
...“Ayo makan dulu Nduk, kamu udah dua hari ga makan - makan, gimana kamu bisa sembuh Nduk?” Tanya Wening pada Hanum yang kini tergolek tak berdaya, setali tiga uang dengan kekasih hatinya Bram, Hanum pun jatuh sakit bahkan kondisinya lebih parah dibanding Bram karena ia tak mau makan sama sekali, Hanum hanya berbaring dan sesekali terisak. ...
...“Nduk, makan ya, kata dokter kamu harus makan supaya ga lemes gini, kamu juga kan harus minum obat Nduk” ucap Romo, tangannya lembut mengelus pelipis Hanum, namun Hanum segera memalingkan mukanya, enggan disentuh oleh Ayahnya itu...
...“Hanum ga mau makan, biar Hanum mati sekalian, ngapain Hanum hidup kalo hanya untuk melihat keegoisan keluarga Hanum sendiri” tandas Hanum...
Wening mengelus dadanya mendengar ucapan anaknya itu, sementara Romo hanya tertegun
...“Biar Ibu dan Romo puas, Mba Vira sudah ga mau jadi bagian keluarga ini, Hanum juga ga mau!” Sengit Hanum lagi, bibirnya yang kering itu sekuat tenaga mengeluarkan unek - unek dalam hatinya...
...“Kamu ga boleh ngomong gitu Nduk, ga baik” tutur Romo...
...“Selama ini Hanum selalu menuruti keinginan Romo dan Ibu, Hanum ga pernah macem - macem, semua pakem putri keraton Hanum laksanakan, bahkan Hanum mencari calon suami sesuai dengan kriteria yang Romo dan Ibu inginkan, yaitu laki - laki baik dan bertanggung jawab, tapi ketika Hanum udah nemu calon suami yang Hanum cintai dan juga sesuai kriteria kalian, kenapa kalian tega menolaknya?” Tutur Hanum lagi, suaranya nyaris tak terdengar, tak banyak tenaga yang ia punya sekarang. ...
...“Hanum, itu karena orang tuanya bukan karena Bram” ucap Wening...
...“Apa Mas Bram bisa memilih lahir dari orang tua yang mana Bu?” Tanya Hanum lirih, air matanya perlahan menetes ...
...“Kalo boleh memilih Hanum juga ga mau lahir dari orang tua yang egois seperti Ibu dan Romo!” Tandas Hanum yang seketika membuat Wening meradang...
...“Hanum, jaga bicara kamu!” Sentak Wening, Romo seketika menghampiri istrinya dan mengelus - elus punggungnya untuk meredam amarah Wening...
...“Apa Hanum salah bicara? Bahkan Mba Vira yang sebaik itu aja rela kok kehilangan kalian, itu karena apa kalo bukan karena keegoisan kalian!” Sengit Hanum lagi...
...“Kamu tega bicara seperti itu pada Ibu dan Romo orang tua yang benar - benar menyayangi kamu?” Tanya Wening, matanya berkaca - kaca...
...“Ibu dan Romo ga sayang sama Hanum atau Mba Vira, Ibu dan Romo hanya mementingkan rasa dendam, Hanum ga mau tinggal disini, Hanum mau tinggal sama Mba Vira!” Sengit Hanum lagi sambil mencabut jarum infusnya dan mencoba beringsut bangun dari tempat tidurnya...
Wening dan Romo kaget, mereka menghambur mencoba menenangkan Hanum, darah segar mengucur dari tangan Hanum bekas jarum infus yang dicabut paksa, sementara tubuh ringkihnya perlahan bangkit dari tempat tidurnya memburu menuju pintu kamarnya untuk keluar, namun Hanum tak sanggup, seketika tubuhnya ambruk ke lantai dan tak sadarkan diri.
...“Hanum!” Pekik Wening, sementara Romo segera memburu dan mengangkat tubuh Hanum lalu meletakkannya di atas tempat tidur...
...”Panggil dokter Dik Ayu!” Titah Romo pada Wening, Wening seketika beranjak dan setengah berlari keluar memerintahkan abdi dalemnya untuk memanggil dokter yang selalu siaga di keraton...
