
Vira baru saja selesai memasak bubur untuk Alex di dapur restoran hotel, beruntung ada Yani yang sedang bekerja di restoran jadi ia bisa memasak di dapur restoran hotel ditemani oleh Yani yang heboh bertanya tentang bagaimana hubungan Vira dan Alex sekarang
Vira masuk ke dalam kamar Alex, disana sudah ada Francis dan Umar yang setia berdiri sementara Alex tengah berada di walk in closet.
Beberapa saat kemudian Alex keluar, ia sudah rapi dengan setelan jas kerjanya, kulitnya yang tadinya pucat perlahan berseri kembali, rambutnya sudah klimis, senyuman terus merekah di wajah tampannya
“Loh kamu mau kemana Lex? kamu kan masih sakit!” Tutur Vira sambil meletakkan mangkuk buburnya di meja sebelah tempat tidur Alex
“Aku mau kerja, ada beberapa meeting penting hari ini Vir” jawab Alex sambil merapikan kerah kemejanya
“Kamu masih sakit Alex, kamu harus istirahat” ujar Vira sambil menempelkan punggung tangannya ke dahi Alex
“Tuh kan badan kamu masih anget, kan dokter juga udah bilang kamu ga boleh kerja dulu” tutur Vira lagi
Alex tersenyum, ia sangat menikmati perhatian dari wanita yang sangat ia cintai, tapi meetingnya hari ini juga sangat penting
“Aku udah ga apa - apa Vir, aku juga cuma duduk di kantor sambil tele conference” ucap Alex keukeuh sambil membenarkan posisi dasinya
Vira menghela kasar nafasnya, ia kemudian berkacak pinggang depan Alex
“Alexander Yusuf Danuarja Al Maktoem, hari ini kamu belum boleh kerja, titik” tandas Vira
Alex seketika mematung, ia memang tak berkutik di depan wanita ini
Francis dan Umar yang ada disana setengah mati menahan tawa mereka melihat ekspresi Alex yang bagai seorang siswa yang tengah dimarahi oleh gurunya karena tak mengerjakan PR, pria berwibawa itu kini takluk di depan Vira
Vira mendekati Alex, ia kemudian membuka dasi Alex
“Lagian kalo ada meeting bisa diwakilin sama Francis atau Umar, betul kan?” Tanya Vira sambil menoleh pada Francis dan Umar
“Betul Nona” ucap keduanya kompak dan langsung menunduk mendapati Alex yang tengah menatap tajam ke arah mereka karena merasa tak didukung
Vira yang telah membuka dasi kemudian membuka jas Alex, jantung Alex berdetak kencang, darah Alex berdesir merasakan jari - jari Vira yang tak sengaja menyentuh pelan dadanya, Alex yang masih menyadari keberadaan Francis dan Umar disana kemudian memberi isyarat pada Francis dan Umar untuk keluar dari kamarnya
“Permisi Tuan dan Nona” ucap Francis sambil mengangguk hormat dan kemudian keluar dari kamar Alex bersama Umar
Alex membiarkan wanitanya membuka jasnya sambil bersungut - sungut, Alex benar - benar menikmati moment itu. Masa depan bersama Vira mulai terbayang dimana ia akan disambut oleh wajah cantik dan senyum Vira begitu ia pulang dari kantor, ia juga membayangkan ia dan Vira membacakan dongeng untuk anak - anak mereka. Wajah Alex kemudian bersemu merah membayangkan bagaimana ia dan Vira akan bergumul semalaman, saling menikmati cinta mereka.
“Lex, kamu ngerti kan?” Tanya Vira
“Ah iya sayang, aku ngerti” jawab Alex pada Vira untuk entah apa pun pertanyaan Vira, baginya sekarang ia akan mengiyakan apa pun permintaan Vira, kecuali jika Vira minta ia meninggalkannya karena ia tak akan sanggup.
