Nyonya Muda Baru Untuk Suamiku

Nyonya Muda Baru Untuk Suamiku
Luka yang belum sembuh


__ADS_3

Pesta jamuan makan malam usai sudah, satu per satu tamu meninggalkan tempat acara dengan wajah berseri karena puas atas jamuan sang tuang rumah.


Hanya Vicky, Vira, Bram, Salim, dan Utari yang pulang dengan kecewa


Bram dan Salim kini tengah berada di bar hotel itu


...“Gue ga nyangka si Alex bisa kepikiran nyampe segitunya, terlalu brilian tuh orang” ujar Bram sambil menyesap minumannya...


...“Semua tujuannya tercapai” ucap Salim sambil tersenyum miris...


...“Maksud lo?” tanya Bram bingung...


...“Alex emang cerdas, gue akuin itu” tandas Salim...


...“Hadeuuhh puyeng gue main teka teki ama lo, maksud lo apaan dah Lim!” ucap Bram frustasi sambil memijit mijit pangkal hidungnya...


...“Lo pikir deh apa tujuan Alex buat bikin acara tiba - tiba segitu mewahnya dan ngumpulin kita berempat di acara yang sama, sama Vira lagi”...


...“Nih gue kasih tau ya, nih pertama dia pengen nunjukkin sama si Vicky kalo Vira baik - baik aja malah bahagia tanpa si Vicky, kedua dia pengen nunjukkin ke kita bertiga kalo Vira itu punya nya dia, dan yang ketiga dia pengen nunjukkin ke si Vicky kalo lagi - lagi dia yang menang, lo inget kan gimana sengitnya persaingan mereka berdua! tutur Salim...


...“Shit!!!” Bram mengumpat...


...“Gila tuh orang, terencana banget mikirnya!” ucap Bram ...


...“Gue udah feeling dari pertama gue liat Vicky disana tadi, Alex punya rencana lain buat ngadain pesta itu selain buat makan malam sama rekanannya dia” lanjut Salim...


...“Tapi bukannya malah ada korban perasaan ya tadi, apa si Alex ga mikirin Vira?” tanya Bram ...


...“Itu yang gue ga tau, tadi sih keliatannya Vira tenang - tenang aja, tapi gue ga tau gimana perasaannya” jawab Salim...


...“Kita berdoa aja Vira emang setegar kelihatannya” ucap Bram...


...****************...


Sementara itu Alex dan Vira masih berada di ballroom, beberapa pengusaha kakap tengah berbicara dengan Alex, Vira dengan setia menemaninya. Pikiran Vira melayang pada kejadian saat ia bertemu dengan Vicky dan Utari lagi tadi, meskipun ia tersenyum tapi hatinya berdarah lagi, luka itu belum sembuh dan Alex menyiram luka itu dengan mudahnya, ia ingin lari dari tempat acara tadi tapi Vira tahu itu hanya akan mempermalukannya


Namun semakin diingat luka itu semakin terasa, keping - keping bayangan saat Utari tengah berpeluh bersama suaminya, hingga bagaimana ia ditampar, dihina, bahkan diseret kembali terbayang, apalagi melihat kandungan Utari, hasil pengkhianatan Vicky terhadapnya.


Dada Vira terasa sesak, namun ia tahan kuat - kuat, ia tak ingin menangis depan siapa pun


“Kuat Vira” rapalnya


Vira melihat Alex dari kejauhan, Alex masih saja sibuk mengobrol dengan relasinya. Vira lantas mendekati Francis yang berdiri tidak jauh darinya


...“Tuan Francis bisa tolong sampaikan pada Tuan Alex kalau saya kembali ke kamar duluan?” ucap Vira sopan...


...“Baik Nona, akan saya sampaikan” ucap Francis patuh...


