
Vicky dan Utari baru saja sampai di rumah Vicky, Gendis menyambut mereka di depan pintu utama, kedua sejoli yang tampak bahagia itu masuk ke rumah dengan wajah yang sumringah
Para pelayan yang berjejer rapi menyambut mereka, menatap mereka tidak suka dengan ekor matanya, mereka yang sudah mengetahui kepergian Vira akibat pengkhianatan Vicky merutuki Gendis, Utari, dan Vicky dalam hati, Terutama pada Gendis yang semakin hari semakin semena - mena memperlakukan para pelayan, tak jarang para pelayan dijadikan bulan - bulanan apabila perintah Gendis lambat di kerjakan, tamparan, hardikan dan cacian menjadi santapan mereka sehari - hari.
Utari pun sama saja, gadis manja itu bahkan minta pelayan untuk memakaikan sepatunya, sikapnya sangat berbeda dengan sikap Vira yang santun dan menghargai mereka.
Vicky, Utari, dan Gendis lantas naik ke lantai 2 untuk masuk ke kamar masing - masing.
Begitu melewati kamarnya yang ia tempati bersama Vira, Vicky merasakan perasaan yang aneh, jantungnya berdebar membayangkan wajah cantik Vira yang menantinya disana, ia ingin sekali masuk ke kamar itu dan melihat wajah istrinya, diam - diam rasa cinta itu masih ada, terbersit dalam pikirannya apabila Vira bersikap baik maka Vicky dengan senang hati akan mengeluarkannya dari kamar itu, dan menjalani hari - hari bahagia bersama kedua istrinya, ia yakin bisa bersikap adil pada keduanya.
...“Sayang, kamu duluan aja ya.. aku mau ngambil dokumen di kamarku dulu” ujar Vicky bohong pada Utari, ia khawatir Utari yang temperamen itu akan marah kalau mengetahui niatnya...
Utari yang telah diberi tahu Ibunya bahwa Vira sudah pergi dari rumah itu pun santai saja ketika Vicky mau masuk ke kamar yang ia huni bersama Vira dulu
...“Ya udah, tapi jangan lama - lama ya yang.. aku pegel - pegel nih pengen dipijitin sama kamu” jawab Utari manja...
...“Iya, bentar aja kok cuma ngambil dokumen” jawab Vicky sambil mengecup singkat bibir Utari, Utari pun berjalan menjauhi Vicky menuju kamarnya. ...
Vicky membuka kunci kamarnya itu, memutar kenop pintu kemudian perlahan membuka pintu kamarnya, kamar itu tampak rapi, tempat tidur tertata dengan sempurna seolah tidak ada orang yang tidur disana, bahkan gorden kamar pun masih tertutup
“Dimana Vira?” Batinnya
Ia kemudian berjalan menuju kamar mandi, dan membuka pintunya.. namun tak nampak Vira disana, perasaan Vicky sudah mulai tak karuan
Ia dengan tergesa segera menuju ke walk in closet, berharap istrinya disana sedang merapikan baju - baju kerjanya, namun ia pun tak menemukan Vira disana, ia lalu membuka pintu lemari tempat baju - baju Vira disimpan, baju - baju itu masih tersusun rapi disana bahkan sepatu - sepatu branded, tas - tas mahal yang Vicky berikan pada Vira masih tersusun tak tersentuh, Vicky membuka brankas tempatnya menyimpan berbagai perhiasan untuk Vira dan dokumen - dokumen penting, tak ada satu pun yang hilang dari sana.
