
Vira menatap jalanan lewat kaca jendela mobil di kursi penumpang, sesekali ia menghela pelan nafasnya, kejadian beruntun beberapa hari belakangan ini membuatnya sakit kepala, dari mulai stress menghadapi persiapan acara akad nikahnya, amarah dr. Salim yang bahkan nekad menciumnya, bertemu dengan keluarga besarnya, sampai Vicky yang mendatanginya kembali
Vira tersenyum miris, kehidupan bak roller coaster baginya, ia pernah merasakan titik nadir dalam hidupnya, kini ia tengah mereguk kebahagiaan yang selama ini ia impikan
Hujan deras tiba - tiba turun, membuat Pak Darto sopir Romonya Vira lebih pelan melajukan kendaraannya, tiba - tiba ponsel Vira berbunyi tanda pesan masuk
...“Sayang” tulis Alex di pesannya...
...“Iya sayang” balas Vira sambil senyum - senyum...
...“Kangen” tulis Alex...
...“Sabar, lusa kita ketemu lagi” balas Vira...
...“Belum nyampe rumah Romo juga?” Tanya Alex dalam pesannya...
...“Belum, masih di jalan” balas Vira...
...“Malam pertama kita jadi di rumah Romo?” Tanya Alex ...
...“Romo maunya gitu” balas Vira, ia lantas senyum - senyum sendiri membayangkan malam pertama dengan Alex...
...“Kenapa ga di hotel aja yang, di kamarku, kan jadi bebas” balas Alex lagi...
...“Bebas ngapain?” Balas Vira polos...
...“Teriak - teriak” balas Alex singkat namun sukses membuat pipi Vira merona malu...
Vira hendak membalas Alex ketika tiba - tiba mobil di rem mendadak oleh Pak Darto
Vira lantas memasukkan ponselnya ke dalam tasnya
...“Pak Darto, ada apa?” Tanya Vira...
...“Anu Raden Ajeng sepertinya ada orang di depan, coba saya liat dulu” ucap Pak Darto seraya keluar dari dalam mobil...
Vira celingukan mencoba mencari tahu apa yang terjadi di depan, gelap gulita membuatnya tak bisa melihat apa - apa, tak ada lampu penerangan apa pun disana, hanya sorot lampu mobil yang menerangi jalan yang akan dilalui.
Beberapa menit sudah berlalu namun Pak Darto belum juga kembali ke mobil, Vira menoleh ke kiri dan ke kanan, hujan deras membuat pandangan Vira terbatas, gelap menyelimuti sekeliling Vira saat ini
Vira yang khawatir akan kondisi Pak Darto kemudian nekad memberanikan diri turun dari mobil
Baru saja ia keluar dari mobil ketika ia merasa pandangannya gelap, nafasnya sesak, seseorang telah menutup kepala Vira dengan kain berwarna hitam, tak lama Vira merasakan sakit di tangannya seperti tergigit semut, lama - lama Vira melemas, ia kemudian limbung tak ingat apa pun
Beberapa saat kemudian, Vira mengerjap - ngerjapkan matanya pelan, kepalanya pusing, badannya terasa lemah tak berdaya, Vira hanya mampu menoleh ke kiri dan ke kanan mencoba mencari tahu dimana ia sekarang, Vira mencoba bangkit tapi raganya seolah tak ada tenaga, bahkan jari kakinya pun sulit ia gerakkan, Vira merinding, jantungnya berdebar kencang, ia panik. Ia ingat rasa sakit ditangannya tadi sepertinya suntikan, ia telah disuntik entah oleh obat apa, yang pasti kini dia merasa lumpuh
Vira memindai seluruh ruangan yang asing baginya, ruangan itu tampak seperti sebuah kamar yang luas di sebuah rumah atau mungkin Villa
Suara hening sesaat, sebelum kemudian suara derit pintu bersamaan dengan suara derap sepatu orang yang masuk
Vira hendak beringsut dan melihat siapa yang masuk, tapi tubuhnya benar - benar tak berdaya, ia hanya terkulai lemas disana, hanya kepalanya saja yang mampu menoleh ke kiri dan ke kanan
__ADS_1
Derap sepatu itu makin mendekat, membuat jantung Vira semakin tak karuan, do’a - do’a ia rapalkan dalam hatinya meminta pertolongan dari sang Kuasa
Vira menoleh pelan ke arah suara sepatu dengan wajah yang sudah berlinang air mata, hingga mata Vira membulat, bibirnya gemetaran, jantungnya memompa cepat tatkala ia melihat Vicky berdiri disana
Vira hendak bicara, ia ingin mengumpat tapi suara pun seolah tak bisa keluar dari mulutnya
Vicky maju mendekat, ia kemudian duduk disamping Vira yang tak berdaya
...“Vira, sayang jangan nangis, ini aku” ucapnya sambil membelai pipi Vira yang basah, Vira hanya mampu menatap Vicky dengan tajam...
