
...“Vicky!” Pekik Diah pada Vicky, semua pelayan terkaget mendengar teriakan Nyonya besar mereka...
...“Vicky, dimana kamu?!” Teriak Diah lagi, wajahnya memerah, tangisnya nyaris pecah...
Vicky yang sudah rapi hendak ke kantor segera menghampiri Ibunya yang tengah histeris
...“Ada apa sih Mi? Pagi - pagi gini udah teriak - teriak” tanya Vicky bingung ...
Diah mendelik tajam pada anaknya, dadanya kembang kempis menahan amarah
...“Ada apa… ada apa, bisa - bisanya ya kamu santai - santai setelah melakukan hal sebodoh ini Vicky!” Sentak Diah pada anaknya sambil menghempaskan semua kertas yang digenggamnya ke dada Vicky...
Vicky yang bingung gegas memungut kertas yang berserakan di lantai, senyumnya terbit manakala melihat surat administrasi dan perizinan jet pribadi yang telah rampung diurusnya, artinya mulai sekarang ia resmi memiliki jet pribadi seperti Alex setelah ia menunggu hampir sebulan lamanya
...“Buat apa kamu beli jet pribadi Vicky? Apa kamu udah ga waras, itu harganya ratusan miliar Vicky!!” Cerocos Mamanya, kali ini sambil menghentak - hentakan kakinya ke lantai, air matanya mulai merembes...
...“Aduh Mi, udah tenang dong ga usah pake marah - marah gitu, emang salahnya apa sih kalo kita punya jet pribadi?” Tanya Vicky pada Mamanya...
Diah semakin sewot dibuatnya, matanya melotot
...“Salahnya itu karena harganya mahal Vicky, aset apalagi yang kamu jual buat beli jet pribadi, dan buat apa kita punya jet pribadi, hah?” Sentak Diah...
...“Bukan buat kita aja Mi, tapi buat Vira juga” tutur Vicky sumringah seolah tidak terjadi apa - apa...
Diah melongo, mulutnya membuka menutup tak dapat berkata apa - apa, entah ada apa dengan otak anaknya itu hingga lagi - lagi istri orang yang ia pikirkan
...“Kamu bener - bener udah sinting Vicky, untuk apa kamu membelikan istri orang jet pribadi? dia udah punya Vicky, apa kamu lupa siapa suami Vira sekarang?!” Cerocos Diah, hilang sudah kelemah lembutannya...
...“Loh Mi, justru dengan aku punya jet pribadi seperti suami Vira sekarang, maka kesempatan aku buat jadi suami Vira lagi lebih gede Mi, dia pasti mau balikan lagi sama aku Mi kalo aku punya jet pribadi kayak Alex” ucap Vicky tanpa raut bersalah...
Diah terhenyak, ia mengelus - ngelus dadanya
...“Vicky, kamu pikir Vira bakalan mau balikan sama kamu dan ninggalin Alex hanya gara - gara kamu punya jet pribadi? Kamu bodoh apa idiot sih? Alex itu bisa beli banyak jet pribadi bukan cuma satu, dia keluarga Al - Maktoem Vicky, wanita mana yang mau ninggalin Alex!” Hardik Diah lagi...
Vicky menatap Ibunya lekat
...“Mami kenapa harus ngomong gitu sih?” Tanya Vicky wajahnya menyiratkan kekecewaan pada Ibunya...
...“Mami ngomong gitu supaya kamu sadar Vicky, Vira udah ga mungkin kamu dapetin lagi, kita udah berupaya sekuat tenaga dari cara halus nyampe cara terendah, sudah saatnya kamu mengakui kalo Vira adalah masa lalu kamu, lupain dia Vicky” tutur Diah melembut...
...“Jangan pernah nyuruh aku buat lupain Vira Mi!” Tandas Vicky, jarinya terangkat memperingatkan Diah...
Diah menghela nafas, rahangnya kembali mengeras
...“Terus kamu maunya gimana? Nyampe kapan kamu mau ngejar - ngejar istri orang? Apa kamu pikir Alex akan tinggal diam aja istrinya digangguin kamu terus? Dia bisa aja menghancurkan kamu Vicky, apa kamu lupa bagaimana Alex?” Sengit Diah...
