
Vira menatap gedung yang menjulang tinggi di depannya, hotel tempatnya bekerja, tempat ia dan Alex bertemu dan membuat ia merasa lukanya yang ditorehkan oleh Vicky bisa terobati.
Kaki jenjangnya melangkah gontai memasuki halaman hotel, jujur ia enggan untuk kembali lagi kesini, kalau saja kontraknya dengan Alex tidak mengikatnya, kompensasi uang sebesar satu milyar jika ia mengundurkan diri bukanlah jumlah sedikit buat miskin sepertinya.
Vira menghembuskan kasar nafasnya melihat pintu masuk lobby hotel, kalau saja ada keajaiban datang barang tentu ia tak akan sudi untuk kembali lagi ke tempat dimana Alex menyakiti hatinya berulang kali, ia akan pergi sejauh yang ia bisa. Vira berdecih, ia lupa ia siapa.. uang satu milyar tak akan mudah ia dapatkan, tapi tunggu kenapa ia harus berpikir untuk lari dari Alex mungkin Alex akan membicarakannya hari ini.. batin Vira
Vira melangkahkan kaki dengan mantap, ia masih punya sisa semangat, semoga hari ini Alex akan memberikan penjelasan padanya setelah semalaman ia menunggu namun Alex tak kunjung menghubunginya, meskipun hatinya tergores kemarin tapi ia akan mencoba memaafkan pria yang ia cintai itu
Vira menyusuri lobby yang luas itu dengan secercah harapan, senyumnya mengembang, ia menyapa siapa pun yang ia temui, hatinya menduga - duga mungkin Alex tengah mempersiapkan kejutan untuknya, Vira menyegerakan langkahnya, hingga langkah kakinya memelan ketika Alex kini ada di depannya, bersama Sarah.. lengan kekar Alex digandeng erat, mereka tengah berbincang dan sesekali tertawa penuh bahagia, Alex tak menyadari kehadiran Vira, hingga netra Alex menangkap sosok wanita itu di depannya, wajah Alex yang tadinya cerah kini menegang, matanya kini bertemu dengan mata Vira, Vira terpaku menatap Alex.
Sesaat pemandangan itu seolah sebuah adegan film, dimana pemeran utama tengah melihat orang yang dicintainya sedang bersama wanita lain, Vira tak bergeming begitu pun Alex, sedang Sarah semakin merekatkan gandengannya, seolah tak ingin kehilangan
Hati Vira? Jangan ditanya, entah sudah bagaimana bentuknya. Vira menghela pelan nafasnya sebelum kemudian ia tersenyum dan kemudian mengangguk patuh pada pria yang sekarang hanya atasannya
Namun entah kenapa raga Vira sulit diajak kerja sama untuk beranjak dari sana, sementara hatinya telah berdarah, ia masih saja menatap laki - laki yang ia cintai yang tengah bersama wanita lain. Hingga kemudian Vira merasa badannya tertarik, Vira menoleh pelan, tangan kekar kini sedang menarik tangannya, ia kemudian mendongak melihat siapa pria yang kini tengah membawanya dari kepedihan, ternyata dr. Salim lah penyelamatnya hari ini, wajah dr. Salim yang tampan dan selalu teduh itu hari ini sengit memandang Alex, sahabatnya sendiri.
Vira menoleh pada Alex yang kini tak bergeming, mimik wajahnya tak dapat Vira artikan, Vira kemudian memalingkan mukanya, dan kini patuh mengekori Salim yang tengah menarik tangannya dan membawanya pergi dari sana
Salim membukakan pintu mobilnya untuk Vira, ia lalu memastikan bahwa Vira sudah aman duduk di tempatnya, lalu kemudian ia menyusul masuk ke dalam mobil, dan berlalu dari hotel itu.
Sepanjang perjalanan tak ada pembicaraan apa pun antara Vira dan Salim, Vira hanya terdiam menatap jalan di depannya, pandangannya kosong, sesekali ia akan menghela nafasnya, kemudian menunduk
...“Vir, ga apa - apa kalo mau nangis, nangis aja” tutur Salim lembut, ia kini tau bagaimana perasaan Vira pada Alex, begitu pun Alex pada Vira, meskipun ia tak mengerti kenapa Alex bersama wanita itu...
...“Nangis? Untuk apa dok? Saya tidak punya alasan buat nangis” ucap Vira datar, ia menoleh pada Salim yang tengah menatapnya, Salim melihat luka di mata Vira yang kini redup tak bercahaya...
__ADS_1
...“Jangan dipendem Vir, keluarin aja, kamu nangis aja, saya ada disini, saya akan nemenin kamu saat kamu nangis” titah Salim, ia tau luka terdalam ialah luka ketika seseorang bahkan sudah tak bisa mengeluarkan air mata...
...“Saya ga apa - apa dok” ucap Vira tenang, ia menoleh pada Salim lalu tersenyum sebelum kemudian ia kembali melihat jalanan di depannya...
...“Ya udah kalo kamu ga mau nangis, tapi kalo es krim kamu mau kan?” goda Salim...
