
" Oh..maaf pak " ujarku kaget kala tanganku disentuh pria bertato itu.
" Iya " ucapnya dengan mata masih memandangku sungguh rasanya tergagu sekali dan risih melihat tingkah laku orang yang saat ini masih ada didepanku kalau bukan karna rasa segan dan karna pekerjaan mungkin akan ku maki sampai habis ini orang .
" Nayra kenapa sih naruh begitu saja tidak becus !" Sinta datang dengan nada tinggi.
Aku hanya bisa menunduk ,mendengar dan menyimak seperti biasa . Bukan berarti orang mengalah akan selalu kalah. Ada saatnya orang mengalah akan menjadi tak terkalahkan.
" Malah diam lagi denger gak ? Eh ... Nayra bekerja itu harus pakai otak juga gak cukup tenaga aja masak naruh begitu aja sampai jatuh begini ? Nanti kalau ada yang rusak memangnya kamu bisa ganti ? Gajimu selama 2 tahun juga gak akan bisa ganti sepatu seperti ini ngerti !" Omelan Sinta.
" Sinta Dia gak salah saya yang salah tadi gak sengaja waktu mau bantuin naruh ,malah gak sengaja Om jatuhin." Pria bertato membela.
" Ah ,om ini gak usah begitu lah ,anak ini gak usah dibela Om memang kerjanya gak pernah bener suka bikin kesalahan kemaren aja nata sepatu digudang lama ?"
" Gak bela Sinta memang Om kok yang salah ya kan Nayra ?" ujar pria bertato itu dengan mata masih menatapku.
Benar- benar Om - om genit .
" Emm, ya kak Sinta Nayra memang salah maaf ya ? Apa saya sudah bisa lanjut kerja kak Sinta ?" ucapku .
" Ya sudah pergi sana jangan lupa yang sebelah sana diberesin tadi aku lewat ada kotak sepatu yang berserakan disana "
" Ya kak " Ucap ku .
" Tunggu - Tunggu mau kemana , Bisa temenin saya cari sepatu ?" Ujar Pria bertato .
" Om kan ada Sinta ?" ujar Sinta dengan full senyum dan melirikku sinis ,aku tahu apa yang Sinta mau .
" Eemm Maaf Om bukannya saya menolak atau bagaimana tapi saya disini orang baru dan belum begitu faham dengan sepatu - sepatu terbaru disini. Sebaiknya om sama kak Sinta saja selain kak Sinta orang lama disini kak Sinta juga sangat pandai dalam memilihkan sepatu yang cocok untuk pelanggan yang berkunjung disini. "
" Betul itu Om apa yang dikatakan Nayra Sinta bisa kok pilihkan bos black sepatu yang terkeren saat ini ? Ya udah Nayra buruan sana ?"
__ADS_1
" Baik kak kalau begitu permisi om selamat berbelanja " Ujarku, Terlihat pria bertato itu sangat kecewa dengan penolakan ku sangat terlihat jelas dari raut wajahnya yang berubah drastis.
" Sudah Bos black sama Sinta aja ,Bos black mau sepatu yang model seperti apa ?"
" Terserah "
" Ih Bos black nih kalau terserah nanti Sinta ambilkan yang banyak- banyak lho mau ?"
" Terserah "
" Ya sudah Sinta ambilkan dulu bos black tunggu sebentar ya jangan kemana- kemana Sinta punya sepatu bagus yang cocok buat bos black "
" Hmmm "
Sinta pun pergi meninggalkan bos black beberapa saat kemudian kembali dengan membawa beberapa kotak sepatu. Aku yang masih bisa melihat tingkah mereka hanya bisa senyum - senyum sendiri tapi juga ada rasa terganggu kala mata pria bertato tidak berkedip saat melihatku.
" Nayra kenapa senyum- senyum sendiri ?" Tegur Nisa kala lewat didepanku .
" Gak - gak papa ? Mana masih ada lagi yang bisa ku bantu ?" Tanyaku mengalihkan pembicaraan.
