Nyonya Muda Baru Untuk Suamiku

Nyonya Muda Baru Untuk Suamiku
Harapan Baru Vicky (Episode Bonus)


__ADS_3

(Hai all, welcome ke episode bonus spesial untuk kalian semua yang sudah setia mensupport author, jangan lupa mampir ke karya kedua author yang berjudul “Satu Suami Dua Istri” besar harapan Author agar karya kedua author mendapat antusiasme dari teman - teman semua berupa like, gift, favorite, vote, serta tak lupa kritik dan saran 😊😊. Happy reading all ❤️❤️❤️❤️)


Vicky menatap sendu Ibunya yang kini terbaring tak berdaya di ranjang rumah sakit, tadi malam Ibunya dilarikan ke rumah sakit setelah jatuh dari kursi rodanya pada saat mencoba bangkit untuk meraih ponsel yang diletakkan di atas nakas di kamarnya.


Vicky merutuki dirinya yang tak berada di samping Ibunya ketika Ibunya tengah membutuhkannya karena ia sibuk bekerja, kabar tentang Ibunya yang jatuh dari kursi roda pun ia dapat dari pembantu rumah yang menghubunginya, kini Vicky tengah dilema di satu sisi ia ingin merawat Ibunya, namun di sisi lain ia tak mungkin meninggalkan tanggung jawab yang telah diberikan Alex padanya


“Permisi” suara lembut yang sangat ia kenal membuyarkan lamunannya, suara wanita yang selalu mengisi hatinya dan sulit untuk ia lupakan


“Vira” ucap Vicky sambil berbalik dan menatap sumber suara, tapi Vicky kaget karena yang dipandanginya kini bukan Vira, melainkan seorang perempuan cantik berseragam perawat


“Maaf Tuan, nama saya Laura, bukan Vira” jawab Laura sambil menunjuk tag nama yang tersemat di seragamnya


“Ah maaf, saya pikir tadi orang lain, soalnya suaranya mirip banget” ucap Vicky sedikit kecewa karena yang punya suara ternyata bukan Vira melainkan Laura


“Ga apa - apa Tuan, saya periksa kondisi Nyonya Diah dulu ya” sahut Laura sambil beranjak mendekati Diah


“Maaf apa Tuan anaknya Nyonya Diah?” Tanya Laura sambil mengecek cairan infus yang mengalir ke tangan Diah


“Iya saya anaknya” sahut Vicky


“Sebagai seorang anak bagaimana anda bisa meninggalkan Ibu anda yang tengah lumpuh sendirian Tuan?” Selidik Laura


“Tadi malam saya masih di kantor, dan pembantu saya sedang sibuk di dapur pada saat Ibu saya jatuh” jawab Vicky


“Sudah tau Ibu anda ga berdaya, tapi anda malah kerja nyampe malem!” Gerutu Laura


Vicky sedikit tersinggung dengan penghakiman Laura padanya, tapi hatinya pun membenarkan omongan Laura


“Jangan nyampe anda menyesal nantinya Tuan” tambah Laura lagi


“Maksudnya?” Tanya Vicky tak mengerti


“Apa anda ga ngeliat kondisi Nyonya Diah Tuan? Bukan hanya kakinya yang lumpuh, badannya juga kurus kering ga terawat, keliatan banget kalo anda ga memperhatikan Ibu anda sendiri!” Sewot Laura geram


“Maaf Nona Laura, tolong jangan sok tau” tukas Vicky, ia mulai meradang


“Saya bukannya sok tau Tuan, saya hanya mengingatkan, saya tau betul bagaimana rasanya kehilangan seorang Ibu” tutur Laura lagi


Vicky menatap Laura, wajah Laura yang cantik berubah sendu


“Maaf apa Ibu anda sudah meninggal?” Tanya Vicky, nalurinya tergelitik ingin tahu


Laura mengangguk lemah


“Baru dua bulan lalu, karena kanker” jawab Laura, matanya berkaca - kaca


“Maaf” ujar Vicky, ia merasa tak enak karena membuta Laura mengingat Ibunya kembali

__ADS_1


“Ga apa - apa Tuan, maaf karena tadi saya lancang menggurui Tuan, padahal kita baru kenal”


“Saya justru berterima kasih karena udah diingetin” sahut Vicky


“Apa ga ada orang lain yang bisa jagain Nyonya Diah di rumah Tuan? Karena sangat riskan jika Nyonya Diah sering ditinggal sendirian, bagaimana dengan istri Tuan? atau mungkin pacar?” Tanya Laura


Vicky tersenyum


“Saya ga punya istri atau pacar” jawabnya


Laura membulatkan matanya seakan tak percaya akan jawaban Vicky, rasanya tak mungkin pria tampan yang membuat teman - teman sesama perawatnya pagi ini heboh tak memiliki seorang istri atau pacar. Mata Luara yang membulat membuat iris hitam pekatnya terlihat mempesona, sesaat mereka saling pandang dan membiarkan dirinya saling terpesona satu sama lain. Laura memang mempesona, kulitnya putih, matanya bulat dengan iris hitam pekat, hidungnya bangir, bibirnya merah merekah, meskipun badannya tak setinggi dan se sexy Vira, badan Laura mungil, membuatnya terlihat imut dan menggemaskan.


