Nyonya Muda Baru Untuk Suamiku

Nyonya Muda Baru Untuk Suamiku
Kebenaran terungkap


__ADS_3

...Petir menyambar, angin berhembus kencang, air hujan turun dengan derasnya. Minggu pagi ini tak seperti pagi - pagi sebelumnya di rumah Vicky, hari ini suasana terasa mencekam. Langit menggelap membuat pagi seolah sudah beranjak malam...


Pagi ini Diah dan Gendis sedang menyesap teh di ruang tengah, tak ada pembicaraan antara mereka, Diah sibuk membaca majalahnya, sementara Gendis sibuk dengan ponselnya. Sementara Vicky tengah berada di ruang kerjanya dan Utari sedang berada di kamarnya.


Tiba - tiba Sumirah tergopoh - gopoh datang ke ruang tengah, wajahnya pucat seolah baru saja melihat sesuatu yang menakutkan


...“Permisi Nyonya besar, anu… anu” ucap Sumirah panik...


...“Ada apa Mbok? Kenapa panik gitu?” Jawab Diah penasaran, Gendis mendongak kemudian menatap Sumirah yang tengah duduk di lantai...


...“Anu Nyonya, ada polisi di depan” ucap Sumirah gemetaran, Diah dan Gendis sontak berdiri...


...“Polisi? mau ngapain Mbok? apa ada yang manggil polisi atau gimana? tanya Diah tegang...


...“Maaf Nya, katanya nyari Nyonya besar Gendis” jawab Sumirah...


Diah dan Gendis saling pandang


...“Ya - ya sudah, tolong panggillan Vicky, biar Vicky yang nemuin” titah Diah pada Sumirah yang langsung bangkit dan beranjak dari situ...


Jantung gendis berdetak kencang, perasaannya tak karuan, entah kejahatannya yang mana yang telah terungkap sampai polisi mencarinya


Beberapa saat kemudian Vicky muncul dengan tergesa, diekori Sumirah dibelakangnya


...“Ada apa Mi? Katanya ada polisi nyariin Mama Gendis ya?” Tanya Vicky...


...“Iya Vick, tapi belum tau kenapa nyariin Mba Gendis” ucap Diah dengan wajah paniknya, Gendis hanya mematung dengan wajahnya yang memucat...


...“Suruh masuk ke sini Mbok” titah Vicky, Sumirah patuh dan bergegas menuju pintu luar...


Perasaan Vicky, Diah, dan Gendis tak karuan, entah apa yang akan terjadi


Duaaarrrr..


Petir kembali menyambar, membuat ketiganya bertambah tegang, suasana tak ayalnya film horor.


Derap sepatu terdengar mendekat, beberapa polisi berseragam datang mendekat


...“Selamat pagi, apa benar ini kediaman saudari Gendis Notonegoro?” Tanya salah seorang polisi...


...“Betul, maaf ini ada apa ya?” Tanya Vicky...


...“Saya membawa surat penangkapan untuk Nyonya Gendis Notonegoro” jawab polisi yang membuat Vicky, Diah, Gendis, dan Sumirah terlonjak kaget ...


...“Maaf Pak, ini ada masalah apa ya? Apa Bapak ada surat penangkapannya?” Tanya Vicky mencoba tenang....


Polisi tersebut kemudian menyodorkan secarik kertas yang langsung diterima dan dipindai Vicky


Mata Vicky membulat ketika membaca surat tersebut


...“Pak, ini pasti salah paham, tidak mungkin mertua saya melakukan ini, dan anak siapa yang digugurkan?” Berondong Vicky pada polisi, namun membuat Gendis gemetaran, kini ia tahu dosa yang mana yang telah terungkap...

__ADS_1


Sumirah dan Diah saling pandang tak mengerti


Polisi itu kemudian menoleh pada rekannya


...“Bawa masuk” ucap polisi tersebut...


Derap langkah kembali terdengar, beberapa polisi berseragam masuk dengan menggandeng tiga orang laki - laki yang telah babak belur, darah segar bercampur dengan darah yang telah mengering di wajah mereka, wajar karena sebelum dilaporkan ke polisi, ketiga orang tersebut telah dihajar habis - habisan oleh orangnya Alex termasuk Francis dan Umar


Gendis yang tahu persis siapa mereka gemetaran, ia hampir limbung, ia sekuat tenaga berdiri bersiap untuk membela diri


...“Me - mereka siapa Pak?” Tanya Diah dengan mata membulat melihat kengerian di depannya...


