
...Vicky memijit pangkal hidungnya, beberapa hari ini ia mendapat email laporan transferan dari Utari ke nomor rekening yang ia tidak tahu itu siapa dalam jumlah yang sangat besar, total sudah 15 M yang berkurang dari kartu debit yang diberikan Vicky pada Utari hanya dalam waktu 5 hari ...
...Pagi tadi Vicky sudah menanyakan pada Utari, tapi kemudian Utari menangis dan berkata bahwa uang itu ia transfer untuk membantu temannya yang sedang kesulitan keuangan, Diah yang sudah pulang dari Bali membela Utari habis - habisan, Ibunya malah memuji Utari yang mau membantu temannya dan minta Vicky untuk tidak membesar - besarkan, jangan ditanya bagaimana Gendis membela anaknya, Gendis bahkan mengancam akan membawa Utari dan anaknya pergi kalau Vicky memarahi anaknya lagi, Vicky akhirnya mengalah meskipun hati kecilnya tak mempercayai Utari...
Kejadian itu kembali mengingatkan Vicky pada kembali pada kartu - kartu debit dan black card yang dikembalikan Vira, Vicky membuka laci meja kerjanya.. merogoh setumpuk kartu dari sana, ia lalu menjejerkan kartu - kartu itu di atas mejanya.
... Selama pernikahan mereka Vira tidak pernah menggunakan black card itu, tiap bulan Vira hanya menggunakan uang dari kartu debit itu pun dalam nominal yang sangat sedikit, sebagian ia transfer rutin per bulan untuk anak - anak panti, sebagian kecil lagi ia pakai untuk kebutuhannya pribadi, Vira justru mengeluarkan uang yang jauh lebih banyak untuk membeli baju - baju Vicky dan keperluan Vicky yang lain. ...
...Vira juga kerap menolak ketika akan dibelikan tas, baju, atau perhiasan mahal, hingga Vicky dan Maminya kerap memaksa Vira untuk mau menerimanya, Vira sangat sederhana, namun kecantikannya tak hilang dalam tampilan sederhananya. ...
...Utari sangat berbeda dengan Vira, hampir tiap Minggu Utari akan membeli baju atau tas dengan harga ratusan juta, bahkan kemarin Vicky membelikannya 1 set berlian bernilai milyaran rupiah....
...Benar kata orang, kita akan merasa kehilangan ketika orang tersebut telah tiada, itu yang Vicky rasakan sekarang, segala kebaikan Vira kembali memenuhi pikiran Vicky...
...Vicky menyesal, sangat menyesal melepaskan berlian langka yang tak ternilai, dan kini berlian itu entah terkubur dimana, ia tak kunjung menemukannya...
...Semakin ia ingat Vira, semakin ia menginginkan wanita itu...
...“Sial!!!!!!!!” Pekik Vicky sambil memukul mejanya...
...Vicky menelungkupkan kepalanya di atas meja, memutar otaknya kembali mengira - ngira kemana Vira pergi, hingga kemudian ia teringat dua sahabatnya yaitu Bram dan Salim, kedua orang itu terlihat dalam rekaman CCTV di rumah Vicky sebelum Vira pergi...
...Vicky kemudian duduk lalu menyambar ponsel di atas meja kerjanya, ia kemudian mencoba menghubungi Bram namun sahabatnya itu tak menggubrisnya, ia lalu menghubungi Salim.. Salim bahkan menolak panggilannya...
Vicky menarik rambutnya frustasi, entah kenapa beberapa bulan ini dua sahabatnya itu pun tak mau ia hubungi
...“Apa mereka ada hubungannya dengan kepergian Vira?” gumamnya ...
...“Tapi tidak tidak, Vira tidak mungkin seperti itu” gumamnya kemudian ...
...“Aku harus menemui Salim dan Bram” gumamnya lalu bangkit dari tempat duduknya dan beranjak untuk menemui Salim dan Bram...
...****************...
...Sementara itu di rumah Bram, Salim dan Bram tengah membicarakan laporan dari Leni yang diterima Salim tempo hari...
...“Jadi kemungkinan Vicky bukan Bapak anak yang di kandung si Utari? Tanya Bram ...
...“Menurut apa yang di denger sama Leni sih gitu” jawab Salim santai...
