
...“Nduk istirahat dulu ya, habis ini masih ada acara sowan sama sesepuh” ucap Wening pada Vira yang tengah melahap bakso buatan Wening di ruang tengah setelah seharian ini mereka sibuk menerima tamu para pejabat negara yang diundang oleh Kanjeng Sultan dan Romo pada resepsi terbatas ...
...“Iya Bu, setelah makan nanti Vira istirahat” ucap Vira sambil fokus menyendok bakso kesukaannya...
“Masmu mana Vir?” Tanya Ibu, ia celingukan mencari Alex yang biasanya nempel terus pada Vira
...“Mas Alex lagi di depan Bu, lagi ketemu sama asistennya ngebahas kerjaan” jawab Vira...
...“Coba tolong panggil Masmu Vir, suruh makan dulu, waktu istirahatnya cuma sebentar loh, ini sesepuh sudah pada dijalan menuju kesini...
...“Baik Bu” ucap Vira lalu bangkit dan beranjak menyusul Alex, Vira celingukan mencari Alex di sekeliling rumah Romonya, hingga ia melihat punggung suaminya yang tengah duduk dan manggut - manggut mendengar laporan dari Francis dan Umar...
...“Mas” panggil Vira, namun yang dipanggil diam tak menoleh, Vira yang sulit berjalan akibat jarit yang dipakainya memperbesar langkah tak ingin meninggalkan baksonya lama - lama...
...“Mas Alex!” Yang dipanggil girang bener, Alex seketika menoleh dan menyunggingkan senyum mendengar Vira memanggilnya ‘Mas’, laporan yang disiapkan Francis dan Umar setengah payah ia tutup begitu saja mendengar panggilan dari istrinya, Alex bucin memang...
Vira mendekat dengat nafas terengah
...“Mas, Ibu manggil, makan dulu katanya sebelum sesepuh datang” tutur Vira ...
...“Sini sini, duduk dulu sayang, kamu nyampe ngos ngosan gitu” ucap Alex sambil menepuk - nepuk kursi di sebelahnya, Francis dan Umar yang setia berdiri di depan Alex saling pandang lalu sama - sama menahan tawa melihat kebucinan bosnya...
Vira patuh, lalu mendudukkan dirinya di kursi
...“Makan dulu Mas, nanti keburu sesepuh pada datang” ucap Vira...
...“Iya sayang, selama dipanggil Mas aku nurut deh sama kamu” bucin Alex sambil mengelus pipi istrinya, ia lupa ada Francis dan Umar disana...
...“Ya udah makan dulu yuk Mas, Ibu bikinin kita bakso lo tadi” ujar Vira kemudian hendak bangkit, baru saja Alex mau mengekori Vira ketika Mama Maryam menghampiri mereka...
...“Lex, ada Bram dan Salim di depan, katanya mau ketemu kamu sama Vira, mau ngucapin selamat” tutur Maryam, Alex dan Vira berpandangan, mereka sedikit kaget Bram dan Salim sampai menemui mereka ke rumah Romo Vira...
Vira menghela kasar nafasnya, jujur ia enggan bertemu Salim setelah apa yang ia perbuat, tapi mau bagaimana lagi ia tak mungkin menceritakan masalah itu pada Alex
...“Alex, Tante Ajeng dan Tante Widya juga datang” tutur Maryam seolah memberi peringatan...
Alex mengangguk paham, Alex mengerti kenapa Ibu Bram dan Salim jauh - jauh datang untuk menemuinya dan Vira, yang tak lain karena Vira yang mereka dulu hina ternyata adalah keturunan Sultan dan istri dari Alex sekarang.
Bram, Salim dan Ibu - Ibu mereka duduk melingkar di pendopo, Bram tampak lesu tak jauh dari Salim yang terlihat enggan. Kalau saja Ibu mereka tidak menyeret mereka kesini, sudah pasti mereka tidak akan mau menghadiri acara Alex dan Vira
Vira melangkahkan kaki dengan gontai, tangannya erat menggandeng Alex, entah untuk apa Ibu dari Bram dan Ibunya Salim datang karena setahu Vira mereka sangat membenci Vira, bahkan ketika Bram hendak melamar Vira orang tua Bram sampai tega mengusir Bram, setali tiga uang dengan orang tua Salim.
