
Pesta tengah digelar di kediaman Vicky, semua keluarga besar Diah dan Gendis tengah berkumpul, menikmati jamuan mewah yang disajikan empunya rumah, suara dentingan gelas, tawa riang, hingga musik yang mengalun menambah semarak pesta
Pesta syukuran pernikahan Vicky dan Utari yang terlambat digelar akibat perceraian Vicky dan Vira, pesta ini sekaligus ruwatan agar rumah Diah tak lagi dihinggapi bala seperti Vira
Utari tampak cantik dalam balutan dress hamil yang memperlihatkan perut buncitnya, sementara Vicky tampak gagah dengan tuxedo putihnya, hadirin yang hadir mengenakan setelan jas dan dress dengan berbagai macam model dan warna
Senyum terus merekah di wajah Utari yang menggandeng tangan suaminya erat, berbeda dengan wajah Vicky yang nampak muram hanya sesekali ia tersenyum pada tamu yang mengajaknya bicara
Para pelayan sibuk menyajikan makanan dan minuman tanpa henti, sambil sesekali mencuri dengar pembicaraan orang - orang kaya itu
Diah tampak sumringah menyambut satu per satu keluarganya yang datang, semenjak pernikahan Utari dan Vicky digelar, Diah dirangkul kembali oleh keluarga besarnya, Diah memang seperti itu ia tak bisa lepas dari keluarga besarnya, hingga ia rela mengorbankan Vira.
...“Udah kubilang apa toh dari dulu Vicky itu ya cocoknya sama Utari” ujar Tante Ningsih sepupunya Diah yang tak mengundang Diah ke pernikahan anaknya akibat Vira...
...“Iya mba, syukurlah mereka udah bersatu sekarang” jawab Diah dengan wajah yang berseri...
...“Untung Mba Gendis sama Utari itu hatinya baik, mau dijadiin istri kedua sebelum Vicky cerai sama sopo namanya, Vira?” Timpal Murni sepupu Diah yang lain...
...“Ya kok dulu kamu mau - maunya Diah punya mantu kayak Vira, udah ndak punya Bapak atau Ibu, miskin pula! Kalo aku ya ndak mau, bisa jatuh harga diriku” timpal Ningsih lagi...
Leni yang tengah menyajikan minuman terbelalak mendengar obrolan itu, hatinya mencelos, ia sedih teringat wanita baik yang dianggap bala oleh keluarga mantan suaminya sendiri, apa mereka ga punya hati? Batin Leni
...“Vicky itu ganteng, ningrat, kekayaannya ga bakalan habis tujuh turunan lah kok bisa dikawinkan sama perempuan kayak gitu?” ucap Asri sepupu Diah yang lain...
Diah hanya tersenyum tipis
__ADS_1
...“Udah toh, kasian Diah. Yang penting sekarang Vicky sama Utari udah bersatu” ujar Gendis yang baru datang bergabung ...
...“Itu kan berkat Mba, Mba sama Utari itu hatinya kayak malaikat, Diah harus bersyukur bisa besanan sama mba” tandas Ningsih...
...Gendis tersenyum puas mendengar pujian saudara - saudaranya ...
...“Lah iya untungnya wanita itu kabur terus minta cerai sama Vicky, dia tau diri namanya” ucap Asri yang diakhiri dengan gelak tawa mereka semua...
...“Ya syukurlah, Utari juga bisa langsung ngasih Vicky keturunan, ga seperti wanita itu” ucap Gendis dengan senyuman puasnya...
Leni mengusap dada menahan sesaknya, bisa - bisanya sesama perempuan bahagia di atas tangisan perempuan lain, Leni berlalu dari sana dengan amarah yang membuncah
Vicky yang tak luput mendengar obrolan mereka merasa sakit di dadanya, betapa rendah Vira di mata mereka, tapi apa bedanya ia dengan mereka? Bahkan ia yang mengatakannya langsung pada Vira, mencacinya, menamparnya. Mata Vicky berkaca - kaca, bayangan senyum tulus Vira kembali menghantuinya, Vira yang tulus mencintai ia dan Ibunya. Vicky merasa sesak luar biasa, ia perlahan kemudian berlalu dari sana diam - diam meninggalkan istrinya yang tengah membanggakan kehamilannya.
