
Sudah lebih dari seminggu ini Vira tinggal di rumah Yani, Yani dengan senang hati menerima Vira yang ia sudah anggap sebagai adiknya sendiri, terlebih Yani terkadang hanya berdua dengan anaknya di rumah berhubung suami Yani bekerja di pelayaran yang pulangnya hanya 6 bulan sekali
Vira kerap bermain dengan anaknya Yani ketika bayi itu tidak dititipkan pada Ibunya Yani, Vira merasa terhibur, sedikit melipur laranya meskipun kadang air mata tetap jatuh apabila mengenang anaknya yang sudah tak bersamanya.
Sore ini Yani baru saja pulang kerja dari hotel, ia menghempaskan punggungnya ke kursi sambil mengipas - ngipas wajahnya yang berkeringat
Vira menghampiri, lantas menyodorkan segelas es teh manis pada Yani dan mendudukkan dirinya di kursi sebelah Yani, Yani langsung menyeruput minumannya sambil memindai tampilan Vira yang sudah rapi
“Vir” panggil Yani
“Ya Kak” sahut Vira
“Kamu jadi ketemuan sama Tuan Francis?” tanya Yani
“Jadi Kak, biar cepet kelar.. aku pengen cepet - cepet keluar kerja dari kantornya Alex” ucap Vira sambil menyisir rambut coklatnya
“Emangnya bakalan diizinin sama Alex?” tanya Yani lagi
Vira menghela pelan nafasnya
“Ya aku coba dulu Kak, emang sih waktu aku tanda tangan kontrak disitu ada ketentuan kalo aku ga bisa resign sebelum satu tahun kerja, dan kalo aku ngelanggar ada sanksi Kak, makanya aku mau nego sama Tuan Francis, siapa tau dia ngasih keringanan” turut Vira yang kini sibuk menguncir rambutnya
Yani mengangguk - angguk
“Ya pokoknya Kakak do’ain yang terbaik buat kamu, ikutin kata hati kamu dek, kamu itu udah waktunya bahagia, udah kelamaan susahnya!” Tandas Yani
Vira tersenyum miris
“Aku masih mau hidup aja udah syukur Kak, aku kadang mikir ngapain aku masih mau hidup ya? orang tua sama anakku aja udah ga ada, aku udah ga punya siapa - siapa, terus aku cinta sama orang ujung - ujungnya mereka nyakitin aku” ucap Vira tenang namun membuat hati Yani mencelos, apa Vira udah ga ada semangat buat hidup? Batin Yani
“Hus! Kalo ngomong itu hati - hati cantik, pamali!!” Tandas Yani sambil menempelkan telunjuk di bibirnya
“Kamu ga boleh putus asa dek, masa depan kamu masih panjang, kamu cantik, baik. Suatu hari kamu bakalan nikah lagi terus punya anak lagi” tutur Yani bersemangat, ia berharap Vira juga ikut semangat kembali
Vira tak menanggapi, ia kini sibuk merapikan kemejanya yang ia pinjam dari Yani
Vira bergegas keluar diantar oleh Yani begitu mendengar suara klakson motor ojek online yang Vira pesan, setelah berpamitan Vira berangkat menuju hotel untuk menemui Francis
...****************...
Sesampai di hotel Vira celingukan mencari Francis di restoran tempat mereka janjian, Francis yang melihat Vira dari kejauhan langsung menghampiri wanita yang belakangan membuat bosnya kelimpungan mencarinya
“Selamat sore Nona” ucap Francis pada Vira sambil mengangguk hormat, Vira yang tengah duduk bangkit berdiri lalu tersenyum ramah
“Selamat sore Tuan Francis” sahut Vira
“Apa anda baik - baik saja Nona?” Tanya Francis pada Vira
“saya baik - baik saja, terima kasih karena sudah mencari dan mengkhawatirkan saya” ucap Vira sopan, ia tahu betul pria dingin di depannya ini mencarinya beberapa hari belakangan ini, bahkan ia sampai menelepon Vira ratusan kali yang tak Vira gubris
Francis dan Vira kemudian duduk di meja restoran, pemandangan yang sontak menyita banyak perhatian, para pegawai restoran sibuk berbisik - bisik sambil mendelik ke arah Vira, mereka masih sibuk memperbincangkan kejadian di pesta makam malam kemarin, dimana Alex menggandeng Vira dan bahkan sempat mencium Vira di keningnya, tatapan para waitress itu seolah menelanjangi Vira, diantara mereka bahkan ada yang kemudian tertawa.