Wajah Ibunya Salim dan Ibu dari Bram sumringah melihat Alex dan Vira, seketika mereka bangkit dari duduknya dan bergegas menghampiri Alex serta Vira
...“Selamat ya Nak Vira, Nak Alex” ucap Ibunya Bram, tangannya erat menggenggam Vira, Vira menyambutnya hangat dengan senyuman yang ramah, begitu pun dengan Alex...
Bram berdecih meihat bagaimana Ibunya dan Ibunya Salim begitu ramah terhadap Vira sekarang, dulu jangankan untuk bersalaman hangat seperti sekarang, bahkan mendengar nama Vira saja mereka alergi, seolah Vira adalah sesuatu yang menjijikan
Suasana hening sebentar, semua sibuk dengan pemikirannya masing - masing
Tak lama Mama Maryam datang memecah kecanggungan, Mama Maryam yang memang sudah kenal lama dengan orang tua Salim dan Bram segera ikut mendudukkan dirinya di sebelah Vira
...“Nyonya Maryam beruntung dapet besan Kanjeng Sultan” ucap Ibunya Salim...
Maryam hanya tersenyum
__ADS_1
...“Lah Mba, Nak Viranya juga beruntung dapetin Alex, kalo Vira bukan keturunan Kanjeng Sultan ga mungkin lah bisa dapetin Alex” tutur Mamanya Bram ringan ...
Vira tertunduk hatinya mencelos, Bram Kesal dengan omongan Ibunya, Alex geram namun tak mungkin melakukan kerusuhan di rumah mertuanya
...“Mba Ajeng, Mba Widya, saya menerima Vira jauh sebelum saya tahu bahwa Vira adalah keturunan ningrat, saya menerima Vira dengan lapang dada karena saya tahu Alex begitu mencintai Vira, saya tidak mau gelar ningrat kemudian mengorbankan perasaan Alex” tutur Maryam tenang, tapi mampu mengguncang hati Mamanya Bram dan Salim yang merasa tersindir mengingat bagiamana mereka gigihnya menolak Vira ketika anak mereka minta izin untuk melamar Vira...
Ajeng Mamanya Bram berdehem mencoba memecah ketidak nyamanan diantara mereka
...“Ah iya, kami setuju Nyonya, demi kebahagiaan anak sebagai orang tua kita pasti akan melakukan apa pun juga” tutur Ajeng salah tingkah...
Bram melongo, bisa - bisanya Mamanya berbohong, jelas - jelas pada saat dulu dia minta izin buat meminang Vira Mamanya menolak dengan tegas sampai mengancam tidak akan memberikan Bram warisan
...“Yang pasti saya tidak akan menggadaikan kebahagiaan anak saya hanya gara - gara status sosial, anak saya bukan dagangan atau bahan barteran yang baru boleh menikah kalau wanitanya sederajat” tandas Maryam ...
Alex tersenyum bangga pada Mamanya, Vira masih saja tertunduk, Bram kesel pada sang Mama, sementara Salim menatap lekat Vira yang begitu di inginkanny
...“Iya benar Nyonya, masa iya kebahagiaan anak kita harus hancur gara - gara kita mewajibkan mereka untuk menikah dengan ningrat juga?” Tukas Ajeng sambil mengipas - ngipaskan kipas tangannya...
Bram geram, Mamanya masih saja bersandiwara
...“Ma, bukannya dulu Mama nentang aku habis - habisan pas aku izin ke Mama buat ngelamar Vira? Mama kan yang bilang sendiri kalo Vira itu cuma janda, orang miskin, dan yatim piatu yang ga pantes buat aku?” Tohok Bram pada Ibunya...
Muka Ajeng memerah, malu dan marah bercampur menjadi satu, ia mendelik tajam pada Bram
...“Ah ini loh si Bram, kalo Mamanya bercanda suka dianggap serius, maafin Tante ya Nak Vira, omongan Bram ga usah diambil hati” tutur Ajeng, ia benar - benar sudah tak punya muka gara - gara si Bram, apalagi ini di depan Nyonya Maryam dan Alex...
...“Mama dan Tante Widya juga pernah ngomong kalo Vira itu cocoknya hanya dijadiin gundik, bukan istri. Betul kan Ma? Aku dan Salim Ma yang jadi korban keegoisan Mama dan Tante Widya yang mengukur semuanya hanya dari gelar ningrat kalian aja, sekarang Mama pikir aku bahagia gitu ngeliat Vira nikah sama orang lain, aku hancur Ma!” tutur Bram, keluar sudah unek - uneknya, biarlah ia diusir Ibunya sekali pun, ia sudah muak dengan keningratan yang dibangga - banggakan Ibunya...
