Nyonya Muda Baru Untuk Suamiku

Nyonya Muda Baru Untuk Suamiku
Kehidupan baru Vira


__ADS_3

Pov


Vira..


...2 bulan sudah semenjak kedatanganku kesini, Tuti sudah mulai sekolah yang jaraknya tidak jauh dari rumah, Mbok Asih dan Bi Welas aku modali untuk membuka warung sembako dan pecel kecil - kecilan, semuanya aku ambil dari uang tabunganku, termasuk untuk merenovasi kamar belajar yang dijadikan kamar Tuti agar ia punya kamar sendiri. ...


...Sore ini aku diajak Tuti untuk membeli keperluan sekolahnya di alun - alun kota yang jaraknya kurang lebih 30 menit dari rumah, Tuti yang tahu betul aku sangat menyukai bakso kemudian mengajakku untuk makan bakso di warung bakso dekat dengan kios - kios penjual alat - alat tulis. Kehidupanku disini tentu jauh berbeda dengan kehidupanku selama 3 tahun bersama Mas Vicky, ah kenapa aku harus mengingat laki - laki yang membuat dadaku sesak, dia tidak pantas ada dalam pikiranku dan tidak boleh lagi masuk ke relung hatiku, pintu maaf maupun pintu hatiku sudah tertutup rapat untuknya. ...


...“Mba, kok ngelamun?” Tukas Tuti menghalau lamunanku...


...“Hhhuuuuffff…. Gak kok Tut, lagi kepikiran aja mba mau kerja dimana ntar” jawabku enteng...


...“Mba ngelamar jadi guru aja mba di sekolanya Tuti, mba kan pinter, kata Bu Citra dari dulu mba itu juara kelas” ucapnya dengan mulut penuh ...


...“Tut… Tut, ijazah mba kan cuma SMA, jadi guru itu sekarang itu minimal S1 Tut” jawabku sambil menjembel pipinya gemas...


...“Mba jadi model aja apa artis gitu, mba kan cantik banget mukanya kayak bule, badannya juga sexy” timpal Tuti yang membuatku terkekeh geli...


...“Emang jadi model atau artis gitu gampang? Lagian mba ga mau ah jadi pusat perhatian gitu, hidup jadi ga tenang!” Tandasku sambil menyuapkan sendok ke mulutku ...


...“Hhmmm ga mau jadi pusat perhatian gimana, tuh dari tadi ga Bapak - Bapak ga Ibu - Ibu semuanya ngeliatin mba dari atas nyampe bawah, dikira mba artis kali atau bule nyasar masuk kampung” selorohnya lagi sambil menunjuk orang - orang disekitar kami dengan wajahnya, aku baru sadar bahwa banyak pasang mata memperhatikanku ...


...“Udah ah, abisin baksonya.. habis itu kita langsung pulang ya, mba capek” Titahku pada Tuti...


...“Iya.. iya mba bule” ujarnya yang membuat kami berdua tertawa...


...****************...


...Setelah membayar bakso tadi, kami berdua menyusuri jalan alun - alun menuju terminal angkot, selama perjalanan aku tak lepas dari pandangan mata orang - orang disana, yang jujur membuatku jengah. ...


...“Mba.. mba” ujar Tuti sambil menarik tanganku, sementara matanya tertuju ke depan dimana ada billboard besar yang membentang ...


Billboard dengan tulisan lowongan kerja untuk waitress, house keeping, bell boy, marketing, dan chef untuk hotel chain bertaraf internasional yang aku tahu itu adalah grup dari hotel - hotel bintang 5 dan diamond, serta rumah sakit - rumah sakit bertaraf internasional yang tersebar di dalam dan luar negeri, aku lantas merogoh tasku, mengambil buku catatan kecil dan pulpen, segera aku tuliskan No. telepon beserta alamat email untuk mengirimkan surat lamaran kerja.


