
Didepan rumah ini ,aku harus menyaksikan lagi kejadian yang membuatku haru .Bagaimana tidak aku harus menyaksikan sahabat kecilku kecewa sakit hati dan terguncang.
Cobaan yang sangat berat melebihi cobaan ku saat ini.
" Om Dinda mohon ,kasihan Dinda om " Dinda memegang kaki om jaya kuat .
" Dinda aku gak mau tanggung jawab karna saya yakin kamu gak hanya tidur dengan ku saja sebelumnya sudahlah pergi dari hadapanku ! "
Om jaya mendorong tubuh dinda.
" Om Dinda hanya berhubungan dengan om saja dan ini benar anak Om ,kenapa om gak mau tanggung jawab ? Om Dinda mohon untuk kali ini saja? Dinda gak mau om menanggung malu Dinda gak mau membuat ibu sedih Dinda gak mau punya anak tanpa bapak om ?"
" Heh.. Dinda kalau kamu memang malu mempunyai anak tanpa bapak ya sudah tinggal gug"rkan saja anak itu gampang kan? Yang jelas saya tidak peduli dengan kondisi ini apalagi dengan anak yang ada didalam perutmu karna saya gak merasa punya anak itu!" teriak Om jaya didepan muka Dinda yang terduduk menangis dibawah tetesan hujan .
" Om anda benar-benar tidak punya hati nurani ,jelas- jelas om sudah berbuat dan sekarang dengan gampangnya om tidak mengakuinya apa semudah itu Om perlakukan wanita Anda anggap apa wanita Dimata om hah..!" teriakku .
" Heay...kamu anak kemarin sore tidak perlu kamu bicara nada tinggi didepan saya ? Tahu apa kamu hah... apa kamu sudah bosan hidup?" ujar om jaya menghampiri ku dan langsung mencekik leherku dengan kencang.
Kurasakan nafas ku agak sedikit sesak ku coba melepaskan tangan Om jaya namun tak mampu.
" Le-pas-kan " ujarku terbata.
" Heemms...makanya jangan sok menceramahi saya Apa kamu mau saya bikin seperti adikmu dan kawan- kawannya hah...Huahaha...Eits tapi tidak saya tidak sekejam itu saya kan baik jadi saya gak akan melakukan itu kepada kalian ? Karna belum saatnya hahaha... Ku ingatkan sekali lagi kepada kamu dan kamu jangan mengganggu saya lagi karna saya tidak segan- segan untuk melakukan hal buruk kepada kalian berdua ingat jangan pernah membangunkan hariamau yang sedang tidur kalau kalian masih ingin hidup tenang ingat itu ! hahaha...." ujar om jaya seraya melepaskan tangannya dari leherku dengan kasar kemudian berlari kecil meninggalkan kami berdua dibawah hujan yang semakin deras
" Uhuk..uhuk" aku terbatuk memegang leherku yang terasa bebas dari cengkraman tangan Om jaya.
Ku hampiri Dinda yang tak jauh dari tempatku berdiri .Dinda yang masih duduk tertunduk tak sedikitpun menoleh ke arahku.
" Dinda "
Aku memeluk Dinda dan Dinda semakin menangis kurasakan tubuhnya bergetar kencang. Ku peluk semakin erat untuk sedikit meringankan bebannya.
" Nayra ...aku harus bagaimana lagi om jaya gak mau menerima anak ini ,aku harus apa ? aku belum siap punya anak Nay ? aku belum siap mendapat cemoohan orang- orang Nay ? aku gak mau ibu semakin sedih dan sakit ? aku harus apa Nayra ?"ucap Dinda.
Aku hanya diam memeluknya erat dan mengelus pundaknya beberapa kali.
__ADS_1
Om jaya memang sudah keterlaluan , sudah merenggut kehormatan Dinda ,membohonginya memberi janji dan sekarang malah pergi dengan menitipkan anak ke Dinda . Tanpa mau bertanggung jawab .
***
Sudah 3 hari Dinda menginap dirumahku.hari- hari Dinda hanya banyak diam mengurung diri dikamar. Sampai saat ini ibu Dinda juga belum tahu perihal kehamilan Dinda .Dinda belum berani bercerita dengan ibunya ,aku pun menjadi ikut bingung apa yang harus aku lakukan ?.