Vira tersenyum miris, Alex geram rahangnya mengeras, sementara Salim tersenyum merasa keluhan hatinya sudah diwakili oleh Bram, sementara Ibunya Salim dan Bram pucat pasi
...“Bram! ngomong apa sih kamu itu, jangan ngaco kalo ngomong, jangan membuat Nak Vira tersinggung!” Sentak Ajeng pada Bram...
...“Ga apa - apa kok Tante, semua yang Tante omongin tentang saya itu benar, dulu saya memang janda, saya juga yatim piatu, dan saya memang miskin jadi wajar kalo dulu Tante melarang dokter Bram atau dokter Salim untuk menikahi saya, saya juga tau diri Tante saya ga berharap untuk diterima di keluarga manapun karena latar belakang saya, tapi saya bersyukur Mas Alex dan Mama Maryam tidak mempermasalahkan itu dan mau menerima saya apa adanya” ucap Vira tiba - tiba dengan tenang, namun membuat hati Bram dan Salim sakit, sementara Alex semakin meradang kalau saja Maryam tidak menggenggam tangannya untuk menahan amarahnya...
...“Ono opo iki? Siapa yang akan dijadikan gundik? Vira anakku hah?”Sentak Wening yang tiba - tiba saja sudah berdiri di belakang mereka bersama Permaisuri, wajah Wening memerah, nafasnya memburu, tangannya mengepal ...
Ajeng dan Widya sontak kaget, mereka tertundukwajah mereka makin pucat pasi, jantung mereka berdegup kencang, yang dihadapi sekarang bukan orang sembarangan, Nyonya Maryam, Wening dah bahkan Permaisuri
...“Begitu kah kalian menilai orang yang tidak sederajat dengan kalian? Tanya Permaisuri sengit, matanya tajam melihat Ajeng dan Widya...
...“Bahkan Kanjeng Sultan pun menghormati siapa pun tanpa membedakan kastanya, lantas punya apa kalian sampai bisa - bisa merendahkan wanita lain?” Tutur Permaisuri lagi ...
Ajeng dan Widya bagai tersambar petir, niat hati ingin mendekati Vira agar bisa dirangkul kesultanan dan makin dekat dengan Nyonya Maryam justru menjadi malapetaka buat mereka, Bram dan Salim tersenyum puas, bukannya tak tega melihat Ibu mereka sedang ketakutan luar biasa, tapi apa yang mereka ucapkan tentang Vira memang sudah diluar batas kewajaran
Permaisuri maju mendekat, lalu memegang bahu Vira yang masih tertunduk
...“Anak saya ini memang malang, dari kecil dia sudah hidup terpisah sama kami, tapi di sisi lain saya bersyukur karena itu yang mempertemukannya dengan Mba Maryam dan Alex yang mau menerima dia apa adanya“ tutur Permaisuri...
Nyonya Maryam menghela nafasnya
...“Mba Ajeng dan Mba Widya, saya berharap baik dokter Salim dan dokter Bram bisa mendapatkan jodoh sesuai keinginan mereka agar mereka bahagia, kita sebagai orang tua harus memikirkan kebahagiaan mereka dan bukan larut hidup dalam bayang - bayang harta dan kedudukan” ucap Maryam tenang, hati Bram dan Salim menghangat mendengar ucapan Maryam ...
Ajeng memberanikan diri angkat bicara dengan kepala yang masih tertunduk
...“Saya mohon maaf Paduka Permaisuri, Gusti Raden Ayu dan Nyonya Maryam atas ucapan kami tentang Nak Vira” ucapnya dengan suara yang gemetaran, wajahnya masih pucat...
__ADS_1
...“Saya juga mohon maaf atas perkataan saya yang menyinggung Nak Vira” tambah Widya Ibunya Salim dengan suara yang juga gemetaran...
...“Bukan saya, dik Wening, atau Mba Maryam yang bisa memaafkan, tapi Vira anak saya” tandas Permaisuri, wajahnya merah menahan amarah...
Ajeng lantas mendongak dan menatap Vira yang sedang tertunduk, tangannya menangkup di depan dada air matanya meleleh
...“Nak Vira, tolong maafkan Tante ya atas semua ucapan Tante tentang Nak Vira, Tante menyesal Nak” ucap Ajeng dengan berderai air mata, Widya tak pelak melakukan hal yang sama...
