
h" Maksud kamu apa pak tua !" Van terus menghindar dari lemparan kursi .
" Dari pada kamu pergi tapi masih bisa kulihat lebih baik kamu pergi untuk selamanya, karna aku gak mau kamu nantinya jadi penghalang buat hidupku " Seno terus berusaha memukul Van menggunakan kursi .
" Pak tua , hentikan pak tua !" Teriak Van.
" Tidak ! kamu harus mat* " Seno melempar kursi yang kesekian kalinya dan lagi - lagi meleset , kemudian Seno mencoba melawan Van dengan tangan kosong .
Van telah siap , menahan tangan Seno dan memelintirnya ke belakang.
" Aaaak, aaaggrrh .... lepas kan Van !" Teriak Seno mengerang kesakitan.
" Pak tua , aku tidak akan menyakitimu lebih dari ini , asal pak tua tidak mengangguku! " Ujar Van dan melepaskan Seno dengan kasar .
" Aaaow " Seno merintih kesakitan seraya mengelus tangannya.Matanya terus menatap tajam Van .
Van tak memperdulikan itu , Van langsung saja pergi meninggalkan Seno sendirian diruangan itu .
"Aaaggrrh ,kenapa jadi begini semua pergi secepat ini Si*l " Seno membuang barang yang ada disana . Dan langsung duduk menutup wajahnya dengan kedua tangannya .
Kini Seno merasa sendiri ,satu persatu orang yang ada didekatnya menghilang begitu saja ,Awalnya Seno memang ingin menghabisi Van juga tapi setelah Van benar - benar pergi Seno malah ,merasa membutuhkan Van . Tapi Seno juga tidak mau melihat Van bahagia .
Benar - benar bimbang memang menjadi Seno .
__ADS_1
***
Hari ini Nayra membersihkan sepatu - sepatu yang ada dirak.
" Nay !" Sapa Bobi pemilik toko sepatu .
" Iya pak , ada yang perlu saya bantu ?" Nayra menghampiri Bobi yang tak jauh dari tempat Bobi berdiri.
"Nay nanti ,tolong ya kamu siapin sepatu - sepatu yang baru datang kemaren , sekalian nanti kamu cek lagi mana saja yang belum ada harganya , soalnya kayaknya kemaren ada yang lupa" Jelas Bobi .
" Baik pak ,apa ada lagi pak ?" Nayra mengangguk dan bertanya lagi .
" Tidak , itu saja . Sinta mana kok gak kelihatan Nay ?". Bobi mengedarkan pandangan diruangan itu .
" Sakit apa ?"
" Kurang tau pak " Jawab Nayra .
" Ya udah kalau gitu, kamu lanjutkan pekerjaanmu jangan lupa yang saya suruh tadi " Bobi mengingatkan .
"Baik pak " Ucap Nayra dan langsung pergi .
***
__ADS_1
" Kamu kenapa senja ? wajahmu kelihatan tak bersahabat gitu ?" Tanya Dinda yang sekarang ada dihadapan Van .
" Gak papa " Jawab Van datar .
" Aku bisa tahu lho kalau kamu sekarang pasti ada masalah ,ya kan ?" Dinda berusaha menebak .
"Sedikit " jawab Van singkat.
" Oke tak masalah kalau kamu belum mau cerita ,pesanku satu jangan biasakan memendam sesuatu sendirian karna bisa jadi bom waktu buat dirimu sendiri"
Van menatap mata Dinda lekat . Tanpa menjawab omongan Dinda .
Sebenarnya Van ingin jujur perihal dirinya dan masa lalunya kepada Dinda ,namun Van masih bingung karna Van masih belum siap jika harus kehilangan Dinda jika Dinda tau masa lalunya .
Van selalu berfikir keras dalam hal ini dan sangat menunggu waktu yang pas untuk membicarakan ini semua , karna Van ingin serius dengan Dinda . Membina bahtera rumah tangga bersama dan menua bersama tanpa ada bayang - bayang masa lalu yang menghantuinya .
" Hey ,kenapa menatapku seperti itu ?" Dinda menepuk bahu Van dengan tangannya .
" Eh , sakit nih " Van pura - pura kesakitan menggosok - gosok bahunya sendiri .
" Duh ,maaf ya habis kamu lihatin akunya begitu sih ,jadi gak enak kan akunya ?" Dinda membela diri .
" Hehe ,maaf - maaf , Habis aku gak mau kehilangan waktu sedetik aja buat memandangmu "
__ADS_1