
Praaaang.. suara remote TV tepat mengenai layar TV besar di kamar VIP rumah sakit yang Vicky huni. Ia belum boleh bergerak banyak oleh dokter, tapi rasa sakit hatinya melihat pernikahan Vira dengan Alex membuatnya badannya serasa kebas
...“Viraaaaaa!!!” Pekiknya sambil meraung, jarum infus yang masih terpasang di tangannya ia cabut begitu saja sehingga darah segar keluar dari tangannya, beberapa perawat dan dokter datang menghambur mencoba menenangkan Vicky yang tengah mengamuk dan hendak beringsut turun dari ranjang...
Hati Vicky terbakar panas melihat liputan ulang pernikahan akbar Alex dan Vira di salah satu TV swasta, ia yang masih babak belur bahkan sudah lupa betapa menyakitkannya pukulan Alex, kini hatinya jauh lebih sakit melihat mantan istrinya yang cantik tersenyum bahagia bersama sahabatnya sendiri
...“Viraaaaa!!!” Pekiknya lantas menangis meraung - raung, perawat dan dokter masih sibuk menahan badannya agar tak meninggalkan tempat tidur...
...“Pak Vicky, tolong jangan nekad, kondisi anda masih sangat lemah!” Ujar seorang dokter...
Vicky menggeleng, air matanya merembes sudah membasahi perban yang terbalut dimukanya, bercampur dengan darah dan obat luka yang masih basah
...“Viraaaaaa!” Pekiknya lagi tak putus asa, seolah Vira ada di depannya...
Perawat dan dokter saling tatap, kemudian sang dokter mengangguk kepada perawat yang langsung sigap menahan tangan dan kaki Vicky, satu suntikan diberikan kepada Vicky untuk menenangkannya, nafas Vicky yang terengah - engah perlahan menjadi teratur, kini ia terpejam tenang. Perawat sigap membenarkan posisi tidurnya, lantas membersihkan darah dari tangannya dan kemudian menginfus tangan Vicky kembali.
Diah yang dari tadi setia berdiri menyaksikan anaknya di ambang pintu hanya bisa menangis terisak dengan menutup mulutnya
Seorang dokter yang menyadari ada Diah disana kemudian menghampiri Diah dan menatap Diah prihatin
...“Maaf Bu, kalau Pak Vicky seperti ini terus maka proses penyembuhannya akan berlangsung lama” ucap dokter tersebut lirih...
Diah mengusap kasar air matanya
...“Terus apa yang saya harus lakukan dok?” Tanya Diah pasrah...
Dokter tersebut mengela nafasnya
...“Begini Bu, proses penyembuhan itu bukan hanya tergantung penanganan kami atau obat - obatan yang kami berikan, itu juga tergantung pada kemauan si pasien sendiri, kalau dia tidak ada motivasi untuk sembuh maka proses sembuhnya akan lama” tutur dokter tersebut...
__ADS_1
...“Maksud dokter?” Tanya Diah...
...“Maksud saya Ibu harus membuat Pak Vicky termotivasi untuk sembuh, coba Ibu bicarakan hal - hal yang menyenangkan dengan Pak Vicky” ucap dokter itu...
Diah termenung, apa yang lebih menyenangkan buat Vicky sekarang selain Vira? Namun Vira tak mungkin bisa digapai lagi ia sudah menikahi Alex, dan Alex bukan orang sembarangan, jangankan untuk merebut Vira, membayangkan punya perkara saja dengan keluarganya membuat orang merinding.
...“Bagaimana Bu?” Ucap sang dokter memecah lamunan Diah...
...“Ah iya dok, baik.. nanti saya coba akan bicara dengan Vicky” tutur Diah terbata...
...“Baik kalau begitu, saya permisi” ucap sang dokter yang kemudian beranjak keluar diekori para perawat yang sudah selesai menangani Vicky...
