
Pov
Vira…
...Sudah seminggu semenjak kejadian di resort Alex berubah sikap padaku, lebih tepatnya ia bersikap profesional layaknya atasan dan bawahan, tak ada lagi sentuhan tiba - tiba, perhatian, atau kejutan - kejutan manis yang kerap ia berikan. ...
...Alex hanya akan berbicara padaku ketika memberikan titah mengenai pekerjaan, atau hanya jawaban ya atau tidak untuk sesuatu yang aku tanyakan, ia lebih banyak berkomunikasi dengan Francis atau Umar...
...Tapi apa yang ku harapkan? Toh dari awal aku sudah sadar kalau itu semua hanya mimpi, aku rutuki diri sendiri yang pernah terbuai hasrat bersamanya, mencoba untuk menikmati mimpi - mimpi indah yang Alex berikan, tapi sekarang kenapa aku harus mengeluh ketika aku harus terbangun dari mimpiku? ...
...Aku dan Alex ibarat pungguk yang merindukan bulan, mustahil, kami terlalu jauh berbeda...
...Jika dengan Vicky yang kekayaannya tak sebanyak Alex aku dicaci dan dihina, maka Alex adalah mimpi yang akan hilang saat aku harus bangun seperti sekarang. ...
...“Kerja Vir kerja, kamu kerja disini, kamu harus profesional, ingat Tuan Alex sudah membantu anak - anak panti, Tuan Alex menerima kamu yang hanya lulusan SMA menjadi sekretaris pribadinya hingga gaji kamu lebih dari cukup untuk membiayai ibu - ibumu dan adikmu” itu rapalku dalam hati setiap hari...
...Terlalu sering dihina membuatku membangun tembok besar untuk siapa pun yang mendekat, banyak pria yang sudah datang untuk melamarku namun aku tolak, termasuk anak salah satu Gubernur yang saat itu tengah kampanye di daerahku, aku menolak halus lamaran keluarganya melihat bagaimana Ibu pria itu memindaiku dari ujung kaki sampai ujung kepala, kemudian memindai Mbok Asih, Bi Welas, dan Tuti dengan pandangannya yang merendahkan, meskipun anaknya yang aku tau kesengsem berat padaku tidak menerima penolakanku...
...“Aku hanya kasta rendahan, yatim piatu yang tidak tahu terima kasih” kata - kata Mas Vicky itu selalu terngiang di telingaku menjadi pengingat ketika aku hendak membuka diri...
...****************...
Siang ini di hotel tampak begitu ramai, semua karyawan sibuk melaksanakan tugas mereka masing - masing untuk menyambut hari grand opening yang akan dilaksanakan esok hari
Tuan Alex beserta Tuan Francis dan Tuan Umar mondar mandir briefing dan meeting semenjak pagi tadi
...Aku pun tak kalah sibuknya, aku menyiapkan notulen rapat dan memo - memo yang kemudian aku kirimkan ke departemen - departemen terkait, hari grand opening ini adalah hari yang kami semua tunggu - tunggu, hari dimana hotel resmi beroperasional dan dibuka untuk umum. Oleh karena itu acara grand opening harus berjalan sempurna, mengingat yang datang nanti adalah orang - orang penting, tak kurang dari para pejabat, para duta besar, para CEO perusahaan - perusahaan rekanan luar dan dalam negeri, maupun beberapa tokoh nasional maupun internasional...
...Perkerjaanku yang menumpuk membuatku harus mulai bekerja mulai dari jam 6 pagi dan pulang jam 9 malam, jangan tanya bagaimana letihnya badanku, bahkan untuk sekedar ngobrol sama Tuti sepulang bekerja saja aku sudah tidak sanggup, aku langsung tertidur menghilangkan rasa penatku...
...Tapi aku tetap semangat, bayang - bayang kesejahteraan anak - anak panti dan kebahagiaan Mbok Asih, Bi Welas, serta Tuti membuatku selalu bersemangat menyelesaikan setiap pekerjaanku bahkan yang masih jauh dari datelinenya...
...“Vir” panggi Alex yang membuat lamunanku buyar dan hatiku berbunga, sekilas aku berharap ia ada dibelakangku dan tiba - tiba memelukku erat, namun itu tak mungkin, ia disana duduk di kursi kebesarannya dengan mata yang fokus memindai file - file, bahkan ia tak melihat ketika memanggilku...
Aku menegakkan badanku, mengatur ekspresiku dengan memasang senyum di wajahku
...“Ada yang bisa saya bantu Tuan?” Tanyaku dengan sangat sopan...
...“Iya, laporan persiapan acara dari bagian marketing sepertinya tidak sesuai dengan yang saya harapkan, bisa tolong kamu cek?” Titahnya dengan mata yang masih terfokus pada file di tangannya...
“Baik Tuan, akan saya laksanakan” jawabku yang langsung segera meraih gagang telepon di atas mejaku untuk menghubungi bagian marketing
...“Vir” panggilnya lagi...
