Pembelaan Nayra

Pembelaan Nayra
64.Dirumah.


__ADS_3

" Kok bisa may?" tanya Dinda.


" i- iya bisa ,emm mari makan ini kue terenak buatan mama " Maya membukakan toples yang berisikan kue kering dan menyodorkannya ke Dinda dan yang lain.


Sementara Nayra masih memperhatikan tangan Maya yang terluka.


" Iya ini enak sekali ? mamamu jago ya May bikin kue " ucap Doni.


" Iya dong ,mama ku" ucap Maya.


" Apa kamu gak merasa gerah May pakai baju lengan panjang begitu? " tanya Wisnu.


" Enggak ,aku sudah biasa pakai baju seperti ini jadi gak gerah sama sekali ? apa perlu aku nyalakan AC Wis? "


" Gak perlu makasih?"


" Eh ,gimana Om jaya sudah ditemukan?" tanya Dinda .


Kami yang tadinya sibuk makan kini berhenti sesaat,kala mendengar pertanyaan Dinda.


" Belum , terakhir info yang kudapat dari Narendra papanya sempat ditemukan oleh salah satu warga akibat kecelakaan dan warga itu sempat membawanya kerumah sakit. Tapi setelah mendapat pertolongan dan pihak rumah sakit hendak melapor kepolisian,ternyata Om jaya sudah kabur duluan .Padahal kata warga yang menolong itu Om jaya mendapati luka yang serius pada kakinya dan kepalanya belum sempat dijahit."


" Mengerikan sekali ya?" ucap Dinda.


" Ya sampai begitu ?" Maya ikut menimpali.


Aku dan Doni hanya mengangguk- angguk saja


" Maya apa boleh aku menumpang ke kamar kecil sebentar?" ucapku .


" Boleh ada disebelah sana Nay" ucap Maya seraya menunjuk kearah kamar kecil.


" Eemm, aku gak berani apa kamu bisa antar aku sebentar?"


" Aku antar aja Nay ?" ucap Doni berdiri.


" Mending ku tahan deh Don dari pada kamu antar? hehe." ucapku.


" Tahu nih , Doni hehe, sudah May kamu antar dulu sana Nayra ? kami tunggu disini ya kan teman- teman?"


"Heum " jawab yang lain.


" Gak papa nih kalian aku tinggal?" ucap Maya.


" Ayok mau buruan ? aku sudah gak tahan nih?" ujarku seraya menarik Maya .


" ehh...i- iya Nay?"


Sampai didepan kamar mandi aku tidak langsung masuk ,.Aku berdiri didepan Maya


" May,tolong jawab pertanyaan ku dengan jujur?" tatapku ke Maya .


" Tanya soal apa Nay?" ucap Maya mencoba biasa.

__ADS_1


" Apa. kamu orang yang selama ini membantuku ?"


" Membantu apa?"


" Maya ,ayolah jujur ...kamu kan yang membantuku memecahkan masalahku Selma ini dengan menyamar sebagai wanita berjaket hitam ?"


" Tidak,aku malah bingung dengan apa yang kamu bicarakan Nay ? membantu jaket hitam apa ? Sudahlah ,bisa aku tinggal sekarang gak enak soalnya ditunggu teman yang lain diluar." ucap Maya seraya melenggang pergi begitu saja.


Aku mematung sesaat, melihat Maya yang semakin jauh dari hadapanku.


" Huufff..susah memang membuktikan sesuatu tanpa adannya bukti?" eluhku seraya menghembuskan nafas kasar.


Aku kembali, terlihat Maya dan teman yang lain tertawa aku pun segera ikut bergabung.


menceritakan tentang papa Narendra dan juga bercanda sekenanya.


.


" Maya kami pulang dulu ya,kapan- kapan kami akan kesini lagi?" ucap Dinda.


" Ok ,aku tunggu"


" Pulang dulu ya May ...semoga tanganmu cepat sembuh dan kita bisa ketemu lagi dicafe " ucapku.


" ya Nay makasih doanya?"


" Da aahhh.." ucap kami serempak didalam mobil seraya melambaikan tangan ke Maya.


Mobil melaju dengan cepat , aku memutuskan langsung pulang kerumah sedangkan teman- teman yang lain berencana untuk pergi ke Taman kota untuk sekedar melihat keramaian disana.


" Gak Wisnu makasih lain kali aja , aku mau istirahat aja dulu?"


" Yaah gak seru dong?" Dinda menimpali.


" iya nih Nayra?" Donipun ikut menimpali .


