
Hao Zhao baru terbangun pagi harinya, di mana segera berdecak kesal Hao Zhao teringat kejadian kemarin malam saat dirinya tidak berhasil membunuh Tang Pei di saat kesempatan untuk melakukan itu sudah terbuka lebar.
Membiarkan Tang Pei lepas dari tangannya tentu Hao Zhao sadari adalah hal yang akan menjadi merepotkan, akan jauh lebih merepotkan lagi jika kabar terkait dirinya telah Tang Pei laporkan ke sekte Pedang Corak yang membuatnya hampir pasti akan dicari oleh mereka.
“Sekte Pedang Corak adalah sekte Menengah, tidak akan mudah untukku berurusan dengan seisi sekte mereka setelah ini," gumam Hao Zhao menyadari tidak akan ada jalan damai antara dirinya dengan sekte Pedang Corak.
Memotong tangan dua murid Utama sekte Pedang Corak jelas bukan hal yang dapat dimaafkan, semakin tidak dapat dimaafkan lagi apa yang dirinya telah lakukan dengan coba membunuh tetua Tertinggi sekte tersebut.
“Peduli apa? Jika mereka memang ingin datang padaku maka lebih baik aku datangi mereka lebih dahulu," ucap Hao Zhao pelan, tidak ingin memusingkan hal itu.
Hao Zhao sendiri pada akhirnya lebih memilih keluar kamar pagi itu, mengingat hari itu merupakan saat di mana turnamen akan digelar yang membuat Hao Zhao ingin segera mencari Yue Yie untuk mengetahui jelasnya kapan mereka akan datang ke tempat turnamen diadakan.
Baru Hao Zhao membuka kamar, segera terkejut Hao Zhao mengetahui di depan pintu masuk kamarnya telah ada seseorang yang tidak pernah sekalipun Hao Zhao duga.
Yang Gao yang beberapa waktu terakhir hampir tidak pernah terlihat, kini telah ada di sana dengan ekspresi wajah sumringah. Di mana hal itulah yang menjadi alasan keterkejutan Hao Zhao, mempertanyakan bagaimana bisa seseorang yang hampir selalu menghilang tiba-tiba muncul dengan ekspresi yang patut dicurigai seperti itu.
“Hehe, apa istirahatmu nyenyak Nak Zhao?" tanya Yang Gao dengan senyumnya.
Hao Zhao sempat menatap Yang Gao penuh selidik, sebelum mengangguk pelan sebagai bentuk jawaban pertanyaan yang diajukan padanya.
“Baguslah, sekarang apa kau sudah siap menjadi perantara tersebar luasnya nama Lentera Harta? tanya Yang Gao masih dengan senyum penuh antusiasnya.
Hao Zhao hanya mengangguk sebelum tersenyum kecil, jelas mulai paham apa sekiranya penyebab wajah sumringah Yang Gao pagi itu.
Yang Gao melihat anggukan Hao Zhao dengan segera mengeluarkan sesuatu dari cincin Ruang miliknya, setelahnya memberikannya pada Hao Zhao seraya berkata, “Pakailah ini kalau begitu."
Hao Zhao hanya menaikan alisnya memandangi benda pemberian Yang Gao, sebuah jubah mewah dengan kesan elegan yang dapat Hao Zhao tangkap bahkan walau hanya sejenak melihatnya.
“Haruskah?" tanya Hao Zhao, tidak berpikir jubah yang dikenakannya memiliki masalah hingga harus menggantinya.
__ADS_1
“Tidak harus, tetapi akan lebih baik untukmu jika mengenakan jubah ini," ucap Yang Gao mencoba meyakinkan.
“Alasannya?" tanya Hao Zhao dengan sorot mata menyelidik, tidak ingin begitu saja menuruti apa yang Yang Gao minta takut-takut ada maksud lain dibaliknya.
“Alasannya? Karena dengan mengenakan jubah ini itu berarti identitas mu sebagai bagian dari Lentera Harta telah masuk ke tahap baru," ucap Yang Gao dengan senyum penuh kebanggaan.
Hao Zhao hanya menatap Yang Gao kosong setelah mendengar ucapannya, tidak berpikir ada yang harus diperbarui dari identitasnya di sana.
“Aku pemilik sebagian Lentera Harta, tidakkah Paman Gao berpikir identitas ku di sini sudah setara dengan Paman sendiri?" tanya Hao Zhao dengan wajah datar, memandangi Yang Gao dalam diam menunggu jawaban.
Yang Gao hampir tersedak ludahnya sendiri mendengar hal itu, tidak sama sekali menyangka dirinya Hao Zhao akan sepintar itu hingga bisa memupuskan rencananya dengan begitu mudah.
Hao Zhao hanya tersenyum geli melihat ekspresi Yang Gao, sebelum dengan segera menyambut uluran jubah di tangan Yang Gao seraya berkata, “Katakan saja yang sejujurnya, apa maksud Paman memberiku jubah ini?"