" Memang begitu ya ?" Simak ku dengan mulut menganga .
" Ya pernah waktu itu sebelum ada kamu dan waktu itu Mila libur jadi cuma ada aku yang masuk sama Sinta aja bos pergi keluar kota hemm sumpah capek banget rasanya disuruh sana sini mondar mandir kerjaan satu belum selesai ditambah lagi ngerjain yang lain dianya tinggal ambil - ambil gitu aja, memang sih dia orang lama tapi huh .. nyebelin bwanget kalau gak karna gue butuh kerjaan ini sudah hengkang gue dari dulu ,Untungnya sekarang karyawan disini sudah tambah jadi kerja gak begitu berat "
" Oh begitu ya sudah ayo kita kerja lagi nanti keburu kak Sinta marah - marah terus "
" Oke deh ayok "
Aku dan Nisa melanjutkan bersih- bersih dan membantu mengambilkan sepatu yang diminta oleh pembeli .Bekerja ditoko sepatu memang tidak mudah karna kita harus bisa memberikan kenyamanan untuk pembeli dalam memilih sepatu. Disini kita juga selalu diingatkan agar selalu sabar dalam menghadapi pembeli,berperilaku sopan ramah tamah serta menghormati orang tanpa pandang bulu.
Tak terasa waktu sudah menunjukkan jam pulang .Kami pun berganti pakaian diruang ganti .
__ADS_1
" Nayra habis ini kamu mau kemana ?" Tanya Mila yang berkaca pada cermin begitu juga dengan aku Sinta dan Nisa .
" Emm, rencana sih mau kerumah temen memang kenapa Mila ?"
" Yah gak jadi deh ,sebenarnya aku mau ngajak kamu dan yang lain pergi ke taman habis itu nonton bioskop "
" Lho memang ada bioskop mil ?" Tanya Nisa .
" Ada lah bioskop baru buka sih tapi aku denger- denger sih tempat nya oke "
" Ya udah ayok berangkat sekarang aja keburu tutup " Sinta menimpali.
" Ya betul kata Kak Sinta buruan berangkat nanti keburu tutup" ucapku.
" Beneran kamu gak ikut Nayra ?" Nisa memastikan .
" Maaf lain kali ya ,kalau untuk hari ini gak bisa aku ada janji sama temen sedikit penting ?" ujarku.
" Ya udah yok berangkat " Sinta menimpali.
" Oke ayok lah "
Sampai di parkiran motor kami pun berpisah . Hari ini memang aku sengaja pengen kerumah Maya selain untuk mengajaknya kerumah Dinda aku juga ingin mendengar cerita tentang hari pertama Maya masuk kerja lagi dicafe tanpa aku pastinya .
Untungnya jalanan agak sepi membuat perjalananku lancar dan cepat sampai .Aku sengaja memarkirkan motorku ditepi jalan sengaja tidak membawa masuk ke halaman rumah Maya karna aku ingin memberikan kejutan dengan kedatanganku yang tiba- tiba ini.
Diteras rumah terlihat Maya duduk ditangga - tangga bersama laki- laki di sampingnya dengan posisi berhadapan satu sama lain. Mereka terlihat berbicara serius dan Maya pun menepuk pundaknya beberapa kali .
" M aa ... yy ..."
Mulutku segera kututup dengan kedua tanganku menghentikan panggilanku dan segera aku sembunyi dibalik tanaman yang tersusun rapi di halaman rumah Maya ,untungnya Maya tidak melihatku. Terlihat mereka berdua berpelukkan erat .Wajah lelaki itu terhalang wajah Maya .
__ADS_1
" Siapa lelaki itu ,sejak kapan Maya punya pacar ? Tapi Maya gak pernah cerita ?"gumam ku,ku pandangi mereka berdua dengan teliti dan saat lelaki itu melepas pelukkannya betapa terkejutnya hatiku lelaki itu .
"