
Vicky dan Diah mendudukkan diri mereka di sofa, wajah keduanya pucat pasi, mata mereka sembab karena tangis yang entah sudah ke berapa kali. Para pelayan yang melihat mereka penasaran dengan apa yang sedang majikan mereka alami, entah peristiwa apalagi yang terjadi sekarang, rumah itu seolah kena kutukan, masalah demi masalah terjadi semenjak kepergian Vira.
...“Apa yang terjadi Mi, kenapa kita jadi begini?” Tanya Vicky lirih...
Diah tak bergeming, tatapannya kosong, pikirannya kalut.
...“Aku memang telah menyakiti Vira Mi, tapi apa balasannya harus seperti ini?” Tutur Vicky lagi, kedua tangannya menutupi wajahnya yang kembali basah karena air mata...
Diah menoleh pada anaknya, ia lantas mengusap - usap punggung anaknya yang kokoh, punggung yang biasanya tegap itu kini goyah
...“Ini ga sebanding dengan penderitaan Vira dulu Nak” ucap Diah dengan bibir yang gemetar...
...“Ini karma buat kita Vick, kita harus terima ini” lanjut Diah...
...“Aku terima hukumannya, tapi aku tetep ga bisa terima kehilangan Vira Mi, ini ga adil!” Sendu Vicky...
...“Vick tolong, sudah lah! Jangan berurusan lagi dengan Vira, Mami udah ga sanggup nerima hukuman dari mereka” sentak Diah geram...
Baru saja Diah menutup mulutnya ketika suara derap sepatu disertai teriakan terdengar
...“Diah!” Pekik Bagus lagi, yang belum menemukan Diah di ruang tamu yang ia masuki, sepupu Diah yang lain turut merangsek masuk, wajah mereka penuh amarah...
Diah dan Vicky yang sedang berada di ruang tengah tergopoh menghampiri mereka, para pelayan ikut serta dibelakangnya
...“Ada apa ini Mas Bagus?” Tanya Diah bingung ketika melihat para sepupunya sudah berkumpul di ruang tamunya dengan menatap Diah dan Vicky penuh kebencian ...
...“Heh Diah, kamu pernah ngajarin anak kamu ga sih? Bisa - bisanya dia melakukan hal bodoh dan memalukan di depan banyak orang?!” Hardik Bagus dengan tangan yang berkacak pinggang...
“Hal bodoh apa maksudnya Mas?” Tanya Diah lagi
...“Ini, coba kamu lihat ini, ini yang udah nonton pasti seantero negeri! Apa kalian ga punya malu?” Sentak Bagus lagi sambil menyodorkan ponselnya, pandangannya mengabsen Diah dan Vicky...
Tangan Diah bergetar menerima ponsel dari Bagus, matanya seketika membulat tatkala melihat video di ponsel Bagus, video yang berisi tayangan saat Vicky mencium sepatu Vira dan Diah yang tengah menangis tersedu di lantai
Vicky yang melihat video itu sekilas hanya membisu, memang sudah tamat riwayatnya kini, video tersebut tentu dengan cepat tersebar lewat media sosial, video dengan judul mantan pimpinan salah satu perusahaan terbesar tengah mencium kaki mantan istrinya tentu menjadi bahan perbincangan hangat.
...“Kenapa kamu sampai melakukan hal sebodoh itu Vicky, hah?” Hardik Bagus lagi...
Vicky mendelik, ia mulai jengah dengan keluarga Ibunya itu
...“Memangnya kenapa Pakdhe, aku cuma berusaha untuk mendapatkan Vira lagi, dimana letak kesalahanku?” Tantang Vicky...
Bagus dan sepupunya yang lain terbelalak mendengar jawaban Vicky
...“Dasar gila kamu Vicky, udah ga waras kamu! Apa kamu ga malu mengemis - ngemis cinta pada istri orang lain?” Kini Ningsih yang angkat bicara...
Vicky melayangkan pandangannya pada Ningsih, rahang Vicky mengeras
...“Harusnya dia masih menjadi istriku seandainya saja kalian semua ga ikut campur dalam rumah tanggaku!” Sengit Vicky, hilang sudah sabarnya pada orang - orang yang ia anggap telah menghancurkan rumah tangganya...
...“Lancang kamu Vicky! Jangan jadikan orang lain kambing hitam atas kesalahan kamu sendiri!” Tandas Murni...
