Pendekar Pedang Harimau Surgawi

Pendekar Pedang Harimau Surgawi
Penguasa Kota


__ADS_3

Siang harinya Hao Zhao sudah ada di jalanan tempat para penduduk kota kebanyakan tengah berlalu lalang untuk melakukan keseharian mereka, di mana tidak jauh dari Hao Zhao sudah ada sebuah bangunan besar dengan tembok menjulang tinggi mengitari seisi bangunannya.


Kediaman bangsawan Gang, di mana keluarga bangsawan itulah yang memegang tanggung jawab mengurus kota Dahan Gugur.


Hao Zhao sendiri bukan datang ke sana tanpa bekal apapun, di mana dirinya sudah sempat menanyakan terkait keluarga Gang pada Yu Yie yang ternyata memiliki cukup banyak informasi terkait hal tersebut.


Keluarga Gang di kota itu dipimpin oleh pria paruh baya bernama Gang Dalan, di mana sosoknya cukup disegani dari apa yang Hao Zhao dengar dari Yue Yie.


Brakkk!


Suara keras benturan sesuatu terdengar, di mana sebuah kereta kuda mewah nampak baru saja menabrak sebuah gerobak bersama dengan orang yang tengah menariknya.


Sekitar kereta kuda mewah yang memiliki cukup banyak penjaga segera berhenti setelah benturannya, di mana seorang pria paruh baya keluar dari dalam kereta kuda dengan wajah angkuhnya.


Tubuh tambun dengan kumis tajamnya yang mencolok begitu sesuai dengan gambaran sosok Gang Dalan yang sempat Hao Zhao dengar, di mana jelas sudah siapa pria paruh baya yang baru keluar dari kereta kuda mewah itu diketahui Hao Zhao.


“Dirinya adalah Gang Dalan?" gumam Hao Zhao yang setelahnya segera memperhatikan lebih jauh terkait apa yang terjadi.


Seorang pria renta yang jatuh bersamaan dengan gerobaknya segera mencoba bangun walau dengan susah payah, di mana segera membungkuk pria renta itu mencoba meminta maaf terkait apa yang bukan menjadi salahnya.


“Kurang ajar, kau bahkan berani menghalau jalan yang tengah dilalui oleh Tuan Besar Dalan?!" seru salah satu penjaga yang merupakan pemimpin dari para penjaga lain yang ikut mengawal kereta kuda tersebut.


“Ma— maafkan aku Tuan," ucap pria renta dengan suara bergetar.

__ADS_1


“Maaf? Lebih baik singkirkan gerobak kotormu ini ketimbang mengatakan sesuatu tidak penting semacam itu!" Kepala penjaga dengan nada membentak seraya sesekali menunjukan jemarinya ke arah wajah pria renta.


“Ba— baik Tuan." Pria renta dengan tenaganya yang tersisa mencoba membenarkan gerobaknya yang terbalik agar lebih mudah memindahkannya, walau jelas itu merupakan hal yang begitu sulit untuk tenaga tuanya.


Hao Zhao memperhatikan itu dengan tangannya yang telah terkepal erat, ekspresinya meski tampak tenang tetapi tidak dengan apa yang di rasakan Hao Zhao di dalam dirinya.


Hao Zhao sempat melirik ke sekitarnya mencoba mencari tau adakah dari setiap penduduk yang melihat hal itu mau membantu, walau Hao Zhao harus kecewa setelahnya menyadari kebanyakan dari mereka lebih memilih diam.


Kejadian itu muncul di sekitar jantung kota sehingga jelas orang yang melihat semua itu tidak sama sekali sedikit jumlahnya. Di antara sekian banyak orang tetapi tidak ada satupun yang berani ikut campur atau setidaknya membantu si pria renta jelas membuat Hao Zhao mempertanyakan, terkait apa alasan diamnya hampir seluruh dari penduduk kota.


“Wajah mereka menunjukan ketakutan, jika seperti ini bukan disegani namanya melainkan ditakuti," ucap Hao Zhao setelah melihat sendiri betapa takutnya ekspresi setiap penduduk yang melihat semua kejadian itu.


Ekspresi ketakutan yang tidak biasa menurut Hao Zhao, membuat Hao Zhao dapat mengambil kesimpulan jika hal sejenis kemungkinan tidak hanya terjadi sekali dua kali sampai penduduk seperti sudah begitu hafal akan bagaimana nasib pria renta itu nantinya sehingga mereka tidak ingin terlibat.


