
Alex dan Vicky menatap prihatin Bram yang tergolek lemas di atas tempat tidurnya, wajahnya pucat, di tangannya kini terpasang selang infus yang baru saja dipasang oleh Salim, beruntung mereka datang ke rumah kontrakannya Bram hari ini karena Bram tak juga bisa mereka hubungi dari kemarin sore. Kalau tidak, mungkin Bram hanya akan menahan sakitnya sendirian di rumah kontrakannya yang sempit.
...“Apa ga perlu kita bawa ke rumah sakit Lim?” Tanya Alex pada Salim, ia khawatir melihat kondisi Bram yang lemah...
...“Ga dulu, dia terlalu lemah, liat perkembangannya nanti setelah cairan infus dan obat masuk” tutur Salim...
...“Kalo gitu gue panggil dokter pribadi gue supaya lebih jelas sakitnya apa” tutur Alex lagi...
...“Lex, Bram itu dokter, dia tau betul kondisi badannya dia dan apa penangannya, menurut gue anak ini butuh ditemenin aja, butuh diperhatiin sama dikuatin. Dia pasti ngerasa sendirian, udah dibuang orang tuanya, ditolak mentah - mentah sama keluarga Hanum, nah kita yang sahabatnya sibuk sama urusan masing - masing” tutur Salim, ia menyesal karena kesibukannya mengurus persiapan menikah dengan Raina membuatnya tak ada ketika Bram membutuhkannya...
Alex dan Vicky yang mendengarkan penuturan Salim mematung, masing - masing dari mereka pun membenarkan omongan Salim, Alex yang tengah sibuk dengan perusahaan dan masalah dengan Wening, Vicky pun senada dengan Alex yang sibuk mengurus perusahaan Alex untuk membuktikan bahwa Alex tak salah memberikan kepercayaan padanya.
...“Gue mau nginep disini nemenin Bram, kalo kalian mau pulang, pulang aja ga apa - apa” ucap Salim lagi...
...“Gue juga mau nginep, bentar gue izin dulu sama Vira” ucap Alex yang lalu bangkit untuk menghubungi istrinya...
...“Kalo lo sama Alex ga keberatan gue juga mau nemenin Bram” ucap Vicky, Salim mengangguk menyetujui itikad baik Vicky...
Dan ketiga sahabat itu berkumpul kembali untuk menjaga Bram, mereka tak keberatan meskipun harus tidur hanya beralaskan karpet tipis karena tak ada kamar lagi di rumah kontrakan Bram, hanya ada satu kamar yang kini dihuni oleh Bram, kehidupan Bram memang berubah total selepas ia diusir oleh orang tuanya, ia tak membawa apa pun bersamanya, bahkan semua kartu kredit dan ATM ia serahkan kembali pada orang tuanya demi membela prinsipnya untuk tak memandang orang berdasarkan status sosialnya.
Dan Bram kini bekerja di rumah sakit milik temannya, meskipun Alex sudah membujuk Bram untuk mengepalai rumah sakit miliknya, tapi Bram menolak, ia ingin memulai semuanya dari awal, agar ia bisa menemukan wanita yang tepat yang bisa menerimanya apa adanya, tanpa harta atau gelar ningratnya, do’a yang selalu ia rapal adalah ia menemukan wanita seperti Vira, dan Tuhan mengirimkan Hanum ke dalam hidupnya, Hanum mau menerima Bram apa adanya meskipun ia adalah putri keraton, dan hal itulah yang membuat Bram nekad meminang Hanum pada Romo dan Wening meskipun ternyata ia ditolak mentah - mentah karena kesalahan orang tua Bram pada Vira dulu.
Baik Alex, Salim, maupun Vicky hampir tak memejamkan mata, keadaan Bram memang tak terlalu parah tapi ketiganya larut dalam obrolan termasuk membahas solusi untuk permasalahan yang tengah dihadapi oleh Bram, selepas mereka menyantap makanan yang dikirimkan Francis, mereka kembali duduk bersama untuk menyusun rencana agar Hanum dan Bram bisa bersatu
...“Vira ga marah lo ga pulang?” Tanya Salim...
