Nyonya Muda Baru Untuk Suamiku

Nyonya Muda Baru Untuk Suamiku
Kepergian Diah Menjelang Pernikahan Vicky


__ADS_3

(Hai all, welcome ke episode bonus spesial untuk kalian semua yang sudah setia mensupport author, jangan lupa mampir ke karya kedua author yang berjudul “Satu Suami Dua Istri” besar harapan author agar karya kedua author mendapat antusiasme dari teman - teman semua berupa like, gift, favorite, vote, serta tak lupa kritik dan saran 😊😊. Happy reading all ❤️❤️❤️❤️)


Vira mengelus - elus perutnya yang membuncit besar, maklum lah ada dua bayi jagoan Alex di dalamnya, menjelang bulan ke-9 kehamilannya Vira makin sulit bergerak, badannya pun gampang lelah dan capek. Alhasil ia absen pada kegiatan persiapan lamaran Vicky - Laura


Alex yang baru saja pulang dari kantor memburu Vira yang tengah duduk di kursi santainya


...“Gimana kondisi dua jagoan Papa hari ini?” Tanya Alex sambil berlutut di depan Vira dan menciumi perut Vira...


...“Dua - duanya aktif kayak kamu Mas” ucap Vira ...


...“Ahahaha.. bagus dong, calon pengusaha sukses berarti” sahut Alex, kini bibirnya mengecup sayang kening Areta...


...“Tumben pulangnya cepet, bukannya Mas mau meeting di Singapore sore ini?” Tanya Vira, sambil membenar - benarkan duduknya, duduk sebentar saja membuat Vira pengap dan pegal...


...“Umar yang berangkat, hari ini aku mau nemenin kamu sama Alevir aja” ucap Alex sambil mendudukkan dirinya di sebelah Vira...


Ah senangnya Vira, wajahnya berseri matanya berbinar, Alex memang jarang sekali punya waktu di rumah selain hari Minggu, di hari Minggu pun mereka nyaris tidak punya waktu berdua karena keluarga besar mereka biasanya akan berkumpul di rumah Alex dan Vira


...“Serius Mas? Senengnya” ucap Vira sambil memeluk sayang suaminya itu...


...“kalau kita dinner diluar gimana?” Tanya Alex...


...“Boleh, kebetulan Ibu sama Romo mau nginep, entar lagi juga datang jadi ada yang ngawasin Alevir” tutur Vira sumringah...


...“Dua pengasuh dan dua abdi dalem belum cukup buat ngawasin Alevir sayang?” Tanya Alex ...


Vira mendengus


...“Keinginan Kanjeng Sultan sama Mama, Mas.. aku manut aja” ucapnya...

__ADS_1


...“Ya udah kita ikutin aja maunya orang tua” ucap Alex, sambil mengecup singkat bibir istrinya...


Ponsel Alex berdering memecah kemesraan mereka, tapi Alex enggan menjawabnya, ia malah sibuk mengecupi bibir istrinya


...“Mas, angkat dulu, penting kayaknya” ucap Vira, Alex menghela nafas lalu mengecup bibir Vira sekali lagi sebelum ia menjawab panggilan dari Bram...


...“Kenapa Bram?” hanya itu yang diucapkan Alex, setelahnya wajahnya meredup, tak lama ia mematikan ponselnya, lalu menatap Vira lekat...


...“Dokter Bram ya? Ada apa?” Tanya Vira, senyum masih terukir di wajahnya...


Alex hening sejenak, tangannya terulur menggenggam tangan Vira


...“Vir, ada info dari Bram, tapi aku mohon, aku bener - bener mohon supaya kamu ga shock atau stress, inget kamu lagi mengandung anak kita” tutur Alex sepelan mungkin...


...Vira mengerutkan keningnya, “ada berita apa Mas?” Tanya Vira tak sabar...


...“Vir, janji dulu!” Titah Alex bersikukuh...


Alex mengeratkan genggamannya pada Vira


...”Tante Diah meninggal Vir, satu jam yang lalu” tutur Alex lirih, Vira membulatkan matanya, jantungnya berdebar kencang, demi apa pun ia tak percaya apa yang di dengarnya sekarang, karena baru tadi pagi Tante Diah menghubunginya untuk meminta saran mengenai konsep pernikahan Vicky dan Laura...


...“Kok bisa Mas? Baru tadi pagi loh Mas, tadi pagi banget aku video call sama Tante Diah, dan Tante Diah itu baik - baik aja” ucap Vira, air matanya jatuh tanpa di komando...


...“Tante Diah meninggal dalam tidurnya Vira, tepat setelah Tante Diah sholat Ashar” sahut Alex, Vira tak mampu berucap hanya bayangan wajah Tante Diah yang kini berkelebatan di kepalanya...


Alex mendekap istrinya, membelai lembut rambutnya dan mengecupnya, Alex bukannya tak berduka tapi ia harus menguatkan istrinya, ia tahu Vira pasti sangat sedih sekarang, meskipun ada sejarah kelam diantara mereka, tapi itu sudah berlalu karena sampai menjelang akhir hayatnya Tante Diah memperlakukan Vira dengan sangat baik, bahkan tak jarang Tante Diah memanggil Vira sebagai putri yang tak pernah dimilikinya.


...“Kamu kuat ga kalau kita datang ke rumah Vicky sayang?” Tanya Alex, Vira mantap mengangguk, ia tak mungkin absen melihat Tante Diah untuk yang terakhir kalinya...