...“Mba kayaknya hotelnya itu hotel yang baru dibuka deket sekolah Tuti deh, hotelnya gede banget mba.. mewah banget, temen - temen Tuti nyampe pada suka selfie depan hotelnya mba” cerocos Tuti penuh semangat...


...“Semoga rezeki mba ya Tut” jawabku singkat ...


...“Aamiin” Tuti mengamini do’aku, ...


...Besar harapanku agar aku diterima kerja di hotel itu, tabunganku yang semakin menipis tidak bisa lagi menjadi andalanku untuk bertahan hidup, mengingat ada 4 perut yang harus aku isi sekarang, aku tidak menerima hasil warung yang diberikan Mbok Asih dan Bi Welas padaku, aku minta mereka gunakan uang itu untuk pegangan mereka, kebutuhan mereka aku yang akan tanggung karena aku sudah menganggap mereka keluargaku sendiri. Membuka warung semata - mata untuk mengisi kegiatan mereka sehari - hari agar mereka tidak jenuh. ...


...“Pulang yuk” ujarku pada Tuti, kami pun kemudian segera naik angkot yang baru saja sarat akan penumpang dan siap berangkat. ...


...----------------...


...Sesampainya di rumah, aku mendudukkan diriku di bangku panjang depan rumahku, angin sepoi - sepoi dari pohon yang memayungi bangku ini membuatku merasa damai. ...


...“Non, minum dulu” ujar Mbok Asih sambil menyodorkan segelas es teh manis...

__ADS_1


...“Makasih Mbok, padahal ga usah repot - repot.. nanti Vira bikin sendiri” ucapku sungkan pada wanita paruh baya itu ...


...“Non, ini loh tadi ada kiriman buat Non” sambung Mbok Asih sambil menyodorkan bungkusan paket yang tipis, entah apa isinya. Aku kemudian membaca nama penerima memastikan kalau paket itu untukku, nama Vira Halmayhera tertera disana, kemudian aku membaca pengirimnya yang tak lain adalah Bu Wati, aku memang memberi tahu alamatku pada Bu Wati, karena beberapa saat yang lalu anak - anak panti ingin mengirimkan makanan ringan hasil olahan mereka untuk dijual. ...


...“Makasih ya Mbok” ujarku pada Mbok Asih, kemudian aku gegas masuk ke rumah, sementara Mbok Asih bergabung dengan Bi Welas untuk melayani beberapa pembeli di depan. ...


...Aku kemudian mengambil gunting di laci lemari buku, lalu duduk di kursi makan, aku membuka paket itu dengan pelan, sampul cokelat mengintip dari balik kemasan paket yang baru setengahnya terbuka...


...Sebuah amlop cokelat polos yang tertutup rapat semakin membuatku penasaran, pelan aku mengoyak lem amplop tersebut dan aku keluarkan isinya...


...mata ini seakan tak percaya, entah harus senang atau sedih setelah aku membaca akta cerai yang aku terima. Resmi sudah statusku bukan lagi Nyonya Vicky. ...


...Angin berhembus memasuki rumah melewati jendela - jendela besar yang terbuka lebar, matahari kian tenggelam menyisakan semburat jingga untuk dikagumi mata, air mataku jatuh seketika.. semua kenangan pahit itu kembali terulang di ingatanku, hidup beberapa kali memberiku harapan bahwa aku yang yatim piatu juga berhak mendapat kebahagiaan, tapi hidup juga yang menyadarkanku bahwa yatim piatu dan miskin sepertiku tak boleh berharap banyak. Bahkan untuk memiliki suami atau anak pun aku tak berhak. ...


...“Non Vira” ucap Mbok Asih pelan mengelus punggungku...


...“Iya Mbok” jawabku sambil mengusap kasar air mataku...


...“Non Vira lagi mikirin apa” tanyanya sambil mendudukan diri di sebelahku, tangannya mengelus rambutku lembut...


...“Andai Ayah dan Ibu masih ada Mbok” ucapkan lirih...


...“Kalau mereka ada pasti bahagia dan bangga banget punya anak seperti Non Vira” jawaban Mbok Asih membuat hatiku sedikit senang...


