Nyonya Muda Baru Untuk Suamiku

Nyonya Muda Baru Untuk Suamiku
Kabar baik dan kabar buruk 2


__ADS_3

Vira sampai di kediamannya setelah malam, Bi Welas ternyata masih setia menunggunya, melihat kedatangan Vira Bi Welas langsung menghambur mendekati Vira


...“Gimana Neng? Udah ketemu sama orangnya?” Tanya Bi Welas penasaran...


...“Udah Bi” jawab Vira singkat, ia kemudian duduk di sofa, badannya terasa lelah sekali, kepalanya terasa pusing, perutnya juga mual. Entah kenapa dia ini.. selera makannya pun hilang entah kemana....


...“Terus gimana Neng, mmm.. maaf apa orang tua Neng masih ada?” Tanya Bi Welas hati - hati...


...“Udah ga ada Bi” jawab Vira lirih sambil menggeleng, wajahnya tertunduk, tangannya sibuk menyeka air mata yang berjatuhan. ...


...“Innalillahi, ya Allah.. Neng yang sabar ya, Neng yang kuat” hibur Bi Welas menguatkan Vira...


...“Iya Bi, makasih ya” jawab Vira...


...“Bi, apa Mas Vicky atau Mami nelepon rumah?”Vira seketika ingat dengan ponsel yang kehabisan daya, ia kemudian merogoh tasnya dan mengambil power bank yang langsung ia sambungkan dengan gawainya. ...


...“Maaf Neng, tidak ada yang nelepon ke rumah dari tadi” jawab Bi Welas pelan, ia tidak ingin membuat Vira bertambah sedih ...


...“Oh ya sudah Bi, Bi Welas istirahat aja ya.. udah malem” seru Vira pada Bi Welas...


...“Neng Vira ga butuh apa - apa lagi? Ga mau makan dulu Neng?” tanya Bi Welas...


...“Enggak Bi, Vira ga laper” jawab Vira lemas, matanya tak lepas dari gawai yang baru menyala kembali ...


...“Ya sudah Neng, Bi Welas permisi dulu kalau gitu” ucap Bi Welas undur diri...


...“Iya Bi, makasih ya” ucap Vira sambil tersenyum santun...

__ADS_1


Vira segera masuk ke aplikasi perpesanan begitu gawainya menyala, ia dengan teliti melihat satu per satu pesan yang masuk, khawatir kalau ada pesan dari Vicky atau Mami Diah yang ia lewatkan, tapi hasilnya nihil, ia kemudian mencari laporan panggilan, berharap ada missed call dari suami atau mertuanya, hasilnya sama.. tidak ada tanda - tanda mereka menghubungi Vira.


Vira kembali menghempaskan punggungya ke sandaran sofa, ia menghela nafasnya kasar, ia sama sekali tidak mengerti kenapa suami maupun mertuanya sama sekali tidak menghubungi beberapa hari ini, belum lagi kedatangan Mbok Asih yang tiba - tiba dan mengabarkan kabar buruk bahwa orang tuanya memang sudah tiada.


Vira tak sabar ingin menceritakan semuanya pada Vicky dan Mami Diah, Vira kemudian mencoba menghubungi Vicky kembali.. tapi yang ia peroleh tetap sama, HP Vicky sedang tidak aktif.. begitu pun dengan Diah.


Ada apa sebenarnya dengan suami dan mertuanya, kenapa mereka berdua seolah - olah ingin menghindari Vira? Batin Vira. Ia kemudian beringsut, badannya terasa lengket, matanya pun sudah sangat lelah karena menangis terus - terusan tadi, ia berjalan gontai menuju kamarnya di lantai 2, ia ingin segera mandi, sholat, dan berdo’a untuk kedua orang tuanya yang telah tiada, setelah itu ia ingin merebahkan diri di tempat tidurnya, mengistirahatkan badan, hati, dan otaknya yang lelah.


... ...


...****************...


Shubuh menjelang, Vira terbangun karena suara jam weker yang ia letakkan di atas nakas, Vira kemudian beringsut menuju ke kamar mandi untuk berwudhu, setelah itu ia melaksanakan sholat shubuh, baru saja ia akan melipat mukenanya ketika ia mendengar suara ponselnya yang berdering.


Vira segera mengambil ponselnya di atas meja kerja suaminya di kamar itu, ia kemudian segera mengangkat telepon yang ternyata dari Tuti


...“Mba…. “ jawab Tuti sambil terisak, ia sampai lupa menjawab salamnya Vira ...


...“Loh Tut, kamu kenapa? Kok nangis?” Tanya Vira khawatir ...


...“Mba, tolong segera kesini ya Mba” ucap Tuti sambil terisak, isakan Tuti membuat Vira semakin khawatir...