...“Maafkan Tante juga Nak, Tante khilaf” ucap Widya lirih...
Vira tersenyum miris, tidak mungkin Ibunya Salim atau Bram akan meminta maaf padanya kalau ia bukan keponakan Kanjeng Sultan atau istri Alex
...“Jangan maafin kalo kamu ga mau Vir” ucap Alex yang dari tadi sudah meradang, matanya memandang Ajeng dan Widya tajam, Bram dan Salim tak bergeming, ia mengerti apa yang Alex rasakan...
Vira tersenyum tenang
...“Ga apa - apa Mas, saya udah maafin Ibunya dokter Salim dan dokter Bram” ucap Vira tulus dengan mengulas senyum ...
Bram dan Salim merasa lega, Vira tak mendendam meskipun sekarang Vira punya kekuasaan. Salim menatap lekat wajah wanita idamannya, rasa cintanya semakin membuncah pada istri sahabatnya itu.
Maryam tersenyum bangga pada menantunya, begitu pun Permaisuri, hanya Wening yang belum terima wajahnya masih saja menyiratkan kemarahan
...“Sudah jelas kan Mba Ajeng dan Mba Widya? Semoga jadi pelajaran untuk kita semua, beruntung menantu saya Vira orang yang baik, kalo tidak maka keluarga Al - Maktoem dan Kesultanan tentu akan ikut turun tangan untuk menyelesaikannya” tandas Maryam datar tapi sukses membuat jantung Widya dan Ajeng hampir copot, Maryam memang mengerikan ketika marah, tak beda jauh dengan Alex...
...“Kalau begitu kami pamit undur diri Paduka Permaisuri, Gusti Raden Ayu, dan Nyonya Maryam, dan sekali lagi terima kasih untuk kemurahan hati Nak Vira dan Nak Alex” tutur Ajeng, sungguh ia tak punya muka lagi untuk berlama - lama disana, ketakutannya juga tak kunjung sirna mengingat siapa yang ia hadapi sekarang...
Ajeng dan Widya kemudian mundur dengan tangan yang masih menangkup di depan dadanya dan berlalu dari sana dengan wajah pucat pasi, diekori oleh Bram dan Salim yang juga undur diri
Sepenginggal mereka Wening menghambur memeluk Vira
...“Apa sepanjang hidup kamu penuh hinaan seperti itu Nak?” Ucapnya sambil terisak, penyesalan terbit di hatinya karena telat menemukan Vira...
Vira balas memeluk Wening erat
...“Ga apa - apa Bu, yang penting sekarang Vira udah punya keluarga, udah ada Mas Alex dan Mama Maryam juga, Vira udah lupain semua” ucap Vira menenangkan Ibunya...
Wening mengurai pelukannya lantas membelai rambut keponakan tersayangnya
...“Sekarang waktunya kamu bahagia Nak, udah ga boleh ada nangis - nangisan lagi” ucap Wening...
Wening kemudian melempar pandang pada Alex
...“Nak Alex, Ibu titip Vira, tolong bahagiakan Vira Nak, jangan sekali pun membuat Vira terluka, atau nanti Ibu segera ambil Vira” ucap Wening pada Alex...
Alex mengangguk patuh
...“Tenang aja Mba, kalo Alex nyampe nyakitin Vira sekali aja, saya langsung coret dia dari daftar keluarga Al - Maktoem” tandas Maryam menggoda sang anak...
Alex melongo, tak mengerti bagaimana Ibunya bisa berpikir sesadis itu padanya
...“Loh Ma, kok gitu ngomongnya?” Tanya Alex sewot...
...“Makanya jangan sekali - kali nyakitin Vira” tukas Mamanya...
...“Ya ga bakalan Ma, aku cinta mati lo sama Vira” jawab Alex polos sambil merangkul pinggang istrinya dan menciumi punggung tangan Vira, lupa kalau disitu ada permaisuri yang terkekeh melihat kebucinan Alex pada Vira...
__ADS_1
...“Ya sudah, ayo cepat siap - siap, para sesepuh sebentar lagi sampai” ucap Wening sambil mengusap usap punggung Vira, mereka semua kemudian beranjak untuk segera bersiap melaksanakan acara sowan dengan para sesepuh, salah rangkaian acara di kesultanan sebelum mereka akan menggelar resepsi besar - besaran. ...