" Sudah ,ah nanti acaranya keburu selesai ,udah sana berangkat ? makasih udah mau jemput aku?" ucapku.


" Ya Nay sama- sama ,oke kita berangkat dulu ya daah..."


" daahh" ucapku.


Memasuki rumah, dengan mendobrak pintu belakang dengan menggunakan kayu. Karna kunci rumah, hp dan seisinya masih belum ditemukan.


Kini hanya ada telepon rumah itu pun sudah rusak. Rasanya ada yang aneh dimana biasanya kita yang sehari- hari pegang ponsel entah itu semenit atau sejam bahkan sewaktu - waktu ,dan kali ini untuk yang pertama kalinya hanya bisa berduduk santai tanpa memegang ponsel.


Tok...tok..tokk..


suara ketukkan pintu dari luar.


Aku yang tadinya duduk dikamar bergegas mencari kunci candangan dan langsung berjalan menuju pintu luar.


" Ya sebentar?" ucapku.

__ADS_1


Kriiieet..


pintu terbuka .


" Narendra kamu?eemm mau masuk apa diteras ?" ujarku .


" Diteras aja Nay ? gak enak kalau masuk ?"


" Eemmmzz silahkan duduk ,aku ambilkan minum dulu mau minum apa dingin apa panas?" tanyaku seraya mempersilahkannya duduk.


" Gak usah Nay ,aku cuma sebentar kok?"


" Oh, oke"


" Nay ini ada sesuatu buat kamu?" Narendra menyodorkan kotak berukuran sedang berwarna coklat.


" Apa ini, untuk apa?" ucapku.


" Aku tahu kamu pasti sangat membutuhkannya saat ini ,semoga kamu suka. Maaf tas dan juga ponselmu belum bisa aku temukan sampai saat ini."


" Ya gak papa Narendra, makasih atas kadonya tapi bukankah ini terlalu berlebihan? "


" Terimalah Nayra ,itu hanya kado kecil tidak seberapa?"


" Baiklah aku terima jika kamu memaksa,eemm bagaimana dengan jenazah preman baik?"


Menatap Narendra dengan serius.


" Jenazah preman itu sudah dikirim keluarganya yang berada di Jawa barat ,tadi baru saja aku menerima kabar bahwa jenazah b korban baru datang dan langsung dimakamkan"


" Alhamdulillah , semoga amal ibadahnya diterima oleh sang pencipta dan semoga dilapangkan kuburnya."


" Amin" Narendra menimpali.


" Eeuummzz,apa papamu sudah ketemu Narendra?" tanyaku dengan Hati- hati.


Narendra hanya menggelengkan kepala.


" Sabar Narendra ,mungkin papamu masih belum percaya dengan apa yang sedang ia alami saat ini, kalau boleh jujur saat aku di rawat dirumah sakit papamu juga ada disana dan papamu sempat berusaha mau melukai ku tapi untungnya ada wanita berjaket hitam menolongku. Dan saat aku hendak melapor polisi papamu sudah lari dengan melukai si wanita berjaket hitam ditangannya. Tapi saat itu papamu menggunakan topeng lelaki tua mirip kakek- kakek" ungkapku.


" Apa ?Apa kamu yakin itu benar- benar papaku Nay?"


" Aku memang tidak tahu pasti apa benar itu papamu atau orang lain yang menyamar jadi papamu ,tapi aku berani bicara begitu karma pisau yang dibawa kakek-kakek itu sama seperti pisau yang dipakai papamu untuk membunuh preman baik waktu itu"


" Apa pisau itu berukir dan ada huru J ditengahnya." Narendra memastikan.


" Ya benar, itu ciri- ciri pisau yang samai seperti yang aku lihat" ucapku.


" Tak salah lagi itu memang papa,Haahh..AKU BENCI PAPA ! " teriak Narendra dengan menggosok- gosok pahanya dengan kasar.


" Tenang ,Narendra aku tahu ini berat tapi percayalah papamu melakukan ini semua pasti ada alasannya? "


" Nayra meski ada alasannya atau apapun itu aku sudah tidak peduli. Untuk apa coba papa melakukan ini semua ? untungnya apa? Nayra aku benar- benar sangat malu atas apa yang dilakukan papa kekamu?papa tidak hanya melukaimu sekali tapi berkali- kali tapi kamu masih memaafkan dan kamu tidak menyalahkan"

__ADS_1


" Narendra terkadang kita memang harus menjadi orang yang bisa memaafkan dan tidak semua kesalahan orang itu harus kita balas dengan tangan kita sendiri ada kalanya biar Tuhanlah yang membalas perbuatan mereka.


__ADS_2