...“Mereka seperti apa Bi?” Tanyaku...


...“Raden Kanjeng orangnya ganteng, tegas, tapo baik sama siapa pun, kalau Raden Ayu cantik kayak Non Vira, murah senyum, cerdas”...


...“Loh justru saking sayangnya sama Non, Kanjeng Raden minta si Mbok bawa Non ke tempat jauh” ...


...“Memangnya kenapa Mbok?” ...


...“Ini yang sebenarnya pengen si Mbok ceritain dari 2 bulan yang lalu semenjak Non Vira dateng, tapi Mbok tahu Non Vira sedang sedih,, si Mbok terus langsung ga tega buat cerita” jelas Mbok Asih...


...“Ga apa - apa Mbok, cerita aja.. Vira udah siap kok” ujarku sambil menggengam tangan Mbok Asih yang terasa kasar...


...“Raden Kanjeng dulu menikah lagi Non” ...


Aku terperanjat, wajahku yang tadinya aku sanggah dengan tanganku kini tegak memandang lekat Mbok Asih


...“Raden Kanjeng dipaksa oleh orang tuanya Non, Raden Kanjeng orangnya nurut banget sama Eyang sepuh.. ga pernah ngebantah sekali pun” terang Mbok Asih...


...“Terus Ibu gimana Mbok?” Tanyaku semakin penasaran...


...“Raden Ayu sedang hamil tua pada saat Raden Kanjeng menikah lagi, orang tua Raden Kanjeng mengancam tidak akan menerima anak yang dilahirkan Raden Ayu sebagai cucu mereka kalau Raden Kanjeng tidak menikahi wanita itu” Mbok Asih menjelaskan panjang lebar...


...“Raden Ayu tidak terima dimadu, apalagi ketika Eyang sepuh meminta Raden Kanjeng untuk membawa wanita itu untuk tinggal bersama”...


...“Terus gimana nasib Ibu Mbok?”...

__ADS_1


...“Raden Ayu shock Non, terus minta pisah.. tapi Raden Kanjeng tidak mau, Raden Kanjeng janji tidak akan menyentuh istri barunya, pernikahan itu semata - mata untuk menyenangkan hati Eyangnya Non Vira” jawab si Mbok sambil menyeka air matanya yang mulai menetes...


...“Saat wanita itu dibawa ke rumah, dia sudah membawa anak Non.. mungkin berusia 1 minggu”...


...“Menurut si Mbok Eyangnya Non cuma membantu temannya untuk menutupi aib anaknya yang hamil di luar nikah karena balas budi, dulu Eyang sepuh pernah dirampok dan hampir dibunuh, nah temannya itu yang menyelamatkannya”...


...“Keesokan harinya Raden Ayu melahirkan, Kanjeng Raden bahagia luar biasa.. tapi sayang istrinya tercinta meninggal” ...


...Mbok Asih tak henti - hentinya meneteskan air mata, jangan tanya bagaimana perasaanku.. hatiku yang sebelumnya sudah hancur lebur semakin luluh lantak mendengar cerita tragis orang tuaku ...


...“Beberapa hari setelah Raden Ayu meninggal, wanita itu berpura - sayang sama Non dan merawat Non, tapi lagi - lagi musibah datang.. Kanjeng Raden jatuh di kamar mandi sehingga badannya stroke, Kanjeng Raden tidak bisa bergerak, bicara pun susah Non”...


...“Saat itulah topeng wanita itu terbuka, Non yang masih bayi seringkali dianiaya, tak jarang Non tidak diberi susu seharian dan dibiarkan sendirian di kamar yang dikunci oleh wanita itu” tangis Mbok Asih kini berubah sesenggukan...


...“Bahkan pernah karena demam dan rewel, Non menangis terus semalaman.. pada saat lagi di gendong abdi dalam…. “ Mbok Asih menghentikan kalimatnya, lantas menghela kasar nafasnya ...