...“Iya iya nanti Mba kesana, tapi kamu cerita dulu Tut kamu kenapa? Kenapa nyampe nangis gitu?” Tanya Vira penasaran...


...“Mba, Ibu Mba.. “ ucap Tuti lirih ...


...“Tut kamu kenapa? Terus Ibu kenapa Tut? Kamu dimarahin Bu Citra ya” tanya Vira lagi sewot ketika ia tidak juga mendapat jawaban dari Tuti ...

__ADS_1


...“Mba, Ibu… Ibu udah berpulang mba” jawab Tuti diiringi tangisnya yang sesenggukan...


Vira luruh ke lantai, ponselnya terjatuh dari genggamannya, dadanya terasa sesak, matanya seketika memanas, air mata lolos sudah dari matanya


“Inalillahi, Buuuuuuuu” pekik Vira, hatinya remuk redam, hancur berkeping - keping, baru saja kemarin ia diyakinkan bahwa orang tuanya memang sudah tiada, sekarang ia harus kehilangan lagi orang yang ia anggap Ibunya sendiri


Dunia Vira seakan menggelap, pandangannya mengabur, kakinya lemas sulit ia gerakan. Vira mencoba berdiri sekuat tenaga, menghirup dan mengeluarkan nafasnya pelan untuk menenangkan dirinya sendiri, ia kemudian menghubungi Pak Wayan sopir pribadinya untuk mengantarny, ia juga meminta Bi Welas untuk turut ikut bersamanya.


Sepanjang perjalanan ke panti bayangan Bu Citra memenuhi pikirannya, kelembutannya, tatapannya yang penuh cinta, kehangatannya dalam bertutur, membuat Vira selalu merasa tenang bahwa ada yang mencintai dan melindungi dirinya di dunia ini, bahkan ketika ia di bully di sekolahnya pada saat ia masih kecil dulu, dicaci, dihina, dan dilabeli anak buangan oleh teman - teman sekelasnya Vira tetap tenang, karena ia tahu ada sosok Ibu yang akan membelanya, menghapus semua luka di hatinya.


Air mata Vira jatuh bercucuran, Bi Welas yang duduk disampingnya merangkul tubuh Vira, menenangkan Vira semampu yang ia bisa. Bi Welas merasa prihatin wanita muda ini harus beberapa kehilangan orang yang berarti dalam hidupnya.


Mobil mewah Vira berhenti agak jauh dari pintu gerbang panti, halaman panti yang penuh oleh kendaraan roda dua dan roda empat tidak memungkinkan Pak Wayan untuk memarkirkan mobilnya disana.


...“Ga apa - apa Pak, parkir disini aja” ujar Vira pada Pak Wayan ...


Pak Wayan bergegas turun dari mobil, lekas membukakan pintu penumpang, Vira kemudian turun perlahan, disusul Bi Welas. Vira beberapa kali oleng untungnya ada Bi Welas yang menopang badan Vira. Para tetangga panti dan warga lain terlihat menoleh ke arah Vira, Vira yang memakai gamis hitam dan kerudung dengan warna senada membuat kulit putih bak pualam itu semakin menyilaukan mata, Vira punya daya tarik luar biasa dimana pun dan memakai baju apa pun, bahkan pada saat ia tanpa make up sama sekali seperti sekarang.


Vira menatap sendu bendera kuning yang melambai di pintu masuk panti, adik - adik balita Vira di panti berlari kesana kemari tidak mengerti apa yang sedang terjadi, beberapa orang yang baru saja datang tampak berbincang, kebanyakan kaget akan berita kepergian Bu Citra yang sebelumnya terlihat sehat - sehat saja.


Vira kemudian melangkah masuk ke dalam panti dengan gontai, hatinya sakit, dadanya sesak, lantunan ayat suci orang - orang yang datang untuk berbela sungkawa menambah pilu suasana.


Vira tertegun, hatinya terkoyak, dadanya perih luar biasa melihat Bu Citra yang terbujur kaku, wajahnya mengulas senyum damai, kulitnya terlihat pucat pasi, sosok yang selalu membelainya dengan lembut itu kini terbujur kaku


Vira luruh terduduk di lantai, Tuti yang baru menyadari kehadiran Vira segera bangkit menghampiri Vira dan memeluk erat tubuh Vira, kini kedua wanita itu menangis bersama, beberapa anak panti juga terlihat menangis disisi jenazah Bu Citra yang mereka cintai.


Saat ini Vira benar - benar membutuhkan suaminya, membutuhkan bahu suaminya untuk bersandar, tapi kemana Vicky saat Vira sangat membutuhkannya?

__ADS_1


__ADS_2