Tak berapa lama seorang dokter dan perawat datang tergopoh, di belakang mereka mengekor Kanjeng Sultan dan Permaisuri
...“Ada apa ini?” Tanya Kanjeng Sultan yang panik melihat kondisi Hanum...
...“Hanum tadi mau pergi Kangmas Sultan, terus pingsan” ucap Romo ...
...“Pergi kemana maksudnya?” Tanya Kanjeng Sultan lagi...
...“Katanya mau tinggal sama Vira, dia ga mau tinggal disini” sahut Wening sampai berlinang air mata...
...“Puas kamu Wening?” Sinis Permaisuri...
...“Dik, sudah” ucap Kanjeng Sultan pada istrinya...
...“Biar aja Kangmas, biar dia tau kalo dia itu orang tua yang egois, belum kering air mataku karena Vira keluar dari keraton gara - gara dia, sekarang aku harus sedih lagi melihat Hanum yang tak berdaya seperti itu!” Sengit Permaisuri...
Wening dan Romo hanya tertunduk, tak sanggup berkata apa - apa
__ADS_1
...“Asal kalian tau, bahkan sampai sekarang aku belum bisa menghubungi Vira, dia tak pernah mau menerima telepon dariku, wajar saja anak mana yang mau berhubungan dengan orang tua yang mau menghancurkan rumah tangganya” sinis Permaisuri...
Kanjeng Sultan sudah tak mampu mencegah istrinya dalam berucap lagi, karena bagaimana pun omongan Permaisuri itu benar.
...“Siapa lagi yang akan kalian korbankan setelah Vira dan Hanum? Apa seluruh keraton akan kalian buat hancur hanya gara - gara keegoisan dan dendam kalian?” Tanya Permaisuri lagi, dadanya bergemuruh karena amarah...
Wening meneteskan air matanya, jauh di relung hatinya ia mengakui omongan Permaisuri. Romo pun sama, di pandangnya wajah Hanum yang sarat kesedihan, entah kenapa ia begitu tega membiarkan anaknya sendiri menderita seperti itu
...“Urus Hanum dengan baik sebelum kalian menyesal, aku mau berangkat menemui Vira anakku dan Alevir, aku ga peduli jika kalian menganggap aku berkhianat pada kalian” Ucap Permaisuri sambil beranjak dan berlalu dari situ....
Permaisuri melangkah tergesa menuju kamarnya, ia ingin cepat bersiap agar bisa segera menemui Vira dan Alevir yang begitu dirindukannya.
Tak lama ia bersiap dan beranjak keluar kamarnya, namun baru saja beberapa langkah ia keluar kamarnya ketika seorang abdi dalem menghadapnya dan memberitakan kedatangan Alex serta Salim. Wajah Permaisuri seketika sumringah, kedatangan menantunya itu membuat hatinya berharap akan ada jalan keluar yang Alex bawa, ia tahu betul bahwa setiap ada masalah Alex senantiasa bisa mengatasinya dengan sangat baik.
Permaisuri tergopoh menuju pendopo, dibelakangnya mengekor beberapa abdi dalem, namun langkah Permaisuri memelan ketika dari kejauhan ia melihat bukan hanya Alex dan Salim yang datang, namun juga seorang wanita yang ia ingat betul adalah Ibunya Bram.
Permaisuri menarik nafasnya, bersiap dengan apa pun yang akan terjadi nantinya
Alex, Salim, dan juga Ajeng sigap berdiri melihat kedatangan Permaisuri
Alex kemudian meraih tangan mertuanya itu dan mencium punggung tangannya. Hati Permaisuri menghangat melihat menantunya begitu hormat padanya, padahal Alex bukan lah orang sembarangan.
...“Silakan duduk” ucap Permaisuri pada semua yang ada disana sambil ikut mendudukkan dirinya...
...“Maaf kalo kedatangan kami semua begitu tiba - tiba Bu” ucap Alex santun...
...“Ga apa - apa Nak, Ibu emang menunggu kedatangan kamu, Ibu tau kalo kamu datang pasti kamu udah nemu solusi buat masalah yang tengah menimpa keluarga kita” tutur Permaisuri dengan wajah yang sumringah...
