
...3 hari sudah berlalu semenjak terakhir Vira mencoba menghubungi Vicky, ia sudah tak bersemangat lagi menghubungi suaminya itu, biarlah ia menunggu suaminya yang menghubunginya, ia hanya ingin fokus menjaga janin dalam kandungannya, ia tidak ingin stress karena dr. Salim sudah wanti - wanti agar ia menghindari stress agar janinnya bisa berkembang dengan baik. ...
Pagi ini Vira sedang membaca buku tentang parenting ketika HPnya tiba - tiba berdering, Vira melangkah gontai dan meraih HPnya yang ia simpan di atas nakas, mata Vira seketika membulat.. nama Vicky tertera disana, suami yang selama seminggu ini tidak pernah menghubunginya sama sekali, Vira girang bukan kepayang.
...“Assalamu’alaikum Mas” ujar Vira lega, seolah ia baru saja melepaskan beban berat dari pangkuannya...
...“Wa’alaikum Salam sayang, maaf aku baru ngabarin.. aku sibuk banget Vir beberapa hari ini” jawab Mas Vicky, suaranya terdengar lelah...
...“Aku khawatir Mas, berhari - hari aku nyoba nelepon kamu dan Mami tapi HP kalian ga pernah aktif” ucap Vira lirih...
...“Maaf.. aku dan Mami bener - bener sibuk disini, aku harap kamu ngerti” ucap Vicky...
...“Iya Mas ga apa - apa, yang penting kamu udah ngabarin aku sekarang” jawab Vira mencoba mengerti...
...“Aku sedang transit sekarang, malam nanti aku udah sampai disana” ujar Vicky...
...“Hah, beneran Mas? Bukannya kamu masih beberapa hari lagi disana” tanya Vira riang, ia begitu senang mendengar suaminya akan pulang hari ini juga...
...“Iya beneran, udah dulu ya.. gatenya udah dibuka” ujar Vicky dan langsung mengakhiri teleponnya...
...“Iya Mas hati - hat… “ tut.. tut.. tut suara panggilan yang diakhiri memutus kata - kata Vira ...
Vira tersenyum, wajahnya berseri, dunianya seolah berputar kembali setelah menemui kebuntuan beberapa hari belakangan ini, ia mengelus perutnya yang masih rata
...“Ayah mau pulang nak” ucapnya pada janinnya itu...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hari menjelma menjadi malam, kesibukan tampak di kediaman Vicky dan Vira, para pelayan sibuk mempersiapkan hidangan di atas meja, beberapa ada yang sibuk memastikan rumah sudah bersih dan rapi. Vira telah berdandan cantik, memakai dress selutut berwarna hitam, makeupnya natural, rambutnya ia biarkan tergerai, ciptaan Tuhan yang menjelma sempurna.
Vira sudah duduk di ruang utama, duduknya gelisah.. beberapa kali ia duduk kemudian berdiri, matanya tak lepas dari pintu utama yang dibiarkan terbuka lebar, ia menunggu kedatangan suaminya tercinta yang sangat ia rindukan
2 mobil sedan hitam mewah berhenti tepat di depan pintu utama, para pelayan yang sudah berjajar menanti kehadiran sang majikan segera membukakan pintu mobil - mobil tersebut, Vira berjalan mendekat ke arah teras, senyumnya terukir indah, ia melihat Tante Gendis yang disusul Mami Diah turun dari mobil paling depan, kemudian ia melihat Vicky dan Utari yang turun dari mobil di belakang.. kenapa Mas Vicky malah semobil sama Utari? Batinnya cemburu
Tante Gendis dan Mami berjalan mendekat ke arah Vira, Vira segera mengembangkan senyumnya kemudian ia mencium punggung tangan Gendis, Tante Gendis hanya melihatnya sekilas kemudian pergi begitu saja dari sana, Vira tak ambil hati karena sudah sering mendapat perlakuan yang sama, Vira kemudian menyambut tangan Ibu mertuanya dan mencium punggung tangannya
“Mami, apa kabar?” Tanya Vira lembut
“Vir” hanya itu yang terucap dari lisan Mami Diah, sebelum ia kemudian menyusul Tante Gendis masuk ke dalam rumah, Vira yang merasa tidak nyaman menahan perasaannya sekuat tenaga, mungkin lagi capek, batinnya.
