Pendekar Pedang Harimau Surgawi

Pendekar Pedang Harimau Surgawi
Terlelap


__ADS_3

Hao Zhao sudah menggenggam erat pedang ditangannya, siap mengayunkannya tanpa pandang bulu entah ke arah Yang Gao ataupun Yue Yie jika keduanya memang memiliki niat buruk padanya.


“Cepatlah serang aku, jangan buat aku menunggu lama seperti ini," ucap Hao Zhao dengan sorot matanya yang tidak lepas sedikitpun dari pergerakan Yue Yie juga Yang Gao.


Hao Zhao memilih tidak menyerang terlebih dahulu sebab dirinya paham, kalau kalah jumlah dalam sebuah pertarungan bukanlah hal baik.


Di tambah fakta kalau Hao Zhao sama sekali tidak bisa membaca tingkat kekuatan Yang Gao di mana ini merupakan pertama kalinya setelah sekian lama, membuat Hao Zhao menjadi semakin waspada.


Tidak bisa membaca tingkat kekuatan seseorang memiliki arti dua hal, yaitu antara Yang Gao yang memang bukanlah seorang pendekar atau Yang Gao merupakan pendekar dengan tingkat lebih tinggi dari Hao Zhao.


Melihat dari Yang Gao bisa menyembunyikan hawa kehadirannya jelas Hao Zhao memilih opsi kedua, di mana Yang Gao memiliki besar kemungkinan merupakan sosok pendekar yang ada di atas dirinya.


“Dahulu akulah yang terkuat diantara para pendekar, siapa sangka di masa sekarang ada sosok pendekar yang memiliki kekuatan lebih tinggi dariku," gumam Hao Zhao.


Hao Zhao terus dengan waspada memperhatikan gerak-gerik Yue Yie juga Yang Gao, di samping keduanya yang tengah bingung harus bagaimana mencoba menjelaskan pada Hao Zhao kalau dugaannya terkait mereka sama sekali salah.


“Guru, dirinya seperti begitu menaruh kemarahan pada kita. Harus apa kita agar bisa meredam amarahnya?" tanya Yue Yie pada Yang Gao, begitu tidak terbiasa dengan sorot mata dingin yang Hao Zhao arahkan padanya.


Ada rasa tidak nyaman saat Yue Yie menerima sorot mata semacam itu, di tambah dadanya entah mengapa terasa sesak bersamaan dengan hal tersebut.


“Muridku, tutup matamu. Jangan tatap balik matanya, itu berbahaya." Yang Gao dengan segera, ketika menyadari kalau ada sesuatu yang Hao Zhao tengah coba lakukan dengan sorot matanya itu.


“Apa itu sebuah jurus atau apa?" Yang Gao penuh tanda tanya, mencoba menerka bagaimana bisa hanya dengan sebuah sorot mata dapat menimbulkan dampak nyata pada pikiran juga tubuh seseorang yang bertatapan dengannya.

__ADS_1


Yang Gao mungkin bisa menekan juga menghiraukan sorot mata Hao Zhao sebab dirinya ada di tingkat yang lebih kuat dari Hao Zhao, sementara Yue Yie sama sekali tidak bisa melakukan itu. Membuat Yang Gao khawatir takut muridnya kenapa-kenapa.


Yue Yie hanya menuruti saja ucapan gurunya. Di mana benar saja, rasa tidak nyaman yang sempat dirasakannya dengan segera menghilang begitu pula dengan rasa sesak di dadanya yang mulai berangsur membaik.


Hao Zhao berdecak kesal melihat Yue Yie memejamkan mata, cukup terkesan juga akan bagaimana Yang Gao bisa menebak situasi secepat itu hanya dalam kurun waktu tidak terlalu lama.


Tatapan Mata Harimau Surgawi, itulah apa yang Hao Zhao gunakan untuk memberi tekanan pada orang yang ditatapnya. Di mana itu merupakan salah satu dari sekian banyak jurus dari buku Bela Diri Harimau Surgawi yang hampir sepanjang hidup dipelajarinya.


“Aku tau ini tidak akan mudah," ucap Hao Zhao seraya mempererat genggaman pada pedangnya, merasa sia-sia dirinya menggunakan cukup banyak tenaga dalamnya untuk jurus tatapan tersebut.


“Pria tua ini tidak sama sekali bereaksi pada tatapan mataku, akan percuma jika aku terus keras kepala menggunakan jurus yang tidak memberi dampak apapun padanya." Hao Zhao menarik jurusnya kembali, membuat matanya yang sempat memancarkan cahaya kebiruan samar-samar kini menghilang.


