Pendekar Pedang Harimau Surgawi

Pendekar Pedang Harimau Surgawi
Markas Utama Kelompok Bandit


__ADS_3

Hao Zhao sempat menyebar tenaga dalamnya ketika memasuki gerbang perkemahan markas utama bandit, sesuai dengan apa yang ada di ingatannya, kebanyakan dari setiap bandit itu hanyalah pendekar Pelatihan Tubuh yang kekuatannya tidak seberapa.


“Jika aku masih ada di tingkat Pembentukan Jiwa mungkin tetap akan merepotkan untuk aku dapat meratakan kemah bandit ini," ucap Hao Zhao pelan, mengingat ada sekitar lima orang di kemah itu yang sudah mencapai tingkat Pemurnian.


Lima orang ini Hao Zhao sadari keberadaannya ada di paling dalam perkemahan itu, Hao Zhao tidak tau kelimanya siapa, tetapi jika di nilai dari kekuatannya pastilah kelimanya merupakan pemimpin dari setiap bandit di sana.


“Pemurnian tahap Puncak? Betapa beruntung hanya dengan menjadi seorang bandit bisa mencapai tingkat setinggi itu," Hao Zhao ketika mengamati lebih jauh dengan tenaga dalamnya yang telah tersebar, mulai dapat merasakan lebih jelasnya tahap tingkat dari kelimanya.


Empat orang ada di kisaran Pemurnian tahap Menengah hingga Tinggi, sementara satu orang yang Hao Zhao sadari ada di tahap Puncak menjadi yang paling kuat di antara para bandit itu.


Hal itu cukup mengejutkan sebenarnya untuk Hao Zhao, sebab tingkat kekuatan setara itu amat bisa disetarakan dengan kebanyakan patriak sekte Kecil, pada tingkat kekuatan yang sama juga seorang pendekar bisa sebenarnya jika ingin menjadi tetua Luar sekte Menengah. Dengan tingkat kekuatan itu tetap memilih menjadi seorang pemimpin kelompok Bandit, Hao Zhao tidak mengerti jalan pikiran orang itu.


“Kau harusnya menggunakan kekuatanmu dengan baik, bukan dengan menindas dan menebar teror di setiap desa seperti ini," gumam Hao Zhao seraya menggeleng pelan.


Hao Zhao yang sudah mengantongi informasi amat jelas tentang kelompok bandit yang akan dihabisinya, segera mempercepat langkahnya agar dapat melakukan apa yang sudah seharusnya.


Kelima orang yang Hao Zhao duga sebagai pemimpin serta para petinggi kelompok itulah yang menjadi target utama Hao Zhao, di mana menurut Hao Zhao akan lebih mudah untuknya mengurus sisanya jika kepalanya telah terpotong.


Untuk lebih jelasnya, Hao Zhao ingin melakukan hal yang sama pada kelompok bandit itu dengan apa yang pernah dilakukannya pada keluarga Gang di kota Dahan Gugur.


“Melakukan dengan cara seperti ini memiliki tingkat keberhasilan cukup tinggi." Hao Zhao di tengah kecepatan geraknya yang hampir mustahil untuk di tangkap mata, terus memasuki kemah bandit lebih ke dalam menuju tempat kelima orang petinggi kelompok itu seharusnya berada.

__ADS_1


Hao Zhao sendiri cukup banyak bertemu dengan setiap bandit yang tinggal di sana, di mana kebanyakan dari mereka tengah asik berpesta dengan tawa riang sementara tidak sedikit juga yang terlihat beristirahat setelah melakukan tindakan keji yang telah menjadi keseharian mereka.


Melihat mereka tidak sama sekali menyadari keberadaannya di sana membuat Hao Zhao menyeringai, berpikir untuk membiarkan mereka menikmati waktu mereka sedikit lebih lama sebelum kehilangan nyawa.


“Tawa kalian akan segera berubah menjadi teriakan penuh penderitaan," gumam Hao Zhao, sebelum sorot matanya jatuh pada tenda paling besar yang ada di ujung kemah tersebut.


Di mana di dalam tenda itulah Hao Zhao merasakan sumber tenaga dalam dari kelima orang yang Hao Zhao tebak merupakan pemimpin juga petinggi dari setiap bandit di sana, membuat Hao Zhao menjadi begitu bersemangat untuk dapat segera menghabisi mereka.