Vicky menyugar rambutnya frustasi, ia kemudian berjalan panik hendak keluar kamarnya ketika netranya melihat secarik kertas di atas meja kerjanya beserta buku nikah yang ia yakini milik Vira, cincin nikah, cincin berlian hadiah terakhirnya untuk Vira, black card dan beberapa kartu ATM teronggok disana
“Apa - apaan ini?” Rahang Vicky mengeras, amarahnya membuncah di dadanya, berani - beraninya Vira meminta cerai darinya dan mengembalikan semua pemberiannya.. batin Vicky
Vicky bergegas keluar kamar
“Vira, Vira.. dimana kamu!” Suara Vicky menggema ke seluruh penjuru rumah
Para pelayan terutama Siti dan Sumirah yang mendengar teriakan itu menegang, akhirnya hari yang mereka takutkan datang juga
Vicky yang tak menemukan Vira di lantai 2 gegas menuruni tangga dan kembali mencari Vira di lantai dasar rumah mewah itu
“Viraaaaaaaaa!” Teriak Vicky kembali, ia mencari Vira ke setiap pelosok rumahnya yang luas hingga ke area dapur tempat beberapa kali ia diam - diam melihat Vira tengah bercengkrama dengan para pelayan di rumah itu
Setelah lelah mencari dan tak jua menemukan Vira, Vicky kemudian memanggil Bu Mirna
“Ada yang bisa saya bantu Tuan muda?” Tanya Mirna yang segera menghampiri Vicky, dan langsung menundukan kepalanya
__ADS_1
“Kumpulkan semua pelayan di rumah ini, sekarang!” Perintah Vicky dengan nada tinggi
Ia kemudian duduk di sofa ruang tengah, kakinya ia tumpangkan, kedua tangannya ia lebarkan di sandaran kursi, matanya memerah, rahangnya mengeras, siapa pun yang melihat Vicky akan merasakan kengerian yang luar biasa
Para pelayan datang dengan tergesa, berbaris dengan rapi di depan Vicky, kepala mereka tertunduk, tangan mereka bertaut di depan badan mereka, keringat bercucuran, beberapa diantaranya menelan ludah, membayangkan kemarahan yang akan mereka dapatkan dari Vicky
Vicky menatap mereka dalam - dalam
...“Sekarang, ceritakan pada saya siapa yang membuka kunci pintu kamar saya dan membiarkan Vira pergi?! ” tanyanya dengan tatapan yang mengerikan ...
Tidak ada satu pun dari mereka yang berani angkat bicara, semua tertunduk, bahkan untuk menggerakan jari mereka saja rasanya mereka tidak mampu
...“Jawab!!!!!!” Bentak Vicky yang membuat nyali para pelayan semakin ciut...
“Oh rupanya kalian lebih senang kalau polisi yang bertanya pada kalian?” Ancam Vicky dengan suaranya yang dingin
Semua terperanjat, nasib mereka sudah diujung tanduk sekarang
...“Aa-nu Tuan muda” jawab Bu Mirna terbata, Bu Mirna merasa sebagai kepala pelayan ia yang harus bertanggung jawab untuk menjawab pertanyaan tuannya ...
...“Bi Welas Tuan yang membukakan kunci kamar Tuan” lanjut Bu Mirna dengan kepala yang masih tertunduk...
“Bi Welas?!” Tanya Vicky memastikan
Vicky lantas mengabsen satu per satu pelayannya demi mencari sosok Bi Welas, namun Bi Welas tidak ada disana
...“Dimana Bi Welas sekarang?” Tanya Vicky lagi...
...“An - anu Tuan”...
...“Dimana??” Bentak Vicky...
...“Bi Welas sudah mengundurkan diri Tuan, katanya sudah izin sama Nyonya besar” jawab Mirna gemetaran...
...“Sialllll” teriak Vicky, ia yakin Bi Welas pergi bersama Vira ...
Vicky kemudian merogoh sakunya, dan meraih gawainya.. ia kemudian mencoba menghubungi Vira namun nomornya tidak aktif, tak putus asa ia lantas menghubungi nomor Bi Welas.. satu - satunya No. HP pelayan yang ia simpan di HPnya, Vicky menyayangi Bi Welas karena Bi Welas lah yang mengasuhnya dari bayi. Mendapati Nomor Bi Welas yang juga tidak aktif, Vicky semakin naik pitam.. ia kemudian membanting HPnya ke lantai marmer hingga HP edisi terbaru itu pecah tak berbentuk
Ia menarik rambutnya frustasi
“Sial .. sial!!!!” Pekiknya
Semua pelayan semakin gemetar ketakutan melihat amarah Tuan mudanya
__ADS_1
...“Bu Mirna, suruh Pak Asep bawa rekaman CCTV dari semenjak saya berangkat sampai pada saat Vira pergi!” Titahnya pada Bu Mirna...
