
Pov
Vira..
Mas Vicky sudah berangkat kerja, meskipun ia kelelahan akibat pergulatan panas kami semalaman, tapi Mas Vicky tetap melaksanakan tanggung jawabnya kepada perusahaannya itu.
Mami masih sama, wajahnya tidak bersahabat.. lebih banyak diam, bahkan Mami sama sekali tidak pernah melihat ke arahku, aku ingin sekali menanyakan pada Mami apa salahku, aku khawatir ada kesalahanku yang tidak sengaja aku perbuat namun membuat Mami terluka, tapi aku melakukan perintah Mas Vicky tadi malam agar aku menunggu sampai Mami yang cerita sendiri padaku.
Santap sarapan yang penuh keheningan sudah berlalu, seperti kemarin kami semua langsung bubar dengan tujuan masing - masing, aku menuju kamarku sementara aku tadi melihat Tante Gendis menyusul Mami ke kamarnya, semoga dengan adanya Tante Gendis yang menemani, Mami bisa terhibur, harapku.
Aku kemudian beranjak ke balkon kamar, menikmati sinar matahari yang mulai terik, pohon - pohon dan tanaman hijau yang terhampar luas di taman, mataku kemudian memindai sekeliling rumah, dan lalu netraku menatap balkon kamar yang ditempati Utari yang kamarnya berseberangan dengan kamarku, entah kenapa dadaku rasanya tiba - tiba sesak, aku lantas beranjak masuk ke dalam kamar dan duduk di sofa, hatiku tak karuan, aku merasa seperti ada yang tidak beres dengan Utari
Tiba - tiba suara ketukan pintu kamarku terdengar
...“Permisi Nyonya muda, maaf ini Bi Welas” seru orang yang mengetuk pintuku dari luar...
...“Sebentar Bi” ujarku, sambil berdiri dan beranjak membukakan pintu...
...“Ada apa Bi?” Tanyaku begitu aku bukakan pintu dan melihat Bi Welas berdiri sambil menunduk...
...“Maaf Nyonya muda, Nyonya besar meminta Nyonya muda untuk menghadap Nyonya besar di kamar Nyonya besar” Jawab Bi Welas sambil menggaruk tidak gatal rambutnya, karena kalimatnya yang rumit ...
Aku tertawa geli melihat kelakuan Bi Welas yang polos, sedikit mengurangi kegundahan hatiku saat ini
...“Sini masuk Bi” ajakku pada Bi Welas sambil menarik tangannya yang sudah keriput untuk masuk ke dalam kamarku ...
...“Ada apa Bi? Mami nyuruh apa?” Tanyaku lembut pada Bi Welas ...
...“Itu Nyonya, Nyonya besar minta Nyonya muda untuk datang ke kamarnya, penting katanya” Jawab Bi Welas ...
...“Kok nyonya muda, kan Vira udah bilang kalo lagi ga ada Mami, Mas Vicky, atau Tante Gendis panggil Vira aja, Vira risih kalau dipanggil Nyonya muda” ujarku sambil mengerucutkan bibir ...
__ADS_1
...“Halah si bibi kok lupa terus ya Nyony, eh Neng Vira” Ujar bibi sambil mencubit bibirnya sendiri, aku dibuat tertawa melihat tingkah si bibi...
...“Ya udah bi, Vira ke kamar Mami dulu ya.. terima kasih Bi” ucapku pada Bi Welas sambil merengkuh tubuhnya ...
...“Iya Neng, Neng Vira sing sabar yo ngadepin Nyonya Gendis dan Nyonya besar” ucap Bi Welas lirih...
...“Iya tenang aja Bi, do’akan saja Vira dan keluarga Vira ya Bi” ucapku sambil tersenyum dan menggenggam tangannya hangat...
...“Sip” ucap Bi Welas sambil mengacungkan kedua jempolnya ...
...Setelah itu aku beranjak dengan langkah gontai menuju kamar mertuaku...
Hatiku mendadak berdebar, aku memikirkan segala macam kemungkinan yang akan Mami bicarakan, namun aku berharap semoga pembicaraan Mami ini bisa menjawab semua yang terjadi belakangan ini.