...“Dimana Bram? Apa Bram ga ikut?” Tanya Permaisuri yang menyadari bahwa Bram tak ikut serta bersamanya...
...“Bram sedang jatuh sakit Bu” sahut Alex ...
Permaisuri bukannya tak prihatin mendengar Bram yang tengah sakit, namun senyum seketika terbit di wajannya
...“Bram dan Hanum itu jodoh, Ibu yakin! Hanum juga lagi sakit sekarang Nak Alex” ucap Permaisuri pada Alex...
...“Sakit apa toh Gusti Kanjeng Ratu?” Tanya Ajeng kaget, ia mengkhawatirkan calon menantunya itu...
...“Sama seperti Bram, sakit karena tak direstui” sahut Permaisuri sambil cekikikan...
...“Apa bisa saya menemui Gusti Kanjeng Ratu Wening?” Tanya Ajeng hati - hati, takut - takut jika Permaisuri akan menolak permintaannya...
...“Tentu saja, sebentar” jawab Permaisuri yang lalu memanggil abdi dalemnya dan memerintahkan untuk memanggil Wening serta Romo...
...“Saya berharap Mba Ajeng bisa meyakinkan Dik Ayu Wening agar mau menerima Bram, kalo untuk saya pribadi saya sudah menerima Bram, saya tau dia anak yang baik, dan seharusnya kesalahan orang tuanya tidak ditimpakan pada anaknya” ucap Permaisuri ...
Ajeng mengangguk patuh, hatinya menghangat mendengar Permaisuri sudah menerima anaknya, namun di sisi lain ia pun semakin malu dengan perbuatannya
Tak berapa lama Wening datang tergopoh bersama Romo, untuk sesaat Wening hanya terpaku tak ingin melanjutkan langkahnya tatkala melihat Ajeng. Namun Romo meyakinkan istrinya, ia membimbing Wening mendekati Permaisuri dan yang lainnya
Alex, Salim, serta Ajeng serentak berdiri menyambut kedatangan Wening dan Romo. Alex sigap meraih tangan Wening dan Romo serta mencium punggung tangannya
__ADS_1
Kini mereka semua duduk dengan wajah tegang
Alex berdehem memecah keheningan
...“Jadi kedatangan kami kesini untuk menyelesaikan masalah yang tengah keluarga kita hadapi, kita tak bisa membiarkan masalah ini berlarut - larut, apalagi kini baik Bram dan Hanum jatuh sakit karena masalah ini, belum lagi perasaan istri saya Vira yang sangat terluka karena masalah ini juga” tutur Alex...
Wening tak bergeming, ia hanya menunduk
...“Gusti Kanjeng Ratu Wening dan Gusti Kanjeng Raden, saya mohon maaf yang sebesar - besarnya atas kesalahan saya terhadap Gusti Kanjeng Ratu Vira yang akhirnya membuat semuanya berantakan, saya menyesal, sangat - sangat menyesal” lirih Ajeng dengan mata berkaca - kaca...
Romo mengangguk - angguk, buatnya pengakuan dan permintaan maaf sudah lah cukup, lain lagi dengan Wening yang tak bergeming, sulit buatnya untuk menerima permintaan maaf begitu saja, khawatir Ajeng belum sadar sepenuhnya dan hanya terintimidasi oleh Alex.
...“Kenapa telat sekali buat anda untuk menyadari kesalahan anda Mba Ajeng? Apa karena anak anda menaruh hati pada anak saya jadi dengan terpaksa anda mengakui kesalahan? Atau Nak Alex yang memaksa anda? Sinis Wening...
Ucapan Wening sontak membuat Permaisuri kembali meradang padanya, begitu pun Romo, Salim dan Alex juga menyayangkan sikap keras dan ketus Wening
...“Dik Ayu, Mba Ajeng itu sudah mengakui kesalahannya dan meminta maaf baik - baik, tolong jangan keras kepala” ucap Romo...
...“Loh saya cuma hati - hati Kangmas, hati orang siapa yang tau” ucap Wening lagi...