...“Baik tuan” sahut Bu Mirna dan segera beranjak menuju area security di depan rumah...
Tak berapa lama Pak Asep dan Bu Mirna dengan tergesa menghadap Vicky dengan membawa laptop yang berisi rekaman CCTV
...“Pak Asep, mana rekaman CCTVnya?!” Tanya Vicky ...
“Anu, maaf Tuan.. saya tidak tahu kenapa tapi rekaman CCTV pada saat Tuan pergi tiba - tiba hilang Tuan” ucap Pak Asep dengan suara gemetar
...“Hilang gimana maksudnya hah?” Tanya Vicky nyalang...
...“Anu Tuan, seperti ada yang sengaja menghapusnya” jawab Pak Asep sambil tertunduk...
...“Gila, siapa yang berani menghapus rekaman CCTV rumah ini tanpa seizin saya hah?!” Sentak Vicky...
...“Maaf Tuan, saya tidak tau” jawab Pak Asep dengan keringat bercucuran...
...Vicky kembali menarik rambutnya dengan frutasi...
...“Perlihatkan rekaman CCTV yang tersisa” perintah Vicky pada Pak Asep yang segera maju dan memberikan laptop pada tuannya...
Vicky segera memutar rekaman CCTV hari dimana Vira meninggalkan rumahnya, di rekaman CCTV itu ia melihat Vira yang tertatih berjalan dan dibimbing oleh Bi Welas, Vira tampak kesakitan, ia sering kali memegang perutnya selama berjalan, Vicky seketika merasa iba melihat betapa ringkih istri yang ia tinggalkan itu
...“Vira kenapa, apa dia sakit?” Batinnya...
Ia lalu melanjutkan melihat rekaman dimana Vira menaiki taxi, dan sempat menoleh melihat ke arah rumah sebelum ia masuk ke dalam taxi tersebut dan lalu pergi dari sana
Hati Vicky mencelos melihat kepergian istrinya yang entah kemana, rasa sakit itu timbul diiringi dengan sedikit rasa sesal atas perbuatannya yang menyebabkan Vira pergi, ia mencoba menetralkan diri lagi merapalkan kuat - kuat dalam hatinya bahwa ia memiliki Utari sekarang
Vicky masih mengotak ngatik rekaman itu demi untuk melihat mengetahui kira - kira kemana Vira pergi. Tidak akan ia biarkan Vira pergi apalagi sampai menceraikannya, ia tak mau membuat Ibunya semakin menjadi bahan gunjingan keluarga besarnya.
Ia kemudian memundurkan rekaman itu ke sebelum Vira pergi dari sana, tiba - tiba matanya terlonjak melihat 2 teman akrabnya keluar dari rumah itu beberapa jam sebelum kepergian Vira, Salim yang pergi duluan dan disusul oleh Bram.
“Ngapain Salim dan Bram datang kesini?” Batinnya
Ia kemudian gegas menuju meja kerjanya yang berada di depan sofa tempatnya duduk untuk mengambil gawainya yang lain setelah ia memecahkan gawainya tadi, ia kemudian memungut gawainya yang sudah hancur, mengeluarkan SIM cardnya dari sana dan memasukan SIM cardnya ke gawainya yang baru untuk menelepon ke 2 sahabatnya itu
Salim adalah orang pertama yang ia hubungi, beberapa kali nada tersambung tapi Salim tak juga menjawab telepon Vicky
Vicky kemudian mencoba menghubungi Bram, tapi nihil.. sahabatnya itu juga tidak mengangkat telepon darinya tak seperti biasanya.
Pikiran Vicky semakin tak karuan, ia tak mengerti apa yang terjadi di rumah itu pada saat ia pergi.
__ADS_1
Tanpa Vicky sadari 2 pasang mata tengah memperhatikan kegundahan Vicky dari lantai 2 rumah itu, Utari dan Gendis tersenyum penuh kemenangan begitu tahu rencana mereka berhasil, termasuk untuk menghapus rekaman CCTV dengan menyogok salah satu security yang sekarang sudah resign dan Gendis berikan pesangon yang sangat besar.