Nyonya Muda Baru Untuk Suamiku

Nyonya Muda Baru Untuk Suamiku
Kembali kehilangan


__ADS_3

Mendung membuat sore ini telihat seperti malam, suara petir saling menyambar, hujan kemudian turun dengan derasnya bagai shower raksasa yang ingin segera membersihkan segala kotoran di bumi


Rumah mewah itu terlihat mencekam, hening.. hanya suara petir yang terdengar menggema. Hampir semua pelayan Gendis perintahkan untuk kembali ke paviliun dan beristirahat karena tidak ada lagi yang perlu di kerjakan di rumah utama, sebagian besar pelayan sangat senang mendapatkan bonus besar istirahat lebih cepat hari itu, hanya 4 orang yang justru mempertanyakan perintah Gendis yang tiba - tiba, terutama Bi Welas.. perasaannya gundah, ia tidak tenang mengingat hanya tinggal Gendis dan Vira yang berada di rumah itu, bagaimana kalau Gendis menyakiti Vira? Batinnya


Terakhir ia meninggalkan Vira saat mengantar makan siang untuk Vira, Vira terlihat makin lemah.. ia bahkan hanya meringkuk di atas tempat tidur, mukanya semakin pucat, kalau Gendis macam - macam tentu Vira tidak akan bisa melawan dengan kondisi seperti itu


...“Ya Allah lindungilah Neng Vira” do’anya lirih...


Mobil SUV berwarna abu metalik berhenti tepat di depan pintu utama, 3 orang laki - laki kemudian turun, 1 orang memakai kemeja rapi dengan kaca mata yang bertengger di hidungnya, 2 orang yang lain memakai baju yang sama seragam tampaknya.


Gendis yang sudah menunggu di pintu utama, menyambut ke tiga orang tersebut, kemudian tanpa basa basi segera memandu mereka menuju lantai 2 rumah tersebut


...****************...


Duaaaarrr…


Petir menyambar membuat Vira terhenyak dari tidurnya, ia ingin duduk tapi badannya lemah tak berdaya, matanya berkunang, kepalanya sakit luar biasa. Ia kemudian menarik selimut untuk menutupi badannya karena dingin mulai terasa menusuk. Entah kenapa perasaan Vira tidak karuan, ia tidak tenang, jantungnya berdebar kencang. Vira istigfar berkali - kali, kemudian ia berdzikir untuk menenangkan hatinya


Vira mencoba memejamkan mata kembali, hingga tiba - tiba ia mendengar suara pintu yang kuncinya dibuka, dengan sekuat tenaga ia beringsut duduk mencoba untuk mencari tahu siapa yang datang dengan memicingkan matanya karena lampu kamar ia biarkan temaram.


Vira kaget begitu mengetahui Gendis berada di kamarnya sekarang, di belakang Gendis ada 3 orang pria yang entah siapa karena ia belum pernah bertemu sebelumnya.


...“Tante mau apa?” Tanya Vira yang semakin menarik selimutnya seolah selimut itu adalah perisai baginya...


Gendis tak menjawab, ia kemudian menoleh ke arah ketiga orang tersebut kemudian memberikan tanda dengan kerlingan matanya untuk mendekat ke arah Vira


Vira ketakutan, entah apa niat Tante Gendis sekarang yang pasti keempat orang itu pasti punya niat jahat padanya


Vira menguatkan dirinya, hendak beringsut dari kasurnya.. terlambat, tangan seorang laki - laki yang berseragam itu mencengkram tangan Vira, menariknya hingga ia tidak bisa bergerak


...“Mau apa kalian hah?” Sentak Vira ...


Pria yang lain yang juga berseragam tangkas meraih kedua kaki Vira dan menyatukannya, dengan kasar menarik kaki Vira hingga membuat Vira kini telentang, kedua kakinya di cengkeram kuat membuat Vira tidak bisa bergerak, sementara kedua tangannya juga disatukan dan dicengkeram diatas kepala Vira


...“Mau apa kalian, tolong!!!” Teriak Vira penuh harap akan ada sosok penolong baginya...


...“Lepas! Lepas!! Lepasin!! Ujar Vira meronta - ronta, namun badannya tak bergeming, dikunci oleh ke dua orang laki - laki itu...


