
Hao Zhao baru sampai di depan Lentera Harta saat menyadari ada sebuah kereta kuda yang begitu familiar di matanya, Hao Zhao ingat kalau itu merupakan kereta kuda yang sama dengan yang dilihatnya pagi tadi membuat Hao Zhao cukup bertanya-tanya.
“Apa para prajurit kekaisaran tengah mengunjungi Lentera Harta?" Hao Zhao mencoba menduga-duga kenapa kereta kuda itu bisa ada di sana.
Hao Zhao sendiri memilih memasuki Lentera Harta setelahnya, di mana para pekerja di sana dengan segera menyambut Hao Zhao seolah itu sudah menjadi keseharian mereka.
Hao Zhao hanya menanggapi seperlunya saja setiap sapaan mereka, di mana melihat dari bagaimana para pekerja berekspresi, Hao Zhao mulai merasa seperti ada sesuatu yang tidak beres tengah terjadi.
Memang para pekerja memberi hormat juga menyapa Hao Zhao seperti biasa, Hao Zhao tidak memiliki masalah terkait itu. Di mana masalahnya kali ini adalah terkait dengan bagaimana ekspresi yang tertampak dari wajah setiap pekerja.
Tidak ada lagi kini ekspresi ceria juga senyum mengembang di wajah mereka, di mana hanya tersisa ekspresi penuh ketegangan dari apa yang Hao Zhao perhatikan.
“Apa ini ada kaitannya dengan kedatangan para prajurit kekaisaran di kota ini?" Hao Zhao memiliki pikiran liar terkait hal itu, di tambah fakta kini para prajurit kekaisaran kemungkinan besar tengah ada di Lentera Harta membuat dugaan Hao Zhao terkait mereka semakin besar.
Hao Zhao segera menaiki setiap lantai Lentera Harta untuk menuju lantai teratas, ingin menemui Yue Yie untuk mengetahui jelasnya hal itu tidak ingin lagi hanya menduga-duga.
“Hey, berhenti di sana. Tidak ada yang boleh menapaki lantai ini, jadi turun sana."
Langkah Hao Zhao seketika terhenti saat sebuah ucapan terdengar, di mana segera mendongak Hao Zhao untuk melihat siapa yang berbicara.
Hao Zhao memang hanya tinggal menapaki sedikit anak tangga lagi saja untuk sampai di lantai paling atas, ketika di depan anak tangga sudah ada dua orang pria berbadan kekar dengan persenjataan lengkap yang mereka bawa.
“Apa-apaan?" Hao Zhao mengetahui baju zirah yang kedua orang itu kenakan merupakan milik kekaisaran, di mana sempat melihat memang Hao Zhao baju zirah serupa dikenakan oleh para penunggang kuda yang tengah mengawal kereta kuda pagi tadi.
“Jadi benar kenapa setiap pekerja tampak tidak nyaman sebelumnya adalah karena kedatangan orang-orang ini?" gumam Hao Zhao, tidak sama sekali mendengarkan ucapan yang terlontar mulai kembali melangkahkan kakinya.
“Hey Bocah, kau anggap ucapanku apa?" Satu dari keduanya, sudah berdiri di depan Hao Zhao menghalangi Hao Zhao menapaki anak tangga terakhir.
“Aku tinggal di sini, jangan membuatku kesal atau kau akan menyesal." Hao Zhao menatap balik pria itu tidak gentar.
__ADS_1
Satu prajurit kekaisaran yang kini sudah saling berhadapan dengan Hao Zhao segera mengerutkan dahi, bertanya-tanya darimana Hao Zhao mendapatkan keberaniannya hingga bisa balik mengancamnya.
“Bocah, apa kau menentang ucapan seorang prajurit kekaisaran?" tanya pria itu dengan sorot mata tajam, mencoba mengintimidasi Hao Zhao yang menurutnya tidak sadar kemampuan diri sendiri hingga berani menantangnya.
“Aku katakan sebelumnya untuk tidak membuatku kesal, sekarang aku sudah kesal apa kau tau itu?" tanya balik Hao Zhao dengan kedua telapak tangannya yang telah terkepal.
“Apa? Bocah ini sudah hilang akal rupa—"
Pria itu belum sempat menyelesaikan perkataannya ketika kepalan tangan Hao Zhao sudah menghantam mulutnya, membuat pria itu terlempar mundur hampir kehilangan keseimbangan.
Memegangi mulutnya yang mulai mengeluarkan darah, pria itu melirik ke arah temannya yang hanya bisa mengerutkan dahi melihat itu semua.