“Eheeemm, saya permisi dulu ya Tuan, ada pasien lain yang harus saya periksa” ucap Laura salah


tingkah


“Ah iya, makasih ya Sus” ucap Vicky tak kalah salah tingkahnya


...****************...


Vicky tersadar dari tidurnya yang baru sebentar ketika seorang dokter masuk ke ruangan tempat Ibunya di rawat


“Selamat malam Tuan Vicky, maaf saya mengganggu istirahat anda” ucap sang dokter


“Ga apa - apa dok, gimana kondisi Ibu saya?”


“Ibu anda sudah stabil Tuan, tapi perlu saya ingatkan agar Ibu anda dipantau terus, jangan sampai kejadian yang sama terulang kembali, oleh karena itu nanti saya akan menugaskan salah satu perawat untuk merawat Ibu anda di rumah, itu pun kalau anda setuju”


“Maaf dok, apa saya bisa memilih perawatnya?” Tanya Vicky


“Silakan, tapi nanti akan saya tanyakan juga kesediaan perawat yang bersangkutan”


“Baik dok, terima kasih” ucap Vicky dengan wajah berbinar, setelah sekian lama hatinya kembali bergelenyar, sama seperti ketika pertemuan pertamanya dengan Vira dulu.


...****************...


Laura mendorong pelan kursi roda yang diduduki oleh Diah, mata Laura menyapu sekeliling rumah mewah milik Vicky itu


“Kamar Ibu saya ada di sebelah sana Sus, dan kamar suster tepat di sampingnya, agar suster bisa lebih mudah mengontrol Ibu saya” ucap Vicky


“Baik Tuan, kalau begitu saya mengantar Nyonya Diah istirahat dulu” tutur Laura lalu beranjak menuju kamar Diah diiringi tatapan Vicky yang penuh arti


“Makasih ya Laura, kamu udah mau ngerawatin Tante” ucap Diah sesaat setelah mereka sampai di kamarnya


“Dengan senang hati Nyonya” sahut Laura sambil membenar - benarkan selimut Diah


“Jangan Nyonya dong, Tante, atau lebih bagus lagi kalau Mami” goda Diah pada gadis cantik itu, Diah memang telah jatuh hati pada Laura karena selain cantik, gadis itu merawatnya dengan sabar dan telaten.

__ADS_1


”Baik Tante, kalau manggil Mami Laura belum berani, takut Tuan Vicky marah” sahut Laura dengan muka yang memerah


“Nah itu juga, manggil Vicky pake Mas aja, ga usah manggil Tuan, ya?” Tawar Diah sambil meraih tangan Laura dan menggenggamnya


Laura tersipu malu diperlakukan semanis itu oleh Diah


“Mi, mau makan apa? Biar Vicky pesenin” ucap Vicky yang baru masuk ke kamarnya


“Mami mau tidur aja Vick, Mami capek, kamu ajak Laura aja ya, dia belum makan dari tadi” titah Diah


“Ga usah Tante, jangan ngerepotin, nanti Laura bisa masak sendiri atau beli sendiri” tolak Laura halus, ia tak ingin merepotkan pemilik rumah di hari pertama ia bekerja


“Ga apa - apa Sus, sekalian temenin saya makan” sahut Vicky


“Vick, manggilnya Laura aja, biar lebih akrab” ucap Diah sambil cekikikan


Vicky dan Laura saling pandang sebentar kemudian sama - sama menoleh ke arah lain salah tingkah


”Udah pada makan sana, Mami pengen tidur!” Titah Diah


Vicky dan Laura manut, mereka kemudian beranjak keluar dari kamar


“Kamu mau makan apa Laura?”


“Uuumm.. Laura mau masak aja kayaknya Mas”


Deg..


Hati Vicky bagai di elus - elus tangan halus mendengar Laura memanggilnya Mas


“Mas mau dimasakin juga ga?”


“Mau, kalau kamu ga keberatan” ucap Vicky malu - malu


Tak berselang lama kemudian, Vicky dan Laura kini duduk berhadapan di meja makan menikmati makanan yang Laura masak, menunya sederhana saja hanya ayam goreng, sayur bayam, dan sambal, tapi entah kenapa Vicky makan dengan lahapnya seolah itu adalah makanan mewah


“Pelan - pelan makannya Mas, ga bakal ada yang ngabisin kok” ujar Laura sambil terkekeh melihat wajah Vicky yang memerah karena melahap sambal pedas buatan Laura


“‘Masakan kamu enak Laura” ucap Vicky


“Kalau Mas mau nanti Laura masakin tiap hari” ucap Laura enteng namun membuat Vicky terbatuk - batuk, Laura gegas menyodorkan segelas air pada Vicky yang lalu ditenggak Vicky hingga tandas


“Maksud Laura selama Laura kerja disini Mas, itu pun setelah Laura selesai merawat Tante Diah” ralat Laura tak ingin membuat Vicky salah paham


“Kamu masakin tiap hari terus juga ga apa - apa kok” gumam Vicky pelan


“Mas ngomong apa? Laura ga denger?”

__ADS_1


“Ah enggak, ini loh sayur bayamnya enak.. hehhe” ucap Vicky cengengesan


Diah yang belum terlelap tersenyum bahagia mendengar gelak tawa Vicky dan Laura, hatinya menghangat merasakan rumah yang sudah lama sepi kini terasa hidup lagi.


__ADS_2