Pria berkacamata mendekat, kemudian membuka tas yang ia bawa, merogoh sesuatu di dalamnya yang Vira lihat adalah beberapa butir pil, kemudian ia mengeluarkan air mineral kemasan, membuka tutupnya dan mendekat ke arah Vira


Gendis yang kini berdiri di samping Vira, tangkas memegang mulut Vira, menekan rahang Vira dan memaksa Vira untuk membuka mulutnya


Vira yang merasa berada dalam bahaya menggeleng - geleng mencoba melepaskan wajahnya dari cengkraman tangan Gendis, tapi Gendis semakin menguatkan pegangannya


Pria berkacamata itu langsung maju, memasukkan 2 butir pil ke dalam mulut Vira dan setelahnya memaksa memasukkan air minum, Vira gelagapan.. air masuk ke mulutnya dan hidungnya, matanya perih begitu pun hidungnya


...“Tak akan kubiarkan kau melahirkan penerus Vicky, kau perempuan hina, kasta rendahan. Hanya anakku yang pantas melahirkan anak Vicky” tandas Gendis yang masih mencengkram wajah Vira yang sudah memerah...


Vira terhenyak, sadar bahwa itu adalah pil penggugur janin.. ia meronta sekuat tenaga, mencoba menggelengkan kepalanya untuk melepaskan dirinya dari Gendis, ia harus segera memuntahkan pil yang sudah terlanjur masuk ke tenggorokannya bagaimana pun caranya


Ia semakin meronta, pria berkaca mata itu kemudian mundur setelah memastikan Vira menelan pilnya


...“Jangan, jangan bunuh anak saya, saya mohon Tante, lepasin saya” iba Vira lirih, ia memelas memohon belas kasih Gendis...


Gendis tersenyum puas, tak berapa lama kemudian mata Vira pelan - pelan terpejam setelah pria berkaca mata itu menyuntikan obat bius ke tangan Vira


Mereka kemudian melepas pegangannya pada Vira, dan meninggalkan Vira yang tengah tak sadarkan diri

__ADS_1


Beberapa jam kemudian, Vira memicingkan matanya, mencoba untuk mengingat apa yang terjadi sehingga kepalanya terasa sangat pusing, matanya tiba - tiba membulat merasakan sakit yang luar biasa di perutnya, Vira menjerit dan meronta, darah segar mengalir melewati kedua pahanya, ia menangis meraung - raung menahan sakit yang luar biasa di perutnya, hingga akhirnya ia pasrah begitu merasakan ada yang keluar dari rahimnya


...“Sayang, maafin Ibu.. sampai bertemu di surga Allah nanti nak” ucapnya lirih sebelum kemudian ia kembali tidak sadarkan diri, darah segar terus membasahi seprai putih, membuat warnanya berubah merah...


Bi Welas bersama Sumirah tengah mondar - mandir di dapur menunggu kepergian Gendis yang masih ada di teras utama menanti Pak Bowo untuk mengantarnya entah kemana


Sebelum ini Bi Welas mendapat laporan dari Leni bahwa sekitar 2 jam yang lalu Leni yang hendak menutup pintu menuju taman yang ia lupa kunci tadi melihat ketiga laki - laki keluar dari kamar Vira


Bi Welas semakin curiga ada yang tidak beres pada Vira, ia ingin segera menemui wanita malang itu, namun sayang masih ada Gendis disana


Mobil yang akan mengantar Gendis berhenti tepat di depan Gendis, Gendis masuk ke dalam dan mobil pun berjalan keluar meninggalkan rumah tersebut


Melihat Gendis yang sudah pergi, Bi Welas dan Sumirah segera berlari menuju kamar Vira, petir mengagetkan Bi Welas dan Sumirah yang tengah berlari kecil menuju kamar Vira,


...“Astagfirullah” ucap keduanya sambil mengelus dada...


Bi Welas dan Sumirah kini berada di depan pintu kamar Vira, Bi Welas segera mengeluarkan kunci dari saku baju seragamnya, tangannya bergetar ketika memutar kunci pintu kamar itu, suara petir semakin membuat suasana mencekam bak di film - film horor.


