
Waktu terus berjalan, kehamilan Vira kini telah menginjak usia 7 bulan. Usia kehamilan dimana prosesi tingkeban akan digelar di keraton, acara yang sangat dinanti oleh seluruh anggota keluarga keraton dan warganya, mengingat ini adalah cucu pertama dari Kanjeng Sultan. Begitu pun dengan antusiasme yang terjadi di keluarga Baba Jaber, anak pertama dari pewaris tunggal Al - Maktoem tentu sangat dinanti oleh seluruh keluarga besarnya.
Tebar berkat pada warganya sudah rampung dijalankan oleh Kanjeng Sultan dari pagi hari, berkat yang dibagikan kali ini jauh lebih banyak mengingat jumlah warga yang datang membludak mengingat anak Vira yang tengah dikandung tersebut digadang - gadang akan menjadi pengganti Kanjeng Sultan. Acara tingkeban tersebut juga turut disiarkan live di beberapa stasiun televisi swasta, sehihgga kerumunan wartawan turut memadati area keraton. Para polisi, tentara, serta prajurit keraton dikerahkan untuk menjaga berjaga - jaga mengingat tak kurang dari para pejabat negara, para duta besar, dan para pejabat daerah menghadiri acara tersebut, beberapa teman miliarder Alex juga turut serta hadir dan ikut menyaksikan prosesi demi prosesi dengan khidmat.
Kebahagiaan menyelimuti keluarga besar Vira dan Alex yang kini tengah berada di pendopo keraton, Alex tampak gagah dengan beskap, jarit dan lengkap dengan blangkonnya, sementara Vira makin cantik dengan kebaya dan jaritnya, perut buncit dan pipi putihnya yang semakin tembem membuatnya terlihat menggemaskan, hingga Alex tak berhenti mengelus - elus perut dan pipi Vira.
Acara diawali dengan kedatangan Kanjeng Sultan dan Permaisuri ke pendopo, pertanda bahwa acara akan segera dimulai, seorang abdi dalem lantas sigap maju ke depan dan memanjatkan do’a, acara kemudian dilanjutkan dengan sungkeman Alex dan Vira kepada Kanjeng Sultan dan Permaisuri, serta Baba Jaber dan Mama Maryam.
Selepas itu Vira digiring oleh para abdi dalem dan para putri keraton untuk berganti baju dan bersiap menjalani proses siraman yang dilakukan oleh Kanjeng Sultan dan Permaisuri, Mama Maryam dan Baba Jaber, serta para sesepuh yang lain, sepanjang acara do’a - do’a dipanjatkan untuk keselamatan calon Ibu dan bayi, raut bahagia terpancar di wajah Alex dan Vira serta keluarganya.
Setelah acara siraman, Vira mengganti baju basahnya dengan baju kering, begitu pun dengan Alex yang kini menggunakan beskap dan jarit yang senada dengan Vira, Vira kemudian menjalani proses berganti kain khas keraton sebanyak tujuh kali, setiap kali hadirin menyebutkan tak pantas ketika Vira mengganti kainnya, Alex yang masih bingung dengan tradisi yang di jalaninya tampak mengerutkan keningnya
__ADS_1
...“Ma, kok dibilang ga pantes? Padahal Vira pake apa aja cantik loh” bisik Alex pada Ibunya yang berdiri di sampingnya...
Maryam mendelik pada anaknya
...“Aih Alex, bucinmu itu dikurangi dikit dong! itu cuma tradisi aja Lex, nanti pas Vira pake kain terakhir semuanya akan bilang pantes, liat aja ntar” tutur Maryam gemas pada anaknya...
Alex hanya manggut - manggut, ia lantas menatap istrinya yang tengah sibuk berganti kain dengan wajah yang berseri, ia lalu memandangi perut istrinya yang semakin membuncit, hatinya menghangat mengingat di dalam rahim Vira sedang tumbuh mahluk kecil buah cinta mereka, cinta yang mereka perjuangkan dengan susah payah.