Vira sadar akan hal itu, namun ia sudah tak peduli.. biarlah memang ini sudah garis hidupnya. Begitupemikiran Vira
Vira menghela pelan nafasnya, ia kemudian menatap pria dingin di depannya
“Tuan Francis, tujuan saya kesini untuk mengajukan pengunduran diri menjadi sekretaris Tuan Alex seperti yang saya sudah sampaikan di telepon, saya mohon bantuannya agar dipermudah” ucap Vira penuh harap
Francis menatap Vira tak bergeming, ia kemudian membuka sebuah file yang ia bawa, dan menyodorkannya pada Vira
...“Nona, ketentuan yang tertera di surat perjanjian adalah Nona tidak bisa mengajukan pengunduran diri sebelum satu tahun masa kerja, dan apabila Nona melanggar maka ada kompensasi yang harus dibayar sebesar satu miliar rupiah, sesuai dengan apa yang Tuan Alex dan Nona tanda tangani di surat itu” ucap Francisa datar namun membuat Vira menjadi pucat pasi....
...Vira menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi, ia lalu merutuki dirinya sendiri yang tak teliti membaca surat kontrak pada saat itu, ia terlalu senang karena berhasil mendapatkan pekerjaan sampai ia mengiyakan saja apa pun yang tertera di surat kontrak itu...
“Tuan tolong saya, Tuan tau saya ga punya uang sebanyak itu” ucap Vira setengah memohon pada Francis, Vira tak bohong.. tabungan dari gajinya tak seberapa, ia pun selalu menolak kartu - kartu debit dari Alex meski Alex memaksa, sekarang darimana ia akan mendapat uang sebanyak itu?
__ADS_1
“Maaf Nona, itu bukan keputusan saya, itu keputusan Tuan Alex, silakan Nona langsung menghadap Tuan Alex” ucap Francis
Vira lemas sudah, hal yang paling ia takutkan harus ia hadapi sekarang, ia benar - benar tak ingin bertemu dengan Alex, ia tak sanggup. Jauh di lubuk hatinya ia mengakui cintanya pada Alex, tapi di otaknya ia menolak cintanya pada Alex. Vira merasa dipermainkan oleh laki - laki itu
“Bagaimana Nona?” Tanya Francis
Vira berpikir sejenak..
”Baiklah, saya akan menghadap Tuan Alex” ucap Vira lemas, pada akhirnya ia memang harus menemui pria itu, paling tidak untuk mengucapkan perpisahan, dan menghaturkan terima kasih atas semua yang pernah Alex lakukan untuknya, karena setelah ini ia akan pergi dari apa pun yang menyangkut Alex.
Francis dan Vira kemudian bangkit menuju lift yang akan membawa mereka ke tempat Alex, sepanjang jalan jantung Vira berdebar kencang, ototnya menegang, ia grogi setengah mati
“Tuan, apa Tuan Alex sudah tidak di kantor?” Tanya Vira pada Francis begitu melihat Francis menekan angka 20 di tombol lift, yang artinya mereka menuju kamar presiden suite Alex bukan ke kantor Alex yang terletak di lantai 15
“Tuan Alex sudah di kamarnya” jawab Francis datar
Vira menelan salivanya, semakin lift itu naik ia semakin gugup, perutnya tiba - tiba tak karuan.