Perlahan Bi Welas membuka pintu kamar itu, suara deritan pintu terdengar.. disusul suara jeritan Bi Sumirah melihat pemandangan mengerikan di depan matanya


“Ya Allah Gusti!” Pekik Bi Welas memburu Vira yang terbaring pucat di ranjangnya yang bersimbah darah


Sumirah terduduk lemas, air matanya mengalir deras.. ia tidak pernah melihat hal semengerikan ini sebelumnya


Darah segar masih mengucur pelan dikedua paha Vira, bau amis menyeruak, Bi Welas melihat gumpalan daging disana


“Ya Allah nak, maafin Bibi nak.. seandainya Bibi datang lebih cepat” ucapnya


Ia kemudian menuju walk in closet, menyambar kemeja putih Vicky disana, kemudian membungkus gumpalan daging itu dengan kemeja putihnya yang seketika perlahan berubah merah.


...“Rah, cepat telepon dr. Salim Rah, segera suruh kesini!” Titah Welas pada Sumirah yang masih terduduk sambil menangis sesenggukan ...


... “Neng, bangun Neng” ucap Welas sambil membelai lembut pipi pucat Vira yang dingin...


...“Neng, maafin Bibi Neng” ucapnya lirih, air matanya kembali jatuh...


...15 menit kemudian dr. Salim yang kebetulan sedang berada di dekat rumah Vicky sampai ke rumah itu, ia bergegas menuju kamar Vira ditemani Sumirah yang sudah menantinya...


Leni yang baru saja tiba kaget melihat Sumirah menangis mengiringi wajah dr. Salim yang begitu tegang, Leni gegas mengikuti kedua orang tersebut menuju kamar Vira


Sesampainya disana, jantung dr. Salim seolah terhenti, badannya mematung, ia melihat wanita dambaannya tergolek bersimbah darah


Ia berlari memburu ke dekat ranjang Vira, ia langsung memeriksa nadi wanita cantik itu


...“Vira kenapa Bi? apa yang terjadi” tanyanya panik...


...“Bibi ga tau dok, begitu sampai Nyonya sudah begini” ucapnya dengan tangan yang masih mengemban bungkusan putih bersimbah darah itu...


...“Vir, sadar Vir.. sayang kamu kenapa?” Ujar Salim lirih, lolos sudah panggilan terkasihnya untuk wanita yang ia damba dari mulutnya itu...


...“Len segera telepon Bram, suruh ia bawa 2 kantong darah golongan O dan suruh ia bawa 2 perawat, sekarang Len” Perintah dr. Salim pada Leni yang tengah mematung dan menutup mulutnya demi melihat pemandangan yang menyedihkan depan matanya...


Leni dengan sigap segera beranjak ke arah meja telepon yang berada tepat di luar kamar Vira


dr. Salim kemudian menyuntikan sesuatu ke tubuh Vira entah apa itu, ia kemudian memeriksa nadi Vira sambil sesekali melihat jam tangannya


Darah dari tubuh Vira sudah berhenti mengalir, mungkin karena obat yang diberikan oleh dr. Salim. Dr. Salim kemudian meminta Sumirah dan Leni untuk membersihkan bekas darah di kedua paha dan kaki Vira, air mata mereka tidak berhenti menetes

__ADS_1


...“Dok” ucap Bi Welas lirih sambil menyodorkan bungkusan yang dia emban dari tadi, membuat tangannya juga belepotan darah...


...“Innalillahi ya Allah” ucap dr. Salim, air matanya menetes ia sedih luar biasa, seolah ia kehilangan anaknya sendiri, ia membuka kaca matanya, memijit pangkal hidungnya kemudian menyeka air matanya sebelum ia memakai kaca matanya kembali...


Ia kemudian merogoh saku celananya, meraih gawainya kemudian menghubungi seseorang yang tak lain adalah Vicky, namun No. HP Vicky tidak aktif


...“Bi, Vicky dimana? Tante Diah dimana?” Tanyanya, ia baru sadar bahwa kedua orang itu tidak ada disaat Vira benar - benar membutuhkannya...


...“Anu dok, Nyonya besar tadi pagi sekali sudah berangkat tapi Bibi ga tau kemana, kalau Tuan muda.. anu.. sedang pergi bersama istri barunya” jawab Bi Welas ragu apa ia tepat menyampaikan hal ini pada dr. Salim yang tak lain adalah sahabat Vicky...


...“Apa? Maksudnya Vicky udah nikah lagi?” Tanya Salim penasaran...


...“Iya dok, sama Non Utari” ...