...“Wanita itu.. dia, dia menyundut kaki dan tangan Non dengan rokok” Mbok Asih tiba - tiba memelukku erat dengan tangis yang meraung - raung ...


Tuti dan Bi Welas yang sepertinya mendengar tangisan Mbok Asih, mereka berlari ke dalam rumah dengan panik


Aku menempelkan jari telunjuk dibibirku, mengisyaratkan agar mereka tidak bicara dulu, mereka mengangguk, kemudian mereka duduk di seberangku mendengarkan dengan seksama cerita Mbok Asih


...“Maafin si Mbok Non, Mbok udah berusaha menolong Non, tapi pengawal wanita itu yang bernama si Jarwo megangin tanganya si Mbok, Mbok ga bisa lupa gimana tangisan Non Vira saat itu Non.. ya Allah Gusti” sambung Mbok Asih, wajahnya sudah dipenuhi air mata...


...“Besoknya waktu wanita ular itu pergi.. Mbok ngeliatin luka bekas sundutan rokok di badannya Non Vira pada Kanjeng Raden” ...


...“Kanjeng Raden menangis Non, terus dengan susah payah ngomong sama si Mbok untuk bawa Non kabur dari situ” ...


...“Terus si Mbok disuruh bawa sertifikat rumah ini sama uang yang ada di belakang lemarinya Raden Kanjeng, Raden Kanjeng bilang untuk nitipin Non di panti, dan jemput Non kalau sudah besar” ...


...“Si Mbok keberatan untuk nitipin Non di panti, si Mbok pengennya Non Vira diurus sendiri sama si Mbok atau sama Eyang sepuh” ...


...“Tapi Raden Kanjeng bilang wanita itu berbahaya, kalau Mbok yang ambil pasti ketemu dan Non Vira bisa - bisa dibunuh, dan Eyang sepuh justru sudah mempercayakan Non Vira sama wanita itu”...


...“Si Mbok ga tau kenapa Raden Kanjeng ngomong seperti itu, tapi sepertinya itu menyangkut warisan Non”...


...“Non Vira iki orang kaya, bukan orang susah.. Raden Kanjeng perusahaannya banyak, emas batangannya banyak, sertifikat tanah dan rumahnya juga banyak”...


...“Akhirnya mau tidak mau si Mbok lari keluar kota.. terus nitipin Non sama Bu Citra yang kata tetangga - tetangga situ orang baik”...


...“Beberapa hari setelah Non di panti, si Jarwo sama beberapa orang suruhan wanita itu datang ke rumah si Mbok nyariin Non Vira, terus mukulin si Mbok gara - gara Mbok ga ngasih tau, untung ada Pak RT sama pamannya si Mbok yang nolongin”...


...“Besoknya si Mbok langsung ke kota ini, terus nyari alamat rumah ini.. Mbok terus tinggal disini biar aman, Mbok kerja serabutan buat ngumpulin uang biar bisa jemput Non Vira”...


...“Maafin si Mbok ya Non Vira karena si Mbok telat jemput Non Viranya, Non Vira jadi menderita” Mbok Asih kembali terisak...


Aku memeluk Mbok Asih lembut, lalu mengurainya


...“Ga apa - apa Mbok, makasih ya udah mau nolongin Vira.. kalau ga ada Mbok mungkin Vira ga akan ada disini sekarang, maaf gara - gara Vira Mbok jadi susah” ucapku tulus...

__ADS_1


Adzan Maghrib menggema, menyiram gersangnya hatiku mendengar nasib Ibuku dan aku yang nyaris serupa, bedanya Ayahku menikah karena terpaksa, sementara Mas Vicky menikah karena keinginannya.


Tuti dan Bi Welas yang dari tadi menyimak kisah masa kecilku yang tragis menghambur memelukku untuk memberikanku kekuatan, melonggarkan dada ini yang terasa amat sesak, mereka yang tidak ada pertalian darah denganku justru mereka yang ada saat aku benar - benar hancur.


__ADS_2