
Hao Zhao hanya bisa berdiri tanpa ekspresi di dekat Meng Dali yang tidak juga bangkit dari posisinya, membuat Hao Zhao bingung apakah dirinya harus menarik saja tangannya sehingga Meng Dali terjatuh atau bagaimana agar bisa lepas dari situasi canggung itu.
Meng Dali sendiri masih terpaku di posisinya dengan sorot matanya yang terus menatapi Hao Zhao lekat, gadis itu seolah lupa akan segalanya.
“Nona Dali, bisakah dirimu berdiri?" Hao Zhao yang mulai menyadari betapa tajam tatapan Yue Yie dari kursinya.
“Eh, oh ... maafkan aku Tuan Muda Zhao," ucap Meng Dali seraya bangkit dengan senyum tersipu di wajahnya.
“Tidak apa, lagipula salahku juga sehingga dirimu bisa kehilangan fokus sampai tergelincir di tengah pertandingan," ucap Hao Zhao menanggapi sekenanya.
“Ti— tidak, Tuan Muda Zhao. Itu bukan salahmu jika dirimu memiliki wajah semenarik ini," timpal Meng Dali cepat.
Hao Zhao hanya menaikan alisnya sejenak mencoba mencerna ucapan Meng Dali, membuat Meng Dali yang menyadarinya hanya bisa menepuk beberapa kali mulutnya tidak sama sekali berniat mengucapkan hal sejenis itu.
“Menyingkir."
Hao Zhao segera terdorong mundur ketika ada seseorang tiba-tiba menaiki arena untuk menghampiri Meng Dali.
Hao Zhao sendiri dengan segera menoleh untuk melihat siapa yang barusan mencoba menghempas tubuhnya, sebelum sorot mata tajam secara tanpa sengaja Hao Zhao arahkan pada seorang pemuda yang tidak lain merupakan Li Kao.
“Li Kao dari sekte Tanda Pedang. Dirinya merupakan orang yang berusaha menghabisi Jian San sebelumnya," gumam Hao Zhao yang mencoba berusaha tenang di tengah lonjakan emosi yang secara tiba-tiba muncul.
Li Kao sendiri seolah tidak sama sekali peduli pada Hao Zhao hanya memfokuskan perhatiannya pada Meng Dali, membuat Hao Zhao memahami satu hal jika keduanya seperti telah mengenal sejak lama.
“Saudari Dali, apa dirimu tidak apa?" tanya Li Kao menatap Meng Dali khawatir.
“Aku tidak apa Saudara Kao, jangan terlalu khawatir seperti itu sebab Tuan Muda Zhao tidak sama sekali memiliki niat melukaiku," ucap Meng Dali seraya sesekali melirik Hao Zhao dengan senyum tersipu.
Li Kao jelas menyadari hal tersebut, di mana bunyi suara gemertak gigi terdengar setelahnya dari pemuda yang sama.
“Tidak, jangan mengatakan hal itu. Dirinya jelas akan melakukan sesuatu yang buruk padamu jika pertandingannya tidak segera dihentikan." Li Kao dengan kedua tangannya yang telah menggenggam lembut bahu Meng Dali.
__ADS_1
Hao Zhao hanya menatap tanpa kata Li Kao sesaat setelah mendengar ucapannya, jelas mengerti dirinya apa yang coba Li Kao lakukan berusaha membuat Meng Dali menatapnya buruk.
“Siapa peduli? Lagipula itu tidak akan merubah fakta kalau kau juga telah mencoba melakukan sesuatu pada orang ku," gumam Hao Zhao seraya berbalik sebelum melompat ke arah tempat kursinya berada.
“Tunggu, Tuan Muda Zhao ...."
Meng Dali sempat mencoba menghentikan Hao Zhao, tetapi sayangnya tidak berhasil sebab Hao Zhao sama sekali tidak memedulikan ucapannya.
Hao Zhao baru sampai di kursinya ketika suasana sekitarnya entah mengapa terasa suram, meski begitu coba Hao Zhao hiraukan hal itu dengan tetap duduk di kursinya sebelum sesuatu terjadi.
Nyuttt!!!
Sesuatu terasa di pinggang Hao Zhao, dirinya tidak merasa terganggu akan hal itu tetapi tetap penasaran sehingga menoleh untuk memeriksa apa yang tengah terjadi pada pinggangnya.
“Apa?" tanya Hao Zhao pada Yue Yie sesaat setelah mengetahui kalau itu merupakan tangan Yue Yie yang tengah mencubit kencang pinggangnya.
“Tidak kenapa-kenapa, hanya tengah kesal saja," ucap Yue Yie singkat sebelum membuang wajahnya.
Hao Zhao hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal melihat Yue Yie seperti itu, ingin menenangkan Yue Yie yang jelas terlihat kesal sebelum tertunda sebab pertandingan selanjutnya akan segera digelar.
“Guru, jangan bicara seperti itu!!!" Yue Yie dengan sorot mata kesal pada Yang Gao.
Hao Zhao melihat hal tersebut tentu dengan segera menghela napas lega, berpikir betapa baik Yang Gao hingga mau hampir selalu mengalihkan rasa kesal Yue Yie darinya.
