Pendekar Pedang Harimau Surgawi

Pendekar Pedang Harimau Surgawi
Kemunculan Tiba-tiba Dua Anggota Topeng Besi


__ADS_3

Tang Pei yang sempat terjatuh setelah menerima tendangan Hao Zhao segera mencoba bangkit, kepalanya pening sebab rasa sakit luar biasa bekas efek tendangan tersebut.


“Apa-apaan kekuatan serangannya ini?" gumam Tang Pei, mulai menatap Hao Zhao dengan cemas takut-takut akan ada serangan lain yang akan datang.


Hao Zhao hanya tersenyum kecil seraya membalas tatapan Tang Pei, berjalan dengan langkah santai, perlahan tapi pasti Hao Zhao mulai menghampiri Tang Pei.


“Sialan, dia bukan pendekar muda biasa," gumam Tang Pei di tengah kemelut pikirannya, mulai terbayang hal yang tidak-tidak terkait Hao Zhao.


Bisa memukul mundur dirinya juga membuatnya tertekan berarti Hao Zhao ada di tingkat yang sama atau mungkin lebih kuat darinya, belum lagi lonjakan kekuatan Hao Zhao yang begitu tiba-tiba membuat anggapannya terkait Hao Zhao yang menggunakan sumber daya telah musnah.


Penggunaan sumber daya untuk meningkatkan kekuatan secara sementara memang cukup sering ada seorang pendekar yang melakukan, tetapi faktanya tidaklah bisa sumber daya semacam itu meningkatkan kekuatan yang terlampau tinggi dari basis kekuatan asli penggunanya.


Hao Zhao jelas hanya seorang pendekar muda, di mana sejenius apapun generasi muda seharusnya masihlah di kisaran pendekar Pemurnian tingkat kekuatannya.


Kini Hao Zhao disadari Tang Pei memiliki tingkat kekuatan jauh lebih tinggi dari generasi muda paling jenius yang namanya sudah dikenal hampir setiap orang, di pikir dari sisi mana pun tidaklah masuk akal menurut Tang Pei Hao Zhao bisa menggapai apa yang generasi muda paling jenius di dunia persilatan saja bahkan tidak bisa lakukan.


“Sialan, siapa pemuda ini dan dari mana asalnya?" Tang Pei penuh tanda tanya, mulai merasa masuk akal mengapa Hao Zhao bisa seberani itu menyinggung sekte nya dengan tidak ragu mencelakai dua murid Utama jika menilai dari betapa tinggi kekuatannya di usia muda.


Hao Zhao hanya tersenyum kecil melihat Tang Pei hanya terpaku di tempatnya, dirinya tidak mengerti apa yang tengah Tang Pei pikirkan, meski begitu tidak Hao Zhao pusingkan juga hal tersebut berpikir hal sejenis itu tidaklah penting untuknya.


“Hei, apa sekarang kau sudah sadar? Kalau tempatmu melangkahkan kaki adalah salah langkah terbesar yang pernah kau lakukan?" tanya Hao Zhao, sudah ada di hadapan Tang Pei dengan bilah pedang yang tengah dimainkan diantara jemari tangannya.


Tang Pei sempat terperanjat baru menyadari Hao Zhao sudah ada dihadapannya, wajahnya tampak membeku tidak menunjukan ekspresi apapun hingga tidak berapa lama tertawa begitu keras entah apa alasannya.


Hao Zhao hanya menikam alisnya, menatap Tang Pei kosong, segera Hao Zhao pertanyakan apa Tang Pei telah kehilangan akalnya.


“Haha, betapa menyedihkan. Aku dikalahkan oleh seorang generasi muda benar-benar sesuatu yang tidak pernah sekali pun aku pikirkan dalam hidupku, ini merupakan hal paling memalukan sepanjang aku hidup," ucap Tang Pei, tampak sudah tidak memiliki keinginan melawan.

__ADS_1


Hao Zhao hanya terdiam mendengar ucapan Tang Pei, setelahnya mengangkat tinggi pedangnya ingin segera menghilangkan nyawa pria tua itu sadar jika Tang Pei dibiarkan hidup lebih lama malah akan membuat Hao Zhao semakin kerepotan kedepannya.


Tang Pei masih tertawa bahkan ketika pedang Hao Zhao telah diayunkan, sampai pedang tersebut hanya tinggal beberapa jengkal saja untuk menebas dirinya, barulah Tang Pei bergerak dengan pedang ditangannya.


“Ayunan Corak Pedang!" seru Tang Pei seraya mengayunkan pedangnya.


Jarak antara Tang Pei dengan Hao Zhao memanglah begitu dekat, membuat ayunan pedang Tang Pei seperti tidak mungkin untuk dapat Hao Zhao hindari.


Hal inilah yang membuat Tang Pei terus tertawa sedari tadi, dirinya memang tidak memiliki keinginan sedikit pun untuk mengakui kekalahan apalagi mati di tangan generasi muda seperti Hao Zhao.


Di mana apa yang coba Tang Pei lakukan hanyalah menunggu Hao Zhao lengah, yang mana saat itulah kesempatannya.