Vira kemudian melihat suaminya yang masih berbincang dengan Utari sambil sekali - kali diiringi tawa keduanya, Vira tak mau ambil pusing melihat itu.. ia memberanikan diri menghampiri Vicky, bagaimana pun Vicky adalah suaminya, ia lah yang paling berhak atas suaminya, bukan utari. Rapal Vira dalam hati
...“Mas” sapa Vira pada Vicky yang membuat Utari melepaskan gandengannya pada tangan Vicky, Vira yang melihat itu memaksakan senyumnya meskipun perih yang ia rasakan sekarang, Vicky yang ia tunggu kedatangannya bahkan tidak segera menemuinya, Vicky malah sibuk ngobrol dengan Utari. ...
...“Eh Vir, apa kabar sayang” jawab Vicky sambil memeluk Vira hangat...
Mata Utari terlihat menajam melihat Vicky yang memeluk Vira
...“Baik Mas, kamu sehat kan? Mau makan?” Sambung Vira...
...“Enggak ah aku capek, mau langsung istirahat aja” jawab Vicky...
__ADS_1
...“Padahal aku udah masak spesial loh buat kamu” ujar Vira mencoba menggoda Vicky untuk memakan masakannya yang ia buat dengan perjuangan yang luar biasa, ia harus menahan rasa mualnya kala mencium bau masakan...
...“Tapi aku capek banget Vir, kamu minta para pelayan aja ya yang makan” jawab Vicky yang membuat luka hati Vira ...
...“Masuk aja yuk” ujar Vicky sambil berlalu meninggalkan Vira yang masih berdiri terpaku ...
Utari yang melihat itu, berjalan mendekati Vira, tangannya terlipat di depan dadanya, ia kemudian melihat Vira dari ujung kaki sampai rambut Vira, kemudian tersenyum mengejek dan berlalu dari sana.
Dada Vira sesak bukan main, suami yang ia tunggu kedatangannya memperlakukannya sedemikian rupa di depan Utari yang Vira yakini menginginkan Vicky, air mata Vira lolos begitu saja.. sapuan tangan hangat pada bahunya menyadarkan Vira, seketika ia menghapus air matanya, Bi Welas sudah berdiri di sampingnya dengan mata berkaca - kaca, Bi Welas yang dari tadi memperhatikan apa yang terjadi pada Vira ikut merasakan kesedihan majikannya itu
...“Sabar ya Neng, buat si kecil” ujar Bi Welas sambil mengelus perut Vira, Vira mengangguk pelan, menghapus sisa air matanya, ia tidak ingin pelayan yang lain tahu kalau ia menangis. ...
Vira kemudian beranjak ke dalam, diikuti Bi Welas di belakangnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Untuk: Ayah” tulisan di amplop putih yang sedang Vira pegang sekarang, tampaknya Vicky tidak sempat membuka amplop yang berisi test pack dan hasil USG anak mereka, boro - boro melihat amplop yang teronggok di atas meja kerjanya, untuk sekedar membuka sepatunya sendiri Vicky sepertinya tidak sempat, Vira menggeleng pelan.. suaminya sudah tidur dengan lelapnya sekarang, suara dengkuran halusnya terdengar.
Vira kemudian mendekatinya dan melepas sepatu serta kaos kaki Vicky, ia kemudian menyelimuti Vicky, ia lalu memungut jas, dasi, dan kemeja Vicky yang berceceran dan memasukannya ke dalam keranjang cucian di pintu kamar mandinya, ia lalu beringsut menyusul suaminya ke tempat tidur, Vira melihat wajah suaminya yang tampan, kemudian membelai lembut wajah ayah dari anaknya itu.