***


Di dalam sebuah tenda tempat markas bandit berada, telah ada lima orang yang masing-masing memiliki kesan kejam juga tanpa ampun yang terpancar di wajah mereka. Satu orang dari kelimanya memiliki tubuh paling kekar juga garang, di mana keempat yang lain nampak begitu menaruh hormat pada pria tersebut.


Ma Dai merupakan nama pria tersebut, di mana dirinya merupakan pemimpin dari kelompok bandit yang begitu ditakuti oleh setiap penduduk kekaisaran yang tinggal di sekitar letak markas kelompoknya berada.


Ma Dai yang biasanya selalu terlihat tanpa beban sebab kesehariannya yang hanya tau bersenang-senang, hari itu sungguh tampak amat berbeda.


Ma Dai seperti memiliki cukup banyak pikiran di kepalanya, hal itulah yang membuat Ma Dai memanggil keempat orang di hadapannya untuk datang ke sana.


“Apa kalian sudah mendapat kabar terkait kemana perginya dua ketua yang lain?" Ma Dai pada keempatnya, di mana mereka adalah ketua yang memang diangkat oleh Ma Dai untuk memimpin setiap dari anggota lain di kelompoknya.


“Lapor Pemimpin Dai, kabar terkait keduanya masih belum sama sekali kami dapatkan," ucap salah satu dari keempatnya, di mana hanya mengangguk saja yang lain untuk mendukung perkataan tersebut.

__ADS_1


Ma Dai mendengar hal itu dengan segera mengangguk pelan, sebelum mengambil kapak besar tidak jauh darinya membuat keempat orang di hadapan Ma Dai gemetar.


“Kenapa kalian gemetar? Apa kalian takut?" Ma Dai menatap keempatnya tajam, di sisi lain tangan Ma Dai seperti sudah begitu siap mengayunkan kapak itu kapan saja ke arah keempatnya.


Keempat orang di hadapan Ma Dai sempat memandang satu sama lain, jelas bingung harus menjawab pertanyaan Ma Dai bagaimana.


“Ti— tidak Pemimpin Dai, kami tidak takut," ucap keempatnya serempak meski penuh keraguan.


Ma Dai mendengar hal itu dengan segera mengangkat alisnya, mengangkat kapaknya tinggi sebelum mengayunkannya sesaat setelahnya.


Brakkk!!!


Satu buah meja yang ada di sana dengan segera terbelah menjadi dua, di mana keempat orang di hadapan Ma Dai baru bisa bernapas lega setelah mengetahui target ayunan kapak itu bukanlah mereka.


“Cari keduanya, bawa orang berapapun yang kalian mau untuk melakukan itu. Jika kalian kembali ke sini tetapi belum juga menemukan mereka ... aku bisa pastikan nasib kalian berempat akan sama dengan meja ini," ucap Ma Dai sebelum menyuruh keempatnya ke luar.


“Baik Pemimpin Dai, kami akan melakukan perintah Anda sebaik mungkin," ucap keempatnya serempak sebelum dengan langkah cepat keluar dari sana.


“Sialan, kemana perginya dua orang tidak berguna itu?" Ma Dai ketika hanya ada dirinya seorang di sana, mempertanyakan kenapa dua orang ketua yang sempat menerima tugas darinya tidak juga kunjung kembali bahkan setelah sekian lama.


Ketua di kelompok Ma Dai sendiri awalnya memang berjumlah enam orang, di mana kini hanya tersisa empat dari mereka saja tentu membuat Ma Dai khawatir.

__ADS_1


Bukan khawatir akan keselamatan keduanya tentu saja, sebab Ma Dai sama sekali tidak peduli akan hal itu. Hal yang Ma Dai khawatirkan hanyalah karena keduanya sudah tau begitu dalam terkait kelompoknya, sehingga jika keduanya berkhianat maka akan begitu merepotkan untuk Ma Dai.


“Setidaknya aku harus tau apa keduanya kehilangan nyawa atau berkhianat dengan pergi meninggalkan kelompok ini, jika mereka memutuskan pergi maka harus aku cari hingga dapat dan membunuh keduanya dengan tanganku sendiri," ucap Ma Dai dengan kapak besar miliknya yang digenggam erat.


__ADS_2