Nyonya Muda Baru Untuk Suamiku

Nyonya Muda Baru Untuk Suamiku
Menata kembali


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan selama 13 jam dengan kereta, Vira, Welas, dan Tuti akhirnya sampai di stasiun kota yang mereka tuju pada dini hari, setelah turun dari kereta, ketiganya berjalan menyusuri stasiun, Vira sekali - sekali meringis merasakan perutnya yang masih terasa ngilu.


Seorang perempuan tua nampak menunggu di stasiun yang terbilang sepi ini, badannya dibalut kardigan rajut untuk menghalau rasa dingin yang makin menusuk, ia kemudian melambai ketika melihat orang yang ia tunggu terlihat disana. Mbok Asih langsung berhambur memeluk Vira ketika Vira jalan mendekatinya, Vira membalas pelukan Mbok Asih lembut


...“Gimana perjalanannya Non? Si Mbok khawatir banget Non” ujar Mbok Asih pada Vira ...


...“Alhamdulillah lancar Bi” jawab Vira dengan senyum yang terulas ...


...“Eh Tuti ikut juga toh?” Tanya Mbok Asih yang baru menyadari ada Tuti disana...


...“Ikut lah Mbok, masa Mba Vira pergi Tuti ga ikut” jawabnya sewot ...


...“Nah itu siapa Non?” Tanya Mbok Asih seraya menunjuk Bi Welas yang berjalan di samping Tuti...


...“Itu Bi Welas Mbok, Bi Welas banyak bantuin saya” jawab Vira singkat, ia sudah tak punya tenaga untuk bicara panjang lebar...


Mereka berempat kemudian berjalan menyusuri stasiun hingga akhirnya sampai di tempat angkot - angkot terparkir


Mbok Asih tampak berbicara dengan sopir angkot disitu menggunakan bahasa Jawa, nego harga sepertinya, tak lama setelah itu Mbok Asih mengajak Vira, Tuti dan Bi Welas untuk masuk ke dalam angkot.


Perjalanan dari stasiun ke rumah yang Mbok Asih tempati terbilang cukup singkat, kurang lebih 20 menit. Sepanjang perjalanan samar - samar diantara kegelapan kebun teh terhampar luas, udara dingin khas perkebunan teh menusuk kulit.


Mobil angkot berhenti tepat di depan rumah bergaya dulu dengan cat berwarna putih, di sekitar rumah banyak ditumbuhi tanaman - tanaman hijau menambah asri rumah tersebut, suara jangkrik terdengar nyaring, lampu teras yang terang menambah betah orang untuk melihatnya.


Vira merogoh tasnya kemudian mengeluarkan uang dari dompetnya, dan memberikannya pada Mbok Asih untuk dibayarkan pada sopir angkot tadi.


Setelah Mbok Asih membuka kunci pintunya, kemudian ia mempersilakan ketiga perempuan itu untuk masuk

__ADS_1


...“Non Vira, ini rumahnya Eyang Non Vira yang dititipkan sama si Mbok oleh Kanjeng Raden” terang Mbok Asih...


Vira memperhatikan satu per satu foto yang tergantung di dinding putih tersebut, nampak ada foto seorang lelaki yang gagah tengah berdiri, disampingnya ada seorang perempuan cantik menggunakan kebaya dan kain jarit


...“Itu Eyang dan Eyang Putrinya Non” terang Mbok Asih ...


Vira memegang kedua wajah di foto itu, matanya berkaca.. akhirnya aku tau keluargaku. Ucapnya dalam hati


Ia kemudian berjalan mendekati foto yang lain, disitu tampak seorang lelaki dengan wajah kebulean berhidung mancung dan berkulit putih menggunakan baju khas jawa dengan atribut lengkap, di samping laki - laki itu duduk dengan anggun seorang perempuan cantik berwajah mirip dengan Vira yang juga menggunakan kebaya dan kain jarit dilengkapi perhiasan yang sepertinya mahal.


...“Itu Kanjeng Raden dan Raden Ayu, orang tuanya Non” ucap Mbok Asih ...