Vicky tersenyum
...“Aku ga takut sama Alex Mi, aku yang lebih dulu kenal dan dapetin Vira, jadi aku yang lebih berhak atas Vira” tandas Vicky lagi...
Diah menggeleng, entah kerasukan apa anaknya itu
...“Kamu emang ga takut sama Alex, tapi Mami yang takut Vicky, apa kamu ga ingat Alex bagaimana? Keluarga besar Mami sudah dibuat bangkrut oleh Alex, gelar keningratan mereka juga sudah dicabut dan itu karena ulah Alex, kamu ga takut kalau Alex melakukan sesuatu yang lebih gila lagi Vicky?” Tanya Diah...
Vicky tersenyum sinis
...“Apalagi yang bisa dia lakukan Mi? Aku ga takut sama sekali, justru dia yang harus takut karena akan segera kehilangan Vira Mi, aku akan ambil Vira dari dia” tutur Vicky...
Diah menarik nafasnya, wajahnya memerah
...“Cukup Vicky, cukup! Cari wanita lain, masih banyak wanita yang lebih cantik dibanding Vira, lupakan Vira, dia sudah bersuami bahkan sekarang sedang hamil, jangan hancurkan hidupmu gara - gara dia Nak!” Sentak Diah ...
Vicky mendelik pada Ibunya
...“Bukan Vira yang hancurin hidup aku, tapi Mami dan keluarga Mami” tutur Vicky dengan gigi yang gemeretak...
Diah membisu
...“Seandainya Mami dan keluarga Mami ga mengagung - agungkan soal keningratan, aku sama Vira pasti masih bersama sekarang” lirih Vicky...
Diah masih hening merasakan amarah yang bergejolak membuat dadanya turun naik
...“Mami yang membuat aku kehilangan Vira, jadi tolong dukung aku untuk mendapatkan Vira, kembalikan Vira padaku Mi” ujar Vicky lirih...
Diah menggeleng lagi, matanya memejam meloloskan air matanya yang dari tadi telah menggantung di pelupuknya
...“Vicky, sadar Nak! Vira cuma mantan istri kamu Nak, dia udah punya Alex, Mami akan kenalin kamu ke anak - anak temen Mami yang lebih cantik, atau kamu boleh milih gadis manapun, mau miskin mau kaya Mami terima, tapi tolong jangan ngejar - ngejar Vira lagi” tukas Diah...
Vicky menoleh pada Ibunya, tatapannya kembali nyalang
...“Aku ga bisa Mi, aku memang pernah salah karena nyakitin dia, tapi dia cinta sejatiku Mi, tolong mengerti!” Sentak Vicky...
Diah membisu, ia termenung
Vicky menarik nafasnya, lantas membenar - benarkan dasinya
...“Aku ke kantor dulu Mi” ucap Vicky sambil takzim mencium punggung tangan Ibunya...
__ADS_1
Diah yang tersadar segera mengusap air mata yang meleleh di pipinya
...“Mami ikut Nak, Mami ga mau kamu berbuat hal bodoh lagi, sekalian Mami mau ngobrolin soal penjualan jet pribadi kamu” ucap Diah pada anaknya...
...“Loh kok dijual Mi? Aku baru resmi punya hari ini Mi” protes Vicky...
“Udah nanti kita obrolin di kantor aja” tutur Diah, ia lalu menyambar tasnya dan menggandeng anaknya untuk berlalu menuju kantor Vicky.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Butuh waktu hampir satu jam perjalanan menuju kantor Vicky, sepanjang jalan Diah tak henti - hentinya meyakinkan Vicky untuk segera menjual jet pribadi mereka, kondisi keuangan perusahaan yang sedang menurun serta keluarga besar Diah yang sekarang menjadi tanggung jawabnya adalah alasan Diah keukeuh untuk menjual jet pribadinya, namun Vicky tak bergeming. Demi apa pun dia tidak akan menjual jet pribadinya sampai Vira jatuh lagi ke pelukannya.
