
Pagi hari baru datang saat Hao Zhao bersama Li Chen juga Cang tengah berusaha menaiki bukit menjulang tempat gua mereka bermalam berada, bukit itu amat curam sehingga mustahil sebenarnya untuk dinaiki, walau kecuraman bukit tersebut bukanlah apa-apa dihadapan pendekar juga binatang spiritual seperti ketiganya.
Hao Zhao baru sampai di puncak bukit sebelum melihat rimbunan pepohonan, bukit itu tidak memiliki jalan turun sehingga hanya memanjat kecuraman bukit memang satu-satunya cara ke sana.
“Hei, cepat ikuti aku," ucap Li Chen yang segera kembali bergerak untuk memasuki rimbunan pepohonan, diikuti Cang yang berlari seraya melompat sesekali dibelakangnya.
Hao Zhao yang tidak ingin tertinggal pada akhirnya kembali bergerak cepat mencoba menyusul, dirinya tidak tau Li Chen ingin membawanya kemana sebab diajak saja tanpa diberitahu kejelasannya.
Hao Zhao baru masuk rimbunan pepohonan saat merasakan hawa area di sekitarnya tiba-tiba berubah, itu cukup nyaman yang bersamaan dengan itu Li Chen tiba-tiba berhenti tidak jauh darinya.
“Hei, berhenti. Jangan masuk lebih dalam lagi," ucap Li Chen berusaha menghentikan Hao Zhao.
Hao Zhao segera mengangguk mengerti setelah sampai di hadapan Li Chen, sebelum menatap Li Chen penuh maksud berharap Li Chen mau menjelaskan tujuan mengajak dirinya ke sana.
“Kau sudah sepakat untuk membantu bukan? Kali ini kita akan menyelesaikan kesepakatannya," ucap Li Chen jelas mengerti maksud tatapan Hao Zhao.
Hao Zhao segera menoleh ke sana kemari, jika sesuai kesepakatan maka hanya perlu membantu mengambil bunga Kehidupan saja yang mana bunga semacam itu tidak berhasil ditemukannya di sekitar sana.
“Bunga itu tidak tumbuh di dekat sini, tetapi beberapa kilometer di sana," ucap Li Chen seraya menunjuk ke salah satu arah.
Hao Zhao segera menoleh ke arah yang Li Chen tunjuk, menajamkan penglihatannya dengan tenaga dalam, segera ingin mengumpat dirinya.
Cukup jauh dari sana tepatnya di bagian terdalam puncak bukit, memang ada bunga Kehidupan yang di maksud tengah memancarkan energi sekian besarnya.
Perubahan hawa yang Hao Zhao rasakan juga ada hubungannya dengan itu dapat Hao Zhao pastikan, meski masalahnya bukan itu semua sebab di dekat bunga tersebut ada binatang Spiritual setinggi belasan kaki tengah terpejam nampak beristirahat.
“Kekuatannya ... Ini setara dengan paman Gao," gumam Hao Zhao yang sempat menggunakan Mata Harimau Surgawi untuk membaca tingkat kekuatan binatang spiritual tersebut.
__ADS_1
“Hei, kenapa ekspresi wajahmu tiba-tiba berubah lebih dingin seperti itu? Aku bisa membeku jika seperti ini terus hanya karena wajahmu," ucap Li Chen dengan senyum meledek, seperti amat puas bisa mengerjai Hao Zhao yang belakang terus kurang ajar padanya.
Hao Zhao segera melirik Li Chen tajam, sebelum menyadari kalau nampaknya memang sudah rencana Li Chen sedari awal hingga dirinya bisa terlibat di sana.
“Hei, tidakkah menurutmu akan lebih mudah untukku menghabisi mu daripada binatang Spiritual itu?" tanya Hao Zhao dengan senyum seringai.
“Tidak, itu salah. Akan lebih mudah untukmu mengalahkan binatang Spiritual itu bersama denganku ketimbang menghabisi ku, aku bisa pastikan itu. Belum lagi coba pikirkan akan menjadi kebanggaan sebesar apa jika ceritamu membantu salah satu Naga Bebas tersebar? Perlu kau tau juga kalau aku bukan orang yang tidak tau terimakasih ...."
Hao Zhao mendengar ucapan penuh ketenangan Li Chen pada akhirnya hanya bisa menghela napas panjang, ucapan Li Chen memang tidak sama sekali salah sehingga dirinya coba percayai saja salah satu jagoan hebat tanpa sekte tersebut.