Di atas arena sendiri sudah berdiri Li Kao dengan satu pemuda sekte kecil lain sebagai lawannya, keduanya telah Hao Zhao dengar sedari awal turnamen merupakan salah satu dari sekian banyak calon paling diunggulkan untuk memenangkan turnamen jika tidak menghitung dirinya yang bergabung secara tiba-tiba.
Hao Zhao awalnya meragukan hal tersebut sampai melihat pertarungan di antara keduanya, yang mana meski tidak terlalu menarik di mata Hao Zhao tetapi hal itu tidak menampik fakta kalau keduanya sudahlah amat sangat baik mengingat dari mana asal mereka yang tidak lain hanyalah sekte kecil.
“Keduanya merupakan pendekar Pelatihan Tubuh tahap Tinggi, menilik hal ini seharusnya pertarungan antara keduanya akan seimbang. Sayang untuk sisi yang lain sebab jurus yang digunakan olehnya ada satu tingkat di bawah Li Kao," gumam Hao Zhao sepanjang mengamati pertandingan di antara keduanya.
Tidak berapa lama setelah ucapan Hao Zhao benar saja pertarungan yang awalnya seperti tidak ada yang unggul kini berubah sepenuhnya, Li Kao berhasil menekan cukup jauh lawannya dengan jurus yang digunakannya membuat pertarungan itu seolah mendekati akhirnya.
__ADS_1
“Ini akhir untukmu, aku harus menghabisi bajingan itu sehingga aku harus menang darimu!!!" seru Li Kao cukup keras hingga hampir setiap mereka yang hadir mendengarnya termasuk Hao Zhao.
Setelah seruan Li Kao sendiri tebasan pedang berhasil Li Kao sarangkan cukup dalam di tubuh lawannya, membuat pertandingan harus dihentikan sebab pemuda yang menjadi lawan Li Kao terluka amat sangat parah sehingga membutuhkan perawatan dengan segera.
“Pemenangnya adalah Li Kao dari sekte Tanda Pedang, dengan ini pertandingan semifinal berakhir yang akan dilanjutkan esok hari sebagai digelarnya pertandingan final!!!" seru prajurit kekaisaran yang menjadi pengawas pertandingan.
Sorak sorai segera terdengar setelahnya dari arah penonton yang sudah tidak sabar ingin melihat pertandingan puncak esok hari, di mana setelahnya mulai pergi satu persatu dari mereka dari area arena sebab selesainya turnamen hari itu.
“Kak Zhao, yang di maksud bajingan olehnya apakah dirimu?" tanya Yue Yie tiba-tiba jelas ikut mendengar seruan Li Kao sebelumnya.
Hao Zhao hanya menatap Yue Yie tanpa kata bingung harus menjawabnya bagaimana, sebab jika dirinya mengatakan iya maka dirinya sama seperti mengaku kalau dirinya adalah seorang bajingan sesuai dengan seruan tersebut.
“Jangan ragu Kak Zhao, katakan saja. Lagipula jika dirinya berkata harus menang untuk bisa menghabisi bajingan, itu artinya dirinya merujuk padamu yang berhasil memasuki babak final," ucap Yue Yie mengatakan apa yang ada di pikirannya.
“Dirimu mengerti sejauh ini mengapa masih bertanya?" Hao Zhao yang tidak bisa menyangkal ucapan Yue Yie.
Yue Yie mendengar hal tersebut dengan segera tersenyum geli sebelum berkata, “Oh, jadi Kak Zhao selama ini ternyata seorang ba—"
“Bukan, aku sama sekali tidak seperti itu," ucap Hao Zhao cepat memotong ucapan Yue Yie.
Yue Yie sendiri sempat terdiam sesaat sebelum mengucapkan sesuatu dengan ekspresinya yang tiba-tiba berubah serius, “ Kalau begitu jangan lakukan hal seperti sebelumnya lagi atau aku akan benar-benar menganggap mu seperti itu, Kak Zhao."
Hao Zhao hanya terdiam mendengar ucapan Yue Yie, mengerti dirinya kalau Yue Yie tengah kesal tetapi tidak menyangka jika ternyata Yue Yie sekesal itu padanya.
“Sebelumnya sama sekali tidak di sengaja," ucap Hao Zhao mencoba menjelaskan.
“Begitu kah? Kalau begitu coba lakukan hal yang sama padaku, aku akan segera terjatuh, Kak Zhao," ucap Yue Yie.
Hao Zhao melihat Yue Yie sudah bersiap menjatuhkan diri padanya segera menggeleng pelan sebelum berkata, “Tidak bisa, sebab apa yang dirimu lakukan disengaja."
Yue Yie segera menatap Hao Zhao tanpa kata sebelum berdiri dari duduknya untuk pergi dari sana kembali ke Lentera Harta.
__ADS_1
“Menyebalkan."
Satu kata itulah yang sempat Hao Zhao dengar dari mulut Yue Yie ketika ingin pergi, di mana Hao Zhao cukup bingung harus menanggapi bagaimana hal ini.