Vicky, Diah, dan Theo baru saja menginjakan kaki mereka di pelataran kantor ketika melihat ribut - ribut beberapa pekerja yang tengah bersusah payah menurunkan papan nama raksasa perusahaannya menggunakan alat berat
Vicky, Diah, dan Theo sontak terkejut, Theo segera berlari menghampiri kumpulan pekerja tersebut
“Apa - apain ini? Atas izin siapa kalian menurunkan papan nama keluarga Tuan Vicky? Apa kalian tidak tau kalo perusahaan ini adalah milik keluarga Tuan Vicky?” Sentak Theo sambil berkacak pinggang
Para pekerja tersebut sontak menoleh, beberapa ada yang kembali sibuk pada pekerjaannya
...“Tuan, kami cuma menjalankan perintah dari atasan, Tuan silakan tanyakan langsung pada orang di dalam” jelas pekerja tadi...
Theo mendengus kesal, ia kemudian berlari mendekat pada Vicky dan Diah yang tengah menunggunya
...“Ada apa ini Theo? Perbuatan siapa ini? Hardik Vicky...
...“Maaf Tuan, sebaiknya kita masuk dulu untuk mencari tau apa yang terjadi” ujar Theo ...
Diah dan Vicky segera beranjak masuk ke dalam diekori oleh Theo dibelakangnya. Suasana terasa sangat berbeda di lobby, tak ada lagi yang menyapa atau mengangguk sopan pada Vicky dan Diah, semua menatap mereka sambil berbisik - bisik, bahkan security sekalipun
Diah dan Vicky serta Theo memindai seluruh lobby, jelas terlihat tatapan semua orang disitu bagai menelanjangi ketiganya, entah apa yang terjadi hari ini. Mereka bertiga gegas menuju lift yang akan mengantarkan mereka menuju ruangan Vicky, ketiganya hening, larut dalam pemikiran masing - masing, semuanya menebak - nebak tentang kejadian aneh pagi ini. Suara lift berdenting menyadarkan ketiganya, Vicky dan Diah lekas berjalan keluar diikuti oleh Theo.
Tak berapa lama, hal mengejutkan lain terjadi kembali, papan nama Vicky sebagai CEO yang selalu menempel di pintu ruangannya kini tak ada lagi, raib entah kemana. Hati Vicky semakin tak menentu, begitu pun Diah
...“Cari tahu apa yang terjadi Theo, segera!” Titah Vicky yang kemudian diangguki oleh Theo yang segera berlalu dari sana...
Vicky membuka pintu dan lalu masuk ke dalam ruangannya diikuti oleh sang Ibu. Mereka kemudian mendudukkan diri dengan perasaan tak menentu, jantung mereka berdebar kencang.
Tak lama Theo kembali dengan tergopoh, raut cemas nampak jelas di wajahnya
...“Tuan, maaf, anda ditunggu di ruang rapat oleh para pemegang saham, ada rapat mendadak” tutur Theo...
Vicky dan Diah saling pandang, tak biasanya ada rapat dadakan oleh para pemegang saham, dan tak biasanya Vicky jadi yang terakhir tahu.
Vicky segera bangkit, Diah pun sama
...“Mami ikut” ucap Diah, Vicky mengangguk setuju...
Hingga Vicky dan Diah melangkah masuk, mengundang perhatian semua orang yang menyambut mereka dengan muka masam, sudah ada empat orang pemegang saham yang terdiri dari tiga Bapak - Bapak dan seorang Ibu yang duduk di ruangan itu menempati kursinya masing - masing, beberapa orang penting di kantor Vicky juga tampak hadir. Baru saja Vicky hendak mendudukkan dirinya di kursi khusus CEO ketika seorang pemegang saham menegurnya
...“Maaf Tuan Vicky, itu kursi khusus CEO baru, Tuan silakan duduk di kursi lain” ujarnya...
Diah dan Vicky jelas terhenyak kaget
...“Apa maksudnya itu Tuan? Anak saya lah CEO perusahaan ini, tolong anda jangan ngawur!” Sengit Diah ...
...“Bu Diah, anak anda memang CEO tapi CEO lama, sekarang posisi Tuan Vicky sudah terganti oleh CEO baru yang sudah membeli semua saham kami” tandas Bapak itu...