Vicky berjalan gontai ke ruang kerjanya, hanya ruangan itu yang memberinya ketenangan, Leni yang melihat punggung Vicky pun menghampiri Vicky, amarah di dadanya ingin ia lampiaskan apa pun konsekuensinya nanti
Vicky menghentikan langkahnya lalu menoleh ke arah Leni, ia segera mengusap kasar air matanya
...“Saya ada kerjaan” jawab Vicky singkat...
“Tuan lagi inget sama Nyonya Vira ya?” Vicky terpengarah namun secercah harapan muncul mana tahu Leni mengetahui keberadaan Vira
...“Kamu tahu dimana Vira?” tanya Vicky pada Leni dengan mata penuh harap...
...“Saya ga tau Tuan, seandainya saya tau saya pasti sudah nemuin Nyonya Vira, saya mau minta maaf sama Nyonya Vira karena saya tidak membelanya pada saat Tuan mencaci dan menghina Nyonya, terus Tuan nampar Nyonya” tutur Leni dingin...
__ADS_1
...“Kamu tau?” Vicky teramat kaget ...
“Saya tau, saya liat bagaimana hancurnya Nyonya Vira saat memergoki Tuan selingkuh, apalagi saat tau Tuan sudah menikah lagi” tutur Leni yang membuat Vicky membatu, mata Vicky kembali berkaca - kaca
“Tuan harus tau pada saat Tuan ke luar negeri dan tak dapat menghubungi Tuan, tiap hari Nyonya Vira hanya memandangi ponselnya, Nyonya sangat khawatir Tuan dan Nyonya besar kenapa - kenapa”
“Tuan juga harus tau bahwa pada saat Tuan mau pulang dari luar negeri, Nyonya sibuk memasak untuk Tuan muda dan Nyonya besar padahal dia sedang sakit” cerocos Leni yang mengeluarkan unek - uneknya
...“Tuan juga harus tau bahwa pada saat Nyonya keg.. pada saat Nyonya sakit parah hanya Tuan dokter Bram dan Tuan dokter Salim yang menemani Nyonya, sementara Tuan pergi ke Singapore untuk memeriksa kandungan istri baru Tuan” tutur Leni yang hampir keceplosan mengenai keguguran kandungan Vira, ia sudah di wanti - wanti oleh Salim untuk tak memberi tahu Vicky dulu mengenai ini sebelum ada bukti...
Vicky hanya mematung, lidahnya membeku, hanya air matanya yang menggenang, lututnya gemetaran
...“Semoga suatu hari Tuan tidak menyesal karena sudah mengambil keputusan yang salah, banyak kejadian di rumah ini yang Tuan belum tau” lanjut Leni...
...“Saya permisi Tuan, apabila setelah ini saya dipecat, saya siap Tuan” tutur Leni sambil berlalu disana, meninggalkan Vicky yang masih terpaku ...
Vicky masuk ke ruang kerjanya, kata - kata Leni terngiang terus menerus, ia kemudiaan terhuyung, Vicky menguatkan dirinya untuk duduk di kursi kerjanya, ia memijit pelipisnya kemudian terisak mengingat Vira, ia lalu memekik dan memukul - mukul meja kerjanya menghempas apa pun yang ada disana
Vicky teramat sedih, ia teramat mencintai Vira, ia benar - benar menyadarinya sekarang, ia akan melakukan apa pun untuk Vira, termasuk jika harus melawan Maminya dan keluarga besarnya, ia tak peduli.
Vira wanita baik hati yang pantas ia perjuangkan, dan akan ia perjuangkan.
Vicky menyugar rambutnya ke belakang kemudian memperhatikan lengannya yang kemerahan akibat pukulannya ke meja, lengan yang sama yang telah menampar dan menjambak Vira tanpa ampun
“Viraaa!” Pekik Vicky
__ADS_1
Air matanya tak berhenti berlinang, kemana Vira sekarang? apa dia masih hidup? Apa dia sudah bersama orang lain? Pertanyaan - pertanyaan itu muncul di benak Vicky
...“Tunggu aku Vir, aku akan membawamu pulang ke istana kita” gumamnya. ...