...“Aku kangen” ucap Vicky lagi, ia lalu beringsut naik ke kasur dan berbaring menyamping di samping Vira, Vira yang tak berdaya memalingkan wajahnya perlahan...
Vicky mengendus - endus rambut Vira yang basah akibat kehujanan campur keringat, ia lalu menciumi rambut Vira penuh cinta
Vicky lantas merentangkan tangannya memeluk perut Vira seolah mereka pasangan yang tertidur bersama dengan penuh cinta
...“Kamu ga tau sesakit apa aku saat kamu pergi Vir” ucap Vicky lirih, Vira tak bergeming ia sekuat tenaga mencoba menggerakan badannya yang lumpuh...
...“Aku kangen banget sama kamu, tiap hari Vir!” Ucap Vicky lagi...
...“Apalagi setelah aku tahu kamu sempat hamil anak kita, aku makin tersiksa Vira, tiap hari aku liatin kuburan janin kita” ucapnya serak...
Vicky lalu beringsut pelan, ia kini tepat berada di atas badan Vira dan mengungkungnya, mata Vira membulat menyampaikan sumpah serapahnya
...“Kamu cuma milikku Vira, kita akan bersama lagi, malam ini aku akan memberi kamu anak lagi yang akan kita asuh bersama, kita akan bahagia bersama” ucap Vicky, Vira menggeleng pelan, air matanya jatuh bercucuran, hatinya mengumpat, berteriak dan meminta tolong...
Vira memaksakan tenggorokannya untuk meloloskan kata - kata yang sulit ia ucapkan
Vicky kemudian menatap Vira penuh damba, matanya berbinar - binar
...“Kamu cantik Vira, anak - anak kita pasti lucu - lucu” ucap Vicky lagi, kini jarinya mulai menari di atas leher Vira, kemudian ia mulai menciumi leher Vira perlahan, lalu menelusuri leher jenjang itu dengan lidahnya...
Vira menggeleng - geleng sekuat tenaganya, mencoba menghalau kepala Vicky dari lehernya
...“Ja - jangan” ucap Vira lemah, air mata tak berhenti menetes dari matanya...
Vicky kemudian menciumi pipi Vira yang basah bertubi - tubi, meluahkan rasa kangennya yang membuncah, lalu mengecup bibir merah Vira beberapa kali dan memagutnya, Vira semakin panik, ia menggeleng ke kiri dan ke kanan mencoba melepaskan pagutan Vicky padanya
Vicky mengurai pagutannya, matanya mengabut, nafasnya memburu
...“Aku ga tahan Vir, kamu makin cantik, malam ini akan aku pastikan kita akan punya anak lagi, jadi Alex ga bisa berharap nikah dengan kamu lagi Vir” ucap Vicky seraya membuka kancing dress Vira satu per satu. Hancur sudah hati Vira, hidupnya yang beberapa hari ini terasa indah kini hancur sudah, ia tak mungkin menikahi Alex setelah ia dinodai oleh Vicky, Vira terisak, air matanya mengalir deras...
Vicky tak peduli, matanya mengabut melihat dada Vira yang ditutupi penutup bra berwarna hitam, Vicky menelan kasar Salivanya, membuat jakunnya naik turun.
...“Sayang” ucapnya serak sambil menyibak penutup bra Vira lalu menciuminya rakus, Vira menggeleng - geleng sekuat tenaga dengan tangis yang tak henti - henti...
Vicky kemudian membuka kancing kemejanya satu per satu, tak sabar ingin menyatu dengan mantan istrinya, ia kemudian merenggangkan kaki Vira yang tak berdaya, setelah itu ia membuka gespernya, lalu menurunkan celananya dengan tergesa, baru saja ia hendak mengungkung Vira lagi ketika pintu di dobrak
Braaaakkk…
Vicky terlonjak, di ambang pintu nampak Alex yang langsung menyeruak menghambur ke arah Vira dan menutupi badannya yang telah terbuka dengan jaketnya
__ADS_1
Vicky mendelik tajam, ia menoleh ke arah pintu mencari Theo, tiba - tiba Francis muncul dan buuuuuggg
Satu pukulan ke rahang Vicky membuat pria itu terhuyung, tak puas sampai disitu bogem mentah juga mampir ke pipi Vicky membuatnya jatuh terlentang
Alex mendudukkan Vira dengan lembut dan memastikan baju Vira telah tertutup, ia lalu beranjak ke arah Vicky yang sedang telentang
Dan buuuug, buuugg, buuuuggg, bogem Alex membabi buta memukuli Vicky, mata Alex memerah, tak ada belas kasih lagi di wajahnya
Vira yang melihat Alex tengah mengamuk tak bergeming, ia menatap Vicky yang tergolek tak berdaya dengan dingin, seolah tak peduli apa yang akan terjadi pada Vicky, jikalau tak mengetahui kisahnya Vira tampak seperti wanita sadis yang tak punya hati.