Dengan membiarkan Hao Zhao merasa menang tentu disadari oleh Hao Zhao atau tidak, Hao Zhao akan memiliki rasa percaya diri lebih tinggi untuk dapat menghabisi lawan dengan mudah.


Di mana saat Hao Zhao sudah merasa seperti itu, apa yang Tang Pei lakukan dengan menyerang secara tiba-tiba pastilah tidak sama sekali Hao Zhao duga.


Setidaknya semua itulah yang ada di pikiran Tang Pei, walau sayang kenyataan yang terjadi begitu berbeda dengan semua yang telah Tang Pei bayangkan.


“Haha, betapa menghibur melihat seorang pria tua bertingkah sok pintar seperti ini," ucap Hao Zhao dengan tawa geli, sudah ada di atas dahan salah satu pohon memandangi Tang Pei yang tengah menoleh ke sana kemari mencari keberadaannya.


Tang Pei segera menoleh ke arah sumber suara tempat Hao Zhao berada, sebelum merasa begitu marah sebab menyadari bagaimana cara Hao Zhao memandangnya.


Pandangan dingin serta tajam penuh kesan merendahkan, setidaknya itulah apa yang Tang Pei rasakan dari bagaimana sorot mata Hao Zhao padanya.


“Sialan! Beraninya generasi muda sepertimu menatapku dengan cara seperti itu!" seru Tang Pei seraya melompat mencoba menghampiri Hao Zhao dengan pedang yang siap diayunkan.


“Oh, tidak. Kenapa seseorang yang sebelumnya sempat terlihat putus asa sekarang tiba-tiba tampak kembali bersemangat? Aihhh, aku merasa ditipu jika seperti ini," ucap Hao Zhao seraya menahan tawa geli.

__ADS_1


“Tutup mulutmu atau aku potong lehermu agar tidak bisa bersuara lagi!" Tang Pei sudah ada di dekat Hao Zhao dengan pedangnya yang telah diayunkan.


Bammm!


Tang Pei harus merasakan sesak di dadanya ketika injakan kaki Hao Zhao kencang menapaki area dadanya, membuat Tang Pei harus kembali terlempar turun kembali menjauh dari atas pohon tempat Hao Zhao berada.


“Jangan kemari, dahan pohon ini akan patah jika kau ikut naik," ucap Hao Zhao dengan senyum kecil, cukup puas melihat Tang Pei yang telah tergelepar di bawah pohon tempatnya berada.


Tang Pei segera terbatuk sesaat setelah tubuhnya menghantam tanah, ingin mencoba bangkit tetapi tidak bisa karena tulang tubuh bagian belakangnya yang terasa seperti remuk membuatnya sulit bergerak.


“Apa hanya seperti ini saja? Kalau begitu selamat tinggal," ucap Hao Zhao sebelum melompat turun dengan pedangnya yang siap dihujamkan pada Tang Pei yang masih tergelepar.


Hao Zhao seolah melayang di udara dengan ujung pedang yang telah terarah ke perut Tang Pei, di mana sayang belum ujung pedang tersebut menghujam Tang Pei, sudah lebih dahulu Hao Zhao rasakan kehadiran sekitar dua orang dengan tingkat kekuatan mereka yang sama sekali tidak lemah tengah menuju arah tempatnya berada.


“Kita akan berjumpa lagi lain kali, jaga dirimu dengan baik sampai saat itu tiba," ucap Hao Zhao sebelum seolah menghilang lenyap dari pandangan Tang Pei yang sempat terlihat pasrah.


Tang Pei sempat bertanya-tanya mengenai alasan Hao Zhao yang tiba-tiba pergi ketika sebenarnya pemuda itu bisa dengan mudah membunuhnya, di mana tidak perlu waktu lama sampai Tang Pei mengetahui apa sekiranya jawaban dari rasa penasarannya tersebut.


Dua orang dengan aura kuat yang terpancar dari masing-masing tubuhnya datang tidak lama setelah kepergian Hao Zhao, di mana keduanya mengenakan topeng serupa walau ada sedikit perbedaan di sana.


Satu topeng besi sementara satu yang lain juga sama, di mana pembedanya hanyalah warna keemasan yang terdapat di topeng salah satunya.


“Sial, kita kehilangan dirinya," ucap pria bertopeng besi dengan decakan kesal.


“Dia cepat, tetapi apa kau yakin dirinya merupakan orang yang sama dengan yang membantai kelompok bandit di dekat sini?" tanya pria bertopeng bewarna keemasan di sampingnya.


“Aku amat yakin, tenaga dalam dari tubuhnya begitu serupa dengan tenaga dalam yang tertinggal di reruntuhan markas bandit," ucap pria bertopeng besi, sebelum menyadari keberadaan Tang Pei di sana.

__ADS_1


Tang Pei sempat menahan napasnya menyadari kehadiran dua orang bertopeng itu, topeng yang dikenakan keduanya memanglah begitu mencolok membuat identitas keduanya sebagai anggota Topeng Besi dapat segera Tang Pei ketahui.


“Saudara sekalian, bisakah memberitahu aku terkait alasan kedatangan kalian kemari?" tanya Tang Pei seraya mencoba bangkit meski amat begitu sulit sebab tidak ingin menyinggung keduanya.


__ADS_2