Vira segera berlalu dari sana dengan anggun, senyumnya mengembang, ia menyapa dengan ramah siapa pun yang ia temui, Vira terus berjalan jauh dari ballroom hingga ia sampai di toilet tamu yang jarang digunakan karena letaknya yang jauh dari ballroom maupun lobby, toilet itu hanya digunakan dalam situasi mendesak saja


Vira masuk ke dalam toilet yang sepi, ia lalu menguncinya setelah memastikan tidak ada siapa - siapa


Vira lalu menangis, ia membiarkan air mata yang ia tahan selama acara untuk jatuh, ia terisak bagaimana pun ia belum bisa melupakan pengkhianatan Vicky yang menghancurkan hidupnya, Vira menangis sesenggukan menumpahkan lara kala melihat mantan suaminya membawa Nyonya muda baru dalam hidupnya yang tengah mengandung buah hati Vicky, sementara Vira harus terbuang, anaknya pun diambil paksa darinya

__ADS_1


Vira luruh ke lantai, ia tak peduli pada mahalnya baju yang ia pakai dan menjadi pel untuk lantai toilet itu, ia hanya ingin melepas sesak di dadanya


Suara tangisan Vira begitu lirih, seolah mengiba meminta pertolongan untuk melepaskan lukanya


Betapa Alex tega menyiram lukanya yang belum sembuh dengan mempertemukannya dengan Vicky,


Luka itu belum sembuh, malah semakin menganga


Bayangan itu seolah memaksa untuk diingat.


Bayangan ketika ia dibohongi oleh suami dan mertuanya sendiri, bayangan ketika ia melihat suaminya sendiri tengah mereguk hasrat bersama Utari, saat ia dihina, dicaci, dimaki, ditampar, bahkan di seret


dan bayangan paling menyeramkan buatnya adalah ketika ia harus merelakan anaknya dibunuh di depan matanya sendiri


Vira tak tahu ia sudah menangis berapa lama disitu, ia pun tak peduli. Namun tiba - tiba pintu toilet itu didobrak paksa dan menampakkan Alex yang tampak sangat khawatir tengah berdiri dengan nafas yang terengah - engah


Alex menghambur mendekati Vira yang tengah sesenggukan, ia lalu membuka jasnya dan memakainnya pada Vira, Alex kemudian membopong Vira dan membawanya keluar dari sana, sementara Francis menyambar tas Vira yang teronggok dilantai


“Maaf sayang” ucapnya sambil berkali - kali menciumi Vira yang masih menangis lirih


Francis dan Umar yang setia mengekori saling pandang, mereka begitu prihatin melihat Vira.


Lift membawa Alex, Vira, Francis, dan Umar ke lantai 20, tempat kamar Alex berada


Sesampainya disana dengan sigap Francis membuka keycard pintu kamar Alex dan meninggalkan Alex dan Vira, setelah memastikan keduanya masuk ke dalam kamar dan meninggalkan tas Vira disana.


Alex meletakkan Vira dengan hati - hati di kasurnya, wanita cantik itu masih saja terisak dengan tangan yang menutupi wajahnya


Alex merasa sakit melihat Vira saat ini


Vira menurunkan tangannya, menampakkan wajahnya yang basah karena air mata, tangisannya berhenti, matanya menatap nanar ke depan


...“Kamu puas Lex?” tanya Vira pada Alex...


...“Kamu puas!!!!” Pekiknya membuat Alex menunduk menahan sesal yang teramat...


...“Kamu menjadikan lukaku sebagai pertunjukkan kemenangan kamu di depan mereka Lex!”...


...“Tega kamu!” Ucap Vira lirih sambil menahan dadanya yang sakit...


Alex terdiam, matanya berkaca - kaca


...“Susah payah aku lari dari bajingan itu karena aku ga mau ngeliat dia Lex!!!!” Pekik Vira hilang sudah Vira yang anggun itu...


...“Kamu tau rasanya melihat orang yang kamu cintai tengah bergumul bersama orang lain Lex? Sakit Alex, sakittttt!!! Pekik Vira lagi, ia kemudian menangis lagi...


...“Dan kamu tau rasanya dihina, dicaci, ditampar bahkan di maki karena status sosialku yang rendah Lex hah?” sentak Vira ia mengeluarkan semua perasaannya...


...“Aku kabur dari rumahnya Lex, aku mencoba untuk menata hidupku setelah aku tak ingin hidup, aku pergi jauh dari bajingan itu dengan harapan tak akan pernah melihatnya lagi, tapi kamu mempertemukanku dengannya lagi Lex” ...