Vira menoleh, kemudian ia mengangguk pelan.. Salim kemudian tersenyum hangat, paling tidak menghibur Vira sedikit bisa mengurangi lukanya, entah kenapa Salim merasa Vira tak seperti biasanya, ia merasa tatapan Vira kosong, sedalam itu kah cinta Vira pada Alex? Untung saja Salim menginap di hotel Alex, dan pagi ini rencananya Salim akan menemui Vira untuk menyampaikan kabar tentang Gendis ketika ia melihat Vira yang tengah terpaku melihat Alex bersama wanita yang ia ketahui bernama Sarah, kedekatan mereka sempat heboh diberitakan di majalah bisnis yang Salim baca.
Salim kemudian menepikan mobilnya di halaman parkir sebuah mini market
...“Bentar ya, aku beliin kamu es krim dulu” ucap Salim lalu beranjak keluar dari mobilnya...
Sepeninggal Salim Vira hanya terdiam, pandanganya kosong, kilasan - kilasan kejadian yang menimpanya selama ia hidup berlomba menampakkan diri, namun entah kenapa air mata tak kunjung keluar padahal dada Vira sesak luar biasa, apa stok air matanya habis sudah?
Vira memindai pemandangan di depan matanya, hamparan kebun teh bak permadani hijau membentang disana, Vira lalu membuka pintu mobilnya dan keluar dari sana, ia merasa pagi ini begitu indah, cahaya matahari memantul dari embun yang bergelayutan di daun pohon teh, sejenak Vira terpaku sebelum kemudian ia melihat sosok yang mirip sekali dengan yang pernah ia lihat di seberang jalan sana, namun entah siapa, Vira memicingkan matanya yang sedikit berkabut, memastikan pandangannya, ia mengucek - ngucek matanya,
...“Ayah, Ibu, tunggu Vira” pekik Vira, ia kini berlari kecil, hingga.....
Buuuuugggggggggg…
Suara decitan ban dan klakson memekakan telinga, jeritan dan teriakan membuat seram suasana
Kegaduhan terjadi di depan mini market ketika Salim baru saja keluar dengan membawa dua tenteng plastik belanjaan, kerumunan orang membuat Salim penasaran, ia berjalan mendekat membelah kumpulan orang yang tengah panik, ada yang sibuk memvideo, atau sekedar menunjuk - nunjuk pada sesuatu yang Salim tak tahu apa. Hingga Salim menyeruak dan maju ke depan kemudian melihat wanita malang itu meringkuk di tengah jalan dengan bersimbah darah, seorang Bapak - Bapak tengah panik berbicara di ponselnya
...“Vira” ucap Salim tercekat...
__ADS_1
Salim limbung, kakinya gemetaran, ia lalu berhambur ke arah Vira yang kini tak berdaya, darah segar tak berhenti mengalir dari kepala Vira,
...“Vir.. Vir, kamu kenapa sayang?” tanya Salim dengan suara yang bergetar, tangannya meraih kepala Vira yang basah dan lengket, ia menidurkan kepala Vira di pangkuannya, membuat celana denimnya kini berubah warna...
Salim limbung, ia begitu syok, ia mengusap - ngusap wajah Vira yang kini pucat pasi, pelipis Vira kini berubah warna karena darah yang terus mengalir
Salim memekik, kemudian ia menangis sesenggukan
Orang - orang berbisik - bisik sambil menunjuk - nunjuk, ada yang begitu panik melihat darah hingga bergidik dan mengelus dada, hingga sayup - sayup terdengar suara ambulance, entah siapa yang memanggilnya
Kerumunan membelah memberi jalan untuk ambulance yang kini menepi, beberapa petugas sigap menurunkan brankar, lalu menaikan tubuh ringkih Vira, dan dengan sigap mengangkatnya untuk kemudian dimasukkan ke mobil ambulance
“Bapak siapanya korban?” Tanya salah satu petugas
Salim gelagapan, otaknya seolah berhenti berfungsi
“Sa - saya suaminya” ucap Salim sekenanya, tangannya yang bersimbah darah menyeka pelipisnya hingga darah itu menempel disana
...“Bapak bawa kendaraan sendiri atau ikut dengan kami di ambulance?” Tanya petugas itu lagi...
Salim kembali tergagap, ia seperti tak bisa bicara apa pun, ia kemudian memaksakan otaknya untuk bekerja
...“Se - sebentar” ucapnya, ia segera berlari menuju mobilnya, meraih barang - barangnya yang penting termasuk ponselnya yang ia tinggalkan dalam mobil, lalu mengunci mobilnya, dan kemudian berjalan masuk ke dalam ambulance...
Suara sirine semakin menyayat hati Salim, air mata Salim tak berhenti mengalir melihat wajah Vira yang kini terkulai lemah tak berdaya, kulit putihnya memucat dan tak ada cahaya disana, para petugas tengah sibuk melaksanakan tugasnya untuk memberi pertolongan pada Vira
__ADS_1
Sebagai seorang dokter, Salim tau luka Vira tidak ringan, lukanya sangat serius, darah Vira tak berhenti mengalir, denyut nadinya pun kian lemah. Salim menatap sendu wajah damai wanita malang itu. Apa kamu sudah terlalu lelah Vir? Batin Salim, lantas kemudian ia menangis sesenggukan.