__ADS_1
...“Kesalahanku? Itu kesalahan kalian! Kalian yang mempengaruhi Ibuku agar aku menikahi Utari, wanita yang kalian anggap pantas untukku, dan akhirnya aku harus mengkhianati Vira dan kehilangan dia!” Sengit Vicky, jarinya menunjuk - nunjuk dengan wajah yang memerah...
Bagus dan sepupunya yang lain geram dibuatnya
...“Tapi kamu tetap nikmatin kan Vicky? Jangan munafik kamu, kalo iya kamu lelaki setia mana mungkin kamu akan tergoda sama si Utari” sinis Murni...
Vicky membisu, hatinya membenarkan apa yang disampaikan Murni
Diah menghela kasar nafasnya
...“Ada lagi yang Mas Bagus mau bicarakan?“ Tanya Diah, setali tiga uang dengan anaknya ia sudah mulai jengah dengan keluarganya...
...“Iya Diah, ada satu hal lagi yang mau aku tanyain, apa bener perusahaan si Vicky sudah jadi milik si Vira sekarang?” Tanya Bagus...
Diah mengangguk pelan, membuat semua saudaranya terkaget kembali
...“Gimana bisa Vicky?! Itu perusahaan peninggalan Bapakmu, harusnya kamu pertahanin! Gimana nasib kami sekarang kalo kamu udah ga punya perusahaan, gimana kami bisa makan?” Sewot Bagus, suaranya lantang, urat lehernya tampak menonjol ...
...“Mas, sudah! Kami juga sama kagetnya, tolong biarkan kami berpikir dulu” sentak Diah membuat wajah Bagus kian memerah karena marah...
...“Kalian berdua memang ga bisa diandelin, kamu dan anak kamu sama bodohnya! Gara - gara kalian perusahaan kami dibikin bangkrut sama si Alex, gara - gara kalian juga gelar ningrat kami dicabut, dan hari ini gara - gara kebodohan kamu sama anak kamu, kami bakalan ga bisa makan!” Hardik Bagus, suaranya menggelegar membuat para pelayan Diah yang setia berdiri di belakang Diah mengelus dada, sementara Vicky tersulut emosinya...
...“Cukup!” Sentak Vicky, tangannya mengepal...
Bagus tersentak dan menciut melihat kemarahan Vicky, sepupu yang lain bungkam seribu bahasa, sementara Diah lagi - lagi mengeluarkan air matanya
...“Kalian semua mendapat hukuman atas kejahatan yang kalian lakukan terhadap Vira, begitu pun aku dan Ibuku! Dulu kalian yang menginginkan ada Nyonya baru pengganti Vira di rumah ini karena status keningratan dan sekarang sebagai hukumannya kalian kehilangan gelar keningratan kalian, dan aku kehilangan Vira dan juga kekayaanku, jadi jangan berani - beraninya menghakimi aku dan Ibuku” sentak Vicky dengan mata yang menyalang tajam...
...“Kalian cuma jadi benalu dan penyakit buat aku dan Mami, kalian penyebab kehancuran rumah tanggaku dan Vira, dan sekarang kalian meributkan bagaimana kalian makan dari uang kami?” Nyalang Vicky lagi, dadanya turun naik menahan amarah yang membuncah...
Vicky terhuyung dan jatuh ke lantai, ia kemudian bangkit sambil mengusap sudut bibirnya yang berdarah, Diah menghambur membantu anaknya bangun, ia lalu melemparkan pandangannya pada Bagus yang tengah mengusap - ngusap buku jarinya
...“Berani - beraninya kamu memukul anakku Bagus!” Lantang Diah, hilang sudah rasa hormatnya pada saudaranya itu...
Bagus yang emosinya sudah mereda kembali tersulut
...“Itu karena anak kamu kurang ajar Diah!” Sengit Bagus...
Diah menatap tajam pada Bagus
...“Bukan, bukan karena dia kurang ajar, tapi karena dia bukan pimpinan perusahaan lagi, karena dia ga punya uang lagi, itu makanya kamu berani sama dia Bagus!” Tandas Diah, suaranya meninggi meluapkan kekesalannya...
...“Aku nyesel ngikutin semua keinginan kalian selama ini, aku nyesel udah membuat hidup anakku berantakan gara - gara omongan kalian!” Pekik Diah, air matanya meleleh...