...“Mereka mengaku sebagai orang suruhan saudari Gendis untuk melakukan kejahatan pengguguran kandungan Nyonya Vira dengan sengaja” ucap polisi...


Duaarrrr..


Diah dan Vicky sontak kaget, seketika jantung mereka berdebar kencang


...“Bohong! Saya tidak melakukan perbuatan itu, kalian semua bohong!, saya bahkan tidak mengenal mereka!” Pekik Gendis histeris...


Diah dan Vicky semakin bingung, otak mereka tak bisa mencerna apa yang terjadi


Sementara Sumirah kini mengerti apa yang terjadi pada Vira tempo hari, ia kemudian mengelus dada dan menitikan air mata mengingat kejadian mengerikan yang pernah ia lihat, hanya saja saat itu Sumirah mengira Vira keguguran dan bukan digugurkan


...“Saudari Gendis, kami tidak akan melakukan penangkapan tanpa adanya pengaduan, saksi, dan barang bukti!” Tegas polisi tersebut...


Vicky yang masih tak percaya dengan apa yang terjadi hendak membela mertuanya


...“Dia pernah hamil Vick!” Tutur Salim dan Bram yang baru saja muncul, membuat semua orang di ruangan itu menoleh pada mereka, Vicky semakin tak mengerti, otaknya tak mampu mencerna...


...“Salim, Bram, ini maksudnya apa? Gue ga ngerti” ucap Vicky ...


...“Dokter Bram dan dokter Salim ini adalah pembuat laporan sekaligus saksi” ucap polisi tersebut pada Vicky...


...“Vira pernah hamil Vick, dan itu anak lo. Terus mertua lo gugurin kandungan Vira pada saat lo lagi di Singapore sama bini muda lo” tutur Bram dengan nada tinggi dan jarinya menunjuk - nunjuk Vicky...


Diah sangat syok, ia limbung dan terduduk di lantai, air matanya mengalir, ia kemudian menangis sesenggukan disana, sementara Vicky ia terpaku, nyawanya seolah terlepas dari raganya, tenggorokannya tercekat, air matanya keluar tanpa dikomando, badannya gemetaran


...“Vira” gumamnya pelan...


Utari yang baru saja turun dan melihat drama di depannya panik, ia berpikir keras agar bisa lolos dari kejahatan yang Ibunya lakukan


...“Sudah jelas? Saudari Gendis silakan ikut kami” titah polisi itu yang kemudian dua orang polisi mendekati Gendis dan memakaikan Gendis borgol...


...”Saya tidak salah, lepas!” Ucap Gendis mencoba berontak, Utari yang tengah menyaksikan Ibunya ditangkap semakin panik, ia kemudian mendekati Ibunya dan pura - pura histeris...


...“Ma, apa yang Mama lakukan?” Tega - teganya Mama berbuat sekeji itu Ma!” ucap Utari berpura - pura, bagaimana pun ia harus menyelematkan dirinya sendiri, ia tak mau masuk bui meskipun artinya ia harus mengorbankan Ibunya...


Gendis terkesiap, ia menatap anak tercintanya lekat, air mata Gendis mengalir, ia tak percaya anaknya sendiri yang ia selalu bela bahkan sampai melakukan apa pun tega mengkhianatinya


Vicky menoleh pada Gendis, rahangnya mengeras, ia kemudian menghambur hendak memukul Gendis, untung saja polisi disana segera menahan badan Vicky, kalau tidak entah apa yang akan terjadi pada Gendis

__ADS_1


...“Tega kamu Tante! Kenapa kamu bisa setega itu, hah? Itu anakku, darah dagingku!!!!” Pekik Vicky dengan mata yang merah dan air mata yang membasahi wajahnya...


Para pelayan yang perlahan mendekat dan kemudian mengetahui apa yang terjadi kaget luar biasa, mereka tak menyangka bahwa akan ada kejadian mengerikan di rumah mewah itu, terkecuali Leni, Leni tersenyum puas karena rencananya, Bram, Salim, dan juga Alex berhasil.


...“Kenapa Tante bisa setega itu hah?!!!” Pekik Vicky lagi dengan mata yang nyalang dan badan yang masih digandeng oleh polisi mencegah agar Vicky tidak berbuat anarkis pada Gendis...