Hingga mereka sampai di lantai 20, Vira mengekor di belakang Francis dengan dada yang berdebar, entah apa yang harus ia katakan pada Alex nanti, dan akan semarah apa Alex padanya karena sudah seminggu ini ia menghilang
Francis menempelkan keycard di pintu masuk kamar Alex, kemudian ia beranjak masuk
“Silakan Nona” ucap Francis pada Vira yang masih mematung di depan pintu
“Ga apa - apa Vira, kamu ngomong baik - baik, terus pamitan” rapal Vira pada dirinya sendiri
Vira menghela nafasnya sebelum ia kemudian masuk mengikuti langkah Francis menuju ruang tidur Alex, begitu masuk ke ruang tidur Alex, Vira terhenyak, ia melihat ada Umar yang mematung di sebelah ranjang Alex, disana juga ada tiga orang dokter yang tengah berbicara lalu sesekali melihat file yang mereka bawa di tangannya, dan tiga orang perawat yang tengah mencabut jarum infus dari tangan Alex, sedang Alex.. ia terbaring tak berdaya di tempat tidurnya, matanya terpejam, wajah tampannya pucat pasi, bibirnya semakin merah dan sedikit pecah - pecah, lingkaran hitam di sekitar matanya tampak kontras dengan kulitnya yang putih
“Tu - Tuan Alex kenapa?” tanya Vira, ia tak mengira akan disuguhi pemandangan seperti itu
“Tuan jatuh sakit Nona” jawab Francis
“Apa kata dokter?” tanya Vira cemas
“Tuan jarang sekali sakit Nona, karena Tuan sangat memperhatikan pola makan dan istirahatnya, namun semenjak Nona pergi, Tuan ikut turun langsung mencari Nona kemana pun, Tuan tidak lagi memperhatikan pola makannya, dan Tuan sering sekali tidak tidur” jelas Francis yang membuat hati Vira melengos, ia merasa bersalah karena telah menyebabkan Alex jatuh sakit
“Permisi Nona” ucap Francis yang kemudian beranjak mendekati dokter dan berbincang dengan mereka sebelum kemudian para dokter dan perawat tersebut meninggalkan kamar Alex
Tak lama Umar dan Francis pun meninggalkan Vira disana yang sebelumnya mereka memberi tahu Vira bahwa tim dokter dan perawat siap siaga jikalau Alex kenapa - kenapa.
Vira yang masih terpaku di ambang pintu ruang tidur Alex perlahan beranjak masuk, bau obat menyeruak di ruangan itu, beberapa botol obat teronggok di atas meja dekat tempat tidur Alex
Vira kemudian berhenti di tepi ranjang Alex, ia ingin mendekat namun ia ragu, ia sungguh jatuh cinta pada Alex, namun disisi lain ia pun kecewa pada Alex atas perbuatannya
Vira beringsut duduk di samping Alex yang terbaring, Vira menatap wajah pria itu lekat, ia kemudian membelai rambut Alex pelan.
Selama beberapa lama Vira hanya terpaku di tempatnya, ia hanya menatap Alex tanpa melakukan apa - apa, Vira bingung pada hatinya yang plin plan, terkadang ia sangat marah pada Alex hingga ingin pergi jauh darinya, namun di dekatnya membuat Vira merasa tak bisa jauh dari Alex
Vira bangkit lalu mendudukkan dirinya di sofa sebelah tempat tidur Alex, matanya tak lepas mengawasi Alex yang masih memejamkan mata, Alex beberapa kali menggerakan kepala atau tangannya dengan mata yang masih terpejam seolah ia enggan bangun.
Lamunan Vira buyar kala mendengar Alex terbatukVira segera bangkit dan memindai ruangan mencari gelas minum Alex, ia kemudian meraihnya dan mendekati Alex yang tengah memicingkan matanya mencoba untuk menjernihkan pandangannya
Vira tersenyum hangat manakala Alex membuka matanya, Alex yang melihat Vira langsung beringsut hendak bangun, senyumnya merekah, matanya berbinar
“Lex, jangan bangun dulu.. kamu masih lemah” ucap Vira lembut, Vira kemudian menata bantal di belakang punggung Alex untuk sandaran Alex
“Vir” ucap Alex lirih
“Iya lex” jawab Vira sambil menyelimuti Alex kemudian membenahi lagi bantal Alex agar Alex merasa nyaman
“Kamu minum dulu ya” ucap Vira lantas membantu Alex minum dari gelasnya
“Bibir kamu kering banget Lex, kamu harus banyak minum” ucap Vira lagi, Alex mengamati Vira, wanita yang seminggu ini telah menyiksanya ia kemudian meraih tangan Vira
Vira merasakan hawa panas dari tangan Alex, ia lantas menempelkan punggung tangannya pada kening Alex
__ADS_1
“Kamu panas banget, aku ambilin kompresan dulu ya” ucap Vira yang langsung beranjak dari sisi Alex, kemudian ia mondar - mandir mencari peralatan kompres untuk Alex
“Kamu tiduran aja Lex, supaya ga pusing” pekik Vira dari area mini bar, ia tengah menyiapkan air es untuk mengompres Alex
Alex termangu, ia terharu sekaligus ia malu. Ia telah menyakiti hati wanita sebaik Vira yang mau merawatnya setelah apa yang Alex perbuat padanya, Vira begitu mulia, tak heran Bram dan Salim sangat menginginkan Vira.