Aku ketuk pintu kamar Mami yang terbuat dari jati dan dihiasi penuh ukiran, tiga kali ketukan baru aku mendengar suara serak Mami untuk menyuruhku masuk.
Aku masuk dengan hati - hati, hidungku langsung mencium wangi parfum mahal yang biasa Mami gunakan, membuatku betah berlama - lama menghirup aromanya, aku berjalan dengan pelan sampai aku menemukan mertuaku yang tengah duduk diatas ranjangnya.
...“Vir, duduk sini” ucap Mami Diah sambil menepuk kasur tepat di depannya duduk sekarang...
Aku beringsut dan duduk di tempat yang Mami suruh
...“Mami manggil Vira? Apa ada yang bisa Vira bantu Mi” tanyaku lembut sambil menatap lekat mata Mami yang sembab...
...“Vir, besok Mami, Tante Gendis, Utari, dan Vicky mau berangkat ke New York, kami mau mengurus akuisisi perusahaan almarhum suaminya Tante Gendis” ucap Mami dengan suaranya yang serak...
...“Besok Mi? Kok dadakan banget” ucapku heran, hatiku mencelos lagi - lagi aku menjadi yang terakhir tahu rencana suamiku sendiri...
...“Iya, baru tadi malam direncanakan dan barusan saja Vicky memesankan tiket buat kami semua” jawab Mami...
...“Mami ga ngajak kamu, maaf.. karena Mami tau kamu ga nyaman deket - deket sama Tante Gendis dan Utari” sambung mertuaku yang membuat hatiku sedikit lega, paling tidak ternyata mertuaku masih memikirkan perasaanku yang tidak nyaman jika berdekatan dengan Tante Gendis atau Utari...
__ADS_1
...“Tolong siapkan keperluan Vicky untuk selama disana ya, mungkin kurang lebih 10 hari” titah Mami padaku ...
...“Minta bantuan pelayan untuk bantuin kamu ya Vir, supaya segera selesai karena kami berangkat pagi sekali” sambung Mami ...
...“Baik Mi” ucapku patuh meskipun hatiku tak karuan, banyak pertanyaan yang muncul di benakku sekarang...
...“Vir, sudah sana segera siapkan keperluan Vicky” ucap Mami Diah membuyarkan lamunanku...
Aku pun bangkit dari tempat tidur mertua, pertanyaan tentang kejadian - kejadian kemarin aja belum terjawab, sekarang sudah muncul lagi masalah baru
...“Aku harus telepon Mas Vicky” batinku...
Sesampai di kamar, aku gegas memanggil pelayan untuk membantuku menyiapkan keperluan Mas Vicky, hatiku tentu saja masih tak karuan, kecewa perlahan muncul karena suamiku sendiri menjadikan aku orang yang terakhir tahu rencananya. Ragu awalnya, tapi aku putuskan untuk segera menghubungi Mas Vicky untuk meminta penjelasannya, aku segera meraih ponselku dan menunggunya menjawab panggilanku
... “Halo Mas, kamu lagi sibuk ga?” Tanyaku pada Mas Vicky...
“Halo sayang, aku lagi istirahat makan siang nih” ujarnya
Aku kemudian menarik nafasku, takut - takut mendapat jawaban yang mengejutkan dari Mas Vicky mengenai kepergiannya
...“Mas, apa bener kata Mami kamu mau berangkat sama Mami, Tante Gendis, dan Utari ke New York besok” tanyaku...
...“Ah i - iya sayang, maaf aku lupa info.. aku sibuk banget tadi, tadinya pulang kantor nanti aku mau info ke kamu, syukurlah kalau Mami sudah info duluan” jawab Mas Vicky terbata...
Aku hening sejenak menanti penjelasannya, namun Mas Vicky tak juta mengatakan apa - apa
...“Ok Mas, aku siapin keperluan buat kamu selama disana ya” tukasku kesal...
...“Makasih istriku tercinta, sampai ketemu di rumah nanti ya” jawab Mas Vicky yang kemudian mengakhir pembicaraan kami....
Hatiku makin tak karuan, entah kenapa perasaanku sangat tidak enak mengenai kepergian Mas Vicky besok, apa yang sebenarnya terjadi? Batinku
__ADS_1