“Bagaimana? Jangan bilang kau gentar setelah mengetahui kekuatan binatang Spiritual yang akan kita hadapi?" Li Chen melanjutkan ucapannya.
“Kita lakukan, tetapi kau harus memberitahu rencana mu sejelas mungkin terlebih dahulu." Hao Zhao yang tidak ingin sekali lagi asal menyetujui saja tanpa tau jelasnya.
Li Chen sempat tersenyum senang mengetahui Hao Zhao tidak mundur, meski begitu tidak terlalu lama senyum senang itu tampak sebab rencana yang Hao Zhao singgung tidak dirinya miliki sama sekali.
“Aku tau, Bocah. Tunggulah sebentar, aku hanya seda—"
“Jangan bilang kau tidak punya rencana?" potong Hao Zhao cepat.
Li Chen hanya tersenyum canggung, membuat Hao Zhao naik pitam tentu saja.
“Pria tua, yang akan kita hadapi adalah binatang spiritual setara pendekar Jiwa tahap Puncak. Apa kau tengah bergurau atau bagaimana ingin aku ikut tanpa rencana yang bisa memastikan keberhasilannya?"
“Berisik, Bocah. Kekuatan setara itu mengapa dipusingkan? Lagipula tahap Puncaknya tidak setinggi itu, aku masih jauh lebih kuat darinya jika kekuatanku telah pulih," ucap Li Chen, tidak ingin disalahkan.
Hao Zhao hanya bisa menghela napas pelan, sudah sempat mencoba menganggap Li Chen normal walau sepertinya mustahil anggapan tersebut bisa dirinya pertahankan.
__ADS_1
“Pria tua ini ... gila," gumam Hao Zhao sebelum merasakan keberadaan sekian banyak orang tengah mendekati tempatnya juga Li Chen berada.
“Hei, kau mengumpat ku ya?" Li Chen dengan sorot mata penuh selidik.
“Tutup mulutmu dan ikut aku," bisik Hao Zhao sebelum menenteng tubuh bocah Li Chen untuk bersembunyi.
Li Chen tidak tau apa alasan Hao Zhao melakukan itu jelas memberontak, meski tidak bisa berbuat banyak sebab kekuatannya yang sekarang bukanlah apa-apa dibandingkan Hao Zhao.
“Sialan, Bocah kurang ajar. Perlakukan aku seperti ini lagi maka akan aku pastikan kau menyesal," ucap Li Chen cepat setelah genggaman Hao Zhao yang menentengnya bak anak kucing terlepas.
“Berisik, aku bilang tutup mulutmu," ucap Hao Zhao yang merasa kesal.
Seolah bukan Hao Zhao saja yang merasakan hal itu, Cang juga kini tengah mengeram beberapa kali pada Li Chen seolah menyuruhnya menutup mulut.
“Eh? Sejak kapan kalian kompak?" Li Chen seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Lihat, bahkan Cang juga bisa kesal melihat kebodohan Tuannya." Hao Zhao dengan senyum sinis.
Tidak lama setelah ucapan Hao Zhao, suara langkah kaki sekian banyak orang mulai terdengar mendekat ke arah tempat Hao Zhao sebelumnya berada.
Hao Zhao, Li Chen juga Cang yang ada di balik semak tidak jauh dari sana, segera bisa melihat jelas gerombolan orang datang yang dipimpin oleh satu orang pria sepuh dengan jubah paling berbeda dari mereka yang lain dibelakangnya.
Hao Zhao familiar dengan jubah yang dikenakan pria sepuh tersebut segera menajamkan sorot matanya, ingin memastikan kalau penglihatannya tidak salah juga mencoba mengingat di mana dirinya pernah melihat jubah semacam itu.
“Sialan, mengapa harus ada Wakil Patriak sekte Pedang Corak di sini?" ucap Li Chen yang ada tepat di samping Hao Zhao.
Hao Zhao mendengar nama sekte Pedang Corak disebutkan reflek melirik Li Chen, benar kalau jubah serupa pernah dikenakan Tang Pei yang mana memiliki identitas tetua Tertinggi di sana.
__ADS_1
“Ini ... kebetulan yang menyenangkan," ucap Hao Zhao pelan dengan seringai lebar di wajahnya.