Vira tergopoh mendekati Alex, ia kemudian meletakkan wadah kompresan di atas meja samping ranjang Alex
“Kan bandel, aku udah bilang tiduran Lex biar kamu ga pusing” ucap Vira yang dengan sigap menyiapkan bantal untuk Alex tidur kembali
Alex yang masih duduk mematung dengan sigap memeluk tubuh Vira yang sedang berdiri disampingnya, air mata Alex luruh dan membasahi pipinya yang pucat, Alex menenggelamkan wajahnya di perut Vira
“Maafkan aku Vir, maafkan aku” ucapnya dengan suara serak
“Aku mohon jangan pergi lagi dariku Vir” ucapnya lagi
Vira mematung, hatinya bingung… ia tak ingin tersakiti lagi, namun ia akan lebih sakit kalau jauh dari Alex, seminggu ini terasa begitu menyesakkan bagi Vira karena tak melihatnya
Vira perlahan menggerakan tangannya, ia kemudian membelai rambut Alex yang masih terisak di pelukannya
“Aku ga akan pergi lagi dari kamu Lex” ucap Vira
Alex kemudian mendongak, netranya berbinar, wajahnya yang tadinya pucat pasi kini sedikit merona
Vira kemudian mengurai pelukan Alex, ia lalu mendudukkan dirinya di samping Alex, ia lalu meraih kompresan di sebelahnya
“Kamu tiduran dulu Lex, biar aku bisa kompres kamu” ucap Vira pada Alex yang masih saja duduk seraya mengamati Vira dan enggan berkedip
“Aku ga perlu kompresan itu Vir” ucap Alex
“Aku cuma perlu kamu” ujarnya lagi
“Iya aku ga kemana - mana, tapi kamu harus di kompres Lex” ucap Vira sewot, ia mulai kesal pada Alex yang keras kepala
Alex kemudian beringsut, ia lalu membaringkan dirinya, Vira sigap menempelkan kompresan di dahi Alex, Vira baru saja hendak berdiri sebelum kemudian tangan Alex memegang tangannya
“Jangan pergi” ucap Alex dengan wajah yang memelas
“Aku ga pergi Lex, aku cuma mau duduk di sofa itu” sahut Vira sambil menunjuk sofa di sebelah tempat tidur Alex
Alex beringsut ke tengah tempat tidur, menyisakan tempat di sebelahnya
“Sini Vir” ujar Alex sambil menepuk tempat di sebelah ia tidur
Vira tersenyum hangat, ia kemudian beringsut dan membaringkan diri di samping Alex, Alex merentangkan tangannya, membuat Vira beringsut dan meletakkan kepalanya di dada Alex, Alex kemudian merengkuh Vira, Vira bisa merasakan hawa panas dari badan Alex dan debaran jantung pria itu
“Vir” ucap Alex
“Iya Lex” sahut Vira, ia semakin menenggelamkan diri di dada Alex, wangi parfum Alex menguar membuatnya tenang
“Menikah denganku Vir” ucap Alex
Deg
Mata Vira membulat, jantungnya berdebar kencang
“Aku ingin kamu jadi Ibu dari anak - anakku nanti” ucap Alex lagi
Vira yang tengah bahagia tiba - tiba tersenyum miris, ia mengingat ucapan Vicky dan Gendis bahwa kasta rendahan sepertinya tak pantas mengandung anak Vicky
“Dulu Vicky pernah bilang padaku bahwa aku yang kasta rendahan ga pantes mengandung anaknya dia” ucap Vira datar
“Kamu akan mengandung anakku Vir, anak dari Alex ander Yusuf Danuarja Al Maktoem” ucap Alex
Vira tersenyum bahagia, ia makin menenggelamkan kepalanya di dada bidang Alex, ia merasa begitu damai, tadinya ia ingin pergi jauh dari pria ini namun rasanya ia makin tak mampu, Vira memejamkan matanya dengan senyum yang terlukis di wajah cantiknya, kini ia ingin merasakan bahagia setelah banyaknya derita yang ia rasa.
__ADS_1