Yang Gao menyadari Hao Zhao menarik jurusnya dengan segera tersenyum, sebelum berjalan dengan langkah perlahan untuk menghampiri Hao Zhao.


“Nak, kau berbakat. Jangan paksakan tubuhmu yang tidak baik-baik saja ini atau bakatmu akan percuma," ucap Yang Gao dengan senyum teduh, terlihat sama sekali tidak terganggu dengan Hao Zhao yang bisa kapan saja menebaskan pedang padanya.


Hao Zhao menatap Yang Gao dalam diam mempertanyakan maksud ucapannya, sebelum nyeri teramat sangat terasa dari dalam tubuh Hao Zhao membuat Hao Zhao teringat akan luka dalam yang dideritanya.


Hao Zhao memang menggunakan tenaga dalamnya cukup berlebihan, membuat sebagian tenaga dalam yang harusnya digunakan untuk menekan luka kini terpakai untuk menggunakan jurus yang dimilikinya.


“Uhukk!!!" Darah mengalir dari tepi bibir Hao Zhao, tanda luka dalamnya kembali kambuh karena kurangnya tenaga dalam untuk menekan lukanya itu.


“Lihat? Kau akan menghancurkan tubuhmu sendiri jika terus memaksakan diri seperti ini, sekarang biar aku bantu kau merasa lebih baik dengan ini." Yang Gao mengangkat tangannya untuk menyentuh wajah Hao Zhao.

__ADS_1


Hao Zhao melihat ada telapak tangan ingin meraih wajahnya jelas tidak diam begitu saja, di mana coba Hao Zhao ayunkan pedangnya ke arah pergelangan tangan Yang Gao untuk memotongnya.


Slashhh!!!


Yang Gao tidak sama sekali menghindar ketika pedang Hao Zhao berusaha menebas pergelangan tangannya. Di mana segera muncul luka dari sana membuat Yang Gao harus menahan sakit, sama sekali tidak menyangka serangan dari Hao Zhao dapat melukainya seperti itu.


“Apa? Seharusnya pergelangan tangannya sudah putus, kenapa hanya luka kecil saja yang muncul dari sana?" Hao Zhao melihat hal tersebut jelas sama sekali tidak puas, merasa begitu terhina dirinya sebab hal seperti itu merupakan kejadian pertama kalinya selama dirinya menjadi pendekar.


Semua yang terkena pedang Hao Zhao kebanyakan mati atau cacat seumur hidupnya, kini satu tebasan bahkan tidak bisa memotong pergelangan tangan tentu Hao Zhao mempertanyakan sekuat apa memangnya pria tua dihadapannya hingga bisa melakukan itu.


“Untuk sebuah serangan dari seseorang yang tengah menderita luka dalam cukup parah sepertimu, seranganmu sama sekali tidak buruk. kenapa kau tampak kecewa karena hal ini?" tanya Yang Gao menyadari ekspresi buruk Hao Zhao.


“Karena aku sama sekali tidak bisa membiarkan musuhku tetap hidup apalagi tidak kehilangan minimal salah satu anggota tubuhnya setelah berani berurusan denganku, apa kau sudah puas setelah mendengar jawabanku?" Hao Zhao nampak menahan geram.


Yang Gao mendengar ucapan Hao Zhao jelas segera merasa terkejut, tidak pernah berpikir akan memiliki kesempatan bertemu dengan seorang generasi muda yang memiliki jalan pikiran sekejam itu.


“Nak, setelah mendengar ucapanmu aku jadi penasaran kehidupan macam apa yang telah kau jalani hingga bisa sampai pada titik ini." Yang Gao dengan senyum kecil, sebelum menyentuhkan tangannya tepat di wajah Hao Zhao setelahnya mengalirkan tenaga dalam cukup banyak ke arah tangannya.


Hao Zhao jelas mencoba memberontak untuk melepas telapak tangan Yang Gao dari wajahnya, sebelum merasakan hawa hangat dari telapak tangan itu yang perlahan memasuki tubuhnya.


Begitu hangat, itulah yang Hao Zhao rasakan. Di mana tidak lama setelahnya Hao Zhao dengan segera menyadari, jika hawa hangat yang sama tengah mencoba membantunya menekan luka dalam yang tengah ada di tahap kambuhnya itu.


“Ap— apa yang pria tua ini tengah coba lakukan?" gumam Hao Zhao sebelum merasakan kantuk yang teramat sangat menghampirinya, di mana tidak lama kemudian Hao Zhao harus memejamkan mata terlelap akibat rasa kantuk tersebut.

__ADS_1


__ADS_2