Umar yang baru masuk dengan buku tangan yang berlumuran darah segera menghambur ke arah tuannya lalu menahan badan tuannya bersama dengan Francis
...“Tuan, hentikan, dia sudah hampir mati” ucap Francis...
...“Betul Tuan, ingat lusa Tuan menikah” ucap Umar...
Alex menghela kasar nafasnya sambil melihat Vicky dengan wajah yang berlumuruan darah
...“Kamu menjijikan Vicky!” Ucap Alex, ia lalu menghambur menuju Vira dan membopong Vira keluar dari rumah itu, sekilas sepanjang jalan ia melihat para bodyguard Vicky yang tergolek tak berdaya di libas oleh para bodyguard Alex yang berada di samping mereka, sementara Theo sedang berlutut dengan tangan terikat dan wajah babak belur...
Alex dan Vira keluar, diekori oleh Francis dan Umar serta bodyguard Alex yang tengah membimbing Pak Darto yang terhuyung - huyung, sesekali Pak Darto memijit kepalanya yang tadi ditimpuk oleh bodyguard Vicky menggunakan kayu
Vira dan Alex serta orang - orangnya kemudian masuk ke dalam mobil dan berlalu dari sana menuju kediaman Romo Vira
Sepanjang perjalanan Vira tak henti - hentinya menangis di dada Alex, Alex merengkuh tubuh Vira erat, sesekali ia menciumi pucuk rambut wanitanya itu
...“Tuan, apa kita akan melaporkannya kepada pihak berwajib?” Tanya Francis yang tengah menyetir, disampingnya duduk Pak Darto...
...“Tolong urus sampai beres, nanti saya akan bicara dengan Romo untuk memundurkan hari pernikahan” ucap Alex ...
Vira mendongak
...“Jangan Lex, jangan beri tahu soal ini pada Romo atau pada siapa pun juga, aku ga mau ada yang tau selain kita, dan aku ga mau pernikahan kita diundur dengan alasan apa pun” tutur Vira dengan suara yang masih lemah, beruntung efek obat bius sudah mulai hilang darinya...
Alex menghela pelan nafasnya
...“Ya udah kalo kamu maunya gitu, tapi kamu yakin kamu siap untuk acara nikah nanti Vir? Kamu masih syok, kamu harus menenangkan diri dulu” ujar Alex...
...“Ga, pokoknya lusa kita nikah, udah terlalu banyak hal yang terjadi menjelang pernikahan kita, entah apa yang akan terjadi lagi Lex, tapi aku takut kalo ditunda lagi ujung - ujungnya kita ga jadi nikah” tutur Vira, Alex mengeratkan pelukannya...
...“Kita akan jadi nikah Vir, lusa aku akan ngucapin ijab kabul, dan ga akan ada yang terjadi lagi, aku janji” tandas Alex...
Vira menghela pelan nafasnya yang sesak, entah musibah apa lagi yang ia harus terima di depan, kehidupan seolah berpihak hanya sebentar padanya, setelah itu ia terus di dera masalah
Mobil menepi di depan rumah Romo Vira
...“Lex, kamu ga usah turun.. kita harusnya ga ketemu dulu karena masih pingitan, kalo Romo dan Ibu tau mereka pasti marah dan nyari tau apa yang terjadi” tutur Vira...
Alex mengangguk patuh, mengerti akan kekhawatiran Vira, Vira pun berpesan pada Pak Darto untuk tidak menceritakan apa terjadi kepada Romonya. Setelah memastikan sang pujaan hati masuk ke dalam rumah Romonya dengan aman, Alex kemudian beranjak dari rumah Vira dengan dada yang bergemuruh, ia tak habis pikir bagaimana bisa Vicky melakukan hal serendah itu pada Vira, beruntung Alex bisa melacak GPS di ponsel Vira hingga ia bisa menemukan Vira tepat waktu, kalau tidak entah apa yang akan terjadi pada Vira.
Dan entah terbuat dari apa hati Vira, bahkan setelah Vicky hampir menodainya, ia tak ingin Alex melaporkannya pada polisi karena merasa kasihanpada Diah yang hanya memiliki Vicky.
__ADS_1
Mobil Alex melaju seiring dengan amarah yang membuncah di hati Alex, entah apa yang kini akan ia lakukan pada Vicky dan keluarganya.