“Eh? Hmm, itu ... hanya jubah khusus murid Utama Lentera Harta," ucap Yang Gao, tidak bisa sama sekali mengelak.
Yang Gao hanya mematung di posisinya setelah kepergian Hao Zhao, sorot matanya kosong amat terlihat dirinya masih begitu terkejut dengan apa yang baru saja terjadi.
“Siapa sangka dirinya tidak akan mempermasalahkan hal ini, benar perkataannya kalau sepertinya aku harus mulai berbicara terbuka saja dengannya jika menginginkan sesuatu," gumam Yang Gao.
Yang Gao awalnya memang sempat sangat ragu apakah idenya membuat Hao Zhao tampak seperti murid Utama Lentera Harta akan disetujui oleh Hao Zhao atau tidak, hal inilah yang membuatnya telah menyiapkan beribu alasan untuk Hao Zhao agar bersedia mengenakan jubah pemberiannya.
Siapa sangka maksudnya malah berhasil Hao Zhao sadari lebih awal, membuat beribu macam alasan yang telah disiapkannya kini menjadi percuma membuatnya mengatakan yang sejujurnya.
“Hahaha, tidak pernah sekali pun aku merasa begitu tertarik pada generasi muda sedalam ini sepanjang hidupku," ucap Yang Gao dengan tawa renyah, merasa Hao Zhao memiliki bermacam alasan untuk membuatnya menjadi semakin tertarik padanya.
“Tetapi aku benar-benar terkejut, siapa yang dapat mengira memangnya pemuda angkuh serta penuh kepercayaan diri seperti Hao Zhao akan rela berperan sebagai murid Utama sebuah sekte yang mungkin jauhlah lebih kecil dari kelompok atau sekte asalnya," gumam Yang Gao, masih menganggap Hao Zhao sebagai bagian dari kekuatan tersembunyi di benua Dua Bintang.
Tidak berapa lama sampai Hao Zhao kembali keluar, segera dibuat terkejut Yang Gao dengan bagaimana Hao Zhao terlihat ketika mengenakan jubah pemberiannya.
__ADS_1
Wajah Hao Zhao sudah amatlah rupawan asalnya, kini di tambah jubah mewah dengan kesan elegan yang teramat sangat dikenakannya, membuat bagaimana Hao Zhao terlihat menjadi lebih memukau dari yang biasanya.
“Yie, aku harus mendapatkannya untuk Yie," ucap Yang Gao pelan tanpa sadar.
Hao Zhao segera menaikan alisnya mendengar ucapan Yang Gao sebelum berkata, “Mendapatkan aku untuk apa, Paman Gao?"
“Eh? Oh, tidak-tidak. Lupakan saja," ucap Yang Gao cepat.
Hao Zhao hanya mengangguk pelan, meski masih penasaran dengan apa yang Yang Gao maksud, tetapi tidak bisa memaksa juga untuk membuat Yang Gao memberitahunya.
“Guru, Ka— Kakak Zhao?"
Sebuah suara terdengar membuat Hao Zhao menoleh, sebelum melihat Yue Yie baru keluar dari ruangannya dengan wajah penuh keterkejutan.
“Ya?" Hao Zhao dengan sorot mata mempertanyakan pada Yue Yie, terkait alasannya bisa terlihat amat terkejut seperti itu.
“Tidak, lupakan. Aku baru ingat ada hal yang masih harus aku lakukan di dalam," ucap Yue Yie sebelum kembali memasuki ruangannya dengan cepat.
Brakkk!!!
Suara pintu ruangan Yue Yie yang terbanting terdengar, membuat Hao Zhao semakin merasa bingung terkait apa sebenarnya yang tengah terjadi pada Yue Yie hingga bisa bertingkah setidak biasa itu.
“Yie, apa dirinya ... aku benar-benar harus berusaha sebisa mungkin untuk membuat keduanya semakin dekat," gumam Yang Gao, setelah melihat sendiri betapa muridnya seolah menjadi orang yang sama sekali berbeda ketika ada di hadapan Hao Zhao.
“Dekat apa Paman? Apa ada sesuatu yang begitu jauh hingga ingin kau dekatkan?" tanya Hao Zhao setelah sempat mendengar gumaman Yang Gao walau tidak terlalu jelas.
“Tidak, lupakan. Oh iya, ada hal yang ingin aku lakukan sejenak. Kau bersiaplah terlebih dahulu sebab sebentar lagi kita akan berangkat ke tempat turnamennya digelar," ucap Yang Gao sebelum menghilang seolah lenyap begitu saja dari hadapan Hao Zhao.
Hao Zhao hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal melihat tingkat guru dan murid itu sebelum berkata, “Kenapa aku harus melupakan? Memangnya apa yang harus aku lupakan? Aneh sekali pagi ini."
__ADS_1