...“Ya” aku terperanjat penuh harap...
...“Tolong segera selesaikan, saya tidak mau acara besok berantakan” ujarnya yang mengubur harapanku...
...“Baik Tuan” jawabku sopan...
...“Vira, sadar Vir.. kamu hanya kasta rendahan, jadi fokus saja bekerja demi gaji” rapalku dalam hati...
Aku gegas menyelesaikan semua titahnya padaku, memupus semua asaku, aku membekukan hatiku.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Waktu telah menunjukkan jam 5 sore, artinya aku bisa pulang ke rumah, tadi Francis bilang bahwa Tuan Alex menyuruhku untuk pulang tepat waktu hari ini agar bisa bersiap untuk acara besok hari, sementara Tuan Alex, Francis, dan Umar sudah meninggalkan kantor dari siang tadi.
__ADS_1
Aku meregangkan badanku yang kaku, kemudian melepas sepatu heels yang dari pagi menyiksaku, lantas aku beranjak menuju ke kamar gantiku untuk berganti pakaian dengan pakaian kumal yang aku pakai dari rumah tadi pagi
Ponselku tiba - tiba bergetar, sebuah pesan masuk.. notifikasi transferan dari bank itu membuatku sangat bahagia, Francis mengirim gajiku bahkan ketika aku belum genap bekerja selama 1 bulan.
...Senyum mengukir di wajahku, otakku dengan cepat membuat daftar apa saja yang perlu aku beli, yang pasti aku akan membeli sepatu baru dan beberapa helai baju apabila masih ada sisa uang setelah aku membeli kebutuhan rumah, Mbok Asih, Bi Welas, dan Tuti, ah ya aku harus beli sepatu baru untuk Tuti. Batinku...
Aku melangkah dengan ringan menuju tempat parkir, karangan bunga ucapan selamat telah memenuhi pekarangan hotel dan mengular hingga ke jalan raya, aku memindai sekelilingku mencari sosok Pak Heru yang akan mengantarku pulang
Seorang security yang melihatku celingukan menghampiriku
...“Non Vira, nyari Pak Heru ya?” Tanyanya dengan sopan...
^^^“Iya Pak, Bapak tahu ga ya dimana Pak Heru? Saya sudah coba telepon ponselnya tapi ga aktif” ujarku^^^
...“Pak Heru lagi nganterin Pak Yonto meeting di luar hotel Non, tadi Pak Heru nitip pesan sama saya untuk disampaikan pada Non Vira”...
...“Oh ya udah Pak, terima kasih kalau begitu.. saya permisi pulang dulu ya” ujarku dengan senyum yang hangat...
Aku kemudian melangkahkan kakiku menuju gerbang hotel, aku bisa saja meminta bantuan sopir hotel yang lain tapi aku tahu mereka semua sedang sibuk, jadi aku putuskan untuk naik ojek online menuju pangkalan angkot
Sudah 20 menit aku mencoba untuk order ojek online, tapi tak ada satu pun yang menerima, mungkin karena mereka tahu jalan menuju dan keluar hotel sangat macet akibat lalu lalang kendaraan yang keluar masuk hotel
...Lelah menunggu, aku pun memutuskan untuk berjalan kaki menuju pangkalan ojek, aku langkahkan kaki yang terbungkus dengan sepatu kets usangku. ...
...Beberapa kali kendaraan baik mobil maupun motor yang dikemudikan oleh karyawan hotel berhenti dan menawariku tumpangan untuk pulang, tapi karena semuanya laki - laki aku menolaknya dengan halus, aku tak mau menciptakan masalah yang baru. ...
Aku berjalan gontai karena kali ini sudah mulai terasa capek, sebelum kemudian sebuah motor bebek berhenti tepat di sampingku
...“Vira ya?” Tanya si pengendara motor sambil tersenyum hangat...
...“Kenalin, aku Yani” ucapnya sambil menyodorkan tangannya...
...“Vira” jawabku santun...
...“Mau pulang ya? Mau bareng ga?” Tanyanya ramah...
...“Ga usah Kak, ga usah repot - repot, aku jalan aja” jawabku segan...
...“Jalan? Emang rumah kamu dimana?” Tanyanya heran...
...“Aku mau jalan ke pangkalan angkot Kak, habis itu aku naik angkot ke rumah” terangku...
...“Pangkalan angkot masih jauh lo, ini udah mau ujan.. ayuk bareng aku aja” ajaknya lagi...
...“Ga ngerepotin Kak?” Tanyaku segan...
...“Enggak, rumahku dekat pangkalan angkot situ kok jadi sekalian” ucapnya lagi...
...“Makasih ya Kak” ucapku hangat...
...“Iya, ayu naik” titahnya, aku kemudian naik ke atas motornya yang kemudian membawa kami ke pangkalan angkot...
