
Pov
Vira..
,Setelah insiden cincin terakhir, Mas Vicky menjaga jarak dengan Utari, Utari kini pulang dan pergi dijemput oleh sopir lain keluarga kami, ia pun tidak pernah beradegan mesra lagi dengan Utari, jujur aku lega karena Mas Vicky paham akan perasaanku.
Untuk Tante Gendis, masih sama.. kata - kata yang dia ucapkan selalu menyakiti hatiku, tapi aku mencoba membiasakan diri, toh mereka cuma tinggal sementara disini. Aku tidak mau memberikan celah pada Tante Gendis untuk lebih menghinaku kalau aku mencoba membela diri dengan melawannya, cukup Ibu mertua sebagai pembelaku.
Namun di sisi lain, Tante Gendis dan Mami belakangan ini terlihat lebih dekat, mereka kemana - mana bersama, bahkan ke mall yang biasanya Mami pergi denganku, tapi belakangan ini Mami mengajak Tante Gendis. Mungkin Mami mencoba untuk menyenangkan Tante Gendis selama disini, pikirku, akan bahaya kalau Tante Gendis merasa tersinggung atau sakit hati selama berada disini, Tante Gendis bisa mengadukan Mami pada saudaranya yang lain yang akhirnya berbuah hujatan dari keluarga besar Mami, itu yang aku dengar dari Mas Vicky
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Siang ini, setelah makan siang.. aku beranjak ke ruangan baca, sudah lama semenjak kedatangan Tante Gendis dan Utari aku tidak pernah menginjakkan kakiku di ruangan baca, biasanya setiap hari aku meluangkan waktu untuk membaca yang memang kegemaranku.
Kakiku menyusuri permadani merah yang menjadi alas lantai sepanjang koridor dari taman menuju ke ruang baca, langkahku terhenti karena melihat lampu di dalam yang menyala, tidak mungkin kalau pelayan lupa mematikan lampu, kemungkinan hanya satu.. ada orang lain di dalam, kalau bukan Mami berarti Tante Gendis.. Aku seketika menciut mengingat kemungkinan Tante Gendis yang di dalam, kakiku hendak beranjak ketika tiba - tiba mendengar nama Mas Vicky disebut
Jujur aku penasaran, aku pun mendekat ke arah pintu yang tidak tertutup rapat, tak lupa aku menoleh ke kiri dan kanan memastikan tidak ada orang yang melihatku menguping, menguping sangat tabu di rumah ini, bisa - bisa aku kembali di ceramahi masalah tata krama oleh Ruth, membayangkannya saja membuatku pusing mengingat banyaknya pelajaran yang diberikan dan Ruth yang super tegas.
Setelah memastikan tidak ada orang di sekelilingku, aku menyelipkan rambutku ke belakang telinga sebelah kiri, menempelkannya selekat mungkin ke salah satu dari 2 pintu yang menjadi gerbang ruangan baca.
...“Kamu ngerti kan sekarang Diah, ini harus dilakukan.. buat kamu juga, terutama buat kebahagiaan Vicky!”...
Itu jelas suara Tante Gendis, tapi aku tidak memahami apa yang Tante Gendis maksud, aku yang semakin penasaran semakin melekatkan telingaku ke pintu
__ADS_1
...“Iya mba, aku ngerti.. aku dan Vicky juga sudah memikirkan matang - matang, kita tinggal menentukan waktu dan tempatnya” Ucap Mami Diah pasrah...
Aku semakin penasaran, apa yang mereka maksud.. apa yang menyangkut kebahagiaan Mas Vicky, apa ini soal anak? Kalau iya lantas apa rencana Mami Diah dan Tante Gendis? Batinku
...“Nah gitu dong, bo ya dari kemarin - kemarin gitu.. masa harus nunggu aku ngomong berbuih - buih gini sih, padahal itu buat kebaikan juga Diah!” Tekan Tante Diah pada Mami...
...“Iya mba, maaf.. aku benar - benar harus memikirkan ini matang - matang, semoga ini keputusan terbaik buat kita semua” jawab Mami Diah yang kedengarannya semakin pasrah...
...“Bukan semoga Diah, tapi pasti.. kamu harus percaya pada kakakmu sendiri, aku yang dituakan.. aku pasti tahu yang terbaik” cerocos Tante Gendis...
...Aku ingin mendengar lebih jauh pembicaraan kedua orang tersebut, namun aku berhenti ketika samar aku mendenger suara vacum cleaner yang menuju ke tempatku berdiri, suara yang tadinya samar semakin jelas.. aku lupa kalau ini jam bersih - bersih para pelayan, rumah ini dibersihkan pada pagi, siang, dan malam hari. ...