...“Vira mana mungkin marah Lim kalo tau gue kumpul sama kalian, dia justru mau nyusul kesini tadi, Vira khawatir sama kondisinya Bram” sahut Alex...
...“Gimana hubungan Vira sama keluarganya Lex? Mertua lo masih marah sama Tante Maryam gara - gara ngedukung Hanum sama Bram?” Tanya Vicky, ia memang sudah mendengar sedikit ceritanya dari Alex ...
...“Vira ngundurin diri jadi putri keraton Vick, dia juga minta Alevir untuk ga jadi Sultan” ucap Alex...
Baik Vicky maupun Salim terkejut dengan penuturan Alex
...“Serius lo Lex?” Tanya Salim, ia sampai membulatkan matanya...
...“Kenapa nyampe harus ngundurin segala sih Lex? Vira bukannya baru ketemu sama keluarganya ya?” Tanya Vicky...
...“Soalnya mertua gue ngancem kalo Vira dan Mama keukeuh ngedukung Hanum dan Bram, gue sama Vira disuruh cerai” terang Alex...
Salim dan Vicky lagi - lagi dibuat kaget
...“Wah itu sih namanya mertua lo keterlaluan Lex!” Tandas Salim geram...
...“Keputusan Vira tepat Lex, gue salut sama dia, lo beruntung dapet istri kayak Vira” ucap Vicky...
Alex mengangguk mengamini omongan Vicky, sebagai seorang laki - laki ia merasa begitu dihormati oleh istrinya yang rela meninggalkan status ningratnya demi dirinya.
...“Kita ga bisa tinggal diem aja Lex, masalah ini udah melebar kemana - mana, kasian Vira sama Alevir” ucap Salim...
...“Salim bener Vick, korbannya udah banyak” tambah Vicky...
...“Kalo menurut gue cuma Mamanya Bram yang bisa menyelesaikan semua konflik ini” ucap Alex...
...“Maksud lo gimana Lex? Lo lupa kalo Bram udah dibuang? dia udah ga dianggep sama Mamanya, jadi gimana Mamanya bisa menyelesaikan masalah Bram sekarang?” Tanya Salim bingung...
...“Iya juga Lex bener kata Salim, Mamanya Bram kayaknya ga mungkin mau terlibat masalah Bram lagi deh” ucap Vicky...
Alex menyunggingkan senyumnya
__ADS_1
...“Percaya sama gue, besok gue sama Salim datangin rumah Mamanya Bram, nah lo untuk sementara ga usah ngantor dulu, lo jagain aja Bram disini, ntar gue kirim dokter sama perawat buat ngerawat Bram” tutur Alex...
Vicky dan Salim saling pandang tak mengerti rencana Alex, tapi mereka percaya apa pun yang direncanakan oleh Alex pasti sudah melalui pertimbangan yang matang. Pada akhirnya Salim dan Vicky mengangguk setuju pada Rencana Alex.
...****************...
Sesuai dengan rencana Alex, keesokan paginya ia dan Salim berangkat menuju kediaman orang tua Bram setelah memastikan dokter dan perawat pribadi Alex telah datang untuk merawat Bram, sementara Vicky setia menjaga Bram sesuai dengan pesan Alex.
Butuh beberapa jam untuk sampai di kediaman mewah milik orang tua Bram, rumah itu jauh berbeda dengan rumah kontrakan yang ditinggali Bram sekarang, entah apa reaksi Mamanya Bram ketika melihat rumah sederhana di gang sempit yang sekarang menjadi tempat bernaung putra tunggalnya.
