang lain mendekatinya . "
Olla merasa kesal dengan ucapan Cyrin barusan.
" Dan sepertinya Pak Nino juga belum mengenalmu dengan baik . Karena jika Ia benar benar tahu tentangmu , harusnya dia bisa menyadari betapa besar cintamu padanya hingga kamu rela menurunkan harga dirimu untuk memintaku menjauhi pria yang kamu sukai . " Lanjut Cyrin .
" Kamu jangan asal ngomong yah . Aku tidak akan pernah menurunkan harga diriku padamu . " Sanggah Olla .
" Uppsss sorry jika aku salah . Baiklah ku ralat ucapanku . Kamu bukannya menurunkan harga dirimu tapi kamu sedang memperjuangkan cintamu . " Jawab Cyrin .
" Ku pikir tidak ada lagi yang harus kita bicarakan . Aku permisi . "
Cyrin segera pergi meninggalkan cafe itu dengan perasaan kesal .
Cukup lama waktu yang Cyrin habiskan di jalan untuk bisa sampai di apartemen karena macetnya jalanan .
Ia segera merebahkan dirinya di tempat tidur untuk melepas penatnya setelah seharian bekerja ditambah dengan drama drama yang harus Ia lewati hari ini .
Tanpa sengaja matanya melihat ke arah nakas dan di sana ada sebuah paper bag yang kemarin diberikan oleh Farrel .
Cyrin beranjak untuk membuka paper bag itu , dilihatnya di dalam sana ada sebuah buku dan sebuah buket yang berisi empat tangkai mawar merah .
Sayang sekali bunga mawarnya sudah sedikit layu mungkin karena dibiarkan berada semalaman di dalam paper bag .
" Yahh , bunga yang ini juga udah layu . Mana ada empat tangkai lagi , sayang banget . " Batin Cyrin .
__ADS_1
" Bentar , empat tangkai . Waktu Mas Farrel ngasih cokelat mawarnya ada satu . Terus waktu ngasih boneka mawarnya ada dua ,ngasih kue mawarnya ada tiga , dan sekarang buku mawarnya ada empat tangkai . " Gumam Cyrin .
Wanita itu merasa seperti pernah mengalami hal seperti ini juga . Tiba tiba saja di pikirannya seperti terlintas sesuatu .
" *Kamu mau gak jadi pacar aku . " Ucap seorang pria*
" *Maaf , tapi saya gak bisa . " Terdengar jawaban dari seorang wanita* .
" *Baik , aku akan menunggu sampai kamu mau mengakui perasaanmu dan bisa untuk berpacaran denganku . " Balas sang pria lagi* .
Suara suara seperti itulah yang kini terdengar di benak Cyrin . Wanita itu seperti sedang diputarkan sebuah adegan dalam benaknya namun sayang peristiwa saat itu terbayang kurang jelas , hanya suaranya saja yang Cyrin bisa dengar .
Cyrin merasa penasaran dengan hal itu , Ia lantas mencoba mengingat ingat kira kira kejadian apa yang baru saja terlintas di pikirannya .
Namun sayang bukannya malah bisa mengingat kepingan memori itu , Ia malah dilanda sakit kepala yang teramat dahsyat . Apalagi setelah terbersit sebuah suara yang sangat mengerikan baginya . Suara seorang wanita yang menjerit minta tolong .
" *Jangan .... tolong... lepaskan aku* .... "
Teriakan teriakan itu terlintas juga di pikiran Cyrin kini membuat kepalanya terasa makin sakit . Ia mencoba menghubungi Farrel namun pria itu tidak menjawab panggilannya .
Ia lalu mencoba menghubungi Byanca , namun cukup lama menunggu panggilannya belum di jawab.
" Halo ... Rin , Halo .. Halo... kamu gak apa apa ? Kamu di mana ? Kok ada suara kaca pecah sih. Rin ... rin ... rin ... "
Suara Byanca terdengar panik dari ponsel Cyrin namun tak ada jawaban dari si pemiliknya membuat Byanca makin panik .
Segera Byanca bergegas menuju apartemen Cyrin , tempat pertama yang terpikirkan olehnya .
" Semoga kamu baik baik aja Rin . " Batin Byanca .
Sementara di kediaman keluarga Jatmika , Farrel sedang makan malam bersama kedua orang tuanya .
" Rel , tadi kamu dan perusahaan Wiguna makan siang di Resto X yah ? " tanya Mama Anin pada putranya .
" Mama tau dari mana ? " Jawab Farrel dengan pertanyaan juga .
Sebenarnya Mama Anin tidak bisa menampik jika Ia tidak hawatir pada putranya setelah mendengar ucapan nyonya Wiguna mengenai Cyrin .
Hanya saja Ia tidak langsung percaya apalagi setelah Ia mengenal langsung bagaimana sikap dan perilaku Cyrinda yang sangat lembut dan sopan . Itulah mengapa malam ini Ia mengundang putranya untuk menanyakan langsung .