Vira masih sibuk membuka kancing vest Alex satu per satu hingga terlepas semua, dan baru saja Vira hendak membereskan barang - barang Alex ketika tangan Alex meraih pinggang Vira dan menarik Vira ke arahnya
“Makasih Vir” ucap Alex pada kekasihnya
“Untuk?” Tanya Vira
“Untuk hadir dalam hidup aku” ucap Alex, ia kemudia meraih dagu Vira, kemudian menariknya pelan dan mengecup lembut bibir ranum Vira
Vira tersenyum manis, ia lalu membelai wajah prianya dan balas mengecup bibir merah pria itu, lidah Alex membelai bibir bawah, membuat basah disana karena ciuman mereka terasa kering, Alex kemudian memagut bibir Vira, menyesapnya perlahan, Vira membalas serangan Alex, ia mengalungkan tangannya di leher Alex, memagut dalam bibir Alex. Alex meraih pinggang Vira, kemudian mendorong Vira perlahan ke arah tempat tidur, Vira beringsut membaringkan dirinya di tempat tidur tanpa melepaskan ciuman Alex, kini mereka berdecapan dengan posisi tubuh Alex yang mengukung Vira di bawah tubuhnya
Jari Alex bergerilya membuka resleting depan dress Vira, hingga penutup dadanya yang berwarna hitam mengintip, Alex kemudian melepas ciumannya dan menatap Vira yang sedang terengah lekat, Alex kemudian mencium kening Vira, lalu kedua mata cantik wanita itu, lantas ia mencium pipinya sebelum membenamkan wajahnnya ke ceruk leher Vira, dan Alex menciuminya disana
Vira terengah, ia menggigit bibir bawahnya tatkala Alex memagut lehermya dan meninggalkan bekas kemerahan disana, Alex terus saja menciumi leher Vira, tangannya kemudian menyusuri leher Vira dan turun ke dada Vira, ia meremasnya pelan, membuat Vira makin tak karuan.
Ciuman Alex di leher Vira kemudian turun ke dada Vira, Alex menyibak penutup dada Vira dan mencecapi dada Vira membuat Vira makin terengah
__ADS_1
“Lex…” ucap Vira tertahan
Alex meninggalkan banyak sekali jejak kemerahan di dada Vira seolah ia ingin menegaskan kalau Vira hanya miliknya seorang
Alex kemudian mencium bibir Vira lagi, memagutnya, jarinya tangkas membuka kancing kemejanya satu persatu, hingga terdengar ketukan di pintu kamarnya, Alex tak bergeming, kali ini tak boleh ada yang mengganggunya
Ketukan itu tak berhenti, seolah ada sesuatu yang sangat penting
“Lex, pintunya” ucap Vira mencoba menyadarkan Alex yang sedang mabuk kepayang, Alex tak berhenti, ia kembali memagut bibir Vira
“Alex” ucap Vira sambil mendorong pelan tubuh atletis pria itu
Alex berhenti, wajahnya memerah karena hasrat yang membuncah
“Kalo itu Francis, aku pastiin gaji dia di potong bulan ini” ucap Alex sambil bangun dari tempat tidur dengan bersungut - sungut
Vira tergelak melihat kelakuan Alex, ia kemudian merapikan bajunya yang berantakan karena Alex, Vira tak bergerak, ia masih berbaring di tempatnya hingga beberapa saat kemudian Alex kembali
“Sayang, ada hal urgent yang terjadi di hotelku yang ada di Perancis, aku harus segera tangani” ucap Alex pada Vira
Vira kemudian bangkit, ia lalu mengalungkan tangannya di leher Alex, wanita itu menatap prianya dengan penuh cinta lalu mengecup bibirnya
“Ya udah, tapi kamu ga boleh capek - capek ya sayang, oh ya kalo gitu aku pulang sebentar ke rumah ya, aku kangen sama orang rumah” ucap Vira
Alex merengut sedih
“Aku nanti balik lagi Lex” rayu Vira
“Ya udah aku minta kamu diantar sopir, kamu hati - hati, dan tolong jangan pergi lagi dariku Vir” ucap Alex sambil memeluk tubuh Vira
“Ga akan” sahut Vira
...----------------...
Vira, Tuti, Mbok Asih, dan Bi Welas saat ini tengah berbincang di ruang tengah, mereka bertiga tak hentinya bertanya pada Vira tentang apa yang terjadi belakangan ini, Vira menceritakan apa adanya apa yang ia alami hingga ia memutuskan untuk sementara tinggal di rumah Yani
Awalnya baik Tuti, Mbok Asih, dan Bi Welas merutuki apa yang Alex lakukan, namun setelah mendengar cerita dari Vira bahwa Alex mencarinya tanpa henti hingga jatuh sakit, mereka kemudian bersimpati pada Alex
Suara pintu diketuk membuyarkan pembicaraan mereka yang heboh membahas cincin yang tersemat di jari Vira, Vira kemudian bangkit menuju ruang tamu untuk membukakan pintu
Wajah bule dokter Bram tampak disana, tangannya penuh dengan berbagai macam bungkusan makanan yang Vira tahu harganya tidak murah.