“Kamu puas sudah mempermainkanku Lex? Kamu ga ada bedanya dengan bajingan itu, bagi kalian aku hanya mainan karena aku kasta rendahan” ucap Vira sambil tersenyum miris


...“Kamu egois Alex!!!!” Pekik Vira...

__ADS_1


...“Kamu jahat!!!!” Pekik Vira lagi sambil menjambret berlian yang terkalung di lehernya dan cincin yang Alex sematkan padanya dan ia lemparkan keduanya ke lantai, Vira lantas menyamber tasnya dan berlari kecil menuju pintu keluar kamar sambil menghapus kasar air matanya...


Alex masih mematung, matanya berkaca - kaca, ia tak menyangka kalau keinginannya untuk memperlihatkan bahwa Vira sudah jadi miliknya ternyata malah membuat Vira terluka


Alex kemudian menyadari bahwa tindakannya kali ini semata - mata hanya untuk menunjukkan kemenangannya lagi pada Vicky, sahabat yang selama ini menjadi saingannya dan selalu ia kalahkan


Alex menyugar frustasi rambutnya, ia kemudian memekik


“Viraaaaa!!” pekiknya


Alex menghapus kasar air matanya, ia lalu bangkit untuk menyusul Vira keluar kamar, Alex menoleh ke kiri dan ke kanan koridor hotel depan kamarnya, berharap menemukan wanita yang ia cintai disana, namun nihil Vira sudah tidak ada


Alex kemudian menghubungi Francis dan Umar untuk segera mencari keberadaan Vira


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Vira berjalan gontai keluar dari gerbang hotel, beruntung hotel sudah sepi karena hari sudah malam, security di depan tengah terkantuk - kantuk dan tak menyadari ketika Vira lewat di depannya


Vira melihat trotoar dibawah pohon besar yang rimbun, ia kemudian beranjak kesana dan duduk disitu


Angin dingin berhembus menembus kulit pundak Vira yang terbuka, nyamuk - nyamuk telah meninggalkan bentol merah disana, namun Vira seolah tak merasakannya, ia hanya fokus pada rasa kecewa karena telah percaya pada Alex


Vira memeluk tubuhnya sendiri, ia ingin pulang tapi tak mau ke rumah, ia tak ingin Alex menyusulnya kesana, Vira memijit pelan pangkal hidungnya dan seketika teringat akan Kak Yani, ia berharap Kak Yani mau menampungnya sementara waktu


Vira merogoh ponsel di tasnya, berpuluh puluh missed call dan pesan dari Alex, Francis, dan Umar terlihat disana namun Vira tak peduli, ia menyusuri ponselnya mencari nomer ponsel Yani


Tiba - tiba Vira melihat beberapa mobil keluar dari hotel, mobil - mobil yang ia tahu adalah milik Alex yang tengah mencarinya


Vira beringsut ke belakang pohon besar itu menyembunyikan diri disana


Ia lalu menghubungi Yani, butuh beberapa lama sampai Yani menjawabnya


“Hallo dek” sapa Yani serak, ia mungkin sudah terlelap


“Kak” ucap Vira lirih


“Iya dek, kenapa? Tumben nelepon malem malem gini, adek bukannya ada acara pesta ya?” Tanya Yani


“Kak Yani bisa jemput aku ga ke hotel?” tanya Vira


...“Hah? Sekarang dek? Kamu kenapa dek?” Tanya Yani panik...


“Aku lagi ga pengen pulang Kak” jawab Vira lirih


“Ya udah Kakak jemput kesana sekarang, kebetulan anak Kakak lagi dibawa sana Neneknya” ucap Yani sambil menutup teleponnya


Beberapa saat kemudian motor bebek Yani terlihat dari jauh, Vira segera bangkit dan melambaikan tangannya, Yani memicingkan matanya dan memastikan kalau itu adalah Vira


...“Buset deh dek, Kak Yani pikir kamu demit tadi soalnya di bawah pohon pake baju item, mana kamu putih lagi” ucap Yani bersungut - sungut...


...“Maaf Kak” ucap Vira...


“Yuk naik buruan dek, udah malem” ujar Yani

__ADS_1


Vira lantas mendudukan dirinya di atas motor Yani, mereka pun berlalu dari sana menuju rumah Yani.


__ADS_2