
Hao Zhao sempat memastikan kematian belasan bandit sesaat, hal itu sudah menjadi kebiasaan yang hampir selalu Hao Zhao lakukan untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.
“Sekarang kalian bisa tenang ... menerima balasan dari setiap tingkah sampah kalian di alam baka sana," ucap Hao Zhao pelan.
Mata Hao Zhao segera tertuju pada kumpulan anak yang kondisi tangan serta kakinya tengah terikat, kebanyakan dari mereka masih menangis nampak tidak sama sekali menyadari apa yang baru saja Hao Zhao lakukan.
Menghampiri mereka, Hao Zhao dengan segera berkata, “Jangan takut, kalian sudah aman,"
Setiap dari mereka segera menoleh pada Hao Zhao tepat setelahnya, di mana mereka menatap Hao Zhao bingung yang mana hal itu membuat Hao Zhao canggung.
“Huaaa, pergi sana kau Orang jahat!"
“Benar, pergi sana. Jangan sakiti Adikku."
“Tolong! Orang jahat ini ingin berbuat sesuatu pada kami!!!"
Setiap dari anak-anak itu mulai kembali berteriak di tengah tangis mereka, begitu takut melihat Hao Zhao yang mencoba mendekat.
Hao Zhao menggaruk kepalanya yang tidak gatal, bingung harus apa dirinya untuk menjelaskan ke anak-anak itu jika dirinya datang untuk membantu mereka.
“Hey, jangan salah paham. Kakak orang baik, lihat wajah Kakak ... apa Kakak tampak seperti orang jahat?" Hao Zhao seraya mencoba menunjukan kesan ramah di wajahnya.
Setiap anak-anak itu sempat terdiam, menatap Hao Zhao sesuai dengan apa yang Hao Zhao katakan, tidak berapa lama kembali menangis di mana tangisan mereka kali ini jauh lebih parah dari sebelumnya.
Hao Zhao menyadari hal itu jelas menjadi semakin bingung, tidak mengerti mengapa anak-anak itu malah takut setelah melihat wajahnya.
Hao Zhao telah berusaha sebenarnya memberi kesan hangat di wajahnya pada setiap anak-anak itu agar tangis mereka mereda, sayang Hao Zhao tidak sadar kalau ekspresi wajah datarnya sama sekali tidak menunjukan kesan hangat atau ramah sedikitpun.
Sorot mata Hao Zhao yang dingin begitu tidak nyaman untuk di tatap sebab kesan intimidasi yang begitu melekat, anak kecil seumuran mereka pun bisa merasakan hal itu sehingga mereka bahkan menjadi lebih takut pada Hao Zhao dari pada para bandit itu sendiri.
__ADS_1
“Hiks, tolong! Orang jahat ini ingin memakan kami!"
“Benar, dia ingin menyantap kami hidup-hidup! Siapapun tolong kami!"
Setiap dari anak-anak itu terus berteriak, di mana teriakan mereka semakin tidak masuk akal membuat Hao Zhao merasa tidak nyaman sendiri mendengarnya.
“Apa wajahku sebegitu menakutkannya untuk mereka? Kenapa tidak ada anak-anak seperti Rong yang bisa paham terkait maksud baikku saat aku membantunya ...."
Hao Zhao teringat akan Rong saat melihat setiap anak-anak itu, di mana seharusnya mereka masih sepantaran walau cara berpikir antara Rong juga mereka begitu berbeda.
Di tengah kebingungan Hao Zhao, ada langkah kaki yang terdengar tidak jauh dari tempat Hao Zhao berada.
Menyadari Hal itu Hao Zhao dengan segera menoleh untuk melihat siapa yang datang, sebelum muncul seorang pria paruh baya dengan topi taninya tengah mendekat dari kejauhan.
Wajah pria paruh baya itu sendiri dapat Hao Zhao lihat tengah amat panik, di mana pria paruh baya baru bisa terlihat sedikit tenang setelah menyadari keberadaan Hao Zhao juga anak-anak di sekitarnya. Sempat mempercepat langkahnya, akhirnya pria paruh baya dapat sampai di tempat Hao Zhao berada.
“Ayah!" Salah satu dari cukup banyak anak kecil itu berseru senang, ingin mencoba menghampiri pria paruh baya yang merupakan ayahnya walau sayangnya tidak bisa sebab kakinya terikat.
