
" Doni ... ngapain kesini ?" Ku ambil segera kertas yang terjatuh tepat dihadapan Doni dengan buru - buru.
" Maaf nay tadi sebenarnya mau ke WC yang ada disana ?" Tunjuk Doni ke luar." Tapi tadi air yang disana macet makannya aku kesini " Sambungnya menjelaskan.
"Oke - oke sekarang udah kan ?"
" Doni hanya mengangguk mungkin merasa gak enak "
Doni keluar dari kamar ku segera aku menyembunyikan kertas itu ditempat yang kurasa aman .
" Maaf nay " Ucap Doni kala melihatku yang langsung duduk dikursi teras begitu juga dengan Doni duduk bersebelahan denganku.
" Iya gak papa Don ,lupain kejadian tadi "
" Iya Nay , tapi gue jadi gak enak nih rasanya ? Pasti kertas tadi isinya penting ya makannya kamu sampai buru - buru simpan"
" Eeuum gak kok itu gak terlalu penting cuma memang aku suka sekali koleksi kertas - kertas gitu buat kenang - kenangan." Jawabku sekenanya.
Drrt ... Drrt ...
ponsel Doni bergetar.
__ADS_1
Doni terlihat kaget saat melihat ponselnya .
" Hah ...Eemm Nay gue pulang dulu ya ada keperluan mendadak " Ujarnya langsung pergi begitu saja .
" Eh , Don kenapa buru - buru " Ujarku kala melihat Doni berlari kecil seraya mengangkat telvonnya .
" Besok lagi nay daa ... " Ujarnya melambai kan tangan. " Iya pak iya - iya sabar " ujarnya dengan sang penelvon yang masih bisa kudengar.
Doni sudah jauh dari rumahku , kuputuskan untuk kembali masuk rumah .Kurebahkan tubuhku pada kasur busa yang ada diranjang tempat tidurku. Memejamkan mata sejenak .
" Serahkan hasil DNA itu sekarang !" perintah lelaki berbadan besar yang ada didepanku.
" Kamu siapa ?pergi dari hadapanku !" Teriakku.
" Gak ,aku gak mau serahkan hasil DNA itu "
" Kamu mau nglawan sini serahkan !"
Teriak lelaki itu dan mendorongku hingga aku tersungkur dilantai . Lelaki itu pergi kearah tempat dimana aku menyimpan kertas itu dengan satu tarikan laci itu terbuka dengan sangat lebar . Dan seger aku berlari mencegah pria itu mengambilnya.
" Jangan - jangan ,jangan bawa kertas itu !" Teriakku .
__ADS_1
Praaakk ...
Suara ponsel Nayra jatuh.
" Hah ...hah ...hah...kertas itu ?" nafasku tersengal-sengal dengan langkah terburu - buru kuputuskan untuk mengecek kertas yang tadi ku simpan .
Saat membuka laci . Aku tercengang " Syukurlah hanya mimpi " Ujarku seraya mengelus dada dan kertas itu masih aman di laci .
***
Dirumah Narendra baru saja mendapat laporan terbaru mengenai kabar papanya .
" Jadi bapak tahu sekarang papa ku ada dimana?"
" Kalau tentang alamatnya saya masih belum mendapatkannya tapi saya tahu kalau sekarang papamu masih tinggal disini dan papamu sudah mengubah penampilannya dengan melakukan oprasi wajah " Jelasnya.
" Apa ? oprasi wajah ? mana mungkin semenjak papa jadi buronan terus dipenjara sampai sekarang menjadi buronan lagi papa sama sekali gak bawa uang sepersenpun dan teman - teman papa juga gak ada yang tahu keberadaan papa apalagi sampai dipinjami uang papa? mana bisa papa oprasi wajah ? " Sanggah Narendra yang masih tidak percaya .
" Kalau masalah itu ,saya juga belum tahu pasti papamu dan teman - temannya mendapat uang dari mana ? yang jelas terakhir info yang saya dapat hanya itu "
" Kalau begitu apakah bapak punya foto atau ciri - ciri wajah papa dan teman - temannya ?"
__ADS_1
" Saya baru mendapat foto dari salah satu teman papamu yang sekarang masih buron juga ini di sel dulu sering dipanggil dengan nama Van "
" Van "