“Hey, cepat bantu aku. Bocah ini bukan pendekar biasa." Pria itu dengan rasa sakit yang tidak kunjung hilang di area sekitar mulutnya.
“Dirinya pendekar? Apa kau yakin akan hal itu?" Pria lain dengan cukup terkejut, nampak hanya ingin meledek saja kawannya yang baru menerima pukulan dari seorang pemuda entah siapa.
“Haha, baiklah-baiklah. Tidak perlu marah seperti itu hanya karena Bocah tidak jelas ini," ucap kawan pria itu dengan pedang yang sudah terhunus dari sarungnya.
“Hey, apa perlu menggunakan pedang hanya untuk mengurusnya?" Pria itu sedikit terganggu dengan cara temannya ingin mengurus itu semua.
“Bicara apa kau? Tentu saja ini perlu, memutus satu tangan atau kakinya pastilah akan menjadi pembelajaran berharga untuknya agar tidak berani lagi menentang prajurit kekaisaran seperti kita." Kawan pria itu dengan senyumnya yang mulai melebar.
Hao Zhao hanya menatap dalam diam saja keduanya ketika mereka masih asik berbicara, mempertanyakan apakah semua prajurit kekaisaran cenderung banyak bicara seperti keduanya.
“Hey, menatap apa kau?"
“Singkirkan sorot matamu dari kami atau kami congkel kedua matamu itu."
Kedua prajurit tersebut, sudah begitu siap menghabisi Hao Zhao dengan kemampuan mereka.
__ADS_1
Keduanya meski telah mengetahui Hao Zhao merupakan seorang pendekar, keduanya tidak berpikir Hao Zhao merupakan pendekar tingkat tinggi sehingga tidak terlalu menganggap Hao Zhao serius.
Hao Zhao menyadari hal itu sehingga merasa geli sendiri karenanya, tidak habis pikir kenapa seorang prajurit kekaisaran bisa memiliki cara berpikir semacam itu dalam diri mereka.
“Apa para pendekar di masa sekarang memang sebegitu buruknya menganggap rendah seorang generasi muda?" Hao Zhao bertanya-tanya, sebab itu bukan yang pertama kali dirinya diremehkan hanya karena bagaimana dirinya terlihat.
Hao Zhao setelahnya memilih untuk tidak terlalu memusingkan hal sejenis, di mana sudah mengambil sikap siap saja untuk menyambut serangan kedua prajurit kekaisaran dihadapannya.
Kedua prajurit kekaisaran sendiri segera mengambil langkah untuk menyerang tidak lama setelahnya, di mana melihat hal itu tentu Hao Zhao tidak diam saja.
Hao Zhao dengan kedua tangannya yang telah terkepal memilih menerjang keduanya secara langsung, tidak sama sekali menghiraukan mata pedang yang sudah di ayunkan ke arahnya oleh salah satu dari mereka.
Buaghhh!!!
Suara benturan kepalan tangan dengan wajah terdengar, di mana begitu nyaring suara tersebut sebab ada dua wajah yang secara bersamaan menerima hantaman kepalan tangan Hao Zhao.
Kepalan tangan Hao Zhao sendiri sudah terselimuti energi kebiruan, tanda Hao Zhao tidak main-main dengan pukulan yang dilancarkannya.
Berbeda dengan bagaimana pukulan Hao Zhao sebelumnya, pukulan Hao Zhao yang kali ini berbalut tenaga dalam jelas memiliki daya hancur berkali lipat lebih luar biasa, terlihat dari bagaimana kedua prajurit itu sudah terlempar cukup jauh hingga menghantam dinding di belakang mereka.
“Meremehkan tetapi kalah hanya dengan satu pukulan? Menyedihkan." Hao Zhao yang sudah berdiri di hadapan keduanya, di mana hanya bisa tergelepar saja keduanya tanpa bisa bangkit lagi sebab kehilangan kesadaran mereka.
“Apa yang terjadi di sini?!"
Suara lantang cukup mengganggu telinga terdengar, membuat Hao Zhao menoleh untuk melihat siapa yang berani mengganggu pendengarannya seburuk itu.
Pintu ruangan Yue Yie telah terbuka di mana seorang pria dengan topeng besi menutupi wajahnya sudah ada di sana, pria itu menatap semua yang baru saja terjadi dengan geram mempertanyakan bagaimana bisa kedua bawahannya tergeletak di tengah tugas berjaga yang diberikannya.
“Oh, siapa lagi ini?" Hao Zhao menatap pria itu cukup dalam, nampak mencoba mengamati terlebih dahulu pria dengan topeng besi entah siapa itu.
__ADS_1