
Waktu sudah berlalu beberapa jam, Salim yang sudah kembali ke rumah sakit ikut mondar - mandir bersama Alex di depan ruang operasi, tak ada pembicaraan di antara mereka semua, kegelisahan menyelimuti semua orang yang tengah menunggu kabar Vira.
Lampu tanda operasi sedang berlangsung telah padam, suara pintu yang dibuka membuat semua mata menoleh pada dokter yang baru saja keluar bersama seorang perawat
Salim dan Alex beserta yang lain segera menghampiri dokter tersebut
...“Tuan Alex, dan para keluarga operasi sudah selesai dan bisa saya katakan lancar, kami masih harus melakukan observasi lebih lanjut pada Nyonya Vira, hanya saja kondisi Nyonya Vira masih kritis, mohon do’akan saja, dan saya tidak mau melebihi Tuhan.. tapi mohon persiapkan diri untuk kemungkinan terburuk” tutur dokter tersebut...
Deg..
Semua mematung, mencoba mencerna omongan yang disampaikan oleh dokter tersebut, isak tangis Mbok Asih, Bi Welas, dan Tuti kembali terdengar, sementara Alex bagai kehilangan separuh nyawanya, Salim terhuyung hingga ia harus mendudukkan dirinya di kursi
...“Apa maksud dokter dengan kemungkinan terburuk?” Tanya Alex, ia ingin meyakinkan dirinya semoga pendengarannya salah...
...“Maaf Tuan, kami benar - benar sudah berusaha, tapi tubuh istri anda seolah tak mau berjuang, kami tidak tahu kenapa, sekali lagi kami mohon do’anya, saya permisi” ucap dokter itu yang kemudian berlalu...
Alex memejamkan matanya, meloloskan air matanya yang menggantung, sekecewa itu kah Vira pada dirinya, hingga bahkan ia tak lagi mau bangun?
...“Bangun Vira, bangun, kita mau nikah Vir” gumam Alex lirih...
...“Lex, mungkin kita harus ikhlasin Vira” ujar Salim tiba - tiba, semua orang menoleh pada Salim, Bi Welas langsung terisak mendengar ucapan Salim, Tuti dan Mbok Asih berpelukan menangis sesenggukan...
...“Maksud lo apa Lim?” Tanya Alex yang kini memandang Salim dengan tajam...
Salim menghela kasar nafasnya
...“Dia udah terlalu banyak menderita Lex, setiap pertemuannya dengan orang yang dia anggap akan mengobati lukanya justru membuat luka baru baginya” tandas Salim...
__ADS_1
Alex terkesiap, ia mengerti apa maksud Salim tapi ia sungguh tak bermaksud menyakiti Vira, ia begitu mencintainya, ia rela melakukan apa pun demi Vira, calon istrinya dan calon Ibu anak - anaknya.
...“Gue ga akan pernah ikhlas nerima kepergian Vira Lim, gue akan melakukan cara apa pun agar dia bangun, jadi jangan sekali - kali lo bilang kalo kita harus ikhlasin dia buat pergi, ga akan pernah Lim!” Sentak Alex dengan gigi yang gemeretak...
Salim tersenyum miris
...“Kalo gue jadi Vira mungkin dari lama gue udah bunuh diri Lex, dari kecil dia diperlakukan kayak hewan, dia ga dianggep, dia disepelein, dia babak belur nyampe hampir mati dipukulin orang tua angkatnya, terus udah gede dia nikah dengan harapan suaminya bakal ngelindungin dia, tapi lagi - lagi dia dihancurkan gara - gara si Vicky berkhianat, anaknya juga digugurin paksa, dan sekarang dia bergantung sama lo tapi lo ngehancurin harapan dia” tutur Salim sambil mengusap air mata yang mengalir di pipinya, Salim memang telah mengetahui semua kisah masa kecil Vira dari Mbok Welas yang diam - diam mendukungnya agar menikahi Vira...