“Aku tengah berusaha Tuan, mohon tunggu sejenak." Pria renta dengan seluruh tenaganya mencoba membenarkan gerobak terbaliknya seperti semula.


Sekeras apapun pria renta berusaha tetap tidak ada yang berubah tanda jika tenaga tuanya memang sudah ada di luar batas kemampuan jika harus menepikan gerobak itu seorang diri, meski begitu kepala penjaga sama sekali tidak peduli dengan terus menatap pria renta dengan sorot mata mengancamnya.


Di tengah semua kejadian itu, Gang Dalan melihat semuanya dengan senyum yang terpampang lebar di wajahnya. Nampak begitu menikmati rasa panik serta takut yang pria renta tunjukan sebab sikap kepala penjaganya.


“Hey, bisa cepat tidak? Aku sibuk, bagaimana kereta kudaku bisa lewat jika gerobak rongsokmu itu terus berada di sana?" Gang Dalan setelah cukup lama diam akhirnya ikut berbicara, seperti tidak ingin membiarkan hanya kepala penjaganya saja yang bersenang-senang.


“Tuan Dalan, mohon maafkan aku untuk itu. Mohon percayalah aku sudah berusaha sekuat tenaga untuk menyingkirkan gerobak ini," Pria renta dengan panik, menyadari hal yang paling tidak diinginkannya kini malah datang menghampirinya.

__ADS_1


Gang Dalan mendengar pria renta memohon semakin melebarkan senyumnya, begitu jelas jika memang hal seperti itulah yang paling dinantinya keluar dari mulut seseorang yang begitu tidak berdaya.


“Kau meminta maaf? Aku bisa maafkan itu, tetapi sepertinya Kepala Penjagaku tidak. Hey kau, cepat beri dia hukuman karena berani mengganggu waktu perjalananku." Gang Dalan pada kepala penjaganya, di mana hanya mengangguk saja kepala penjaga menuruti perintah Gang Dalan.


“Ti— tidak, mohon jangan lakukan ini padaku," ucap pria renta bahkan sudah membungkuk untuk memohon.


“Hey, berhenti melakukan hal tidak berguna seperti itu. Perintah Tuan Besar Dalan merupakan hal mutlak, kau yang menjadi sasaran hukumannya harusnya dengan senang hati menerima ini." Kepala penjaga dengan pedangnya yang telah terangkat siap diayunkan.


“Hahaha, pisahkan kepala dari tubuhnya agar setiap orang di sini tau, sebesar apa bayaran jika berani membuat aku terganggu." Gang Dalan dengan tawa keras, sama sekali tidak peduli dengan bagaimana setiap penduduk di sana menatapnya tidak percaya.


“Ini benar-benar membuatku muak." Hao Zhao yang merasa semuanya sudah cukup, segera bergerak untuk menjadi penengah antara pria renta dengan kepala penjaga yang siap mengeksekusinya.


Kepala penjaga yang sudah begitu siap menebaskan pedangnya ke arah leher pria renta segera mengerutkan dahi penuh tanda tanya, ketika seorang pemuda sudah ada didekatnya menahan bagian tajam pedangnya dengan telapak tangan dan sama sekali tidak terluka.


“Siapa kau?" Kepala penjaga yang sudah beberapa kali mencoba mengayunkan pedangnya kencang tetapi tidak berhasil, sebab telapak tangan Hao Zhao yang tetap tidak mau melepas mata pedangnya.


“Kau tidak perlu tau, turunkan saja pedangmu atau aku buat kau menyesal." Hao Zhao dengan sorot mata tajam.


Kepala penjaga menerima tatapan seperti itu dari Hao Zhao entah mengapa merasa gentar, membuatnya tanpa sadar melakukan apa yang Hao Zhao perintahkan dengan patuhnya.


“Sialan! Apa yang kau lakukan?! Apa kau lupa perintahku padamu sebelumnya?!" seru Gang Dalan yang melihat itu semua, jelas merasa kesal mengetahui kepala penjaganya bukan melakukan apa yang dimintanya malah patuh begitu saja pada pria muda entah siapa.


Kepala penjaga mendengar teriakan dari Gang Dalan jelas merasa bimbang, bingung harus memilih menuruti siapa antara Gang Dalan atau Hao Zhao.

__ADS_1


“Silahkan angkat pedangmu lagi jika tidak ingin melihat esok hari," ucap Hao Zhao dingin, begitu menusuk bagaimana perkataannya di pendengaran kepala penjaga yang saat itu juga dengan segera bergidik ngeri.


__ADS_2