Dini hari menjelang ketika Vira tiba - tiba terbangun, ia mengerjapkan matanya beberapa kali mencoba untuk menyesuaikan matanya dengan cahaya lampu temaram di kamarnya, Vira menghela nafasnya kasar.. tenggorokannya kering, ia meraih gelas di meja samping tempat tidurnya, kosong.. ia lupa mengisinya tadi.
Vira membalik badannya, kini ia menghadap sisi dimana suaminya tidur tadi.. Vira terlonjak karena Vicky sudah tidak ada disana, ia bangkit menuju kamar mandi, berpikir mungkin Vicky ada disana.. namun nihil Vicky tidak ada disana, ia kemudian berjalan ke arah balkon, berharap menemukan sosok tegap suaminya di balkon, tapi ia tidak melihat Vicky disana.
Vira berjalan menuju ranjang kemudian duduk di tepinya, ia memutar otak, kemudian meraih HP di atas nakas, ternyata itu HP milik Vicky.. namun off, mungkin karena daya baterainya habis.
Ia yang ingat kemana kira - kira suaminya pergi kemudian beranjak meninggalkan kamar, tak lupa ia menyambar amplop berisi kejutan untuk suaminya. Suasana di luar kamar sudah lengang, tidak tampak satu orang pun disana, para pelayan tampaknya sudah kembali ke paviliun mereka untuk beristirahat, Vira yang hanya mengenakan sandal tidurnya kemudian berjalan menuruni tangga menuju ke ruang baca yang ia tahu menjadi tujuan suaminya ketika suaminya tidak bisa tidur.
Entah kenapa perasaan Vira tidak karuan, semakin mendekat ke ruangan itu udara semakin terasa dingin, malam ini tiba - tiba terasa mencekam untuk Vira, ia mendekat ke arah pintu yang tidak tertutup rapat, samar - samar ia mendengar suara lenguhan dan d*****n - d*****n seorang wanita, Vira merinding dibuatnya, apa Vicky sedang menonton film dewasa? Batinnya
“Hayoooo Mas lagi nonton ap…” suara Vira tiba - tiba tercekat, matanya membulat, dadanya nyeri, lutututnya gemetaran, tangannya menegang membuat amplop yang ia pegang jatuh seketika, telinganya berdenging, dunia seketika gelap baginya
Di depannya sepasang sejoli tengah mereguk hasrat, Utari tengah berada di atas Vicky yang terduduk di sofa, keduanya tanpa sehelai benang yang menutupi aurat mereka, baju mereka berceceran dimana - mana, kedua orang itu kaget bukan main menyadari Vira tengah memandang mereka dengan air mata yang seolah berlomba keluar dari matanya
Vicky seketika bangkit, meraih celana d****m dan celana yang ia pakai dengan segera, sementara Utari santai bangkit dari pangkuan Vicky dan kemudian mendudukan dirinya di sofa
...“Vir” ujar Vicky panik...
...“Sayang” ujarnya lagi sambil mendekat ke arah Vira dan mencoba meraih tangan istrinya yang masih memaku...
Vira menoleh dingin ke arah Vicky, tatapannya tajam, rahangnya mengeras
...“Ngapain kamu Mas? Ngapain? Pekik Vira pada Vicky...
...“Vir, tenang” ujar Vicky sambil meraih tangan Vira mencoba untuk menenangkan istrinya yang tengah berada dalam gelombang amarah ...
...“Jangan sentuh aku, aku jijik sama kamu, kamu menjijikan” teriak Vira lantang ...
...“Vira tenangkan diri kamu, kita bicarakan baik - baik” ...
...“Tenang kata kamu, aku harus tenang gimana melihat suamiku berkhianat dengan perempuan lain, perempuan m*****n!!!!” Pekik Vira lagi, air mata tak henti - henti mengalir di pipinya dan pelan membasahi lehernya, Utari santai saja melihat kehancuran Vira di depannya, ia masih duduk tanpa sehelai benang pun dengan tumpang kaki sambil memilin - milin rambutnya dan senyum puas terulas di wajahnya...
__ADS_1
...“Vira jangan begini, jaga bicara kamu.. kamu mau para pelayan dengar, Mami dengar, jangan buat malu” ujar Vicky memohon...