Melihat kondisi Dinda yang semakin hari semakin mengkawatirkan membuatku semakin bingung.
Hari ini pulang kerja aku putuskan untuk pergi ke rumah ibu Dinda bagaimanapun juga ibu Dinda harus tahu tentang kondisi anaknya . Meski aku pun bingung harus memulai kata dari mana untuk menceritakan ini semua.
"Assalamualaikum" ucapku didepan pintu rumah Dinda.
"Waalaikumsallam " jawab ibu Dinda membukakan pintu.
" Eh..Nayra Kamu?" ujar ibu Dinda saat melihatku dengan wajah bingung dan melihat kebelakang ku .
" Iya buk, gimana kabar ibu ?" tanyaku basa - basi.
" Baik Nay , lho tapi Dinda mana Nay kok gak ikut pulang denganmu ?"
" Ow begitu,dasar Dinda itu pasti karna banyak makan sambel makanya suka sakit perut "
" Oh,ya masuk nak Nayra , mau dibikinin minum apa?"
" Eemmm gak usah bu gak usah repot- repot ,Nayra datang kemari cuma mau menyampaikan hal penting mengenai Dinda Bu"
" Hal penting apa Nayra ? apa Dinda punya hutang ke kamu?"
"Tidak Bu ,Dinda sama. sekali tidak punya hutang ke Nayra tapi ini tentang?"
" Tentang apa Nayra?"
" Tentang ...tapi sebelum Nayra beritahu ibu,ibu harus janji ibu jangan marahi Dinda dan ibu juga harus kuat dan sabar demi Dinda karna ini semua bukan sepenuhnya salah Dinda Bu ?"
" Iya Nayra ibu janji , ada apa dengan Dinda jangan buat ibu panik begini?"
__ADS_1
Ibu Dinda memegangi dadanya , aku yang duduk disebelah ibu Dinda memulai menarik nafas dalam.
" Ibu Dinda saat ini sedang hamil?"
" Apa Hamil? dengan siapa Nayra ? kamu tidak sedang ngeprank ibu kan?"
" Ini benar Bu Dinda telah hamil anak Om jaya bos Dinda Bu?" ujar Dinda yang tiba- tiba berada didepan pintu dan langsung menerobos masuk bersimpuh dikaki ibu.
" Apa? "
"Maafkan Dinda Bu Dinda hilaf Bu Dinda gak bisa menjaga kesucian Dinda maafkan Dinda Bu ? Dinda pantas mendapat hukuman dari ibu Dinda akan terima Bu ?"
Ibu Dinda menangis sejadi- jadinya begitu juga dengan Dinda yang terus meminta maaf kepada ibunya.
" Dinda anakku ? "
Ibu memeluk Dinda .
" Dinda anakku ,kenapa ini harus terjadi kepadamu ? Anak ku yang malang kamu harus kuat ya nak ibu janji ibu akan selalu ada untukmu?ibu janji nak ...ibu janji..Anakku apa kamu sudah bertemu dengan jaya ?Apa kamu sudah membicarakan ini sebelumnya?" tanya ibu Dinda dengan deraian air mata di pipinya.
" Sudah Bu tapi...?"
" Tapi apa Dinda bicara dengan ibu ,coba ceritakan awal mula dan akhir cerita ini ke ibu ? ibu gak mau kamu memendamnya sendiri ibu gak mau nak,kamu adalah anak ibu satu- satunya bagaimanapun kamu saat ini ibu akan tetap menganggapmu anak melindungumu dan menjagamu "
" Ya Bu waktu itu.."
Dinda mulai bercerita dari awal pertemuannya dengan om jaya dikantor waktu itu sampai dengan pertemuan terakhir malam kemarin .
" Begitu Bu?"
" JAYA KUSUMA...AKU TIDAK AKAN MEMAAFKANMU !" teriak ibu Dinda dengan geram.
Aku tahu pasti ,perasaan ibu Dinda saat ini. betapa sangat hancurnya hati seorang ibu melihat anak satu- satunya harus menjadi korban kejahatan jaya Kusuma yang kesekian kalinya . Bahkan hukuman pindanapun tak akan mampu menebus dosa yang telah diperbuat jaya kali ini.
"
__ADS_1