__ADS_1


Alex mengeratkan pelukannya, menguatkan istrinya dan dirinya sendiri.


...****************...


Bendera kuning melambai menyambut para pelayat di gerbang rumah Vicky, tenda sudah didirikan, kursi - kursi sudah berjejer rapi, sebagian ada yang sudah diduduki, sebagian hanya dilewati pelayat yang memilih masuk ke dalam rumah duka, bunga ucapan bela sungkawa menjadi benteng rumah Vicky hari itu, sementara cuaca mendung menjadi atap yang ikut berduka, hitam dan mencekam


Alex membimbing Vira yang turun perlahan dari mobil mereka, keduanya berjalan dengan gontai menuju ke dalam rumah, para pelayat yang mengenal mereka mengangguk dengan hormat, tanpa menyapa atau mengajak bicara, seolah mengerti jika kedua orang itu kini sedang dilanda duka.


Vira menghentikan langkahnya sebentar sebelum masuk, badannya gemetar, tangannya sigap menggenggam tangan Alex minta dikuatkan. Alex paham, ia menggandeng Vira perlahan membawanya masuk ke rumah, melewati beberapa pelayat yang mandangi mereka, keduanya berjalan masuk ke tengah rumah tempat jenazah di semayamkan dengan perasaan yang tak karuan, dan pemandangan menyesakan hati itu kini nampak di depan mata Vira


Vicky yang berpeci hitam tertunduk lesu di depan jenazah Ibunya yang terbujur kaku, sesekali tangannya mengusap kasar air mata yang menetes di pipinya, sementara Salim- Raina, Bram - Hanum, dan Laura yang sedang terisak duduk mengelilinginya, isak tangis Laura bersahutan dengan lantunan ayat suci para pelayat, sungguh membuat jiwa lara.


...“Alex sama Vira datang Vick” bisik Bram pada temannya, Vicky seketika menoleh pada Vira, menatapnya dengan mata yang memelas dan sarat duka, Vira hanya bisa meneteskan air mata dan menundukkan wajahnya tak sanggup melihat derita yang kini Vicky tanggung, Vicky bangkit berdiri berjalan menghambur ke arah Alex, lantas memeluk sahabatnya itu erat, dipelukan Alex ia mengeluarkan semua rasa sakitnya, tangisnya meraung penuh kepedihan. Alex membiarkan sahabatnya itu meluahkan kesedihannya, lantas menepuk - nepuk punggungnya mengalirkan kekuatan, meyakinkan kalau Vicky tak sendiri, ada dirinya dan sahabatnya yang lain. ...


Sementara Vira berjalan mendekat ke arah Laura, mendudukkan dirinya tepat di samping wanita yang masih terisak itu, tangannya terulur membelai rambut Laura


...“Laura, yang sabar” ucapnya dengan suara yang bergetar, Laura menoleh pada Vira, tangisnya kembali pecah, Vira sigap memeluknya...


...“Kenapa Mama harus meninggalkan Laura secepat a ini Mba? Padahal baru aja Laura dapet kasih sayang Mama” tuturnya sambil terisak...


...“Yang kuat Laura, untuk Vicky, dia butuh kamu sekarang” ucap Vira...


...“Laura ga yakin kalau Mas Vicky bisa bertahan tanpa Mama, Mba” sahut Laura perih...


...Vira menghela nafasnya, menahan kesedihannya, “kamu ga boleh ngomong gitu Laura, kamu harus jadi penyemangat buat Vicky, kamu harus jadi kekuatannya Laura!” Tandas Vira, “kamu ga akan sendirian mendampingi Vicky Laura, ada kami semua” tambahnya...


Laura mengangguk, tapi pelukannya pada Vira semakin erat, Raina dan Hanum tergupuh mendekat, memeluk dan membelai Laura memberi kekuatan. Sementara Salim dan Bram, mendekati Alex dan Vicky membimbing Vicky untuk duduk, kini ke empat sahabat itu duduk di depan jenazah Diah, merapalkan do’a meminta agar Diah diterima disisi Tuhan.


Tak lama Mama Maryam dan Baba Jaber datang, disusul oleh Kanjeng Sultan sekeluarga, para pelayat bukannya tidak tahu siapa orang - orang penting yang kini berada di dalam, tapi keinginan mereka untuk sekedar menatap atau menyapa mereka kubur dalam - dalam, mafhum akan duka yang kini tengah menyelimuti mereka.

__ADS_1


Prosesi demi prosesi telah dilakukan menurut syariat Islam, Vicky sudah melaksanakan tugas beratnya untuk memandikan jenazah Ibunya, mengkafani pun sudah dilakukan oleh Ibu - Ibu pelayat sekaligus sukarelawan, jenazah pun sudah di sholatkan. Kini Vicky dan Laura berada dalam ambulance mengantarkan sang Ibu menuju tempat peristirahatan terakhirnya, di belakang ambulance mengekor deretan mobil milik para sahabatnya, Mama Maryan dan Baba Jaber, serta rombongan Sultan yang dijaga ketat aparat kepolisian serta bodyguard Alex.


Suara raungan Ambulance membuat suasana sepanjang perjalanan mencekam, sedih dan pedih tampak di wajah para pengantar, tak ada satu pun yang tersenyum saat itu, semuanya larut dalam duka. Duka menjelang pernikahan bahagia Vicky dan Laura.


__ADS_2