...Aku gegas beranjak dari sana menuju tangga untuk naik ke lantai 2, menyelamatkan diri dari rasa malu kalau sampai ketahuan menguping. ...
... ...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Malam menjelang, Mas Vicky sudah sampai di rumah… setelah makan malam penuh kecanggungan tadi, kami semua bergegas masuk ke kamar masing - masing, tidak ada acara minum teh sambil bercengkrama seperti yang sudah - sudah, sebenarnya aku lega.. karena itu artinya aku tidak harus mendengar omongan pedas Tante Gendis atau tatapan yang merendahkan dari mata Utari, tapi ada satu hal yang menggangguku tadi, Mami tidak sedikit pun tersenyum atau menyapaku, Mami seolah menghindariku.. entah aku salah apa
Yang pasti Mami tidak seperti Mami yang aku kenal 3 tahun ini, Mami terasa dingin dan seolah enggan untuk bicara denganku entah kenapa, apa aku sebaiknya bertanya langsung pada Mami ya? Jujur aku khawatir Mami kenapa - kenapa, atau aku bicarakan sama Mas Vicky? Tapi kalau nanti Mas Vicky malah marah padaku karena dianggap berpikir yang tidak - tidak gimana? Bentakannya padaku gara - gara pembahasan soal Tante Gendis aja masih terngiang di telingaku
...“Mas, kamu merhatiin Mami ga tadi pas kita lagi makan?” Aku memberanikan diri bertanya pada Mas Vicky yang tengah fokus memandang layar laptopnya di atas ranjang kami. ...
__ADS_1
...“Emang Mami kenapa sayang?” Tanya Mas Vicky tanpa menoleh ke arahku, dia sibuk melihat layar laptop dan kertas - kertas bergantian...
...“Mami tadi diam aja Mas wajahnya kayak sedih, apa Mami sakit ya sayang?” Tanyaku...
...“Mami sehat kok, kalau Mami sakit pasti Bram ngasih tau aku.. Bram kan monitor kondisi Mami tiap hari” jawab Mas Vicky, dr. Bram adalah dokter pribadi keluarga mertuaku sekaligu sahabat kecil Mas Vicky...
...“Tapi tadi siangnya pas di ruangan baca, aku sempet liat Mami sama Tante Gendis Mas, terus Tante Gendis itu kayak ngomel - ngomelin Mami, Makanya ak.. “...
...“Vira stop!!!!!” Suara Vicky melengking, membuat jantungku seketika berdetak kencang, badanku gemetar ...
...“Kamu ga liat apa aku lagi kerja, ini penting Vir! Apa kamu ga bisa berhenti ngomong bentar aja?!” Ucap Mas Vicky masih dengan nada tinggi dengan mata yang nyalang menatapku ...
Ya Allah, lututku gemetaran.. keringat tiba - tiba muncul padahal aku berada di ruangan yang dingin full AC, aku takut melihat rahang Mas Vicky yang mengeras, suaranya yang tinggi, dan tangannya yang mengepal kuat. Ini kedua kalinya Mas Vicky membentakku.
Mas Vicky mungkin sadar akan air mata yang lolos jatuh dari mataku, aku nyaris tak berkedip melihat ke marahannya, Mas Vicky menghela napasnya kasar, ia kemudian menutup laptopnya, menyusun kertasnya tak beraturan dan meletakkan laptop beserta kertasnya di atas nakas di samping ranjang kami, Mas Vicky kemudian turun dari ranjang dan mendekatiku yang duduk terpaku di atas sofa, sekilas aku melihatnya memijit pangkal hidungnya, sepertinya ia benar - benar sedang banyak pikiran.
...“Sayang, maaf.. aku ga bermaksud bentak kamu, aku bener - bener lagi pusing, please maafin aku ya” ucap Vicky lembut sambil berlutut di depanku dan terus - terusan mencium punggung tanganku ...
...“Tolong Mas, jangan lakukan lagi.. tolong” ucapku lirih sambil menyeka air mataku ...
...“Iya sayang, maaf.. maaf” ucapnya sambil mencium mataku kiri dan kanan, kemudian ia mencium pipiku kiri dan kanan, dan ia mendaratkan kecupannya di bibirku...
Entah apa yang membuatku gampang luluh, sehingga aku menurut saja ketika Mas Vicky pelan - pelan membuka kancing baju tidurku dan membopongku ke atas tempat tidur, malam itu dia melakukannya dengan begitu lembut, sepertinya hilang sudah pusingnya tadi. Kami bahkan melakukannya hingga menjelang pagi.
__ADS_1