...Air mata Vira kini lolos berjatuhan, ini kali pertama ia melihat wajah kedua orang tuanya, orang tua yang selama ini ia nantikan untuk menjemputnya dari panti. Di sisi lain ia merasa sangat bahagia, karena pada akhirnya ia bisa mengetahui siapa orang tuanya, hilang sudah rasa penasaran yang menggerogotinya selama ini, meskipun Vira tak bisa sekedar memeluk atau memandang wajah mereka langsung, karena mereka telah tiada. ...


......................


Mbok Asih kemudian mengantarkan Vira ke kamar yang ditempati oleh Eyang dan Eyang Putrinya dulu, kemudian mengantarkan Bi Welas ke kamar tamu dan Tuti ke kamar yang Mbo Asih tempati, untuk sementara Tuti akan tidur bersamanya karena di rumah itu hanya ada 3 kamar tidur.


...****************...


...Suara ayam yang berkokok membangunkan Vira dari tidurnya yang hanya sekejap, ia bangkit dari tempat tidurnya kemudian masuk ke kamar mandi di dalam kamar itu untuk membersihkan diri. ...


Selesai membersihkan diri ia kemudian keluar kamar, tampak disana Mbok Asih, Bi Welas, dan Tuti tengah duduk di meja makan yang merangkap ruang tengah rumah itu, rumah itu tidak terlalu luas, hanya memiliki ruang tamu yang menyatu dengan ruang makan yang dibatasi oleh lemari buku yang menjulang tinggi, 1 kamar utama, 1 kamar tamu, dan 1 kamar di area belakang serta 1 kamar belajar, 1 kamar mandi yang ada di kamar Vira dan 1 kamar mandi berada di depan ruang makan, kemudian dapur dan ruang cuci di belakang menghadap tanah yang terbentang luas dan ditumbuhi rerumputan hijau, tanah itu terbagi dua yang dibatasi pagar kayu, setengah dari tanah tersebut diwakafkan oleh Eyangnya Vira untuk dipakai anak kecil bermain sepak bola atau bermain layangan, Eyang Vira memang terkenal karena kebaikan hatinya dan kedekatannya dengan anak - anak kecil.


Vira kemudian mendudukan diri di kursi makan bergabung dengan anggota keluarganya yang baru, mereka menikmati teh hangat dan sepiring pisang goreng manis hasil kebun sendiri, sambil ngobrol ringan diselingi suara tawa mereka.


Pagi ini Mbok Asih dan Bi Welas pergi berbelanja ke pasar, sementara Tuti dan Vira membereskan dan merapikan baju - baju mereka ke dalam lemari.

__ADS_1


...“Mba, maaf ya Tuti ga ada pada saat mba lagi butuh pertolongan” ucap Tuti penuh sesal...


Vira menghela pelan nafasnya


...“Ga apa - apa Tut, mba sendiri ga tau akan mengalami hal itu” jawab Vira menenangkan Tuti...


...“Mmm maaf mba, terus berarti mba dan Mas Vicky sudah cerai sekarang?” ...


...“Mba sudah menanda tangani surat permohonan cerai kemarin Tut, mba juga sudah meninggalkan buku nikahnya mba disana, mertua baru Mas Vicky yang akan mengurus perceraiannya” jawab Vira dengan tenang, ia sudah ikhlas melepaskan Vicky dari hidupnya...


...“Mba yang sabar ya” sambung gadis berkulit sawo matang dengan bulu mata lentik dan bibir yang penuh itu...


...“Iya kamu tenang aja, mba ga apa - apa kok” jawab Vira sambil memulas senyum, meski jauh di lubuk hatinya, jiwanya remuk redam. ...


...“Kamu lanjutin sekolah kamu ya Tut, nanti mba daftarin.. nanti kita cari sekolah deket sini” ucap Tuti...


Tuti mengerucutkan bibirnya


...“Males ah mba, udah cukup nyampe kelas 2 SMA aja” ucapnya ...


...“Terus kamu mau jadi apa? Mau jadi kayak mba? Kamu harus sekolah yang tinggi Tut, kamu harus kejar cita - cita kamu, soal biaya mba akan berupaya sekuat tenaga untuk membiayai sekolah kamu” ujar Vira menyemangati...


...“Iya deh iya, besok Tuti tanya - tanya sama orang sini sekolah yang deket - deket sini dimana ya mba”...


...“Nah gitu dong, kita mulai kehidupan baru disini ya Tut” ...


...“Iya mba” jawab Tuti mengangguk mantap. ...

__ADS_1


__ADS_2