“Hai Vir” ucap Bram pada Vira yang menyambutnya ramah
“Dokter? Mari silakan masuk dok” ucap Vira ramah
Bram kemudian masuk ke dalam rumah, tentengannya yang menggunung ia letakkan di meja tamu
“Buat kamu dan orang rumah” ucap Bram dengan senyumnya yang menawan menunjuk barang - barang bawaannya
“Makasih dok, harusnya dokter ga usah repot - repot” ucap Vira segan
“Ga repot kok Vir, kamu ga kerja?” Tanya Bram basa basi meskipun sebenarnya ia sedikit senang karena itu artinya Vira akan jarang bertemu Alex
Baru saja Vira hendak menjawa, Mbok Asih datang tergopoh
“Oalah ada Tuan dokter bule ganteng toh, kirain siapa” ucap Mbok Asih ramah
__ADS_1
“Iya Mbok, Mbok sehat kan? Oh iya ini saya bawain makanan buat rame - rame” ucap Bram sambil menyodorkan gunungan makanan yang ia bawa
“Walah ndak usah repot - repot toh Tuan dokter” ucap Mbok Asih sambil menerima bingkisan Bram
“Si Mbok bikinin minum dulu nggeh” ucap Mbok Asih lantas berlalu dari sana
Bram kemudian menatap Vira yang tengah menunduk
“Duh cantik bener calon bini gue” batinnya
“Mmhh Vir, ada yang mau aku omongin” ucap Bram
Vira mendongak
“Ya dok? Ada apa?” Sahut Vira penasaran
“Vir, aku ingin meminang kamu buat jadi istri aku” ucap Bram serius
Deg
Vira terhenyak, ia tak menyangka sahabat Vicky yang lain juga memendam perasaan yang sama padanya
“Aku ga tau apa hubunganmu dengan Alex, tapi aku merasa masih punya kesempatan selama kalian belum menikah” tutur Bram lembut
“Sejak kapan dok, maksud saya sejak kapan dokter menyimpan rasa pada saya?” tanya Vira
“Sejak acara lamaran kamu dan Vicky” jawab Bram jujur
Vira menundukkan kepalanya, ia tak tahu harus berkata apa. Bahkan sentuhan Alex padanya saja masih terasa, namun kini sahabatnya yang lain meminangnya
Bram paham akan kebingungan Vira, ia kemudian menarik nafasnya untuk menghilangkan rasa gugupnya
“Kamu ga perlu jawab sekarang Vir, kamu pikirkan dulu, dan mengenai orang tuaku kamu ga usah khawatir, kalo kamu menerimaku aku akan meninggalkan semua hartaku, selama kamu mau menerimaku dari nol” tutur Bram seolah paham apa yang Vira pikirkan
Memang itulah yang Vira pikirkan, empat sahabat ini memang hidup dalam aturan keluarga yang ketat, mereka tidak boleh menikahi orang sembarangan, Vicky dulu memaksakan kehendak, namun akhirnya ia rela mengorbankan Vira, bukan tak mungkin Bram, Salim, atau bahkan Alex melakukannya juga. Meskipun ia kini mulai mempercayai Alex.
“Dok, maaf saya ini jandanya Vicky say…..”
“Aku ga peduli Vir, sudah, itu sudah masa lalu” ucap Bram memotong ucapan Vira
Vira menundukkan wajahnya lagi, ia bingung mau berkata apa, Bram mencoba meraih Vira namun kemudian Mbok Asih datang mengantar minumnya
“Silakan diminum Tuan dokter” ucap Mbok Asih sambil menyodorkan secangkir teh hangat
“Terima kasih Mbok” ucap Bram ramah sambil menyesap pelan tehnya, Mbok Asih kemudian masuk kembali ke dalam
“Vir” panggil Bram
“Ya dok” sahut Vira dengan senyumnya yang ramah”
“Tolong pikirkan, ga usah terburu - buru, aku tau Salim juga menyukai kamu, tapi aku ingin melangkah lebih dulu dibanding dia, aku benar - benar ingin menikahi kamu” tutur Bram
Vira tak bergeming, ia hanya menundukkan kepalanya
“Kalau gitu aku permisi” ucap Bram
Vira mendongak, ia kemudian bangkit untuk mengantarkan Bram beranjak dari rumahnya
__ADS_1
Sepeninggal Bram Vira termenung, entah ia harus merasa bahagia atau sebaliknya, namun kini ia merasa berada di tengah - tengah lingkaran empat sahabat itu.