Permaisuri menggeleng - gelengkan kepalanya, geram akan kerasnya hati Wening
^^^“Apa kamu mau menunggu Hanum pergi dari hidup kamu baru kamu sadar Wening?” Sentak Permaisuri^^^
...“Maaf Gusti Kanjeng Permaisuri tapi kenapa malah saya yang disalahkan dalam hal ini?” Tanya Wening...
...“Karena kamu keras kepala” sengit Permaisuri...
...“Baiklah, sepertinya tak ada yang perlu kita bicarakan lagi, semua sudah memihak pada Bram dan Ibunya” ucap Wening yang lalu bangkit dari duduknya, Romo hendak melarang tapi Wening terlanjur melangkah, akhirnya Romo hanya bisa mengelus dada...
Alex dan Salim tertunduk lemah menyadari bahwa usaha mereka tak membuahkan hasil, lain lagi dengan Ajeng, ia tak patah arang, kini demi anaknya ia rela melakukan apa pun. Ajeng lantas bangkit, sedikit berlari mengejar Wening begitu terkejar, ia langsung meraih tangan Wening dan melipat lututnya hingga tertekuk, Wening tersentak kaget melihat Ajeng yang kini berlutut di depannya, Permaisuri sama terkejutnya, Alex dan Salim serta Romo pun ikut melongo dengan apa yang Ajeng lakukan
...“Gusti Kanjeng Ratu, saya mohon jangan pisahkan Bram dan Hanum, saya yang patut dihukum dalam hal ini” ucap Ajeng sambil berlinang air mata...
...“Mba, apa - apaan ini, ayo bangun Mba, jangan seperti ini” ucap Wening sambil membantu Ajeng untuk berdiri, tapi Ajeng tak bergeming...
...“Saya tetap akan memohon seperti ini, hukum lah saya, saya yang salah, tapi jangan hukum anak - anak kita, sebagai seorang Ibu saya rela melakukan apa saja untuk kebahagiaan Bram termasuk menjatuhkan harga diri saya” lirih Ajeng dengan berderai air mata, siapa pun tak akan tega melihat Ajeng sekarang, tak terkecuali Wening, ia lantas mencoba membantu Ajeng untuk bangki lagi...
...“Sudah Mba, sudah, baik saya merestui hubungan Bram dan Hanum, maafkan saya juga” ucap Wening sambil memeluk calon besannya itu, keduanya kini larut dalam tangis masing - masing...
Baik Permaisuri, Romo, Alex, maupun Salim menghela lega nafas mereka, masalah mereka kini selesai sudah.
Wening kemudian membimbing Ajeng untuk menemui Hanum di kamarnya. Sementara Permaisuri, Romo, Alex, dan Salim melanjutkan obrolan mereka kembali dalam suasana bahagia, Kanjeng Sultan yang hadir belakangan turut senang ketika mendengar Wening dan Ajeng telah memberikan restu mereka.
Ajeng yang baru pertama kalinya bertemu langsung dengan Hanum tertegun dengan kecantikan wajah calon menantunya itu, wajahnya sedikit mirip Vira, pantas saja jika Bram jatuh hati padanya, Ajeng lantas membuka gelang bertahta berlian yang ia pakai lantas memasangkannya di lengan Hanum
...“Semoga cepet sembuh Hanum, supaya bisa cepet - cepet nikah sama Bram dan ngasih cucu buat Mama” ucap Ajeng pada Hanum yang masih terlelap...
Wening tersenyum melihat ketulusan Ajeng, ia membuang jauh - jauh dendam dan pikiran buruknya tentang Ajeng, mereka kemudian kembali ke pendopo dan bergabung duduk bersama yang lainnya untuk menentukan tanggal pernikahan Hanum dan Bram.
(Note Author: Tak terasa tinggal beberapa episode menuju tamat, terima kasih untuk like, komen, favorite, gift, serta votenya selama ini ya. Masih ditunggu like, komen, favorite, gift serta votenya tak lupa kritik serta saran tentunya 🥰🥰🥰🥰. Dan semoga teman - teman suka dengan karya kedua author nanti ya ❤️❤️❤️)
__ADS_1