
(Hai all, welcome ke episode bonus spesial untuk kalian semua yang sudah setia mensupport author, jangan lupa mampir ke karya kedua author yang berjudul “Satu Suami Dua Istri” besar harapan author agar karya kedua author mendapat antusiasme dari teman - teman semua berupa like, gift, favorite, vote, serta tak lupa kritik dan saran 😊😊. Happy reading all ❤️❤️❤️❤️)
Vira manyun sepanjang jalan melihat teman - temannya mengendarai motor gede di depannya, sementara ia dan Alex mengekor dengan mobil sport, padahal inginnya ia dan Alex mengendarai moge juga, lebih seru dan romantis pastinya karena ia bisa memeluk Alex dari belakang, sepanjang jalan.
“Udah dong ngambeknya Vir, masa dari kita berangkat tadi mukanya bete terus?” Tutur Alex di belakang kemudinya
“Heemm” cuma itu sahutan Vira dengan pipi menggembung, kesalnya masih terasa, apalagi melihat teman - temannya yang berpasangan itu memeluk prianya dari belakang, kecuali Laura tentunya, cukup memegang pinggang Vicky saja.
“Perutnya kan udah gede sayang, kalau ada jalanan yang jelek gimana? Sekarang kamu bawa dua bayi loh dalam perut kamu, kata dokter lebih riskan” benar sih alasan Alex, dokter kandungannya sudah memastikan bahwa Vira mengandung anak kembar sekarang, dua jagoan. Lebih besar kandungannya, ia juga jadi gampang capek dan lelah.
“Iya ga apa - apa” sahut Vira akhirnya, diujung ia menerbitkan senyumnya pada Alex, Alex tersenyum lega, senang karena sang istri sudah berdamai.
** Saat sampai di tempat yang dituju Vira sudah biasa lagi, bergelayut manja di tangan kekar Alex, sesekali minta dipeluk ketika udara dingin puncak menerpanya. Meski duduk di meja yang berbeda dengan pasangan masing - masing, tapi pusat perhatian semuanya tertuju pada meja Vicky dan Laura
Acara kencan bersama ini digagas oleh Salim dan Bram bukan tanpa tujuan, justru mereka ingin mendekatkan Laura dan Vicky, karena Vicky yang tak kunjung mengungkapkan perasaannya pada Laura, meskipun beberapa kali Laura sudah memberikannya sinyal. Sempat terpikir di kepala Bram dan Salim kalau Vicky benar belum move on dari Vira, tapi ketika bersama Laura Vicky terlihat salah tingkah, khas orang yang jatuh cinta.
“Mau makan apa Vir?” Tanya Bram sambil mendekat, ia mendahulukan Ibu hamil itu bahkan sebelum istrinya, sudah kesepakatan bersama memang, jika Vira yang tengah hamil akan diprioritaskan oleh semuanya, tanpa terkecuali.
“Jagung bakar aja dokter, makasih” ucap Vira, bahkan setelah menjadi adik iparnya pun Bram tetap dipanggil dokter oleh Vira, nyamannya begitu. Setelah Bram, yang lain ikut menawari, alhasil meja Vira penuh dengan makanan, yang cemberut ya Alex karena istrinya itu minta Alex yang menghabiskan semua makanannya, sedang Vira cukup mencicipi saja
“Um, mau makan apa Laura?” Tanya Vicky lembut, yang bertanya Vicky tapi yang menunggu jawabannya ya semua temannya disana, dag dig dug melihat interaksi malu - malu di depannya
“Uumm.. jagung bakar aja Mas” sahut Laura,
Vicky mengangguk lalu bangkit beranjak, tapi tangannya refleks mengacak rambut Laura, Laura tersipu malu, begitu pun dengan temannya yang lain, senyum - senyum malu, deg - degan sendiri.
“So sweet banget” bisik Bram pada Hanum di sampingnya
“Iya Mas, seneng banget liatnya, cocok banget” sahut Hanum antusias
Vira tersenyum senang, bahagia melihat Vicky yang sudah bisa melanjutkan hidupnya dengan wanita yang ia anggap baik
Alex berdehem sambil membenarkan duduknya yang tak tenang, tak suka melihat Vira yang memandangi Vicky, Vira menoleh pada suaminya yang menenggak minumnya hingga tandas
__ADS_1
“Haus ya Mas?” Tanya Vira polos tak mengerti Alex kenapa
“Iya, panas banget” sahut Alex asal, Vira mengerutkan keningnya, bingung kenapa Alex bisa kepanasan di hawa sedingin itu
“Ahahaha.. kamu cemburu ya Mas?” Seloroh Vira saat sadar Alex kenapa, Alex diam saja, tangannya bersedekap sementara pandangannya menyamping menyembunyikan kecemburuannya yang kentara
Vira berdecak, gemas sekaligus kesal karena ia lagi - lagi harus meyakinkan suaminya kalau cintanya cuma buat Alex, Vira mendekatkan duduknya dengan Alex, tangan Alex ia urai kemudian ia bawa mengelus perutnya yang buncit
“Masih kurang bukti cintanya? Aku udah ngasih kamu tiga anak loh Mas” Goda Vira, namun Alex tak bergeming
“Ya udah empat deh, menyusul setelah si kembar” bujuk Vira, ia tahu betul bagaimana cara menaklukan hati Alex ketika Alex sedang marah
Dan benar saja, Alex melemah “lima sesuai kesepakatan awal” ucapnya sambil menoleh bak sedang nego bisnis
“Kenapa lima? Kamu aja super sibuk Mas, yang ada nanti anak - anak kita terlantar kurang kasih sayang Papanya”
“Aku ga kerja juga ga apa - apa sayang, hartaku ga bakal habis juga, cukuplah dibagi - bagi untuk lima anak plus tujuh turunannya nanti, yang penting anak kita lima”
“Sombong!” Sewot Vira
“Program pemerintah itu dua Mas, aku udah bonusin dua itu” Vira tak mau kalah, kini ia yang bersedekap sedikit jual mahal
Alex mengelus sayang pipi istrinya, jurus lain untuk membujuk” Ayolah, rumah segede itu penghuninya harus banyak, biar nanti kita ga kesepian”
Vira mendengus kesal, “ya udah lima” sahutnya
“Ahahaha, senengnya, istriku emang terbaik” tutur Alex bahagia sambil memeluk istrinya
** Ketika Alex dan Vira bermesraan, Vicky dan Laura tampak gugup bersama, jagung bakar yang mereka pesan tak disentuh, saling pura - pura sibuk melihat sekeliling, bingung mau bicara apa, mereka tidak sadar jika teman - temannya sibuk menjadi komentator dadakan, ada yang menunggu Vicky bicara, ada yang sudah geregetan tak sabar.