...“Malu katamu? Kamu yang harusnya malu, bisa - bisanya kamu masih memikirkan rasa malu setelah perbuatan hina kamu!! Aku jijik sama kamu Mas!” Teriak Vira lagi sambil memukul - mukul dada Vicky ...
... ...
Vicky mencoba untuk merengkuh Vira yang terus berontak, namun tangan Vira tak henti - hentinya memukul Vicky, Vira seolah tak peduli bagian mana yang ia pukul ia hanya ingin meluapkan kemarahannya, Vira yang enggan disentuh Vicky kemudian mendorong Vicky dan berlari keluar dari ruangan terkutuk itu, ia kemudian menyambar amplop yang tergeletak di lantai, tanpa ia sadar ada 1 barang yang tercecer disitu
Vicky mengikuti Vira dengan panik, ia menarik tangan Vira
... ...
...“Vir, kita harus bicara” ujar Vicky...
...“Lepas Mas, aku ga mau bicara sama kamu, aku jijik, kalian b******g, aku jijik!” Teriak Vira menggema ke seluruh ruangan yang tadinya hening...
...“Tega kamu Mas, tega kamu melakukan perbuatan terkutuk itu Mas, kamu udah gila Mas!!” Teriak Vira lagi ...
...“Cukup Vira, pelankan suaramu jangan permalukan aku!” Bentak Vicky pada Vira, hilang sudah kesabarannya ...
...“Kamu mempermalukan diri kamu sendiri Mas, kamu mempermalukan keluarga kamu sendiri, mempermalukan Mami, kamu b***t Mas! Teriak Vira semakin menjadi...
Plak…
Tamparan di pipi Vira yang basah karena air mata oleh Vicky menambah hancurnya perasaan wanita itu
Ia mematung, air matanya semakin deras, ia memegang pipinya yang memanas
Utari yang sudah berpakaian berjalan keluar, tangannya menggenggam tas pack yang tanpa sengaja Vira jatuhkan dari amplopnya tadi kemudian Utari memasukannya ke dalam saku dressnya, Utari melewati Vira dengan santai sambil menatap Vira dengan tatapan merendahkan
Vira yang melihat itu tersulut, ia kemudian menjambak rambut belakang Utari yang tengah berjalan, Utari memekik merasakan kulit kepalanya yang perih
...“J****g kamu Utari, kamu perempuan m*****n.. dimana hati kamu? Tega - teganya kamu bercinta dengan pria beristri!” Teriak Vira pada Utari dengan mata yang menyalang, hilang sudah sosok Vira yang lemah lembut...
...“Lepasin Utari Vir, jangan keterlaluan kamu!” Bentak Vicky sambil mencoba untuk melepaskan jambakan Vira pada rambut Utari...
...“Dia yang keterlaluan, kalian keterlaluan.. kalian menjijikan!” Tantang Vira pada Vicky tanpa melepas jambakannya ...
Utari meringis menahan sakit, seketika Gendis mendekat mencoba untuk menyelamatkan anaknya dari amukan Vira, entah sejak kapan Gendis ada disitu
“Lepasin anakku perempuan rendah!” Teriak Gendis
...“Saya yang rendah? Atau anak Tante yang mau ditiduri oleh suami orang?” Tantang Vira pada Gendis...
...“Anakku ditiduri suaminya sendiri, mereka sudah menikah!”...
Deg…
Jantung Vira serasa berhenti seketika, ia meremas dadanya menahan sakit yang teramat
...“Bohong, Tante bohong!” Ujar Vira sambil menggelengkan kepalanya menolak ucapan Gendis...
__ADS_1
...“Tanyakan pada suamimu sendiri!” Jawab Gendis sambil terus berupaya melepas tangan Vira yang teramat kuat mencengkram rambut anaknya...
...“Iya, dia istriku sekarang.. lepasin dia Vir” ujar Vicky yang sukses membuat dunia Vira hancur seketika, tangannya terkulai lemas, melepas cengkramannya pada rambut Utari, Vira terduduk lemas....