Bi Welas kemudian tanpa ragu menceritakan semua yang terjadi malam itu pada dr. Salim, terlanjur sudah. Ia siap menerima semua resikonya kalau nanti Salim mengadukannya pada Vicky


...“B******k!” Teriak Salim sambil membanting Hpnya ke lantai membuat benda itu sedikit retak...


Ia menyugar rambutnya frustasi, rahangnya mengeras


...“Tega kamu Vick, laki - laki macam apa kamu!” Ujarnya penuh amarah seolah Vicky ada disana...


Pintu kamar terbuka, dr. Bram beserta 2 orang perawat dan Leni di belakang mereka muncul disana


Mata Bram terbelalak melihat kondisi Vira, ia panik


...“Lim, Vira kenapa Lim?” Tanyanya pada Salim...


...“Ntar gue ceritain Bram, cepet pasang infus dan kantong darahnya, Vira kehilangan banyak darah, habis itu bantu gue buat bersihin rahimnya, kita ga mungkin bawa dia ke rumah sakit, dia terlalu lemah” ucap Salim frustasi...


Bram dan kedua perawat sigap memasang infus merawat dan memastikan Vira mendapat asupan cairan dan darah, kedua perawat itu kemudian menyiapkan alat - alat yang akan dibutuhkan oleh dr. Salim


Dr. Salim dan dr. Bram menghela nafas lega begitu selesai mengobati dan merawat Vira, Salim kemudian memutuskan untuk memindahkan Vira ke kamar tamu tepat di samping kamar Vira, tempat tidur dan seprai Vira yang penuh darah mengeluarkan bau amis, tidak layak untuk ditempati Vira


Salim membopong Vira diikuti oleh Bram dan 2 orang perawat yang sibuk membawa tiang infusan serta kantong darah yang masih mengalir melalui tangan Vira


Dengan hati - hati Vira ditidurkan disana, wajahnya yang pucat pasi tadi sedikit demi sedikit mulai menampakan kehidupan kembali


Setelah Vira dirasa sudah ditangani dengan baik, kedua dokter itu duduk di sofa yang ada di kamar itu


...“Salim, Vira kenapa? Kok dia bisa sampai keguguran? Mana Vicky sama Tante Diah?” Tanya Bram bertubi - tubi pada Salim...


Salim membuka kaca matanya, memijit - mijit pangkal hidungnya, kemudian memakai kaca matanya kembali


...“Gue juga ga tau Bram, tapi gue curiga sama Tante Gendis.. tadi Bi Welas cerita kalau sebelum kejadian ada 3 orang laki - laki yang datang ke rumah ini nemuin Gendis, terus ke empatnya masuk ke kamar Vira, Leni sempat ngeliat 2 orang laki - laki pake seragam, kayaknya seragam perawat warna hijau” jelas Bram...


...“Jadi maksud lo kandungan Vira digugurkan paksa sama Tante Gendis dan 3 orang laki - laki itu?” tanya Bram panik...


...“Ini baru sangkaan gue Bram, gue belum punya bukti.. tapi gue akan cari tau, ini kriminalitas namanya” ujarnya tegas...


...“Gue bakal bantu sebisa gue, ntar gue minta sekretaris Bokap buat nyari info mengenai rumah sakit yang seragam perawatnya warna hijau dan punya riwayat praktek aborsi ilegal” ujar Bram berapi - api...


...“Soal Tante Gendis, gue udah curiga ada yang dia rencanain dari pertama ketemu” ujar Bram sambil memperhatikan wajah Vira yang masih terlelap...


...“Maksud lo?” Tanya Salim penasaran...


...“Jadi waktu acara lamaran Vira sama Vicky, Nyokap gue yang ngeliat Tante Gendis kayak shock gitu, gue yang khawatir liat Nyokap ngajak Nyokap keluar, terus disitu Nyokap cerita kalau dulu Tante Gendis pernah ngerayu Bokap dan ketauan sama Nyokap” tutur Bram panjang lebar ...

__ADS_1


...Salim yang terkejut dengan informasi dari Bram kemudian menceritakan kejadian yang dialami Vira yang ia dengar dari Bi Welas. Kedua dokter tampan itu tampak serius membahas permasalahan Vicky dan Vira, termasuk kecurigaan mereka pada Gendis dan Utari yang sepertinya memang sudah merencanakan untuk merebut Vicky dari Vira...


... ...


__ADS_2