“Ayah, akhirnya kau datang! Aku benar-benar takut!"
“Tidak perlu takut lagi, ada ayah di sini," ucap pria paruh baya, memeluk erat anaknya tampak tidak ingin sekali lagi merasa kehilangan.
Hao Zhao melihat itu semua dalam diam, jujur saja sempat kesal di tuduh yang tidak-tidak oleh setiap anak itu sebelumnya. Meski begitu Hao Zhao tidak menyesal telah menyelamatkan mereka, menyadari kalau keberadaan mereka di sana pastilah tengah begitu dinantikan kepulangannya oleh keluarga mereka.
“Inilah salah satu contohnya, senang melihat kalian bahagia," ucap Hao Zhao pelan sebelum dengan senyap pergi dari sana.
Kepergian Hao Zhao sama sekali tidak di sadari oleh pria paruh baya maupun setiap anak di sana, membuat Hao Zhao seperti lenyap begitu saja tanpa jejak sedikitpun yang ditinggalkannya.
“Untung saja masih sempat menemukan kalian ...." Pria paruh baya setelahnya mulai membantu anak-anak lain melepas ikatan mereka, kebanyakan anak itu memang begitu dikenalnya sebab seluruh anak tersebut berasal dari desa tempat asalnya.
__ADS_1
Setelah selesai melepaskan ikatan mereka semua, pria paruh baya dengan segera menoleh ke tempat Hao Zhao sebelumnya berada, untuk menanyakan terkait apa yang terjadi hingga setiap anak-anak tersebut tidak jadi di bawa pergi oleh para bandit.
“Ayah, mencari apa?"
“Paman, ayo cepat kita pulang."
Setiap anak itu ketika pria paruh baya nampak kebingungan, mencari sesuatu entah apa yang anak-anak itu tidak mengerti.
“Tunggu sebentar, tetapi kemana perginya pemuda yang sebelumnya ada di sini?" Pria paruh baya mempertanyakan kemana perginya Hao Zhao ketika dirinya baru ingin berbicara padanya.
“Oh, Kakak dengan sorot mata menyeramkan itu? Dia orang jahat, jadi Ayah tidak perlu memikirkannya."
“Benar, dia mungkin saja lebih jahat dari kumpulan orang jahat yang sebelumnya menyerang desa. Baguslah dia pergi, mungkin sebab takut juga pada Paman."
“Aku setuju, bahkan Kakak jahat itu sempat mengaku menyelamatkan kami. Dia jelas hanya berbohong, Hmmphh"
Pria paruh baya mendengar hal itu dengan segera mengerutkan dahi, tidak berpikir apa yang di katakan anaknya juga anak-anak lain benar sebab tidak mungkin pemuda itu akan membiarkannya begitu saja jika memang merupakan penjahat.
Sampai pria paruh baya menyadari kondisi para bandit yang telah kehilangan nyawa dengan jasad menyedihkan mereka, barulah pria paruh baya mulai paham apa yang sekiranya telah terjadi.
“Terimakasih, Tuan pendekar! Setiap warga desa tempat aku juga anak-anak yang kau selamatkan berasal akan selalu berhutang padamu untuk ini!" teriak kencang pria paruh baya, tidak memiliki hal lain yang terpikir untuk diucapkan selain hal itu.
***
Hao Zhao di tengah langkahnya sedang berusaha begitu keras untuk bersin, entah mengapa hidungnya sering terasa gatal belakangan ini membuatnya merasa begitu tidak nyaman.
“Jika ingin bersin maka bersin saja, jangan memberi harapan palsu seperti ini," ucap Hao Zhao cukup kesal, ketika keinginan untuk bersin secara tiba-tiba menghilang.
Di tengah rasa kesal Hao Zhao terkait bersin, segera Hao Zhao lupakan hal itu sebab di hadapannya sudah ada sesuatu yang lebih penting dari hanya sekedar bersin.
__ADS_1
Markas utama bandit sudah ada tidak jauh di depan Hao Zhao, membuat Hao Zhao secara tiba-tiba terpacu hingga mempercepat langkah geraknya agar bisa segera sampai di sana.
“Ini akhir untuk kalian," Hao Zhao dengan pedang di tangannya, sudah begitu siap walau harus mengayunkannya tanpa henti jika itu berarti setiap dari para bandit di markas tersebut mati.