Mamanya Bram tersentak kaget ketika melihat kedatangan Alex, kalau Alex sampai turun tangan berarti ada masalah besar yang tengah terjadi
...“Maaf Nak Alex dan Nak Salim, ada apa ya?” Tanyanya pada Alex dan Salim begitu mereka telah mendudukkan diri di sofa...
...“Maaf atas kedatangan kami yang tiba - tiba Tante, ada yang mau kami bicarakan terkait Bram” tutur Alex...
...“Maaf Nak Alex, saya sudah tidak ada hubungan apa pun dengan Bram, jadi apa pun masalah dia udah ga ada hubungannya sama saya, lagian kenapa dia? Dia butuh duit? Udah saya duga dia ga akan bisa hidup tanpa fasilitas dari keluarganya” tutur Ajeng dengan senyuman sinisnya...
Alex menghela nafasnya sementara Salim menggeleng mendengar arogansi Ibunya Bram, kini ia mengerti kenapa Wening sampai mati - matian menolak hubungan Hanum dan Bram, jika saja Bram bukan sahabatnya, sudah pasti ia pun akan mendukung keputusan Wening.
...“Tante, semenjak Bram meninggalkan rumah ini, dia hidup dengan sangat baik dan terhormat, dia ga membutuhkan uang. Kalo dia butuh, Tante pasti tau kan kalo berapa pun yang dia minta saya dengan senang hati akan memberikannya pada Bram?” Tohok Alex, bukan bermaksud sombong tapi Alex pun jengah dengan arogansi Ajeng, sementara harta keluarganya Bram tak seberapa dibanding harta kekayaan Alex...
Ajeng menelan salivanya dan merutuki dirinya karena berani sombong di depan Alex
...“Saat ini Bram sedang sakit Tante” ucap Salim...
...“Loh kalo sakit tinggal dibawa ke rumah sakit, apa hubungannya dengan saya coba?” Sinis Ajeng...
Salim geram, Ibunya Bram benar - benar keterlaluan bahkan bertanya Bram sakit apa saja ia enggan
...“Sebenarnya Bram ga butuh Tante sih, dia bisa saya tangani dengan baik, bahkan sekarang dia sedang ditangani oleh dokter pribadinya Alex, kedatangan kami kesini cuma mau mengabarkan kalo sakitnya Bram itu gara - gara Tante” sinis Salim, ia mulai terbakar amarah...
...“Loh apa hubungannya saya dengan sakitnya Bram?” Tanya Ajeng...
...“Bram jatuh sakit akibat kesombongan Tante, Tante ingat penghinaan Tante terhadap Vira dulu kan? Kalau saya dan Vira sudah memaafkan, tapi tidak dengan keluarganya Vira, dan masalahnya sekarang adalah Bram jatuh hati pada sepupunya Vira, Hanum namanya, putri keraton. Bram bahkan sudah meminang Hanum pada orang tuanya, tapi begitu orang tua Hanum tau bahwa Bram adalah anaknya Tante, mereka dengan tegas menolak lamaran Bram, sama persis dengan penolakan Tante terhadap Vira dulu” tutur Alex ...
Ajeng hening, ia tak sanggup berkata apa - apa, hanya jantungnya yang memompa makin cepat, dadanya bergemuruh, hatinya sakit mendengar lamaran anaknya ditolak
...“Bram dan Hanum pada dasarnya saling mencintai, tapi keluarganya Hanum termasuk Kanjeng Sultan keukeuh untuk tidak menerima Bram sebagai menantu, mereka ga mau sampai besanan sama Tante” tambah Salim...
...“Penolakan beberapa kali dari keluarga Hanum lah yang membuat Bram menjadi down, Bram ga bisa melakukan apa pun selain menerima takdrinya sebagai anak Tante, saya sudah jadi seorang Ayah sekarang, buat saya kebahagiaan anak saya lah yang utama, tapi mungkin ini ga berlaku buat Tante” ucap Alex...