Sepeninggal dokter dan perawat Diah melangkah gontai mendekati anaknya yang tergolek tak berdaya, Diah kemudian mendudukkan dirinya di kursi samping tempat tidur Vicky
Air matanya kembali menetes
Jika ini karma dari perbuatannya dan Vicky terhadap Vira, maka ini terasa sangat menyakitkan baginya, apakah Vira sesakit ini saat ia dibohongi dan dikhianati Vicky dengan wanita lain, apakah sesakit ini juga ketika ia melihat suaminya sendiri tengah bergumul dengan wanita lain di depan matanya, dan apakah sesakit ini saat ia diseret dan ditampar oleh suaminya sendiri?
Ponsel milik Diah berdering, ia lantas mengusap air mata di pipinya dan meraih ponsel di tasnya
...“Halo Mba Ningsih” ucap Diah pada Ningsih yang menghubunginya...
...“Halo Diah, kamu nonton berita pernikahan Vira di TV ga?” Cerocos Ningsih ...
...“Iya Mba, aku tadi liat di TV” ucap Diah lemah, enggan membahas hal yang membuat anaknya hampir gila...
...“Itu apa bener dia kemenakannya Kanjeng Sultan Diah? Kok kamu ga pernah ngasih tau toh Diah, kalau tau dia kemenakannya Kanjeng Sultan kan dari dulu kita udah nerima dia, ga perlu nyampe bikin Vicky sama Vira cerai!” Ningsih sewot...
Diah menghela kasar nafasnya
__ADS_1
...“Aku juga baru tau hari ini Mba, pas liat acara nikahan Alex sama Vira di TV” sahut Diah...
...“Kamu tuh emang bodoh Diah, harusnya kamu itu mengulik kehidupan mantumu, gara - gara kamu ini kita kehilangan kesempatan buat besanan sama Kanjen Sultan!” Tandas Ningsih meradang...
Diah hening, entah ia harus bicara apa, yang pasti ia tahu kini bagaimana tabiat saudaranya
...“Ini kalo Vira ngadu macem - macem sama Kanjeng Sultan terus sama suami dan keluarganya bisa habis kita Diah, semuanya gara - gara kamu ini!” Tambah Ningsih lagi berapi - api, Diah sama sekali tak menyahut, la lebih memilih mengakhiri pembicaraan dengan Ningsih...
Baru saja ia meletakkan ponsel di meja, ponselnya kembali berdering
...“Halo Mba Asri” sapanya pada sepupunya...
...“Diah, kamu liat nikahan akbar Vira Alex ga?” Setali dua uang dengan Ningsih tadi, Asri langsung menyembur Diah dengan pertanyaan yang sama...
...“Liat Mba” jawab Diah singkat...
...“Kamu ini gimana sih Diah, kok bisa - bisanya kamu ndak tau kalo Vira itu keponakannya Kanjeng Sultan?” Todong Asri...
Diah kembali mengela kasar nafasnya
...“Aku ga tau Mba, setau aku dia ya yatim piatu dan ga jelas asal usulnya” ucap Diah datar...
...“Halah kamu ini, emang dari dulu ndak bisa diandelin.. coba kalo tau Vira itu keponakannya Kanjeng Sultan, ya kita pastu perlakukan dia dengan baik toh!” Tandas Asri, Diah lagi - lagi tak bergeming...
...“Awas aja ya Diah kalo Vira ngadu macem - macem soal kita semua ke Kanjeng Sultan, kamu yang mesti tanggung jawab!” Tutur Asri seraya menutup teleponnya...
Diah menatap nanar ponselnya, hatinya sakit luar biasa, saudaranya sendiri memojokkannya pada saat dia benar - benar sedang membutuhkan dukungan mereka
Ponsel Diah kembali berdering, namun kini ia tak menggubrisnya, nama Murni tertera disana dan Dia tahu apa yang akan dibicarakan Murni pasti tak jauh - jauh dari yang ditanyakan kedua sepupunya tadi, tak ada satu pun yang menanyakan bagaimana kondisi Vicky, seolah berita pernikahan Vira jauh lebih penting dibanding kondisi Vicky sekarang. Diah memindai anaknya yang masih terpejam, ia lalu membelai rambut anaknya yang kini acak - acakan tak terawat, air mata kembali mengalir di pipinya.
__ADS_1
Ponselnya terus berdering, sepupu - sepupunya bergantian menghubunginya, Diah semakin terpuruk, tangisnya tak kunjung usai.