...“Aku melakukan itu karena perempuan rendah itu tak pantas mengandung anak kamu Vicky, yang pantas mengandung anak kamu cuma Utari!” Sentak Gendis pada Vicky...


Bram yang mendengar itu geram, ia mengepalkan tinju dengan gigi gemeretak, ia hendak menghambur ke arah Gendis namun Salim menahannya


...“Sabar Bram sabar, yang penting Gendis udah ditahan” ucap Salim...


...“Kurang ajar banget tuh nenek, pake ngata - ngatain calon bini gue lagi” ujar Bram yang langsung mendapat tatapan sengit dari Salim...


...“kami anggap semuanya sudah jelas, kami permisi” ucap polisi itu yang kemudian beranjak diikuti polisi - polisi yang lain dengan menyeret Gendis dan komplotannya...


Diah masih terisak di lantai, ia memegang dadanya yang terasa sesak, beberapa pelayan kemudian mencoba untuk menenangkan Diah


Sementara Utari hanya terpaku di tempatnya berdiri, ia pura - pura menangis sambil mengelus - elus kandungannya yang kian membuncit


Vicky terduduk lesu, sekujur tubuhnya gemetaran, air mata seolah tak ada habisnya keluar dari matanya, hatinya luluh lantak, ia tak menyangka ternyata ia dan Vira sudah memiliki anak yang dibunuh dengan kejam oleh mertuanya sendiri


Salim merasa terenyuh melihat Vicky, bagaimana pun Vicky adalah sahabatnya, Salim kemudian mendekati Vicky begitu pun Bram


“Vick, lo yang kuat” ucap Salim sambil menepuk - nepuk bahu Vicky


Vicky mengusap kasar air matanya kasar, ia lalu menoleh pada Salim


“Lim, lo kenapa ga ngasih tau gue kalau Vira hamil waktu itu?” Tanya Vicky lirih


Salim menghela kasar nafasnya


“Vira tadinya mau ngasih kejutan sama lo Vick, kalo ga salah waktu lo lagi ke New York deh” tutur Salim


Vicky tertohok, itu berarti Vira tengah hamil saat ia menampar, menyeret, dan menjambak Vira. Vicky makin terjerembab, ia kemudian ambruk dan menangis meraung - raung, membuat semua orang yang mendengarnya seolah ikut merasakan kesakitannya


...“Vick, udah jangan nangis lagi, sini gue tunjukkin dimana gue sama Salim nguburin janin anak lo sama Vira waktu itu” ujar Bram yang kemudian bangkit...


Salim kemudian membantu Vicky yang tengah ambruk untuk berdiri, lalu mengekori Bram menuju taman belakang tempat Salim dan Bram menguburkan janin anaknya


Hujan masih deras, petir pun masih menyambar, suasana di taman belakang tampak menyeramkan


Bram, Vicky dan Salim kini berdiri di teras taman belakang


...“Disitu kami nguburin calon anak lo” ucap Salim sambil menunjuk tanah yang mulai ditumbuhi rerumputan tepat disebelah pot bunga besar ...


Vicky berjalan menerobos hujan, menuju tempat yang Salim tunjuk, ia tak peduli akan petir yang menyambar - nyambar, Vicky kemudian terduduk lesu di depan kuburan janin anaknya, ia kemudian mulai menggali tanah itu dengan tangannya, air matanya tak berhenti mengalir berlomba dengan air hujan yang terus berjatuhan


Saat merasa tak juga menemukan yang dicari, Vicky memindai taman dan menemukan sekop yang teronggok di sebelah kursi taman, ia segera bangkit dan meraihnya, Vicky kemudian menggali lagi dengan hati yang hancur, hingga ia mulai melihat kain putih kumal yang sedikit menyembul, Vicky kemudian meletakkan skop dan menggali dengan tangannya lagi, hingga kain putih itu semakin jelas terlihat, hatinya semakin hancur tatkala melihat kemeja putihnya lah yang dipakai untuk membungkus janin anaknya sendiri, Vicky meraih kemeja yang penuh noda darah dan tanah itu, ia kembali menangis


...“Maafin Ayah nak” ucapnya sambil kemudian memeluk kemeja itu erat, Vicky meraung - raung dan memekik...

__ADS_1


Bram dan Salim berdiri terpaku melihat kehancuran sahabatnya.


__ADS_2