...“Aahhh ini gila namanya, perempuan macam apa tuh si Utari!” Pekik Bram gemas ...
Tiba - tiba ponsel Bram berbunyi
...“Si kunyuk nelepon” kata Bram sambil memperlihatkan layar ponselnya pada Salim, telepon dari Vicky tak kunjung dijawab oleh Bram hingga bunyi ponselnya berhenti...
Tak lama giliran ponsel Salim yang berbunyi, Salim melihatnya sebentar kemudian menolak panggilan itu
__ADS_1
...“Si kunyuk?” Tanya Bram penasaran ...
...“Heem” jawab Salim acuh...
Mereka kemudian hening sibuk dengan pikirannya masing - masing, Vira lah yang menjadi fokus pikiran mereka, tak jauh dari Vicky perasaan semakin menginginkan itu semakin besar setelah Vira pergi, baik Bram atau Salim tak henti mencari Vira mengerahkan semua sumber daya yang mereka punya, mereka sama - sama ingin bertemu dan berjuang mendapatkan Vira janda dari sahabat mereka sendiri.
Biarlah mereka bersaing, mereka akan bersaing secara sehat, siapa pun yang berhasil meluluhkan Vira akan didukung.
...“Masalah dokter sama perawat yang disewa Tante Gendis udah ada kabar terbaru lagi belum?” Tanya Salim memecah keheningan...
...“Kemarin udah nemu lagi, tapi pas gue ngirimin fotonya ke Leni, Leni bilang bukan” jawab Bram yang kemudian menyeruput minumannya...
...“Gue tambahin orang gue buat nyari deh, ntar lo kasih daftar rumah sakit mana aja yang udah lagi cek, orang gue ntar bantuin nyari di rumah sakit lain” ujar Salim...
...“Iya ntar gue minta sekretaris gue hubungin orangnya lo” jawab Bram...
...“Lim” ...
...“Heeem” jawab salim singkat...
...“Gimana kalo Vira udah ga ada Lim?” Tanya Bram dengan pandangannya yang tiba - tiba kosong, pikiran menakutkan itu tiba - tiba muncul...
...“Maksud lo ga ada gimana, emang dia ga ada kan, dia pergi Bram, ini kita lagi nyariin dia” tukas Salim sambil fokus memakan kudapan di depannya...
...“Bukan itu, maksud gue gimana kalau dia nyusul...
...anaknya?” jawab Bram...
...“Ya lo tau kan kayak apa hancurnya Vira waktu itu, dia kayak mayat hidup Lim, tubuhnya aja yang gerak tapi gue tau jiwanya mati” ucap Bram yang kemudian memijit pelipisnya...
...“Udah ah jangan mikir macem - macem, yang penting sekarang kita harus nemuin dia dulu, kita juga harus bisa ngumpulin bukti kejahatan Tante Gendis, Vira berhak dapat keadilan” ujar Salim mencoba mengubur pikirannya yang menakutkan, ...
Bram mengangguk, ia kemudian menghempaskan punggung kekarnya ke sandaran sofa di ruang tengah rumah mewahnya
Tak lama seorang perempuan baruh baya tergopoh menghampiri Bram
“Tuan, maaf.. anu itu Tuan Vicky datang” ujar wanita tua itu, Bram dan Salim seketika berdiri mendengar derap sepatu yang kian mendekat, Vicky muncul dengan masih menggunakan setelan suite mahalnya
...“Bram, Lim.. kalian berdua kenapa ngehindarin gue?” Tanya Vicky dengan muka penasarannya...
Salim acuh, dia lantas duduk kembali dan lanjut memakan kudapannya
...“Ngapain lo kesini kuny eh Vick?” Hampir saja Bram keceplosan memanggil Vicky dengan sebutan barunya untuk sahabatnya itu...
...“Sejak kapan lo nanyain alasan gue datang kesini, biasanya juga gue bebas datang kapan aja kan?” Tanya Vicky kemudian...
...“Semenjak apa yang lo lakuin sama Vira, gue ga mau lo bebas keluar masuk gitu aja ke rumah gue” tegas Bram dengan wajah dingin...
__ADS_1
...“Maksud lo? Oh Vira cerita ya sama lo berdua?” Tanya Vicky mulai berapi...