Vicky dan Diah kembali terkaget
...“Apa - apain ini, bagaimana anda bisa mengganti CEO tanpa persetujuan saya, dan bisa - bisanya kalian menjual saham kalian tanpa sepengetahuanku? Sentak Vicky ...
...“Tuan Vicky, kami adalah pemegang saham terbanyak jadi kami tidak perlu persetujuan anda untuk menjual saham kami pada siapa pun” tandas seorang pemegang saham lagi...
Vicky jelas meradang, ia lantas berdiri lalu menggebrak meja rapat itu
...“Ini perusahaan Papaku, milikku, kalian tidak bisa seenaknya mengganti posisiku dan menjual saham kalian!” Hardik Vicky...
...“Hei Tuan Vicky, meskipun perusahaan ini didirikan oleh mendiang Ayah anda, tapi ingat kami yang memiliki saham terbesar, saham kami 60 persen sedangkan saham anda 40 persen, dan apa anda lupa anda menjual saham anda kepada orang lain sebanyak 30 persen untuk membeli jet pribadi?” Sentak seorang pemegang saham tak mau kalah...
Diah lagi - lagi tersentak kaget, bisa - bisanya Vicky menjual saham perusahaan Papanya sendiri untuk membeli jet pribadi itu
...“Vicky, apa betul kamu sampai menjual saham perusahaan Papa kamu sendiri hanya untuk membeli jet pribadi itu?” cecar Diah dengan mata yang berkaca - kaca...
Vicky mengangguk lemah, ia memang harus melepas sahamnya untuk membeli jet pribadi itu, harga jet pribadi yang mencapai ratusan milyar membuat Vicky harus rela melepas asetnya yang paling berharga
Diah memejamkan matanya dan meloloskan air matanya, hatinya mencelos mengingat perusahaan yang susah payah didirikan oleh almarhum suaminya hampir terlepas oleh tangan anaknya sendiri
...“Kamu jual saham kamu pada siapa Vicky? Cepat kamu beli kembali, jual jet pribadi itu, Mami ga mau kalo kita sampai kehilangan perusahaan yang sudah susah payah di didirkan oleh Papa Kamu!” Titah Diah pada anaknya...
...“Tuan Vicky menjual sahamnya pada orang yang juga membeli saham kami Nyonya Diah, yaitu CEO baru di perusahaan ini, kami semua sudah menjual saham kami pada beliau, jadi total kepemilikan saham beliau sekarang adalah 90 persen” tutur salah satu pemegang saham...
Vicky luruh sudah, ia terduduk di kursinya dengan lemas, saat ini ia nyaris akan kehilangan perusahaan yang menjadi kebanggaannya, jika ia sampai kehilangan perusahaan itu entah apalagi yang ia bisa banggakan. Setali tiga uang dengan Vicky, hati Diah pun luluh lantak mengenang perusahaan yang menjadi sumber kekayaan keluarganya kini berada di tangan orang lain.
...“Siapa CEO yang membeli saham kita semua Pak?” Tanya Vicky lirih, badannya gemetaran, duduknya tak tegap seperti biasa...
...“Sebentar lagi beliau akan datang, kita tunggu saja” ucap pemegang saham berkaca mata itu...
__ADS_1
Diah dan Vicky membisu, hati mereka berkecamuk, kehidupan ekonomi mereka diambang kehancuran.
Tak lama, suara derap sepatu terdengar mendekat, membuat semua orang yang berada di ruangan itu bangkit berdiri menyadari bahwa yang datang adalah orang yang mereka nantikan
Vicky dan Diah bangkit dengan lunglai, wajah mereka sarat akan keputus asaan
Wangi parfum menyeruak seiring dengan derap sepatu yang mulai memasuki ruang rapat
Mata Vicky dan Diah membulat melihat siapa yang datang, mereka kembali terhenyak melihat Vira di depan mereka, tampilannya cantik dan elegan, setelan blazer mahal membalut kulitnya yang bak pualam, rambut panjangnya ia biarkan tergerai, tangannya menenteng tas dengan harga miliaran rupiah. Tak lama Alex datang menyusul, tampilannya tak kalah menawan.
...“Vi.. Vir, kamu ngapain disini?” Tanya Vicky tergagap, badannya semakin gemetaran percampuran antara takut dan gelora ingin memeluk Vira di depannya...