...“Mudah - mudahan acara hari ini menjadi pengikat yang lebih kuat buat kalian, ingat sudah ada anak diantara kalian, tanggung jawab kalian semakin besar, jadi Romo berharap kalian bisa menghadapi apa pun cobaan yang akan kalian hadapi di depan nanti” tutur Kanjeng Sultan setelah rangkaian acara selesai dilaksanakan...
Vira dan Alex mengangguk setuju
__ADS_1
...“Jaga Vira ya Nax Lex, sekarang tanggung jawab Nak Alex bertambah satu, jadilah kepala keluarga yang bertanggung jawab dalam memimpin keluarga Nak Alex, terlebih apa yang pernah Vira alami, Ibu percayakan kebahagiaan Vira pada kamu” tambah permaisuri ...
Alex mengangguk mantap menyanggupi permintaan mertuanya itu, ia tak ragu sedikit pun. Memang itulah hal yang akan ia lakukan sekarang, yaitu membahagiakan istri dan anaknya.
...****************...
Lain di dalam keraton, lain pula yang terjadi di pelataran keraton. Vicky menatap nanar gerbang keraton yang tertutup rapat, ia duduk diatas trotoar seberang keraton dengan wajah sendu dan sarat keputus asaan, ingin ia menerobos masuk ke dalam dan melihat Vira walau cuma buat sebentar saja, sudah berhari - hari ia mendatangi pelataran keraton tapi tak sehari pun ia bisa melihat wajah cantik mantan istrinya itu, hanya mobil Alex yang terlihat mondar - mandir masuk yang ia yakini ada Vira di dalamnya.
Vicky membuka sebentar topi yang menutupi kepalanya, ia lantas mengusap keringat yang membasahi pelipisnya, wajahnya tak luput dari peluh menambah kusam wajah yang kini tak lagi bercahaya, kulitnya pun kini gosong tak terawat, jangankan merawat diri untuk sekedar makan ia dan Ibunya saja ia susah payah mendapatkannya.
Mana terbayang kehidupannya akan seperti sekarang, kini kemana - mana ia harus menggunakan kendaraan umum, meninggalkan semua setelan jasnya dan memakai baju seadanya, tak ada lagi pelayan di rumahnya, bahkan kini rumahnya telah ia jaminkan di bank untuk mendanai kebutuhannya sehari - hari dan modal ia mencari kerja. Memang betul kata orang, rezeki yang dulu ia dapat adalah rezeki istri dan anaknya, ketika mereka tak ada maka seolah hilang pula rezekinya.
__ADS_1
Vicky mengusap matanya yang sembab, netranya memandangi satu per satu orang yang mulai meninggalkan pelataran keraton pertanda sebentar lagi ia pun harus segera beranjak dari situ sebelum di halau oleh para penjaga keamanan. Namun entah kenapa kakinya berat untuk beranjak, ia seolah belum puas sebelum ia bisa melihat wajah Vira. Vicky lantas membayang - bayangkan jika dirinya yang di posisi Alex sekarang, pastinya hidupnya akan bahagia, mempunyai istri secantik Vira dan memiliki anak dari rahimnya sudah barang tentu akan melengkapi hidupnya. Vicky terhenyak karena lamunannya sendiri ketika ia mengingat bahwa dirinya dulu pernah di posisi Alex sekarang, ia kemudian merutuki dirinya sendiri karena melepaskan kesempatan emas yang ia miliki dulu. Kini hanya kenangan tentang Vira dan kuburan janin anak mereka yang Vicky miliki, kuburan janin yang ia sambangi dan ia ajak bicara setiap hari seolah anaknya hidup dan tumbuh disana. Tak berapa lama hujan tiba - tiba mengguyur, langit seolah paham akan sakit yang kini tengah Vicky rasakan, disaat semua orang berlain menyelamatkan diri dari basah karena hujan, Vicky tak bergeming. Ia larut dalam kenangannya dulu bersama Vira, entah sampai kapan ia tak tahu. Ia pun sadar betul tak mungkin baginya untuk mendapatkan Vira lagi, ia harus segera bangkit berdiri dan menata kehidupannya kembali bersama Ibunya, satu - satunya orang yang ia miliki sekarang.