...“Bukan Vira, lo tau lah itu perempuan baiknya kayak apa, dia ga mungkin ngadu macem - macem soal suaminya sama orang lain, eh sorry mantan suami ya?” Tutur Bram sambil tersenyum sinis...
Vicky mulai terbakar, ia mengepalkan tangannya kuat demi meredam emosinya mendengar Bram memanggilnya mantan suami Vira, sungguh ia tak rela
...“Terus siapa yang cerita hah?” Tanya Vicky penasaran...
...“Bi Welas yang cerita sambil nangis - nangis!” Jawab Bram dengan nada tinggi...
...“Lo gila ya Vick, apa sih yang ada di otak lo? Lo dikasih kesempatan buat jadi suami perempuan sebaik Vira, tapi lo sia - siain, lo injek harga dirinya, lo injek kehormatannya, padahal gue saksi mata gimana lo ngejar - ngejar Vira saat dia nolak lo mentah - mentah!” Cerocos Bram mengeluarkan unek - uneknya...
Vicky terdiam, tenggorokannya tercekat, kepalanya tertunduk
...“Gue ga tega liat Vira waktu itu, dia kayak ga punya nyawa, wajahnya pucet kayak mayat, dia hampir mati kehabisan dar.. “...
...“Bram!!” Sentak salim yang membungkam Bram, Bram merutuki dirinya yang hampir keceplosan menceritakan perihal kandungan Vira yang digugurkan oleh Gendis, mereka belum punya bukti jadi belum waktunya untuk Vicky tau soal itu...
...“Apa.. apa yang lo berdua sembunyiin soal Vira dari gue?” Tanya Vicky ...
...“Nyembunyiin apa maksud lo?” Kali ini Salim yang angkat bicara, ia bangkit dari sofa dan berjalan mendekati Vicky...
...“Gue liat lo berdua pas sebelum Vira pergi dari rumah, lo berdua habis ngapain dari rumah gue? Lo ngomong apa sama Vira nyampe dia pergi hah?” Tuduh Vicky...
Dan buuuuuuuuuuggggg
...Tinju Salim pas mengenai rahang Vicky yang seketika terhuyung, Vicky terduduk di sofa sambil mengusap darah segar di sudut bibirnya...
...“Lim Lim, udah udah.. lo ga usah ngotorin tangan lo buat dia” ujar Bram yang dengan sigap mendekati Salim yang tengah mengeluarkan amarahnya, Salim menatap Vicky dengan penuh kebencian...
...”Denger baik - baik sama lo ya kunyuk, gue sama Bram datang kesana untuk gantiin posisi lo yang ga ada buat Vira pada saat dia di titik paling kritis dalam hidupnya!” ...
...“Gue yang dampingin ketika dia bolak balik konsul sama gue untuk bisa cepet - cepet punya anak buat bahagiain lo sama Tante Diah, dan lo malah enak - enakan sama bini muda lo!” ...
...“Bram yang ngerawat dia ketika Vira sakit nyampe muntah - muntah di hari Bu Citra meningga!” ...
...“Dan lo seenaknya nuduh gue sama Bram menghasut Vira buat pergi dari lo gitu? Tanpa gue atau Bram suruh pun dia pasti akan pergi dari hidup lo setelah apa yang lo sekeluarga lakuin sama dia” ...
...“Dia emang miskin, dia yatim piatu, tapi dia manusia Vick! Dia punya perasaan!” ...
...“Lo nginjek harga diri dia sebagai seorang perempuan, lo memperlakukan dia kayak sampah!”...
...“Sekarang nikmatin penyesalan lo karena kehilangan perempuan yang lo ga akan bisa dapetin lagi, gue pastiin itu” ...
...Salim mengeluarkan semua unek - uneknya dengan kemudian berlalu dari sana dengan tangan terkepal menahan amarah yang masih membara ...
...Bram melihat punggung Salim yang semakin berlalu, ia kemudian melihat Vicky dan lalu tersenyum sinis, kemudian ia pun berlalu dari sana dengan setengah berlari untuk menyusul Salim ...
__ADS_1
Vicky yang masih terduduk di sofa tersenyum miris mengingat nasibnya sekarang, kedua sahabatnya sejak kecil kini meninggalkannya, wanita yang begitu ia cintai pun kini entah kemana, Vicky memijit pangkal hidungnya merasakan rembesan air matanya.
“Vira” gumamnya lirih