Bagus terdiam, ia tak menyangka Diah bisa selancang itu padanya
...“Heh Diah, kalo emang kalian jatuh miskin itu bukan salah kami, terima aja nasib kalian yang kere sekarang!” Tandas Murni lagi...
...“Murni!” Hardik Bagus meredam omongan Murni, ia ingat masih ada yang bisa ia keruk dari Vicky...
Bagus mendekati Diah dan Vicky
__ADS_1
...“Vicky, maafin Pakdhe ya, tadi Pakdhe terbawa emosi” ucap Bagus melunak...
Sepupu - sepupu Diah yang lain melongo melihat sikap Bagus yang tiba - tiba berubah
Vicky diam tak bergeming, Bagus lantas menoleh pada Diah
...“Dik, maafin Mas ya, Mas ga bermaksud buat ninju Vicky tadi, Mas kelepasan” ucap Bagus pada Diah...
...“Dik, kita ini keluarga, bagaimana pun kalian kami tetep akan menerima kalian dengan lapang dada” ucap Bagus lembut...
Diah hening, namun kemarahannya mereda, ia mulai termakan omongan Bagus lagi
...“Tenang aja dik, kita pasti bisa mengatasi masalah ini” ucap Bagus sambil menepuk - nepuk bahu Diah...
...“Tapi gimana caranya Mas?” Ucap Diah lirih sambil mengusap air matanya...
Bagus tersenyum puas merasa Diah sudah berhasil masuk pancingannya
...“Ya gampang dik, kita tinggal jual jet pribadinya Vicky, terus kita jadikan modal usaha lagi, kalo sudah berkembang kita rebut lagi perusahaan kita dari Alex” ucap Bagus dengan senyum yang mengembang...
Mendengar itu Vicky tertawa terbahak, ia kini mengerti apa tujuan Bagus berubah sikap menjadi baik
Diah ikut tersenyum miris
...“Mas, hutang Vicky pada perusahaan Vira itu masih sangat banyak, bahkan harga jet pribadi kami tidak akan cukup untuk menutupi hutang Vicky, kami tidak punya pilihan selain akan memberikan jet pribadi itu untuk Vira agar Vicky tidak dipenjara” tutur Diah lirih...
Bagus terhenyak begitu pun saudaranya yang lain
...“Jadi kalian benar sudah jatuh miskin?” Tanya Bagus tak percaya...
Diah mengangguk
...“Cih, sia - sia saja aku ngomong baik - baik sama kalian, ternyata kalian udah kere” sinis Bagus...
Diah tersenyum sinis
...“Kamu sudah memperlihatkan topeng kamu Bagus, kalian cuma baik karena kalian butuh uang kami, harusnya dari dulu aku sadar siapa sebenarnya kalian!” Tandas Diah...
...“Udah lah Mas, ngapain buang - buang waktu ngomong sama si Diah, percuma! Mereka udah kere Mas!” Tandas Murni, sepupu mereka yang lain mengamini Murni...
“Bener juga kamu Murni, buang - buang waktu aja! Kasian, sekarang si Vicky udah ga punya duit, mana si Viranya udah punya Alex lagi, mana kuat dia nyaingin Alex!” Cemooh Bagus sambil terkekeh, ditimpali sepupunya yang lain yang tertawa terbahak
...“Pergi kalian dari rumahku, pergi!” Pekik Diah...
Bagus dan sepupunya yang lain mendelik tajam pada Diah
...“Siapa juga yang mau lama - lama di rumah orang gila kayak anakmu!” Ucap Bagus ...
...“Pergi!!!!” Lantang Diah lagi...
Bagus melihat Diah dengan sinis sebelum kemudian ia dan sepupunya yang lain beranjak keluar dari rumah Diah.
__ADS_1
Sepeninggal keluarganya Diah meluruh ke lantai, tangisny kembali pecah. Penyesalan selalu saja datang terlambat, kini nasi sudah jadi bubur. Diah benar - benar tak menyangka hidupnya akan menjadi semiris ini, ia kehilangan kehormatannya sebagai ningrat, ia pun kehilangan kekayaannya, dan kini ia ditinggalkan keluarganya.
Vicky menghambur memeluk Ibunya, keduanya kini menangis sesenggukan, hukum tabur tuai sedang mereka rasakan atas kejahatan mereka pada Vira.