...“Maaf kalo omongan saya lancang, tapi Tante tahu siapa keluarga keraton kan? Tante tak mungkin menyombongkan diri Tante di depan keluarga keraton, harta Tante ga ada apa - apanya, kondisinya sekarang adalah keluarga Tante yang ditolak oleh keluarga keraton, dan itu karena kesombongan Tante, dan pada akhirnya Bram lah yang jadi korban” tambah Salim...
Ajeng membiarkan air matanya jatuh, bagaimana pun Bram adalah darah dagingnya, putra tunggalnya, Ibu mana yang mau anaknya tidak bahagia
...“Tante Maryam, Baba Jaber, bahkan Vira orang yang dulu Tante rendahkan berupaya meyakinkan keluarga Hanum, Vira bahkan sampai berselisih paham dengan keluarganya” tutur Salim...
Ajeng melayangkan pandangannya pada Salim
...“Gusti Kanjeng Ratu Vira membantu Bram?” Tanyanya lirih...
Salim mengangguk
Ajeng semakin terpuruk, keangkuhannya tidak hanya mengorbankan anaknya sendiri, tapi juga ikut menyeret orang lain. Dan kenyataan bahwa Vira yang dulu ia hina justru sekarang membela anaknya, membuatnya semakin malu atas keangkuhannya selama ini, apa yang ia punya dibanding Vira sekarang? Batin Ajeng
...“Lantas apa yang harus Tante lakukan Nak Alex?” Tanya Ajeng pada Alex ...
...“Kalo menurut saya sebaiknya Tante temuin Bram dulu, kasih dia support, kalo memang Tante merestui hubungan Bram dan Hanum, temui orang tuanya Hanum dan luruskan masalah ini segera” ucap Alex ...
__ADS_1
Ajeng mengangguk, ia lantas mengusap air matanya
...“Baik, sebentar Tante siap - siap dulu” ucap Ajeng sambil bangkit...
Alex dan Salim saling pandang, keduanya tersenyum lega, hanya Ajeng harapan mereka satu - satunya agar Bram diterima keluarga Hanum.
...----------------...
Selama berjam - jam perjalanan menuju rumah kontrakan Bram, Ajeng tak berhenti - hentinya menangisi nasib Bram sekarang, matanya memindai foto Bram di ponsel Salim yang tengah meringkuk tak berdaya. Terbayang di benaknya bagaimana rasa sakit Bram karena ditolak oleh orang tua gadis yang ia cintai.
Ajeng melangkah masuk ke dalam rumah kontrakan Bram dengan ragu, matanya memindai sekeliling rumah kontrakan Bram yang sederhana dan sempit, cat dindingnya yang mulai pudar, pintu yang sudah mulai keropos, tak ada sofa atau kursi di ruang tamu, hanya ada karpet tipis, namun yang paling membuatnya sedih adalah foto keluarga yang Bram gantung di dinding ruang tamunya, foto dimana ia duduk sendiri sedang Bram dan Papanya Bram berdiri di belakangnya, ternyata Bram tak sedikit pun melupakannya.
...“Kamar Bram disitu Tante” ucap Alex sambil menunjuk ruangan dengan pintu terbuka, tampak seorang dokter, perawat, dan Vicky yang berdiri di ambang pintu...
Ajeng melangkahkan kakinya pelan menuju kamar Bram, begitu sampai di ambang pintu hatinya mencelos melihat kondisi anaknya yang kini tengah terpejam, wajahnya pucat, tubuhnya lebih kurus dibanding terakhir ia melihatnya saat Bram diusir dari rumah, kulitnya pun tak seputih dulu. Ajeng menghambur memeluk Bram, naluri keibuannya tak rela melihat kondisi anaknya sekarang
...“Bram bangun, Mama datang” ucap Ajeng tersedu, ia tak sanggup melihat anaknya terpuruk seperti itu...
