
Pov..
Vira….
...Adzan shubuh merdu berkumandang, aku yang rasanya baru tidur 5 menit yang lalu memaksakan mata ini untuk terbuka, aku mematikan weker dan aplikasi adzan di gawaiku, aku duduk sebentar di tepi ranjang menghilangkan rasa pusing dan mual yang mulai melanda, kata dr. Salim ini wajar di trimester pertama kehamilan, dr. Salim menyebutnya morning sickness. Aku nikmati semua rasa tidak nyaman ini karena aku tau diperutku sekarang tumbuh janin buah cintaku dan Mas Vicky. ...
...Selepas sholat, aku membuka pintu balkon.. membiarkan angin pagi masuk ke kamarku, aku menghirup udara pagi yang masih segar, menyentuh embun pagi yang masih bergelayutan di daun - daun tanaman di balkonku, andai Mas Vicky ada disini kebahagiaanku pasti sempurna...
...Aku kemudian merapikan tempat tidurku, menyimpan barang - barang yang telah kupakai di tempatnya kembali, kemudian membersihkan diri. Di rumah ini kurang lebih ada 15 pelayan yang siap melayaniku, termasuk untuk merapikan tempat tidur dan kamarku.. tapi aku lebih senang melakukannya sendiri, paling aku cuma meminta pelayan untuk membersihkan kamarku saja tanpa harus merapikan lagi. ...
...Aku kemudian turun ke bawah, Bu Mirna selaku kepala pelayan di rumah ini menyambutku dengan senyum di wajahnya yang dingin setelah beberapa hari ia absen karena cuti. ...
...“Selamat pagi Nyonya muda” sapanya ...
...“Selamat pagi Bu Mirna” jawabku sopan...
...“Anda mau sarapan sekarang Nyonya?” Tanya Bu Mirna...
...Aku yang telah menguras isi perutku tadi di kamar mandi merasa lapar yang teramat, aku kemudian menganggukan kepala dan kemudian berjalan menuju meja makan lalu duduk diam menunggu hidangan disajikan. Menu dari mulai pastry, salad, buah segar, oatmeal, susu segar, yoghurt, dan masih banyak yang lainnya tersaji sempurna, aku yang entah kenapa begitu lapar melihat tumpukan makanan di depanku segera menyantap hidangan itu satu per satu ...
...Bu Mirna yang berdiri siaga di sampingku, ditemani beberapa orang pelayan lainnya termasuk Siti dan Leni bengong melihatku yang makan dengan rakusnya, aku tidak peduli.. aku benar - benar kalap.. bawaan bayi mungkin. ...
...Selesai sarapan entah kenapa aku benar - benar mengantuk, setelah menghubungi Tuti dan mengabarkan bahwa kunjunganku ke panti aku tunda sampai sore nanti, aku beranjak naik ke kamar tidurku...
__ADS_1
...Aku kemudian merebahkan diriku di atas kasur besar itu, tanganku yang telentang menjangkau tempat kosong di sebelahku, tempat dimana biasanya suamiku berbaring sambil menatapku penuh cinta, ah betapa aku merindukan suamiku, apa yang sedang dia lakukan sekarang? Apa dia tidak merindukanku? Mengkhawatirkanku?...
...Tiba - tiba aku teringat akan rencanaku untuk menghubungi Rossa sekretaris pribadi Mas Vicky. Aku gegas mencari No. Tlp kantor suamiku di daftar kontakku, karena aku tidak menyimpan No. HP Rossa. ...
...Operator kemudian mengubungkanku dengan telepon di ruangan Rossa, aku menunggu Rossa menjawab panggilanku sampai akhirnya aku mendengar suaranya yang ramah dan bersahabat ...
...“Selamat lagi Nyonya muda, maaf membuat anda menunggu” sapanya padaku ...
...“Ah ga apa - apa Ros, saya yang harus minta maaf karena mengganggu kesibukan kamu” ujarku...
...“Tidak apa - apa Nyonya, ada yang bisa saya bantu?” Tanyanya...
...“Mmhhh begini Ros, apa Mas Vicky menghubungi kantor semenjak pergi ke New York?” Tanyaku ragu...
...Jawaban Rossa membuatku seketika pusing, kalau memang Vicky menghubungi kantor, kenapa dia tidak sempat menghubungiku sekali pun? Apa yang terjadi? ...