“Um.. Kedinginan ga?” Tanya Vicky membuka pembicaraan setelah sekian lama
“Uumm.. Lumayan Mas” jawab Laura sambil menggesekan kedua telapak tangannya, jaket yang Laura pakai ternyata tak mampu meredam hawa dingin puncak, Vicky sigap membuka jaketnya menyisakan kaus turtel neck berbahan tebal yang membalut tubuh tegapnya
__ADS_1
“Pake ini ya” ucap Vicky sambil bangkit dan menyampirkan jaket kulit miliknya di pundak Laura, gadis itu tegang seketika, gugup campur aduk dengan malu yang teramat. Penonton di samping dan belakang menjerit tertahan, tak menyangka Vicky akan se-sweet itu
“T-tapi nanti Mas yang kedinginan” ucap Laura malu, wajahnya sudah semerah tomat kontras di pipinya yang putih, Vicky gemas hendak mencubit tapi sayang terlalu banyak saksi
“Ga apa - apa, paling masuk angin, tapi nanti kan ada kamu yang ngerawatin.. hehehe” goda Vicky santai, tapi mengguncang dunia Laura, ia yang memang sudah berharap lama majikannya akan melirik itu tambah salah tingkah
“Kelamaan” bisik Salim pada Raina, komentator di meja paling dekat dengan Vicky dan Laura
Raina berdecak, “dengan proses Papi, ga main seruduk kayak kamu” sahut Raina pada Salim, keduanya menggelari diri Papi Mami, panggilan sayang masing - masing.
“Ahahaha.. iya ya” tawa Salim menggelegar, ingat dengan kelakuan nekadnya mengejar Raina hingga ke Brunei
Vicky terdiam sejenak, menunggu Salim memelankan suaranya yang bising, tahu jika dirinya sedang jadi bahan sorotan teman - temannya Vicky jadi lebih irit bicara pada Laura, karena malu dan gugup tentunya, namun si gadis yang kadung terbawa suasana tak tahan
“Sebenarnya Mas itu suka ga sih sama Laura?” Tanya Laura dengan nada sedikit tinggi, pas ketika suasana sedang hening karena yang lain sedang sibuk bersantap, alhasil semua orang terperangah, menoleh pada meja asal drama sedang berlangsung, Laura nyaris menenggelamkan dirinya ke bawah meja saking malunya, ia merutuki dirinya yang nekad bertanya, tapi kalimatnya tak mungkin dibatalkan, sudah terlanjur terucap, tinggal menunggu jawaban yang ditanya, Vicky yang saat ini sedang terkekeh
“Laura - Laura, apa saya harus kayak abege lagi yang bilang I love you pada kamu?” Tanya Vicky kemudian lanjut terkekeh, Laura bengong tak mengerti, sementara penonton masih menebak - nebak kecuali Alex dan Vira yang senyum paham apa maksud Vicky
“Maksudnya?” Tanya Laura polos
Vicky menghela nafasnya, tangannya terulur membetulkan surai hitam Laura yang agak berantakan tertiup angin
Penonton makin tenggelam pada drama romantis di depan mereka, menyoraki memberi semangat pada Vicky dalam hati masing - masing
“Saya suka sama kamu Laura, tapi saya susah mau ngomongnya, takutnya kamu kabur karena terlalu cepat” ucap Vicky, akhirnya
Hadirin menghela nafas lega, seolah telah mendengar ijab kabul Vicky - Laura
Laura menatap Vicky dengan berkaca - kaca, “kenapa Mas ga bilang ih!?” Tanya Laura kesal, ia pikir selama ini cintanya bertepuk sebelah tangan pada Vicky, bahkan sempat tak pede manakala tahu bahwa Vira adalah mantan istri Vicky dari Diah dan yakin kalau Vicky tak mungkin melupakan Vira
“Ini udah bilang kan, jadi gimana? Kita jadian?” Tanya Vicky langsung ke intinya tak ingin menunggu lagi, ia capek dengan bisikan - bisikan ghaib teman - temannya yang memintanya untuk segera meminang Laura
Laura malu - malu namun mengangguk yakin, “Iya Mas, kita jadian” ucapnya, Vicky tersenyum lebar, senang karena akhirnya punya pendamping, bukan hanya untuknya tapi untuk Ibunya, Vicky ingin sekali memeluk Laura, tapi ia tahan - tahan karena tahu itu belum saatnya, cukup jari mereka saja yang saling bertaut.
__ADS_1
Santai sejenak sambil sesekali tertawa, pasangan yang mojok masing - masing itu tenggelam dalam kebahagiannya masing - masing.