Vira mendelik tajam pada Vicky
...“Tuan Vicky, apa anda tidak bisa bersikap lebih hormat pada CEO baru di perusahaan ini?” Sinis Vira yang sontak membuat Diah dan Vicky lagi - lagi tersentak kaget...
Lain lagi dengan para pemegang saham yang menghambur menghampiri Vira dan menjabat tangannya dengan penuh rasa hormat
...“Jadi kamu CEO baru di perusahaanku Vir?” Tanya Vicky lagi, matanya kini berkaca - kaca...
...“Tuan Vicky, tolong jaga cara bicara anda pada saya, dan tolong garis bawahi, mulai hari ini perusahaan ini adalah milik saya” tandas Vira matanya menatap Vicky dengan tajam ...
Diah memegang dadanya menahan sesak, sementara Vicky menggeleng - geleng tak percaya dengan pendengarannya sendiri, mata Vicky berkaca - kaca. Vicky menoleh pada Alex yang berdiri dengan angkuh di belakang Vira, membuat hatinya semakin remuk redam
...“Dan Tuan Vicky bisa tolong pindah dari kursi saya? Anda tidak mungkin sudah lupa kan kalau anda bukan pimpinan perusahaan ini lagi?” Sinis Vira lagi, Alex tersenyum puas mendengar ucapan Vira pada Vicky...
Vicky dengan gontai menggeser dirinya ke pinggir, memberikan kursi kebesarannya pada Vira untuk diduduki, namun Vira kembali mempermalukannya, sebelum duduk Vira menepuk - nepuk kursinya, seolah Vicky adalah orang menjijikan yang telah mengotori kursinya. Vira kemudian mendudukkan dirinya dengan anggun, sebelum kemudian ia memanggil Alex untuk duduk tepat disampingnya.
Semua mata kini tertuju pada Vira dan Alex, pemimpin baru perusahaan Vicky. Vicky menatap Vira dengan perasaan yang bercampur aduk, antara keinginan yang membuncah untuk memiliki dan rasa marah karena kini Vira yang memiliki perusahaannya, sementara Diah sudah tak sanggup berpikir apa - apa selain memang ini kesalahan putranya.
...“Bisa saya liat laporan keuangan terakhir perusahaan ini Tuan Francis?” Tanya Vira pada Francis yang berdiri patuh di belakangnya, Francis lantas maju ke depan dan menyodorkan dokumen pada Vira...
Vira memindai dokumen di depannya, ia lalu memperlihatkannya pada Alex, mereka berdua kemudian sibuk memindai dan sesekali berbisik di depan mata Vicky, membuat darah Vicky mendidih, tangannya mengepal karena cemburu, besar keinginannya untuk membuat Alex babak belur.
Tak lama Vira menghela nafasnya, membuat semua orang yang berada di ruangan itu berdebar menanti apa yang akan disampaikan oleh pimpinan mereka
...“Laporan keuangan perusahaan yang dulu Tuan pimpin berantakan sekali Tuan Vicky, banyak uang perusahaan yang masuk ke rekening pribadi Tuan Vicky!” Sinis Vira...
Semua anggota rapat terkejut, mereka kemudian saling berbisik - bisik sambil menatap tajam pada Vicky yang dianggap telah menggelapkan dana perusahaan
Vicky gelagapan, ia memang banyak memakai uang perusahaan untuk kepentingan pribadinya dulu semenjak ia menikahi Utari, tapi ia tak menyangka bahwa itu akan dipermasalahkan apalagi sampai dibuka di depan umum seperti sekarang
...“Ada penjelasan Tuan Vicky?” Tantang Vira, matanya sinis menatap Vicky yang tengah menatap dalam wajah Vira...
Alex yang melihat tatapan Vicky pada istrinya itu segera merangkul istrinya
...“Kasih Tuan Vicky waktu untuk mengingat - ingat berapa banyak dana perusahaan yang ia gelapkan sayang” tutur Alex tenang, tapi sontak membuat gigi Vicky gemeretak, kemarahannya sudah diubun - ubun, ia tak rela Vira disentuh Alex di depan matanya sendiri ditambah ucapan Alex yang mempermalukanya di depan banyak orang...