...“Halo Nyonya??” Suara Rossa membuyarkan lamunanku...
...“Ah iya itu, maksud saya.. saya ingin meminta No. Internasionalnya Mas Vicky, saya lupa nyimpen kemarin” Ujarku berbohong, tak ingin membuat Rossa berpikir yang tidak - tidak...
...“Baik, mohon ditunggu sebentar ya Nyonya” ...
...Kemudian Rossa pun menyebutkan No. Mas Vicky yang langsung aku tulis di buku harianku. Aku pun mengakhiri pembicaraanku dengannya dan berterima kasih atas bantuannya. ...
__ADS_1
...Aku memperhatikan No. yang aku catat di buku harianku, bertanya - tanya dalam hati kenapa Mas Vicky bahkan tidak berusaha untuk menghubungiku, sekedar bertanya tentang keadaanku, atau sekedar mengabarkan keadaannya disana. ...
...Banyak yang ingin aku ceritakan padanya, kabar baik dan buruk yang beberapa hari ini datang silih berganti menghampiriku, aku butuh suamiku untuk berbagi rasa bahagia dan sedihku. ...
...Aku memberanikan diri menghubungi No. internasional Mas Vicky, tersambung.. aku senang sekali, semoga Mas Vicky angkat, batinku...
...Aku menunggu dengan sabar sampai suamiku itu mengangkat teleponku, tapi nihil dia tidak mengangkatnya, tidak mungkin dia tidak tau kalau aku yg menghubunginya kan? Batinku lirih...
...Aku tidak putus asa, aku coba menghubunginya lagi, beberapa pesan juga ku kirimkan.. tapi sekarang No. Mas Vicky tidak aktif, pesanku pun kembali tidak terkirim. Hancur sudah pertahananku, aku menangis, aku bingung, entah apa salahku pada Mas Vicky sampai dia benar - benar tidak mau berkomunikasi denganku, apa karena Utari? Ya Allah apa yang terjadi disana? Perasaanku benar - benar tidak enak, firasatku mengatakan ada sesuatu yang terjadi disana. ...
......................
Hari sudah siang ketika aku terjaga dari tidurku, terus menangis membuat mataku lelah, dan sepertinya aku jatuh tertidur, aku kemudian bangkit dari tempat tidurku, bergegas ke kamar mandi untuk mengambil wudhu, dan segera melaksanakan kewajibanku.. aku ingin mengadukan semua kesedihan dan kegundahanku pada Allah.
Selepas sholat, aku memutuskan untuk mempercepat kedatanganku ke panti sekalian mengalihkan pikiranku yang terus menerus fokus ke Mas Vicky, aku kemudian bersiap dan menghubungi Pak Wayan serta Bi Welas yang aku minta untuk menemaniku kembali.
Sebelum ke panti, aku mampir ke outlet makanan cepat saji, aku memesan banyak makanan untuk semua penghuni panti, termasuk untukku, Bi Welas, dan Pak Wayan, tak lupa aku mampir ke supermarket, membeli bahan - bahan makanan pokok, es krim, cokelat, dan buah - buahan untuk anak - anak.
Di perjalanan menuju panti, HPku berdering.. aku bergegas merogoh HPku di clutch yang aku bawa, berharap itu adalah Mas Vicky, tapi ternyata dr. Salim yang mengirimku pesan, ia menanyakan kabar dan perasaanku, apa aku mengalami morning sickness, sampai aku ngidam makan apa, perhatian bukan dr. Salim ini? Seharusnya suamiku yang memberikan perhatian itu
Setelah membalas pesan dr. Salim, baru saja aku mau memasukkan kembali HPku ke dalam clutch, notif pesan kembali masuk. Sekarang dr. Bram yang mengirimku pesan, tidak jauh dari dr. Salim, dr. Bram menanyakan kabar seputar kehamilanku, apa mereka janjian ya? Batinku, aku tersenyum.. terharu akan perhatian mereka.
Mobilku berhenti tepat di halaman panti, anak - anak yang sudah mengetahui kalau itu mobilku berhamburan mendekati mobilku sambil berebut memanggil namaku, melihat senyum tulus di wajah mereka sejenak aku melupakan kegundahan hatiku akibat Mas Vicky.
__ADS_1