Beberapa saat kemudian baru saja kami sampai di pangkalan angkot ketika hujan mulai turun
...“Yah hujan lagi, neduh dulu yuk Vir” ajaknya...
...“Iya Kak” jawabku berhubung angkot pun belum ada yang kembali ke pangkalan...
__ADS_1
...“Neduh dimana ya?” Gumamnya sambil memindai sekeliling pangkalan angkot...
...“Mmmhh.. Kak Yani mau ga makan bakso bareng aku?” Tawarku ragu, aku takut ia enggan makan denganku karena pakaianku yang kumal...
...“Mau dong, tapi kamu yang traktir ya” godanya...
...“Iya kak” aku mengangguk sambil tersenyum, untunglah hari ini gajian jadi aku bisa mentraktirnya makan...
...“Asiiik, kapan lagi coba di traktir sama sekretaris CEO” celetuknya riang...
Aku hanya tertawa kecil mendengarnya
Kami pun berjalan menuju kedai bakso yang ada tepat di depan pangkalan angkot
Setelah kami memesan bakso, kami duduk dalam keheningan dan sama - sama fokus pada layar ponsel kami masing - masing
...“Vir, cerita dong gimana rasanya deket - deket Tuan Alex terus” tanya Yani sambil tersenyum jahil...
...“Ya gitu aja Kak, capek banyak banget kerjaannya soalnya” ...
...“Kalo aku jadi kamu sih mau kerjaannya segunung juga aku mau - mau aja, yang penting bisa ngeliat Tuan Alex terus” ujarnya sambil menambahkan sambal pada bakso yang baru saja datang...
...“Nih ya tuh anak - anak house keeping pada rebutan kalau pas jadwal bersihin kamar Tuan Alex, itu si Marni nyampe cakar - cakaran sama si Wiwik pas asisten Tuan Alex minta tambahan handuk khusus untuk Tuan Alex” tuturnya kemudian menyendok bakso dan memasukkannya ke mulutnya...
Aku hanya tersenyum hangat mendengarnya, aku bingung harus mengomentari apa
...“Sama kaya di resto, kalau Tuan Alex minta dibawain makanan ke kamarnya, anak - anak pada rebutan buat naik, termasuk aku” katanya sambil terkekeh, Yani ini memang seorang waitress di resto hotel tersebut...
...“Ya orang kayak kita mah cuma bisa gitu, ngeliatin diem - diem, kagum diem - diem, suka diem - diem. Mustahil juga kan kalo Tuan Alex suka sama orang kayak kita!” Ujarnya meskipun membuat dadaku sesak, tapi aku membenarkan pemikirannya...
...“Eh katanya Tuan Alex udah punya calon lo” ujar Yani yang sukses membuat aku urung memakan baksoku...
...“Calonnya wuiiiiihh cantik, anak pengusaha terkenal siapa gitu nama Bapaknya, pokoknya hedon. Aku diliatin artikelnya sama anak- anak resto” sambungnya, aku menghela nafasku pelan membuang sesak di dada...
...“Kalo ga salah ada kok besok, soalnya ada di daftar orang yang akan semeja sama Tuan Alex” ucapnya lagi, aku hanya bisa tersenyum ...
...“Bener kan Vir mimpimu ketinggian, bangun Vir! sadar! Apa yang terjadi kemarin hanya Tuan Alex yang sedang iseng, siapa kamu nyampe berharap apa yang dia janjikan akan dia tepati” rapal Vira dalam hatinya...
...“Eh Vir, dimakan baksonya jangan bengong” Yani membuyarkan lamunanku...
...“Cepet habisin ya, Kak Yani mau cepet pulang soalnya, kasian anak Kak Yani yang masih bayi kalo kelamaan ditinggal” ucapan Kak Yani membuatku langsung tertarik ...
...“Kak Yani punya anak? Umur berapa Kak? Tanyaku penuh semangat...
...“Baru 6 bulan, lagi lucu - lucunya makanya bawaannya pengen cepet pulang, ntar kalo kamu punya anak kamu pasti ngerasain deh” tuturnya yang sukses membuat dadaku sakit luar biasa...
...Entah kenapa aku kemudian mengelus perutku, tempat dimana dulu janin calon anakku tumbuh...
...“Vir, cepetan abisin baksonya” ujar Kak Yani...
...“Ah iya Kak” ucapku sambil memasukkan sedikit bakso ke mulutku, bayangan janinku yang diambil paksa dariku membuyarkan selera makanku...
Dengan susah payah aku menahan air mataku
Beberapa saat kemudian setelah selesai makan bakso, kami pun berpisah. Kak Yani melanjutkan perjalanannya dengan motor semantara aku dengan angkot.
Sepanjang perjalanan hatiku nyeri mengingat tentang anak yang belum sempat aku lihat, mungkin kalau masih ada sekarang perutku sudah membuncit, apa manusia sepertiku serendah itu sampai aku pun tak berhak untuk punya anak? Batinku
__ADS_1