Bram yang belum terlalu lelap mengerjapkan matanya perlahan, lantas menoleh pelan pada Ajeng yang tengah terisak
...“Mama?” Ucap Bram pelan, ia bingung karena tiba - tiba Mamanya berada di sampingnya sambil menangis...
Ajeng mendongak, ia memandang anaknya yang tengah menatapnya sendu
...“Sayang, gimana keadaan kamu sekarang? Apa yang sakit?” Tanya Ajeng sambil membelai - belai kepala Bram dengan lembut...
...“Mama ngapain disini?” Tanya Bram masih bingung...
...“Mama ini Ibunya kamu, kalo kamu kenapa - kenapa Mama yang harus nemenin kamu Nak” sahut Ajeng...
...“Tapi bukannya Mama ga mau lagi punya anak aku Ma? Mama bilang aku anak yang ga berbakti” ucap Bram lirih...
Ajeng menggeleng
...“Kamu anak yang berbakti Nak, dan Mama bangga sama kamu, kamu mampu hidup tanpa fasilitas dari Mama. Maafin Mama ya Nak, karena keangkuhan Mama kamu jadi begini” jawab Ajeng yang kembali berurai air mata...
...“Mama jangan nangis, aku ga suka liat Mama nangis” ucap Bram sambil menggerakan tangannya perlahan ingin menghapus air mata Ibunya, Ajeng sigap meraih tangan Bram dan menggenggamnya erat...
...“Mama ga apa - apa Nak, Mama cuma seneng ketemu kamu lagi, kamu cepet sehat ya, kan kita mau ngelamar Hanum” ucap Ajeng ...
Bram mengerutkan keningnya
...“Mama udah tau soal Hanum?” Tanya Bram pada Ajeng...
...“Nak Alex dan Salim yang ngasih tau Mama Nak, dan kamu jangan khawatir, Mama merestui hubungan kalian, Mama yakin Hanum wanita yang baik seperti Gusti Kanjeng Ratu Vira” ucap Ajeng sambil menyunggingkan senyumnya...
Bram tersenyum lega, namun wajahnya kembali redup
...“Tapi orang tuanya Hanum ga setuju Ma” ucapnya sendu...
...“Kamu tenang aja, itu biar Mama yang urus, sahabat - sahabat kamu juga pasti mau bantuin” ucap Ajeng, Alex, Salim, dan Vicky yang berdiri di belakang Ajeng mengangguk setuju ...
Bram menyunggingkan senyumnya, semoga ini pertanda baik untuk hubungannya dan Hanum.
...“Makasih ya” ucapnya pada Alex, Salim, dan Vicky, ia tahu sahabatnya lah yang berperan dalam menyadarkan Mamanya dan membawa Mamanya untuk menemuinya. Salim mengacungkan jempolnya, sementara Alex menerbitkan senyumnya. ...
Satu masalah telah teratasi, ketegangan antara Bram dan Ibunya telah terurai, ketiga sahabat itu kemudian kembali merumuskan rencana agar keluarga Hanum mau menerima lamaran Bram. Alex sigap menghubungi Mama Maryam dan memintanya untuk segera datang ke Indonesia untuk melamar Hanum secara resmi. Awalnya Maryam kaget dan sempat menolak begitu mendengar bahwa Ajeng akan ikut serta, tapi setelah Alex menjelaskan bagaimana Ajeng sekarang, Mama Maryam pun menyanggupi untuk segera bertolak ke Indonesia.
Semuanya kini berharap agar keluarga Hanum bisa luluh, dan pada akhirnya merestui Hanum dan Bram dalam ikatan pernikahan.
__ADS_1
(Note Author: Tak terasa tinggal beberapa episode menuju tamat, terima kasih untuk like, komen, favorite, gift, serta votenya selama ini ya. Masih ditunggu like, komen, favorite, gift serta votenya tak lupa kritik serta saran tentunya 🥰🥰🥰🥰. Dan semoga teman - teman suka dengan karya kedua author nanti ya ❤️❤️❤️)