Alex tertohok, ia mendudukkan dirinya di kursi, matanya sembab, bibirnya gemetaran, sungguh ia tak akan rela kehilangan Vira
...“Gue ga akan nyerah Lim, apa pun akan gue lakuin, Vira harus bangun” ucap Alex Lirih, ia kemudian menyusut air matanya kasar dengan lengan jasnya ...
Salim menghela nafasnya
...“Kita berdo’a aja Lex, semoga kita bisa ngeliat senyum Vira lagi” ucap Salim lirih...
Waktu terus berjalan, para dokter terus mondar mandir ke ruangan ICU tempat Vira kini ditangani setelah operasi.
Alex mondar - mandir, ia sama sekali tak tenang. Hingga seorang dokter keluar dari ruangan ICU
Alex dan Salim langsung menghambur
...“Gimana Vira dok?” Tanya Alex panik...
Dokter tersebut membuka maskernya, kemudian menghela nafas
...“Kami sudah melakukan yang terbaik, tapi pada saat di ruang transisi tadi pasien seolah menolak untuk sadar, sehingga kami menyimpulkan bahwa pasien mengalami koma dan untuk sementara pasien ditempatkan di ICU, mohon kesabarannya dan kerja samanya, saya permisi Tuan” ujar dokter tersebut kemudian berlalu ...
__ADS_1
Deg..
Semua orang terdiam tak bersuara, Salim ambruk ke lantai, ia lalu menekuk lututnya dan menelungkupkan kepalanya, kemudian ia menangis terisak
Alex limbung, beruntung ada Umar di dekatnya, Umar lalu membimbing Alex ke kursi, Alex lantas menyandarkan dirinya ke dinding sesaat sebelum kemudian ia menangis terisak
Mbok Asih, Bi Welas, dan Tuti menangis sesenggukan, dengan bibir yang tak lepas dari do’a memohon mukjizat
Suara derap sepatu terdengar, Bram setengah berlari menghampiri Alex dan Salim
...“Lex, Lim, Vira gimana? Tanya Bram dengan nafas terengah, ia segera berangkat dengan pesawat begitu mendapatkan telepon dari Salim soal Vira...
Salim mendongak, ia kemudian melihat wajah sahabatnya itu, lalu ia bangkit dan memeluk Bram erat, tangisnya pecah kembali
...“Vira koma Bram” ucapnya lirih, Bram syok luar biasa, ia kemudian balas memeluk Salim dan ikut terisak...
Tak ada yang tak menangis hari itu, bahkan orang sedingin Francis pun ikut menitikkan air matanya.
...----------------...
...Beberapa waktu sudah berlalu, Vira sudah berada di ICU sekarang dan bisa dilihat melalui kaca besar ruangan tersebut, dokter menyarankan agar pihak keluarga satu per satu berinteraksi dengan Vira untuk merangsang kesadarannya...
Semua merasa hancur melihat kondisi Vira, wanita cantik itu tergolek tak berdaya, kepalanya dililit perban, masker alat bantu pernafasan menutupi wajah cantiknya, berbagai macam selang terpasang ke tubuhnya yang ringkih, matanya terpejam damai, Vira seolah enggan bangun.
...“Kenapa bisa gini Lim?” Tanya Bram pada Salim, ia kemudian terisak...
...“Dia kayaknya capek Bram” tutur Salim lirih, lengannya sibuk menghapus air matanya...
__ADS_1
Alex, Bram, dan Salim tengah menatap Vira lewat kaca, mereka yang punya perasaan yang sama pada Vira menatap Vira dengan pilu, semua merasakan sesak di dada mereka, penyesalan terbersit di hati mereka masing - masing, seandainya ia ada ketika Vira sedang terluka.. batin Bram, seandainya Salim tak turun dari mobil untuk membelikannya es krim.. batin Salim, dan seandainya ia bisa menjelaskan apa yang sedang terjadi lebih cepat pada Vira.. batin Alex, penyesalan yang tak akan mengubah apa pun, karena wanita yang mereka cintai kini tengah tertidur panjang, entah Vira akan kembali lagi atau tidak pada mereka.