" Mama tadi juga makan siang di sana bersama teman Mama yang tak lain adalah istri dari pemilik perusahaan Wiguna . " Jelas Mama Anin .
" Ohh jadi Mama kenal Mamanya Nino . " Gumam Farrel .
" Jadi kamu kenal sama putranya ? "
" Tentu saja. Dia kan partner bisnis aku . Tentulah aku mengenalnya . "
Farrel bisa menangkap dari raut wajah mamanya jika ada sesuatu yang membuatnya gelisah .
" Ada apa Ma ? Tanyakan saja jika ada yang menjadi pikiran Mama . " Saran Farrel .
Mama Anin terlihat menghela napasnya .
__ADS_1
" Begini Rel , tadi di resto kami juga berpapasan dengan si Nino itu . Ada Cyrin juga di sana , tadi sempat nyapa mama juga . "
" Tentu saja , orang mereka baru aja kelar meeting sama aku . Tapi aku gak langsung pergi , karena lanjutin meeting internal perusahaan lagi . " Komentar Farrel .
Farrel mengamati wajah Mama nya . Masih ada yang mengganjal sepertinya .
" Lalu ? Apa masih ada yang ingin Mama sampaikan lagi ? " tanya Farrel .
Papa Jatmika hanya menjadi penonton dan pendengar percakapan antara istri dan putranya .
" Begini Rel , tadi kata teman Mama itu kalau Cyrin memiliki sifat yang kurang baik . Katanya dia tipe wanita yang suka mendekati pria kaya untuk memanfaatkan hartanya . " Ucap Mama Anin ragu . Ia hawatir jika putranya akan marah .
Namun yang terjadi Farrel malah merespon ucapan Mamanya dengan tawa .
" Ha... Ha... Ha... "
" Lalu Mama percaya ? " Tanyanya balik .
Mama Anin mematung .
" Ma ... aku bisa menjamin jika Cyrin tak seperti apa yang dikatakan teman Mama . "
" Wanita itu tak membutuhkan hartaku Ma. Ia sudah memiliki semuanya . " Ucap Farrel .
" Maksud kamu ? " Mama Anin bingung dengan penjelasan Farrel .
" Mama ingat gak sahabat aku saat SMA , si Bimo ? " tanya Farrel .
Mama Anin mengangguk .
" Nah ternyata Cyrin itu adik kandungnya Bimo satu satunya . Aku juga baru baru ini mengetahui hal itu . Selama SMA mereka berdua memang menyembunyikan statusnya karena Cyrin yang tidak ingin di kenal sebagai putri bungsu keluarga Al-Amin . Keluarga pemilik perusahaan tekstil dan batik terbesar di Solo . " Jelas Farrel .
" Oh yah ?? Apa alasan Cyrin tak ingin di kenal sebagai putri bungsu keluarga Al Amin ? " Tanya Papa Jatmika . Ia menjadi tertarik dengan perbincangan keduanya .
" Cyrin menginginkan kehidupan biasa saja . Katanya terlalu banyak orang yang berpura pura baik padanya saat tahu jika dia adalah putri dari keluarga Al Amin . Ia suka ketulusan Pa , sama seperti dirinya yang selalu tulus dalam hal apapun . "
" Wahh... Papa jadi kagum pada Cyrin . "
" Itu juga yang membuatku menyukainya dari dulu hingga sekarang Pa. Dari sebelum aku mengetahui siapa dia , aku sudah mencintai kesederhanaannya . Bahkan saat aku tahu siapa dia sebenarnya , aku makin mencintainya . Aku makin tertarik dengan sifat sederhana , tidak sombong , bahkan pekerja kerasnya . " Ucap Farrel yang sangat bersemangat jika membicarakan soal Cyrin .
" Syukurlah perkataan teman Mama tidak benar . Mama lebih percaya padamu Nak . " Ucap Mama Anin .
" Tapi aneh yah dari caranya membicarakan soal Cyrin , sepertinya nyonya Wiguna sangat tak menyukai Cyrin . " Lanjut Mama Anin .
" Aku tak paham soal itu . Nanti akan kutanyakan padanya . "
" Iya . Minta Cyrin berhati hati jika berurusan dengan Mamanya Nino itu . "
Farrel mengangguk menyetujui ucapan Mamanya .
Tiba tiba saja Ia menjadi teringat akan Cyrin , dan entah mengapa perasaannya jadi tak enak .
Sampai Farrel selesai dengan makan malamnya dan mengecek ponselnya . Disana ada satu panggilan tak terjawab dari Cyrin .
Farrel mencoba menghubungi kembali namun tidak ada jawaban dari wanita itu membuatnya makin hawatir .
" Kok perasaanku jadi tak enak . Semoga Cyrin baik baik saja . Semoga tidak terjadi sesuatu padanya . " Gumam Farrel sambil terus mencoba menghubungi Cyrin .
.
.
.
.
.
"Anda tidak akan bisa melupakan masa lalu karena Anda harus ingat dulu apa yang harus Anda lupakan."
.
.
.
.
.
To be continue
__ADS_1