Peserta rapat sontak riuh kembali, beberapa mulai berani angkat bicara dengan mencaci Vicky, ada yang menggeleng - gelengkan kepalanya tak percaya Vicky melakukan hal serendah itu, yang lain lebih memilih menatap Vicky penuh kebencian
Diah tertunduk malu, air matanya lolos sudah.
...“Perusahaan mengalami banyak kerugian karena Tuan Vicky, oleh karena itu saya dan suami saya memutuskan agar Tuan Vicky mengganti rugi dengan cara melepaskan semua sahamnya pada kami” tutur Vira dingin...
Vicky tersentak kaget, begitu pun anggota rapat yang lain, Diah menutup wajahnya dan mulai menangis terisak
...“Vir, ga bisa gitu dong, aku ga akan mungkin ngelepasin saham aku yang tinggal 10 persen, aku ga mau kehilangan perusahaan Papaku Vir” protes Vicky...
...“Panggil saya Nyonya Alex, Tuan Vicky!” tandas Vira yang sukses membuat hati Vicky seolah diremas - remas, sementara Alex tersenyum penuh kemenangan ...
...“Anda bisa memilih untuk berurusan dengan hukum jika anda menolak solusi dari saya Tuan Vicky” sengit Vira, semua orang yang ada di ruangan itu riuh kembali, Alex ikut terkejut atas keputusan Vira...
Diah mendongak dengan mata membulat, ia tak percaya apa yang ia dengar, ia lantas menoleh pada anaknya
...“Vick, udah lepasin aja saham kamu, Mami ga mau kamu dipenjara Vicky” lirih Diah, air matanya kembali menetes...
Vicky menggeleng pelan
...“Aku ga mau Mi, ini perusahaan Papa” ucap Vicky sendu, matanya berkaca - kaca...
...“Tuan Vicky, anda sudah menggelapkan dana perusahaan, anda sudah merugikan kami, sekarang anda tinggal pilih mau dipenjara atau mengganti rugi!” Hardik seorang peserta rapat yang diamini oleh peserta rapat yang lain, suasana kembali riuh...
...“Nak, sudah, Mami ga mau kamu dipenjara, ikutin aja apa maunya Vira” tutur Diah sambil terisak, tangannya menggenggam erat tangan Vicky...
Vicky membisu, air matanya jatuh, hari ini ia merasakan kejatuhan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya, bagaimana ia akan menghidupi Ibu dan keluarga besarnya sekarang, bahkan kini pekerjaan pun ia tak punya. Yang lebih menyakitkan buatnya adalah ia jatuh oleh tangan Vira, wanita yang sangat dicintainya.
...“Bagaimana Tuan Vicky? Saya tidak punya banyak waktu!” Tutur Vira tak sabar...
Vicky mengangguk pelan, hatinya hancur sehancur hancurnya.
Vira dan Alex tersenyum lega, para peserta rapat pun ikut mengangguk - angguk puas.
...“Baik kalo begitu, nanti Francis akan mengurus semuanya, dan karena perusahaan ini bukan milik anda lagi, silakan anda dan Ibu anda keluar dari ruangan ini Tuan, karena saya akan mengadakan rapat tertutup” ucap Vira dingin...
Vicky dan Diah kembali merasakan godaman di dada mereka, harga diri dan kebanggaan mereka hancur sudah.
...“Tuan Francis, tolong antar Tuan Vicky dan Nyonya Diah keluar karena saya harus segera memulai rapat” titah Vira pada Francis...
__ADS_1
Francis mengangguk patuh, lantas mendekati Vicky dan Diah dengan wajah dingin
...“Silakan keluar Tuan dan Nyonya” ucap Francis, Vicky dan Diah berdiri dengan gontai, wajah mereka pucat pasi, keduanya lalu berjalan mengekori Francis yang diiringi riuh sorakan dan cibiran para peserta rapat. Vicky kembali menoleh pada Vira sebelum ia keluar dari ruangan itu, hatinya tersayat melihat Alex dan Vira yang kini tengah saling berpandangan mesra. Hari ini dunia serasa kiamat untuk Vicky. ...